
Gaby mencoba menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Ia berusaha untuk menetralkan diriny, agar sakit yang kepala yang dideritanya tidak menyebar ke area lain. Ia memejamkan matanya, berusaha untuk tenang dan berusaha untuk tetap fokus agar ia tidak kehilangan kesadarannya.
Tak lama, terdengar suara orang yang mengetuk jendela mobil. Gabby yang sudah memejamkan mata, kembali membuka matanya sara melihat siapa yang mengetuk kaca mobilnya. “Tuan Jeremi!” lirih Gabby, ternyata Jeremy yang yang mengetuk jendela.
Jeremy tidak asing bagi Gabby, karena dia adalah seorang CEO yang bekerjasama dengan perusahaan milik Gabriel. Gabby pun membuka jendela, kemudian tersenyum pada Jeremy. “Hallo Tuan Jeremy," kata Gabby. Jeremy mengerutkan dahinya, saat melihat wajah Gabby yang pucat
“Kau tidak apa-apa? aku kebetulan melewat kemari dan aku melihat mobil mu terparkir di sini. Aku pikir, ada yang tidak beres denganmu!” kata Jeremy. Saat akan membalas ucapan, Jeremy, tiba-tiba pandangan Gabby mengabur dan Sedetik kemudian, Gabby tak sadarkan diri membuat Jeremy dilanda kepanikan.
••
“ Mommy kalian belum sadar, mungkin akan sadar sebentar lagi," kata Jeremy pada Laura dan Naura yang sedari tadi terus diam di sisi brnangkar yang ditempati oleh Gabby.
Saat ini, Gabby sudah dibawa ke rumah sakit dan sedari tadi Laura dan Naura terus berdiam diri di sebelah Gabby. “Paman Terima kasih sudah menolong Mommy!” kata Laura. Ia dan Naura menunduk hormat pada Jeremy.
Jeremy tersenyum kemudian ia menekuk kakinya, lalu menyetarakan diri dengan Laura. dan Naura. “It's okay, sekarang, karena sudah malam. Bagaimana jika kalian beristirahat di sofa bed. Paman akan membangunkan kalian jika Mommy kalian sudah bangun!” titah Jeremy. Namun Laura dan Naura menggeleng
“Tiidak Paman, kami hanya ingin menunggu Mommy,” ucap Laura lagi.
“Ini sudah malam Sayang, kalian tidak boleh tidur terlalu malam dan ....” tanpa di duga, tiba-tiba Naura dan malah maju dan memeluk Jeremy, membuat Laura dan Jeremy langsung membulatkan matanya, marena gerakan Naura tiba-tiba.
“Tidak apa-apa,” kata Jeremy pada Laura. ia mengelus punggung Naura. Di bandingkan Laura, Naura lah yang paling hancur karena sikapnya Nael, karena dialah yang paling Berharap pada Nael.
Dan saat Jeremy datang, menyelamatkan sang ibu. Tentu saja, Naura bersikap demikian. Ia hanya mengikuti instingnya sebagai seorang anak yang rindu akan kasih sayang seorang ayah. “Ayo kita berbaring!” Jeremy bangkit sambil menggendong Naura. lalu, mengulurkan tangannya pada Laura. Seetelah itu, ia membawa Laura dan Naura ke sofa bed karena memang, Jeremi memesankan ruangan VIp untuk Gabby.
Gabby mengerjap, kemudian ia membuka matanya. Aroma obat langung menguar di hidudngnya. Dan sekarang, ia tau bahwa ia sedang berada di rumah sakit
“Kau sudah bangun?”tanya Jeremy, membuat Gabby menoleh.
“Tuan, Jeremy di mana kedua putri saya?” tanya Gabby.
“Itu mereka!” Jeremi menunjuk ke arah sofa membuat Gabby menghela nafas saat melihat kedua putrinya tertidur.
“Tuan Jeremy, terimakasih sudah membawaku kemari!” ucap Gabby, Jeremi terkekeh.
“Santai saja, Nona. Gabby.” Tiba-tiba jantung Gabby berdetak dua kali lebih kencang saat melihat senyuman Jeremi. Tapi, tak lama, ia langsung menggeleng-gelengkan kepalanya.
Gas komen gengs, ga komen besok up satu bab hahahaha