Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Rencana Artur


Laura merasakan kepalanya berputar-putar ia memegang pinggiran meja karena ia merasa tubuhnya hampir ambruk ke bawah.


“Laura kau tidak apa-apa?”  tanya Arthur yang tiba-tiba datang dari arah belakang.


“Arthur kepalaku sakit,” jawab Laura, ia  tidak bisa berpikir jernih, hingga ia langsung mengatakan apa yang dirasakan pada Arthur, dan tentu saja itu membuat Arthur menyeringai.


“Laura, sepertinya kau  tidak bisa pulang sekarang. Bagaimana jika kau menginap di hotel ini!”  kata Arthur. “Aku akan memesankan hotel untukmu,” ucapnya lagi, ia membantu  Laura untuk berjalan, sedangkan Laura sama sekali tidak berdaya. Ia merasa tubuhnya benar-benar lemas.


Namun setelah beberapa menit berlalu, Laura kembali merasakan ada yang aneh dengan tubuhnya, rasa lemas yang tadi ia rasakan berganti dengan rasa panas, dan Laura tidak mengerti kenapa bisa terjadi seperti ini.


Artur berjalan dan membopong tubuh Laura dengan senyum yang mengembang. Bayangan apa yang akan ia lakukan pada Laura terngiang-ngiang di pikirannya. Malam ini, ia  akan mendapatkan Laura dan juga akan mendapatkan semua yang telah Ia impikan.


Dan akhirnya, ia  sampai di kamar yang sudah ia pesan sedari awal. Ia  pun langsung membuka pintu kemudian masuk ke dalam sambil membopong tubuh Laura. “Kau kenapa, Apa ada yang terasa?” tanya Arthur berpura-pura tidak tahu.


Laura mengangguk. “Artur, tubuhku panas!” kata Laura.


“Laura kau harus melepaskan dressmu!” Arthur membuka jasnya, kemudian ia langsung berdiri belakang tubuh Laura. Baru saja ia akan menurunkan sleting Laura, tiba-tiba ... Bug.


Satu tendangan mendarat di punggung Arthur, hingga Arthur terhuyung ke depan. Ternyata, Andrelah yang menendang punggung Arthur.


Sebenarnya sudah sedari Andre  mengikuti Laura dan Arthur. Hanya saja, saat tadi ia  sempat menghentikan langkahnya sejenak, karena jantungnya terasa nyeri. Belum lagi nafasnya terasa tersendat, hingga ia mengistirahatkan tubuhnya.


Dan ketika tenaganya sudah kembali, ia langsung menyusul. Beruntung, Arthur  belum mengunci pintu kamar, hingga Andre bisa langsung masuk.


“ Laura ... Laura!” panggil Andre ketika Laura terlihat sangat gelisah. Bahkan Laura inginn membukaaa gaunnya.


“Tubuhku panass, tubuhkku panass!’ teriak Laura Apalagi Artur memberi obat dengan dosiss yang cukup tinggi.


Andre menggendong tubuh Laura,  kemudian membawa Laura ke kamar mandi. Lalu setelah itu, menurunkan   Laura di bawah shower, dan menyalakan hower hingga sekarang tubuh Laura dialiri oleh air.


Saat air mengalami tubuh Laura, Andre menggenggam tangan Laura, karena tubuh Laura bergetar. Andre tahu, Laura hanya bisa disembuhkan dengan sesuatu. Tapi tentu Andre tidak bisa melakukan itu, hingga ia terpaksa harus mendinginkan Laura dengan cara ini.


Satu jam kemudian, Laura masih terlihat gelisah


Sebenarnya Laura di antara sadar dan tidak  sadar, ia  benar Ia hanya merasakan tubuhnya panas dan Ia seperti membutuhkan sesuatu yang tidak ia mengerti, dan selama satu jam ini pula Andre terus menggenggam tangan Laura, menguatkan Laura agar terus bertahan.


“Laura!” panggil Andre ketika mata Laura terlihat sayu. Akan bahaya jika Laura terus seperti ini.


“Andre!” Hanya itu yang bisa Laura katakan, tubuhnya semakin tersiksa walaupun air sudah mengucur tubuhnya selama 1 jam. Tapi tubuhnya masih tetap panas


Andre memejamkan matanya, ia tidak tega melihat Laura tersiksa seperti ini. Pada akhirnya, ia membuka jasnya lalu menghimpit tubuh Laura  dan setelah itu terjadilah yang seharusnya tidak terjadi di antara mereka.


••••••