
Setelah keluar dari kafe, Gabby berjalan ke arah mobilnya. Saat ia akan membuka pintu mobil, tiba-tiba lututnya mendadak lemas. Bukan hanya lututnya saja yang lemas, seluruh tubuhnya pun ikut melemas.
Gabby memukul-mukul dadanya yang terasa sesak. Fakta tentang Arsen yang memberi pil KB diam-diam sangat menyakitkan bagi Gabby. Luka karena perselingkuhan Arsen saja belum sembuh. Dan sekarang, ia harus mengetahui Fakta tentang Arsen yang memberikan pil KB secara diam-diam padanya. Belum lagi, rasa sakit karena mengetahui bahwa Kristine sedang mengandung anak Arsen.
Saat rasa sesaknya sudah berkurang. Gabby membuka pintu mobil, kemudian setelah berada di dalam mobil. Ia meraup oksigen sebanyak-banyaknya, berusaha menguasai diri.
Ia mengambil tumbler minum, lalu meneguk minuman tersebut hingga tandas, kemudian menyandarkan tubuhnya ke belakang. Tatapan matanya lurus ke depan, terlihat jelas, tatapan matanya menyiratkan luka yang amat perdih.
Ia harus mendapatkan luka yang bertubi-tubi dari orang yang sama.
Tiba-tiba nafas Gabby memburu, saat membayangkan, keluarga Arsen tau tentang pil KB tersebut. Bisa saja rencana Arsen diketahui oleh keluarga Arsen, atau bisa saja keluarga Arsen lah yang menyuruh Arsen untuk memberikannya pil Kb padanya.
Seketika itu juga, Gabby mengambil ponselnya, kemudian ia menelpon seseorang. “Tarik mobil itu secara paksa!” kata Gaby pada anak buahnya, ia memerintah anak buahnya untuk menderek mobil yang sedang dipakai oleh adik bungsu Arsen.
Setelah menguasai diri akhirnya Gabby memutuskan untuk mulai mengendarai mobilnya menuju rumah sakit. Otaknya benar-benar kosong, sepertinya melampiaskan dengan Nael adalah hal yang paling tepat yang bisa dilakukan saat ini.
••••
Setelah persetujuan dari Gabby dan Gabby menyuruhnya datang ke rumah sakit, akhirnya Nael bangkit dari duduknya, kemudian Ia memakai jasnya kembali, lalu menyambar kunci mobil. Setelah itu, ia keluar dari ruangannya.
Membayangkan kembali bercinta bersama Gabby. Tiba-tiba, rasa lelah, rasa penat dan rasa pusingnya hilang berganti dengan rasa semangat.
Tak dipungkiri, walaupun Ini pertama kalinya ia menyentuh seorang wanita. Tubuh Gaby membuatnya gila, hingga ia ingin mengulanginya lagi dan lagi.
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai Nael sampai di rumah sakit milik Gabby.
Ia memarkirkan mobilnya, kemudian keluar dari mobil. Saat keluar ia melihat Gaby sedang berdiri dan seperti melamun, ia pun langsung menghampiri Gabby.
“Gabby!” panggil Nael. Gabby tersadar, kemudian tersenyum.
“Ayo keruanganku,” ajak Gabby, Mereka pun berjalan masuk dengan berdampingan
Beberapa perawat yang berpapasan dengannya menyapa Gabby dan Gabby hanya mengangguk sekilas, sebagai balasan.
Sedangkan Nael berpura-pura berjalan sambil memainkan ponselnya.
Saat berada di depan ruangan Gabby, Gaby menempelkan sidik jari, kemudian mempersilahkan Nael untuk masuk. yang
Lalu setelah itu, Gabby menyusul masuk, lalu menutup pintu ruang pribadinya.
Saat pintu tertutup, Nael langsung menerjang tubuh Gabby, menyudutkan Gabby Kedinding dan mulai mencium bibir Gabby dengan ganas . Begitupun Gabby yang membalas ciuman Nael dengan tak kalah ganasnya.
Lidaah mereka saling membelit, tangan Nael sudah bergerak kesana kemari, begitupun Gabby yang sudah memegang senjata Nael.
“Aku ingin bermain lebih hebat dari kemarin!” ucap Nael setelah melepas tautan bibirnya. Nafasnya memburu, wajahnya sudah memerah karena gairahnya sudah berada di ubun-ubun.
Gabby tak membalas ia menarik tangan Nael, lalu mendorong Nael ke sofa. Setelah Nael duduk, Gabby membuka seluruh pakaiannya. Membuat wajah Nael semakin memerah.
Setelah tubuhnya polos, Gabby langsung menaiki pangkuan Nael, membuat Nael mengadahkan kepalanya karena Gabby menggesek-gesekan senjatanya.
“Gabby!” Geram Nael ketika Gabby menggodanya, Gabby menyeringai, kemudian turun dan berjongkok di hadapan Nael, Lalu membuka celana Nael.
“Ayo bercinta sampai puas!” kata Gabby. Ia menuntun tangan Nael, dan menyimpan di kepalanya. Lalu setelah itu, ia memasukan senjata Nael kedalam mulutnya. Dan Nael memegang rambut Gabby, membantu Gabby memaju mundurkan kepalanya. Lalu setelah itu ......
••••
Arsen terus melihat jam di pergelangan tangannya, sedari tadi, ia terus menunggu di depan ruangan Gabby, tapi sudah 3 jam berlalu, Gabby tak kunjung keluar. Padahal, jelas-jelas semua perawat yang ia tanyakan mengatakan bahwa Gabby sedang ada di ruang pribadinya.
Tanpa Arsen tau, sedang ada pesta yang menyenangkan di ruangan Gabby.
Gas komen gengs. Satu bab lagi menyusul ya.Part haredangna besok ya hahahaha