
15 menit berlalu, akhirnya Gisel menggerakkan kepalanya seolah baru saja terbangun dari tidurnya, ini sudah 15 menit berlalu, harapan Gisel agar Arsen membangunkannya sia-sia, hingga akhirnya ia pun membuka matanya.
“Arsen maaf, aku tidak sengaja tertidur!” kata Gisel, Arsen yang sedang melamun menoleh, kemudian mengangguk. “Tidak apa-apa!” Aarsen menegakkan tubuhnya, kemudian membuka pintu mobil. Lalu setelah itu, isi Gisel juga ikut turun dari mobil.
“Silahkan masuk!” ucap Arsen saat mereka sudah berada di depan pintu. Dengan ragu, Gisel pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam apartemen, begitu Arsen yang juga menyusul masuk..
“Giseel,. ada kamar tamu di sini, Kau bisa beristirahat di sana,” ucap Arsen, saat mereka sudah masuk.
Gisel menggeleng. “Arsen, bisakah aku meminjam laptopmu, sepertinya ada yang harus aku kerjakan di sini?” tanya Gisel.
“Tunggu sebentar, aku akan mengambilnya!” Arsen pun berjalan ke arah kamar kemudian ia mengambil laptop, lalu kembali lagi keluar.
“Kau bisa memakai laptop ini. Jika kau ingin beristirahat, kau tinggal masuk kamar itu dan aku pun akan istirahat di kamarku,” jawab Arsen, wajah Gisel berubah menjadi sendu, ia pikir ia bisa mengobrol dengan Arsen, tapi ternyata tidak. Tapi tak urung, Gisel pun mengangguk.
“Terima kasih Arsen.”, Gisel mengambil laptop dari tangan Arsen, kemudian membukanya setelah itu ia memasukkan flashdisk miliknya ke laptop Arsen, begitupun Arsen yang juga berbalik dan kembali ke kamarnya.
Saat mengutak-atik laptop, dan berniat untuk mengerjakan pekerjaannya, Gisel mengerutkan keningnya saat ada folder dengan namanya. Awalnya Gisel tidak ingin mengklik folder itu, karena ia menyangka mungkin itu adalah klien arsen yang juga bernama sepertinya.
Namun tak lama, rasa penasaran membuncah. Ia melihat kesana kemari, memastikan Arsen tidak ada di sekitarnya. Lalu setelah itu, dia mengklik folder tersebut.
“A-apa dia mengawasiku?” tanya Gisel, wajahnya sudah memucat. Ia pun mencari-cari folder yang lain dan memeriksa hal yang lain di laptop Arsen.
Arsen melepaskam jasnya, kemudian ia langsung berjalan ke walk in closet untuk mengganti pakaiannya. Saat ia akan membuka lemari, Arsen terdiam, kenapa rasanya Ia ada yang aneh Kenapa seperti ada yang tertinggal.
Arsen merasakan perasaan yang tak biasa. “Sial!” mata arsen membulat saat ia tersadar,.bahwa laptop yang ia pinjamkan pada Gisel terdapat folder tentang penyakitnya dan juga folder tentang foto-foto yang selama ini dikirim anak buahnya. Rupanya Arsen malah memberikan laptop pribadinya pada Gisel bukan laptop yang satunya lagi.
Secepat kilat, Arsen langsung menutup kembali lemarinya, lalu ia berlari keluar dari walk in closet dan keluar dari kamar, berharap Gisel belum membuka folder itu. Akan bahaya jika Gisel mengetahui semuanya.
“Giseel!” panggil Arsen saat keluar dari kamar, ia langsung berlari ke arah Gisel dan mengambil laptop itu secara paksa dari Gisel.
Mata Gisel sudah membasah, ia menatap Arsen dengan tatapan yang tak bisa diartikan, selain melihat foto-foto tentang dirinya, Ia juga menemukan dokumen tentang surat kematian yang sudah di siapkan,. ia juga tahu penyakit Arsen ang sebenarnya.
“Kenapa kau membuka laptopku?" tanya Arsen yang malah tanpa sadar berteriak di hadapan Gisel padahal Ia sendiri yang memberikan laptop itu pada Gisel.
“Arsen jelaskan, sebenarnya apa yang terjadi padamu!”
Scroll gengs