Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Terkesan


Raymond masih terdiam, ia menatap Ayana tanpa berkedip. Dalam pengamatannya Raymond, ia menyadari sesuatu. Bahwa Ayana sudah pasrah dengan apapun yang menerpa hidupnya, dan Ayana hanya ingin bertahan untuk putrinya.


Ya, memang beberapa kali Jordan datang menemuinya dan menyuruh ia untuk memecat Ayana. Tapi tentu saja ia tidak melakukan itu. Dan kini, ia mengerti kenapa sikap Ayana begitu pasrah.


Raymond berdehem, sebenarnya ia merasa kalah start dari Ayana, ia merasa ucapan Ayana mampu memukul kesombongannya. Namun, ia tidak mau terlihat bahwa ia kalah di hadapan sekretarisnya. Raymond tetap menatap Ayana dengan santai seolah dia tidak peduli dengan jawaban Ayana. Padahal Ia cukup terkesan dengan apa yang dilakukan oleh wanita yang di depannya ini.


“Kenapa kau harus repot-repot bekerja, kenapa kau meminta saja uang ayah dari putrimu!” ucap Raymond. “Bukankah kau diceraikan oleh mantan suamimu, karena kau mengakui bahwa anakmu ternyata anak lelaki lain. Lalu kenapa kau harus repot-repot bekerja?” ucap Raymond, sebenarnya ia tidak ingin membahas ini. Tapi ia merasa ia kalah telak, hingga ia mencari pembahasan yang lain. Ayana tersenyum, lagi-lagi membuat Raymond terpaku.


Ayana bisa saja tersenyum. Namun matanya tidak bisa berbohong, bahwa dia terluka dengan ucapan Raymond. Mungkin saja, anak buah Raymond mengetahui semuanya dari pembantu rumah tangga yang ada di rumah Jordan, karena Raymond mengetahui begitu detail.


“Aku tidak tahu mulai dari mana. Tapi putriku adalah anak mantan suamiku. Aku memang sengaja membohonginya, karena aku tidak ingin dia memisahkan putriku dariku. Dia mengancam, jika kami bercerai aku tidak boleh membawa putriku dan akhirnya aku berbohong,”ucap Ayana. Tak lama, ia memejamkan matanya saat mengingat-detik ia dihajar oleh Jordan. Ia di hajar ketika mengatakan bahwa Moa bukan anak Jordan, hingga Jordan gelap mata, ia langsung menghajar Ayana secara membabi buta. Bahkan ia Jordan hampir saja membanting tubuh kecil Moa ke lantai.


“Kau Boleh pergi!” ucap Raymond, membuat Ayana membuka matanya, dan ketika Ayana membuka matanya, bulir langsung terjatuh dari pelupuk mata Ayana. Ayana menghapus sudut matanya


“Baik, Tuan. Terima kasih atas waktu anda, kalau begitu saya permisi!” Ayana pun berbalik, kemudian keluar dari ruangan Raymond. Ia hanya mampu menatap punggung Ayana. Entah kenapa, saat melihat wajah Ayana tiba-tiba dia merasakan sakit, seperti dialah yang mengalami rasa pahit yang dialami oleh sekretarisnya.


“Kenapa kau?” tanya Justin saat Raymond tampak melamun. Setelah keluar dari ruangannya, Raymond memutuskan untuk pergi apartemen Justin.


“Diam kau, aku sedang pusing,” ucap Raymond yang tidak ingin diganggu oleh sahabatnya.


“Apa ini tentang sekretarismu?” tanya Justin Raymond tidak menjawab. Justin mengambil soda dari dapur, kemudian ia melemparkannya pada Raymond.


“Ray, kau tidak menyamakan dia dengan ibumu, dan kau tidak bisa menyuruhnya untuk seperti apa yang kau mau,” ucap Justin tiba-tiba, membuat Raymond menoleh ke arah Justin.


Namun tak lama, ia memalingkan tatapannya ke arah lain karena tiba-tiba ia teringat dengan nasibnya dan nasib ibunya, hingga ia menekankan Ayana mengikuti standar kemauannya.


scrol genga