Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Jangan ikut campur


“Andre!” Laura mencengkram lengan Andre dengan erat saat Andre berusaha menyatukan tubuh mereka.


“Tahan, baby, sabar sebentar!” balas Andre dengan nafas yang tercekat, wajahnya sudah memerah. Sungguh, ini begitu membuat Andre gila.


“Apa aku menyakitimu baby?” tanya Andre, ketika tubuh mereka sudah menyatu. Laura menggeleng.


“Gerakan saja dengan pelan,” jawabnya. Andre memegang tangan Laura dan membawanya ke atas. Lalu setelah itu ia menggerakkan tubuhnya.


Dan terjadilah pertempuran antara mereka. Hingga Laura terjatuh dalam pelukan Andre.


Andre memang melakukan lembut pada awalnya. tapi detik selanjutnya Andre tidak menahan diri lagi. Bahkan mereka melakukannya selama beberapa kali, seolah menembus waktu yang terlewat.


Andre menarik selimut, kemudian menyelimuti tubuh Laura. Ia mendekat tubuh Laura begitu erat, sedangkan Laura yang dalam pelukan Andre sudah memejamkan matanya, ia begitu kelelahan. Walaupun Andre bermain dengan ganas, tapi Andre tetap bermain dengan teratur. karena Laura sedang mengandung dan ia takut membahayakan calon anak mereka.


Andre mencium kening Laura, kemudian Ia pun tertidur.


••••


Waktu bergulir begitu cepat, detik demi detik, jam demi jam, hari demi hari Minggu demi Minggu, bulan demi bulan. Tiidak terasa Ini sudah 5 tahun berlalu, dan sudah 5 tahun pula, Andre dan Laura kembali menikah.


Rumah tangga mereka begitu harmonis. Andre membuktikan bahwa dia bisa menjadi suami yang baik bagi Laura. Namun satu minggu ini, rupanya hubungan mereka sedikit goyah, karena kecerobohan Laura.


beberapa waktu ini, Laura kerap curiga pada Andre, sikap posesif Laura bertambah berkali-kali lipat kala berapa minggu lalu Laura melihat Andre makan siang dengan klien wanitanya. Memang tidak ada apapun yang terjadi di antara mereka. Tapi sebagai seorang wanita, Laura begitu takut Andre tergoda, itu sebabnya diam-diam dia selalu memantau ponsel Andre dan memantau laptop Andre.


Namun rupanya, Laura gegabah, ia menghapus salah satu file penting milik Andre, hingga perusahaan Andre merugi cukup banyak. Namun, Andre tetap berusaha sabar menghadapi Laura, ia tidak mengatakan kesalahan istrinya dan tetap bersikap seperti biasa.


Seperti biasa, ia tidak mengungkit kesalahan istrinya. Tapi Laura malah semakin menjadi-jadi. Terkadang Laura akan merajuk ketika Andre pulang terlambat. Padahal, Andre pulang terlambat karena sedang mengerjakan pekerjaan yang hilang akibat Laura.


Seperti saat ini, ponsel Andre terus berdering. Ia melihat ponselnya, kemudian memejamkan matanya dengan rahang yang mengeras, karena Laura terus meneleponnya


Padahal Ia sudah mengatakan pada istrinya, bahwa dia akan pulang terlambat karena pekerjaannya sedang menumpuk. Tapi lihatlah, istrinya tidak mengerti. Laura malah terus menghubunginya.


Laura menghubunginya hanya untuk menanyakan kapan ia pulang, menyuruh ia mampir untuk memberikan makanan atau lain-lain, dan sekarang fokus Andre benar-benar terbagi, antara ia harus menyenangkan istrinya dan pekerjaannya.


Andre mengangkat tangannya mengisyaratkan agar stafnya menghentikan presentasi yang telah di lakukan, dia memilih untuk menjawab telepon Laura.


“kapan kau akan pulang?” tanya Laura di seberang sana.


“Laura Sudah aku bilang aku pulang terlambat malam ini, jika kedai itu masih buka, aku akan membelikannya.” Dengan cepat Andre menutup panggilannya.


•••


Laura menunggu dengan harap-harap cemas, ini sudah pukul 11.00 malam dan Andre belum juga kembali. Pikiran buruk menghantui Laura. Entah kenapa semenjak ia melihat suaminya makan dengan koleganya, Laura selalu berpikiran buruk Laura selalu curiga pada suaminya. Padahal Ia tahu, suaminya tidak akan pernah macam-macam.


Tak lama pintu terbuka, muncul sosok Andre buat Laura menghela nafas. “Daddy!” panggil Laura. Andre tersenyum, di tengah rasa kesalnya karena tingkah Laura yang menghapus data-data di laptopnya, hingga perusahaannya merugi, Andre masih berusaha tersenyum dan masih berusaha seperti biasa. Karena ia tahu perjuangan mendapatkan Laura tidak mudah.


“Maaf membuatmu menunggu lama!” kata Andre Laura maju ke arah Andre kemudian memeluk suaminya. “Maaf juga aku tidak membelikan pesananmu sepertinya kedainya sudah tutup,” sambung Andre lagi, ia menjelaskan sebelum Laura bertanya.


“Tidak apa-apa, aku sudah menyiapkan air hangat,” kata Laura. Andre pun menggangguk. Setelah itu, Andre berjalan ke arah kamar mandi dan Laura menyiapkan pakaian untuk suaminya.


15 menit kemudian, Andre keluar dari kamar mandi, saat di perjalanan tadi ia sudah berpikir bahwa sepertinya Laura harus mengetahui kesalahannya, agar Laura tidak lagi berani-berani mengganggu privasinya seperti kemarin


Saat Andre keluar dari walk in closet, Laura pun masuk ke dalam kamar membawa teh untuk Andre. Lalu setelah itu Andre menerima teh dari tangan Laura.


“Baby, boleh aku bicara? tanya Andre.. Laura mengangguk kemudian Andre menarik lembut tangan Laura untuk duduk di sofa.


“Kenapa?” tanya Laura.


”Beberapa minggu lalu kau mengutak-atik laptopku, aku ingin bertanya apa alasanmu melakukan itu?” tanya Andre, karena selama ini Andre pikir, Laura hanya melihat hal-hal yang sederhana atau hanya sekedar isi laptopnya


“Jawab dulu pertanyaanku. Untuk apa kau ngetik-ngetik laptopku?” tanya Andre lagi. Kali ini, Andre bertanya dengan nada mengintimidasi. membuat Laura merasa keheranan, tumben sekali Andre begini.


“Aku hanya takut kau menyimpan rahasia dariku. Jadi aku memeriksa laptop dan ponselmu.” Andre memejamkan matanya dengan rahang yang mengeras. Rasa kesal pada istrinya semakin menjadi-jadi, setelah ia mendengar alasan Laura.


Kenapa istrinya ini begitu bodoh tidak percaya padanya. “Apa kau tidak menyadari dampak Apa yang kau lakukan karena kau terlalu curiga padaku!” Nada suara Andre yang lembut berubah menjadi sedikit tegas membuat Laura terhenyak.


“Da-dad ....” Laura memanggil Andre dengan tatapan takut, tidak biasanya suaminya seperti ini.


Andre mengehela nafas kemudian menghembuskannya. “Apa kau tidak tahu karena kecurigaanmu itu berdampak pada perusahaanku!”


“Hah!” Laura menatap Andre dengan bingung.


“Maksudmu?”


“Kau mengutak-atik laptopku dan kau mungkin tidak sengaja menghapus data yang sangat penting hingga perusahaanku merugi dan kini aku harus bekerja dari awal lagi!”


Laura terdiam mematung saat mendengar ucapan Andre,nraut wajah anda berubah menjadi kesal.


“A-aku minta maaf!” kata Laura, membuat Andre tersadar kemudian Andre menormalkan ekspresinya.


“Aku mohon untuk kedepannya, tolong hargai privasi masing-masing. Tolong jangan menyentuh ponselku dan jangan menyentuh laptopku dan jangan berani-berani ikut campur urusanku di luar. Aku juga mohon beberapa minggu ini tolong jangan merengek seperti biasa. Aku harus membereskan kekacauan yang kau perbuat. Aku pasti akan tetap pulang tapi aku tidak tahu aku pulang jam berapa, kau mengerti kan?”


Andre menggenggam tangan Laura, ia harus menegaskan pada istrinya agar ia bisa tenang dalam bekerja dan tidak harus meladeni rengekan Laura. Sedangkan Laura masih tidak percaya, Andre berkata begini.


“Aku pasti menyebalkan kan?” tanya Laura, lagi-lagi Andre menghela nafas, sungguh ia begitu malas meladeni istrinya, ia yakin istrinya akan mendrama.


“ Laura pekerjaanku tadi cukup banyak, dan aku tidak bisa menjelaskan apapun lagi padamu. Jadi, bisakah kau tidak bertanya lagi dan ikuti saja permintaanku. Aku berjanji setelah pekerjaanku selesai dan semua kembali normal, aku akan meluangkan waktu lagi untukmu. Ayo kita tidur!”


Andre menarik lembut tangan Laura, kemudian mengajak Laura untuk berbaring. Seperti biasa, Laura tidur membelakangi Andre dan Andre memeluk Laura dari belakang. Jika biasanya Laura akan langsung tertidur. Tapi kali ini berbeda ia menahan sesuatu, ia menahan dirinya untuk tidak menangis.


Di satu sisi, ia tidak percayaan Andre mengatakan itu. Tapi di sisi lain, Ia pun menyadari kesalahannya seharusnya ia tidak terlalu curiga pada suaminya. Tapi yang paling membuat Laura sakit adalah ucapan Andre menamparnya, ternyata selama ini ia terlalu lancang menyentuh privasi suaminya, seharusnya ia tidak mengutak-atik laptop dan ponsel milik Andre.


Pada akhirnya, bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk mata Laura. ”Tidak apa-apa, Laura. Kau harus belajar menerima pendapat suamimu.” Laura berusaha mencoba baik-baik saja, walaupun tidak dipungkiri hatinya terasa nyeri tapi dia juga sadar Ini semua adalah kesalahannya.


Pagi berganti malam Laura terbangun dari tidurnya Ia pun langsung turun dan berjalan ke kamar mandi. Seperti biasa setiap pagi, ia menyiapkan sarapan dan bekal untuk Andre dan Bella.


Saat memasak, kepala Laura terasa berputar-putar karena semalaman ia tidak tertidur sama sekali, ia memikirkan ucapan Andre. Ia tidak marah pada Andre, dia marah pada dirinya sendiri ternyata selama ini ia begitu keterlaluan pada suaminya, hingga ia harus mendengar kata-kata yang menyakitkan dari Andre.


Tak lama, terdengar suara derap langkah Anda turun bersama Bella.Hiingga Laura mengembangkan senyumnya, membuat Andre menghela nafas. Padahal kemarin malam, Andre takut bahwa Laura akan merajuk dan ia harus menjelaskan panjang lebar pada istrinya. tapi ternyata tidak, Laura tersenyum dan Andre pikir semuanya akan baik-baik saja.


“Dad, aku sudah menyiapkan sarapan dan bekalmu!” kata Laura.


” Terima kasih aku akan lembur di kantor dan aku tidak tahu pulang jam berapa,” Jawab Andre, Laura mengangguk.


”Tolong jangan lupa minum vitaminmu!” balas Laura. Sarapan dimulai dengan hening, hanya Bela yang berceloteh sedangkan putra bungsunya, sedang dibawa oleh Nael dan Gaby berlibur.


Sarapan selesai, Laura pengantar Andre dan Bella untuk keluar. “By Mommy!” kata Bella yang mendahului Andre untuk masuk ke dalam mobil..


Setelah itu Laura menoleh ke arah Andre kemudian berusaha tersenyum. “Aku berangkat!” kata Andre sambil tersenyum, tidak ada yang berubah dari sikap Laura dan Andre, hanya saja ucapan Anda semalam membuat Laura sedikit menciut, ia malu pada Andre.


”Jangan lupa minum vitaminmu!” kata Laura Andre pun mengganggu kemudian berjalan ke arah mobilnya, dan pergi meninggalkan rumah.


Setelah mobil tidak terlihat, Laura berbalik kemudian ia masuk ke dalam rumah. Lalu setelah itu, mendudukkan diri di sofa tatapan matanya lurus ke depan.


“Tidak apa-apa, Laura. mungkin kau harus belajar lebih dewasa lagi.”