Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Emosi Gabriel


Gabriel terus melihat jam di pergelangan tangannya. Beberapa kali ia mengusap wajah kasar kala pesawat belum juga mendarat di Jepang. Wajah Gabriel sudah memucat, setiap detik setiap menit mengantarkan Gabriel pada ketakutan yang luar biasa hebat.


Saat ini, ia benar-benar ingin mengutuk sang adik. Ia tidak menyangka, Gabby tidak memberitahukan kondisi Laura dan Naura kepadanya.


Ya, saat ini Gabriel dan Gissela sedang terbang ke Jepang untuk melihat kondisi Laura dan Naura yang sedang kritis dan mereka berenca untuk mengetes sumsum mereka.


Rupanya, setelah membaca hasil pemeriksaan Laura dan Naura dunia Gabby menggelap. Hatinya benar-benar hancur. Gabby hanya sendiri dan pertahanannya luruh. Akhirnya ia menelepon Gabriel dan Gisel, meminta Gabriel dan Gisel untuk datang meminta mereka untuk mengecek sumsum tulang belakang.


Pada akhirnya, Gabby mengingkari ucapannya sendiri. Bahwa ia tidak akan melibatkan kakak dan adiknya di dalam kehidupannya. Tapi sekarang, Gabby sadar ia tidak sekuat itu, ia rapuh, ia tidak bisa melewati ini sendiri.


Waktu menunjukkan pukul 2 pagi, Gabby masih terdiam di tengah-tengah berangkar putrinya. Mata Laura dan mata Naura masih terpejam. Gabby berusaha meredam tangisnya, agar suaranya tidak terdengar. Ia melihat kearah Laura.


tubuh Laura begitu kurus, begitupun Naura. rambut mereka pun sudah menipis. Beberapa jam lalu Laura kembali mengalami kejang sedangkan Naura mengeluh bahwa seluruh tubuhnya terasa sakit dan itu menambah hancurnya hati Gabby.


Sedari tadi, kondisinya pun tidak baik-baik saja. Ia merasa seluruh tubuhnya terasa nyeri dan kepalanya berkunang-kunang. Tapi, ia berusaha menguatkan dirinya ia berusaha untuk tetap sadar ia tidak ingin tumbang, karena ia ingin mendampingi putrinya.


“Tuhan, bolehkah aku sedikit memaksa padamu. Tolong angkat penyakit kedua anakku, Jangan membuat mereka kesakitan. Tolong jangan ....” Tiba-tiba, Gabby menghentikan ucapannya saan mendengar suara dari arah belakang. Ternyata, Naura terbangun dan Naura sengaja menurunkan tiang penyangga brankar agar sang ibu menoleh. Gabby yang sedang duduk, langsung bangkit dari duduknya. Kemudian Ia berlari ke arah berangkar.


“Naura, kau bisa mendengar Mommy?” tanya Gabby. Naura mengedipkan matanya. “Mommy, aku haus,” jawab Naura. Ia hanya menggerakkan bibirnya dan berbicara tanpa suara. Dengan cepat, Gabby mengambil air minum kemudian Ia membantu Naura untuk minum.


Tak lama, terdengar suara derap langkah. Pintu terbuka, ternyata Gabriel yang masuk. Gabriel masuk ke dalam ruangannya dengan nafas terengah-engah, karena setelah pesawat mendarat di atap rumah sakit Gabriel langsung berlari.


“Gabriel!” Panggil Gabby Gabriel maju ke arah Gabby, kemudian ia langsung memegang kedua bahu Gabby.


“Gabby Apa kau gila. Apa kau ingin mati tanganku ucap Gabriel dengan menggeram. Ia meremas pundak Gabby dengan keras membuat Gabby meringis. Ia kesal pada Gabby karena Gabby menyembunyikan ini sendiri


“ Gabriel!” mata Gabby sudah berkaca-kacsaat melihat ekspresi Gabriel “Gabby Apa kau bodoh. Apa kau ... ” Gabriel menghentikan ucapannya saat melihat Gaby meringis ia tersadar kemudian ia membawa Gabby ke dalam pelukannya. Hingga tangis Gabby luruh.