Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Naura Yang Merajuk


Nael tersedak saat mendengar ucapan Laura. Sial, ia melupakan sesuatu, bahwa ia pernah menyamar menjadi guru lukis Naura dan Laura. Sekarang, ketika Laura bertanya, dia merasakan malu yang luar biasa.


“Daddy!” panggil Laura, menyadarkan Nael dari lamunannya dan mendudukkan diri di seberang anak-anaknya, kemudian mengelus rambut Laura. “Sepertinya Daddy akan berhenti menjadi guru kalian,” jawab Nael, ia melihat ke arah Naura. Dan mengerutkan keningnya. Ini aneh, kenapa Naura tidak mau melihat kearahnya. Padahal hubungan mereka sudah baik-baik saja.


“Naura!” panggil Nael, Naura yang sedang fokus sarapan langsung menoleh, tanpa ekpresi.


“Naura kenapa kau masih terlihat marah pada Daddy?” tanya Nael, Naura menggeleng.


“Tidak Apa-apa,” jawabnya dengan acuh. Namun, Nael tahu ada yang disembunyikan dari sang Putri.


Saat putrinya kembali menikmati sarapan, Nael menyiapkan air untuk Laura dan Naura, kemudian ia memberikannya pada Laura dan Naura.


“Setelah itu, kalian mandi dulu oke, kita akan pergi ke apartemen Daddy,” ucap Nael, karena memang sebelum ke Rusia, ia ingin bermain bersama kedua putrinya.


“Laura kau saja yang pergi. Aku tidak mau pergi.” tiba-tiba Naura berbicara membuat Nael terdiam. Ia benar-benar tak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh sang putri. Kemarin-kemarin hubungannya baik-baik saja. Naura sudah memanggilnya Daddy, Naura juga sudah memeluknya. Lalu kenapa sekarang putrinya,.tiba-tiba berbeda.


“Naura, kau Kenapa?” tanya Laura yang bingung dengan saudara kembarnya.


“Tidak apa-apa. Aku kenyang, Terima kasih.” Setelah mengatakan itu, Naura pun turun dari kursi kemudian ia berjalan meninggalkan meja makan membuat Laura terdiam.


“Laura, ada apa dengan Naura?” tanya Nael, Naura tampak terdiam. Pikirannya mengembara. Perasaan, Semalam semuanya baik-baik saja.


“Entahlah Daddy tanyakan saja padanya. Dia kan memang aneh,” jawab Laura, Nael mengusap lembut rambut putrinya, kemudian bangkit dari duduknya.


Saat berada di depan kamar, Nael mengintip, ternyata Naura sedang duduk dengan kaki yang menjuntai ke bawah dan menundukkan kepalanya. Entah kenapa hati tiba-tiba Nael terasa sesak saat melihat Naura seperti ini dan ia yakin ia masih mempunyai perasaan yang mengganjal.


Perlahan Nael masuk ke dalam kamar Naura lalu ia menekuk kakinya, menyatakan diri dengan putrinya. Hingga kini, posisinya berlutut di hadapan putrinya.


“Naura, kau kenapa? Apa ada yang salah dari Daddy? Bukankah kau sudah memaafkan Daddy? Lalu kenapa kau terus diam?”tanya Nael dengan lemah lembut. Bahkan suaranya begitu mendayu-dayu di telinga Naura.


Maura menunduk kemudian menggeleng. “Aku tidak apa-apa?” jawab Naura. Nael menggenggam tangan Naura, lalu menarik dagu Naura, memaksa Naura untuk melihat ke arahnya.


“Katakan Naura, ada apa? Daddy tidak akan tahu jika kau tidak mengatakan kesalahan Daddy?” tanya Nael.


“Aku rasa, ini tidak adil!” tiba-tiba Naura menjawab membuat Nael mengerutkan keningnya.


“Tidak adil? apa yang menurutmu tidak adil?”


Rupanya, gadis kecil itu merasa dia belum sepenuhnya memaafkan Ayahnya. Sebab, saat pulang dari villa dan mendengar sang ayah bernyanyi untuk mereka semalam dan saat tadi terbagun saat pagi, tiiba-tiba kenangan buruk menabrak Naura, kenangan di mana sang ayah benar-benar mengabaikan.


Mungkin, sakit hati yang dirasakan Naura sangat membekas karena dia dulu yang paling bersemangat mendekati Nael, dan saat tadi terbangun tiba-tiba ia teringat semuanya.


Aku update 3.bab ya