
Cinta Seorang Mualaf.
kalian wajib banget baca sampe bawah, Karena ini benar-benar cerita yang bisa bikin kalian panas dingin. Gengs, buat bab Jonathan Scrool ya. Bab nya panjang Banget. Ada kisah Damian Cecilia juga di dalemnya
Judul Novel Cinta Seorang Mualaf! Tayang di K-B-M info 088222277840
bab Jonathan tinggal scroll ya.
Bab 1
Amora berdiri di depan sebuah perusahaan, dia melihat jam di pergelangan tangannya, ini sudah setengah jam dia menunggu tapi Freed belum juga keluar, dia sudah mengirim pesan pada Freed.
Tapi Freed hanya membacanya tanpa membalas pesannya. Padahal dia baru saja tiba ke Amerika dan berniat untuk merayakan ulang tahun Freed bersama, tapi seperti biasa dia harus menunggu kekasihnya tanpa kepastian. Untuk masuk ke perusahaan Freed pun rasanya, Amora tidak berani dan alhasil, dia hanya bisa menunggu diluar.
Selalu seperti ini, 4 tahun berpacaran dengan Freed, hanya Amora yang selalu yang berjuang untuk untuk bertemu Freed dan untuk melihat wajah lelaki itu. Butuh Effort yang besar untuk Amora menemui Freed. Dia yang menetap di Rusia harus jauh-jauh pergi ke Amerika untuk menemui kekasihnya, walaupun setiap dia pergi ke Amerika dia sadar betul rasa sakit seperti apa yang akan di terimanya.
Amora dan Freed sudah berpacaran selama 4 tahun. Bahkan bisa dibilang selama 4 tahun itu Amora lah yang berjuang untuk hubungan mereka, bahkan lucunya Freed sama sekali tidak pernah mengucapakan kata cinta padanya, jangankan kata cinta, Freed bahkan tidak pernah mengucapkan kata manis padanya.
Dulu Amora merasa tertantang karena Kepribadian Freed yang dingin dan acuh membuat Amora tertantang untuk mendapatkan lelaki itu. Dulu, butuh waktu 2 tahun Amora berjuang untuk mendapatkan Freed. Hingga akhirnya, Freed menjadi kekasihnya.
Namun perjuangan Amora rupanya tidak cukup sampai di situ, Amora pikir setelah mereka resmi berpacaran Freed akan berubah, tapi khayalan Amora terlalu tinggi dan Freed malah seperti tidak menganggap kehadirannya
Tapi walaupun begitu, Amora tidak menyerah dia tetap bertahan dengan sikap dingin Freed. Selama 4 tahun ini Amora berjuang sendiri untuk menaklukkan lelaki, itu terkadang lelah dengan sikap Freed. Namun dia selalu mengingat perjuangannya saat dulu mendekati Freed sebelum mereka berpacaran.
Cinta Amora pada Freed begitu menggebu-menggebu. Dia bahkan rela terbang jauh-jauh dari Rusia ke Amerika untuk merayakan ulang tahun Freed. Walaupun dia tahu apa yang akan terjadi, yang pasti saat nanti malam Freed hanya datang sebentar, meniup lilin lalu kembali pergi meninggalkannya, karena setiap tahun selalu seperti ini.
Lamunan Amora buyar saat melihat siapa yang keluar dan perusahaan, dan ternyata itu adalah Freed, dan saat Amora melihat ke arahnya, Freed pun melihat ke arah Amora. Seperti biasa, bukan Freed yang menghampiri Amora. Namun Amora yang menghampiri Freed.
“Hai Fred,” kata Amora. Freed hanya tersenyum tipis setelah itu dia tidak berekspresi lagi.
“Ayo,” ajak Fred tanpa basa-basi. Freed mendahului langkah Amora, hingga Amora mengekor di belakang Freed dan masuk ke dalam mobil. Harusnya Amora tidak merasa sakit lagi karena dia sudah terbiasa dengan sikap kekasihnya yang seperti ini. Tapi, tetap saja sekarang Amora merasakan sakit bukan main.
Beruntung sikap Freed yang dingin bukan hanya padanya saja, melainkan pada semua orang bahkan pada keluarganya pun Freed bersikap seperti ini, hingga Amora tidak terlalu merasakan sakit dan tidak terlalu merasakan terabaikan karena dia tahu itu adalah murni sifat kekasihnya.
Saat berada di dalam mobil, Freed fokus mengemudi sedangkan Amora dari tadi melihat ke arah jendela. Dia sedang memutar otak untuk mencari topik pembicaraan dengan Freed.
Bab 2
Setelah melewati perjalanan cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Fred sampai di apartemennya, dia menoleh ke arah Amora ternyata Amora sedang tertidur.
Freed melihat wajah Amora lekat-lekat. 'Kenapa kau begitu bodoh, kenapa kau malah mencintai lelaki dingin sepertiku.’ Freed membatin dia tidak mengerti dengan jalan pikiran Amora, terkadang dia pun ingin memutuskan Amora, tapi rasanya dia juga tidak tega.
Sebenarnya dia tidak terlalu mencintai Amora, hanya saja di saat itu dia tersentuh dengan perjuangan Amora yang mendekatinya. Sebenarnya juga bukan tipe lelaki yang bisa dekat dengan orang lain, dia terbiasa dengan pribadinya yang dingin pada siapa saja dan selama 4 tahun ini jujur saja terkadang dia tidak ingat jika dia memiliki seorang kekasih, dia hanya teringat tentang pekerjaan pekerjaan dan pekerjaan.
Saat memejamkam matanya, Amora berharap Freed membangunkannya atau memanggil namanya. Tapi ternyata tidak. Karena faktanya saat ini Amora tidak tertidur dia hanya berpura-pura tertidur dan berharap Freed membangunkannya ataupun memanggilnya.
Tapi lihatlah, sudah 10 menit berlalu Freed sama sekali tidak menegurnya, akhirnya Amora pun berpura-pura terbangun, dia membuka matanya lalu melihat ke sana kemari. “Oh sudah sampai rupanya,” ucap Amora, mati-matian dia berusaha untuk tidak menangis hingga pada akhirnya dia menoleh ke arah Freed.
“Freed, Kenapa kau tidak membangunkanku?” tanya Amora berpura-pura riang.
“ Aku tahu Kau pasti lelah, jadi aku membiarkan tidur lebih lama." Setelah mengatakan itu Freed pun turun dari mobil, disusul juga Amora yang ikut turun.
“Freed, kenapa begitu sulit sekali meraih punggungmu dan menarik tangan mu,” ucap Amora ketika Freed mendahuluinya berjalan hingga pada akhirnya, mereka pun sampai di apartemen.
Freed membuka pintu apartemen, kemudian mempersilahkan Amora untuk masuk. “Kau ingin minum sesuatu?" tanya Freed.
“A-aku ingin air putih saja,” jawabnya. Freed pun pergi ke dapur sedangkan Amora pergi ke dalam
Saat berada di ruang tamu, hati Amora sedikit menghangat saat fotonya dan foto Freed, masih dipajang oleh di ruang tamu kekasihnya, setidaknya dia tidak terlalu kecewa dengan keadaan saat ini
Lamunan Amora buyar, ketika mendengar ketika mendengar suara derap langkah, dan ternyata Freed datang dia menghidangkan air dan cemilan untuk Amora.
“Sebentar, aku akan mengganti pakaianku dulu.” Freed pun berlalu kemudian pergi ke kamarnya.
30 menit kemudian.
Amora bangkit dari duduknya karena Freed tidak kunjung keluar dari kamar. Padahal tadi Freed hanya pamit untuk mengganti pakaiannya. Lalu kenapa sekarang lelaki itu tidak kunjung keluar.
Hingga pada akhirnya Amora memutuskan untuk mengunjungi Freed. Dia berjalan ke arah kamar Freed.. Lalu setelah itu, memberanikan diri mengetuk pintu. Karena tidak ada sahutan dari dalam, Amora dan tepat ketika membuka pintu Amora langsung berteriak karena Freed baru saja keluar dari kamar mandi.
“Maaf-maaf,” ucap Amora ternyata Freed lama karena dia membersihkan dirinya terlebih dahulu
jantung Amora berdetak dua kali lebih cepat saat ia kembali duduk di sofa. “Habislah aku, pasti dia akan memarahiku," Amora tau Freed pasti akan menegurnya karena tau Freed paling tidak suka dengan orang yang lancang.
Dan tak lama pintu terbuka, ternyata Fred keluar dengan tubuh yang segar, dia juga sudah memakai pakaian santai lalu mendudukkan diri di depan Amora.
“ Aku harap kau tidak lancang seperti tadi.”
bab3
Mendengar ucapan Freed yang begitu tajam, Amora yang sedang menunduk menatap Freed, harusnya dia tidak merasakan sakit hati lagi karena dia sudah tahu Freed pasti akan berbicara seperti.
”Maafkan aku, Freed,” kata Amora.
Freed mengangguk-anggukan kepalanya, “Jangan diulangi lagi, Oh ya kapan kau pulang ke Rusia?” tanya Freed. Belum reda rasa sesakit yang Amora rasakan karena ucapan Freed barusan, dia dibuat terkejut lagi dengan pertanyaan Freed yang seolah tidak menginginkan kehadirannya.
“Ka- kau mengusirku?” tanya Amora kali ini matanya membasah, membuat Amora menggigit bibirnya.
“Tidak, bukan maksudku begitu. Aku hanya takut kau tidak nyaman dan di sini, sedangkan aku sibuk bekerja bekerja,” dusta Freed padahal sejujurnya dia tidak terbiasa dengan kehadiran orang lain di apartemennya, dia juga tidak enak hati jika harus menyuruh Amora tinggal di hotel
Kali ini bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk mata Amora dia menangis di hadapan Fred. Namun secepat kilat dia menghapus air matanya.
“Aku akan pulang besok pagi, aku hanya ingin merayakan ulang tahunmu.” Saat Amora mengeluarkan air mata, Freed tidak bereaksi sama sekali, Jujur saja Freed bingung harus bagaimana dia juga tidak berniat untuk menenangkan Amora, karena dia pun bingung harus melakukan apa.
“Ya sudah. Kau pasti lelah istirahatlah, nanti jam 12.00 malam aku akan membangunkanmu,” ucap Freed. “Aku juga harus mengerjakan sesuatu dan besok pagi aku akan mengantarkanmu ke bandara.”
Setelah mengatakan itu, Freed pun bangkit dari duduknya, kemudian dia pergi ke ruang kerjanya dan ketika Freed pergi Amora langsung menutup wajahnya. Entah kenapa Amora bisa secinta itu pada Freed, lelaki yang sangat dingin, dia hanya sedang berusaha untuk mencintai Freed sampai lelah, hingga lelah itu menyuruhnya untuk berhenti.
Tapi sayangnya, rasa lelah belum menyuruhnya untuk berhenti, dia masih ingin bertahan dengan lelaki sedingin Freed. Setelah cukup lama melamun dan merenungi semuanya, Amora pun bangkit dari duduknya, kemudian dia langsung berjalan ke arah kamar tamu, tempat di mana dia biasa tidur ketika berada di Amerika.
***
“ Amora ... Amora!" panggil Freed. Amora terbangun kemudian dia keluar dari kamar.
“ Oh sudah jam 12 rupanya,d ucap Amora karena dia tahu Freed pasti akan membangunkannya pada pukul 12.00 malam.
“Ayo kita tiup lilin bersama," ajak Freed. Amora mengangguk. Lalu setelah itu mengikuti langkah Freed yang masuk ke dapur dan saat berada di dapur, Freed mengambil kue ulang tahun di kulkas. Lalu setelah itu membawanya ke ruang tamu, hingga kini keduanya sudah duduk bersila di lantai dan anya terhalang oleh meja
setelah itu, Freed mengepalkan tangannya sedangkan Amora mengadahkan tangannya karena mereka berbeda agama, keduanya saling berdoa hingga keduanya dan sama-sama memejamkan mata. Lalu setelah itu, Freed menutup matanya sejenak.
Saat membuka mata, Amora terpaku untuk pertama kalinya selama 4 tahun ini, ia melihat ekspresi Freed yang lain. Namun ekspresi itu hanya hitungan detik, karena ekspresi Freed sudah kembali dingin.
“Terima kasih Amora, sudah mau merayakan ulang tahunku.”
“Selamat ulang tahun, Freed. Semoga Tuhan memberkatimu,” ucap Amora. Freed menggangguk.
“Ini sudah malam, ayo kembali tidur. Bukankah kau ingin pulang besok pagi ke Rusia, istirahatlah aku juga sudah membelikan tiket untukmu.” Freed pun bangkit dari duduknya, hingga Amora pun juga ikut bangkrut.
“Freed. Apakah kau akan tetap seperti ini?” tanya Amora
Bab 4
“Apa kau akan tetap seperti ini?’ tanya Amora ketika sudah berbalik dan akan kembali ke kamarnya. Mendengar pertanyaan Amora Freed langsung terdiam, dia menoleh ke arah kekasihnya.
Kali ini tangis Amora sudah berlinang, tahun-tahun kemarin mungkin Amora masih sabar menghadapi sikap Freed. Setiap ulang tahun, mereka hanya akan meniup lilin. Lalu setelah itu Freed menyuruhnya untuk kembali ke kamar.
Ya, Amora tahu mungkin tidak ada yang harus mereka lakukan dan tahu ini sudah malam hanya saja Amora berharap sikap Freed lebih mencair, apalagi ini sudah tahun keempat mereka bersama.
Helaan nafas terlihat dari wajah Freed. Jujur saja dia benar-benar lelah dan tidak ada tidak ada tenaga untuk menghadapi Amora.
“ Amora kau tahu bukan, aku seperti ini. Pilihan ada padamu. Jika kau ingin bertahan, maka bertahanlah denganku yang seperti ini, jika tidak
..."
“Aku ingin istirahat ....” tiba-tiba Amora langsung memotong ucapan Freed. Walau bagaimanapun dia masih belum siap untuk melepaskan Freed. Amora benar-benar memegang teguh prinsip
'Bersamamu sakit, tapi tidak bersamamu jauh lebih sakit.’
Amora menghapus air matanya, kemudian wanita itu langsung pergi ke kamarnya. Lalu setelah itu menutup pintu dengan sedikit membantingnya membuat Freed menggeleng, lelaki itu pun langsung kembali ke kamarnya
Amora mendudukkan diri di lantai dia memeluk lututnya dengan tatapan mata lurus ke depan menatap gedung-gedung yang ada di depannya.
“Freed, haruskah aku terus merendahkan diriku di hadapanmu, agar kau melihat aku,” ucap Amora malam ini benar-benar malam yang menyakitkan untuknya, dia hanya ingin menangis menangis dan menangis.
Malam berganti pagi,.kedua insan itu sarapan dalam hening tidak ada yang berbicara satupun. Freed fokus dengan makanannya, begitupun Amora. Biasanya, Amora akan mencairkan suasana dan berusaha memancing Freed bicara, walaupun tidak pernah berhasil. Namun sekarang Amora merasa lelah.
Bingung karena Amora terdiam tak seperti biasanya, sesekali Freed mencuri-curi pandang ke arah Amora..Namun dia sama sekali tidak berniat bertanya pada kekasihnya
Acara makan pun selesai, Amora langsung bangkit dari duduknya begitupun dengan Freed, tidak ada yang berbicara sepatah kata pun hingga pada akhirnya mereka berdua keluar dari apartemen Freed. Bukan hanya itu saja, saat berada di mobil pun tidak ada yang berbicara Amora fokus melihat ke arah jendela begitupun dengan Freed yang fokus mengemudi.
Hingga pada akhirnya, mobil yang dikendarai Freed sampai di bandara. “Terima kasih sudah mengantarkanku,” ucap Amora, Freed hanya menganggukan kepalanya, walaupun tahu reaksi Freed akan seperti ini. Tapi Amora berharap Freed akan memeluknya, ataupun mengucapkan kata perpisahan apalagi mereka tidak tahu kapan bertemu lagi.
Amora berbalik dan mulai berjalan, rasanya Amora ingin menoleh lagi, tapi dia tahu pasti Freed sudah pergi. Setengah perjalanan, mati-matian Amora tidak menoleh kebelakang. tapi pada akhirnya Amora kembali menoleh untuk melihat Freed.
Hati Amora terasa nyeri, benar saja Freed sudah tidak ada di tempatnya, lelaki itu sudah pergi sebelum dia masuk ke pintu keberangkatan. Amora menghirup oksigen sebanyak-banyaknya kemudian dia pun melanjutkan langkahnya.
***
Pesawat sudah mengudara, Amora menyadarkan tubuhnya ke belakang. Lalu setelah itu melihat ke arah jendela, hati Amora terasa mellow selalu seperti ini setiap dia meninggalkan Amerika, dia selalu merasa hatinya tertinggal. Entahlah kenapa pesona Freed begitu kuat hingga Amora yang sudah merasakan sakit berkali-kali masih bertahan bersama lelaki itu.
“Ehmmm.’ Tiba-tiba seseorang berdahem hingga Amora menoleh, ia melihat lelaki itu dengan aneh. Sebab saat tadi dia duduk di kursinya, lelaki itu memakai masker dan memakai topi hingga wajahnya tidak terlihat. Namun saat lelaki itu berdahem, Amora seperti mengenal suara lelaki itu.
Sadar akan diperhatikan oleh Amora, lelaki itu membuka maskernya, kemudian membuka topinya membuat Amora menutup mulut. “Faris!” pekik Amora, ia tak percaya saat melihat temannya berada di pesawat yang sama
“Kau tidak menyadari dari tadi?" tanya Faris, Amora menggeleng.
“Kenapa kau tadi tidak menegurku?” tanya Amora. Farish menatap Amora dengan penuh cinta, karena faktanya Farish ke Amerika mengikuti Amora, beruntung jalan Paris dipermudah hingga dia pun pulang mendapatkan posisi kursi bersebelahan dengan wanita yang dia cintai. Faris sekarang bekerja sebagai dosen di Rusia, sedangkan Amora menjadi pengacara.
Faris sudah lama sekali mencintai Amora, bahkan saat mereka di bangku kuliah, mereka juga sama-sama berasal dari Indonesia dan keyakinan mereka pun sama.
Namun sayang, cinta Faris bertepuk sebelah tangan, dia sudah beberapa kali meminta Amora menjadi kekasihnya hanya Amora selalu menolak.
“Faris, apa kau sedang ada perjalanan bisnis? Bagaimana dengan pekerjaanmu?” tanya Amora bertubi-tubj. Namun tak lama Amora menghentikan ucapannya saat melihat Faris menatapnya dengan tatapan berbeda dan Amora mengerti akan tetapan Faris.
“Faris Jangan kau bilang kau kemari mengikutiku?” tanya Amora
Bab 5
Farish, kau tidak benar-benar melakukan itu kan?’ tanya Amora saat Farish menatapnya berbeda, Faris tampak tidak menjawab ucapan Amora. Namun dari matanya sudah menjawab semuanya.
Amora langsung mengalihkan tatapannya ke depan, hingga tidak ada yang berbicara, Amora dan Faris sama-sama diam. Kecanggungan langsung melanda Amora, dia tidak lagi berbicara dan dia tidak lagi bertanya, begitupun dengan Faris, dia lebih memilih untuk diam dan tidak berkata lagi pada Amora karena dia tahu Amora merasa tidak enak padanya dan merasa malu. Tapi dia pun ingin Amora tahu, bahwa dia selalu ada di dekat wanita itu.
Setengah jam kemudian, Amora masih diam begitupun dengan Faris. Sedari tadi, Amora terus berpikir, kenapa Farish tidak berhenti mengejar-ngejarnya. Padahal jelas-jelas dia sudah menolak Farish beberapa kali.
Pada akhirnya, rasa penasaran Amora langsung memuncak. Padahal selama ini dia menahan untuk tidak bertanya. Namun melihat Effort Farish yang luar biasa, sampai mengikutinya ke Amerika, Amora mendadak penasaran, hingga dia pun menoleh ke arah Faris.
Faris yang merasa ditetap oleh Amora pun ikut menoleh. “Kenapa?”. tanya Faris.
“Farish Kenapa kau mengikutiku sampai ke sini? Kenapa kau harus melakukan hal segila ini?” tanya Amora dia berbisik karena tidak ingin ucapannya terdengar oleh orang lain.
Wajahnya tampak santai, namun di dalam lubuk hatinya dia begitu berbunga-bunga ketika Amora menanyakan alasannya, hingga tanpa sadar tangannya bergerak mengelus rambut Amora.
“Karena aku takut terjadi apa-apa denganmu, setiap kau pulang ke Amerika kau selalu tampak hancur.”
“Setiap?” ulang Amora. “Jadi selama ini kau selalu mengikutiku, jika aku pergi ke sini?’ tanya Amora lagi. Bahkan berteriak karena terlalu terkejut dengan apa yang di dengarnya.
Tak lama, dia menutup mulutnya karena semua orang melihat ke arahnya
“Setiap kau pergi ke Amerika, pasti kau pulang selalu seperti in, dan aaku takut terjadi apa-apa denganmu.” Farish ya mengucapkannya dengan suara yang super lembur, hingga kata-kata Farish begitu menyihir, dia tidak pernah diperlakukan seistimewa ini oleh Freed. Jangankan seperti ini, Freed saja bahkan tidak pernah mengkhawatirkannya, tiidak pernah bertanya apa dia sudah sampai atau belum.
Lagi-lagi Amora menatap ke depan. Entah kenapa dia terlalu malu menatap Freed. Hingga pada akhirnya dia bertanya. “Apa aku terlalu bodoh?” tanya Amora karena dia tahu, Farish sudah melihat apa yang terjadi setiap dia pulang dari Amerika.
“Tidak, itu normal. Kau hanya sedang memperjuangkan cintamu. Sama denganku, yang sedang memperjuangkan cintaku.”
Ucapan Farish, membuatnya tertampar, hingga Amora tidak bertanya lagi, dia tetap diam. Dan setelah melewati perjalanan yang cukup panjang akhirnya pesawat yang di tumpangi Amora dan Farish berhenti di bandara Rusia
Farish menoleh ke arah Amora ternyata Amora sedang tertidur, hingga lelaki itu mengusap lembut bahu wanita yang ia cintai.
“Amora!” panggil Faris, Amora langsung terbangun, dia langsung menoleh ke arah Farish.
“Ayo turun, kita sudah mendarat.” Amora mengangguk, kemudikan merapikan tampilannya dan Faris langsung bangkit dari duduknya, lalu mengambil koper miliknya dan milik Amora, hingga Amora langsung terdiam ketika Farish melakukan itu.
“Ayo,” ajak Farish ketika Amora masih melamun, hingga Amora tersadar wanita itu pun langsung mengikuti langkah Farish untuk turun dari pesawat.
“Mobilku terparkir di sana, kau tunggu di sini aku akan mengambil mobilku dulu, dan aku akan mengantarkanmu,” ucap Faris, saat Farish akan berbalik, Amora menarik tangan Faris.
Bab 6
Saat Amora menarik tangannya, Farish menoleh lalu kembali berbalik. “Ada apa, kau tidak ingin pulang denganku?” nada suara Farish mulai merendah, hingga Amora menggeleng.
“Tidak, boleh aku ikut ke parkiran.”
“Tapi jauh Amora.”
“Tidak apa-apa, ayo.” Amora menarik kopernya, kemudian mendahului Farish, begitupun dengan Faris yang berjalan di belakang tubuh Amora.
”Amora Kenapa sulit sekali menggapai punggungmu dan memintamu untuk berbalik.” Farish membatin ketika melihat punggung Amora yang ada di depannya.
Setelah melewati perjalanan cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai Farish sampai di basement apartemen Amora. Amora hidup di Rusia seorang diri, karena kedua orang tuanya berada di Turki. Tapi, walau begitu, Amora masih mempunyai seorang bibi, adik ayahnya yang tinggal di Rusia. Namun Amora lebih memilih tinggal seorang diri di apartemen, karena agar lebih leluasa.
“Amora, ini sudah sampai,” ucapan Farish saat Amora terlihat melamun, hingga Amora mengerjap lalu tersadar. “Oh sudah sampai rupanya, jawab Amora.
Amora melihat ke arah Faris, wanita itu menggigit bibirnya, lalu bertanya. “Farish, Kenapa kau tidak mencari wanita lain saja,” ucap Amora.
Sebenarnya ini pukulan berat baginya, dia merasa perasaan yang aneh ketika mengetahui Farish selalu mengikutinya saat dia pergi ke Amerika. “Kenapa kau selalu mengikutiku setiap aku pergi ke Amerika.”
“Aku tidak mau kau menangis sendirian, cintailah dia Amora sampai Kau lelah, sampai kau berpikir bahwa semua pengorbananmu sia-sia.”
“Kenapa kau tidak mencari wanita lain.” Amora kembali mengulang pertanyaanya.
“Karena aku mencintaimu, tidak ada alasan lagi dan tolong jangan bertanya lagi.”
“Kenapa kau melakukan ini?” rasanya Amora benar-benar tidak kuasa untuk tidak menangis Entah kenapa hatinya masih belum terbuka ketika dia melihat perjuangan seorang lelaki, tapi iya masih ingin bertahan bersama Freed.
Mengerti apa yang di rasakan oleh Amora, Faris menggenggam tangan Amora. “Tidak perlu merasa bersalah Amora, ini bukan keinginanmu ini keinginanku. Kau tidak perlu merasa tidak enak."
Saat Farish menggenggam tangannya, hati Amora benar-benar menghangat, Fred tidak pernah melakukan ini padanya, dia tidak pernah merasa diistimewakan oleh kekasihnya. hingga pada akhirnya Amora memutuskan sesuatu.
“Farish, apa kau akan lelah menungguku?” tanya Amora. Farish menggeleng.
“Tidak, aku tidak akan pernah lelah selama janur kuning belum melengkung. Aku tidak akan lelah untuk menunggumu. Seperti yang kubilang, kejarlah dia Sampai Kau lelah hingga rasa lelah itu memberikanmu jawaban.” Farish menutup ucapannya dengan senyuman, tangannya tergerak untuk menghapus pipi Amora yang sudah dibanjiri oleh air mata.
***
Freed masuk ke dalam apartemen lelaki itu langsung berjalan ke arah dalam lalu membuka mantelnya dan mendudukan diri di sofa, hari ini dia sengaja tidak ingin pergi ke kantor karena dia ingin mengistirahatkan tubuhnya sejenak
Selalu seperti ini, setiap hari ulang tahunnya dia selalu merasakan separuh jiwanya pergi, dia selalu bernostalgia dengan masa lalunya yang begitu kelam. Bagaimana tidak, saat kecil dia hidup di panti asuhan yang sangat kejam, di mana anak-anak selalu disiksa di panti asuhan itu. Namun tentu saja tidak ada yang tahu
Freed selalu diperlakukan buruk oleh ketua panti, dan pada akhirnya Freed diadopsi oleh keluarga angkatnya, hingga Freed hidup dengan layak dan menjadi seperti ini.
Sebenarnya kemarin juga bukan ulang tahun Freed, karena Freed sendiri tidak tahu kapan ulang tahunnya, tanggal ulang tahunya dia yang diciptakan sendiri, sebenarnya tanggal tersebut, adalah tanggal ketika dia diadopsi oleh keluarga angkatnya
Setelah dia sukses, dan mulai bisa berdiri di kakinya sendiri, dia mulai mengetahui keluarga yang asli, ternyata ayahnya seorang turunan bangsawan. Dan satu lagi kenyataan yang memukul, Freed dibuang karena dia terlahir dari seorang perempuan yang bergelar sebagai pelayan, hingga keluarga ayahnya menentang kehadirannya karena dia hanya anak dari selingkuhan ayahnya.
Bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk mata Freed saat mengingat semuanya, kali ini ekspresi Freed tidak lagi dingin, wajahnya berubah dipenuhi dengan kesedihan.
Saat dia akan bangkit, dia melihat sesuatu di meja dan itu adalah sebuah surat, membuat lelaki itu megerutkan keningnya, hingga pada akhirnya dia pun meraih surat itu ternyata itu adalah tulisan Amora.
Bab 7
Freed mengerutkan keningnya saat melihat kertas yang ternyata tulisan Amora, entah Sejak kapan Amora menaruh kertas karena tadi pagi seingatnya tidak ada kertas itu di sana, dia pun langsung membukanya kemudian membacanya.
“Aku tidak tahu sampai kapan aku bertahan denganmu Tapi aku akan mencoba bertahan sampai aku lelah.” Hanya itu yang Amora tulis, rupanya Amora meletakkan kertas itu saat Freed sedang memakai mantel.
Freed merasa ada yang aneh dengan hatinya saat membaca surat itu. Entah kenapa dia merasa ada yang aneh dengan hatinya. Padahal tadi saat mengantar Amora ke ke Bandara, dia biasa-biasa saja. Walaupun sempat terhanyut, tapi Freed malah meremas kertas tersebut kemudian dia melemparnya ke sembarang arah, dia tidak ingin memikirkan apapun hingga pada akhirnya Freed membaringkan tubuhnya di sofa Lalu setelah itu lelaki tampan itu memejamkan matanya.
***
“Jadi maksudmu Aku harus pergi ke Rusia begitu?” tanya Fred pada Antoni, yang tak lain sekretarisnya. Freed mengusap wajah kasar saat melihat anggukan dari Antoni. Perusahaan yang di Rusia sedikit bermasalah, dan hanya Freed yang bisa pergi ke Rusia untuk membereskan semuanya.
Dia begitu enggan pergi ke Rusia karena Malas meladeni Amora, ini sudah 1 bulan berlalu di mana Amora pulang dari Amerika dan selama satu bulan ini pula, Amora Selalu mengirimnya pesan. Namun Freed selalu membalas sekenanya, dan jarang sekali membalas pesan Amora.Dia bisa saja tidak mengabari Amora, tapi bagaimana jika dia berpapasan dengan Amora dan pasti itu akan lebih rumit.
“Kau benar-benar tidak bisa pergi?” tanya Freed.
lagi.
“Tidak bisa, Tuan. Ini membutuhkan tanda tangan anda.”
Freed menghela nafas berat. “Ya, sudah pesankan tiketnya.”
***
Amora keluar dari ruang persidangan, hari ini dia baru saja menangani kliennya, di tengah rasa senangnya karena dia memenangkan persidangan dan karena kliennya terbukti tidak bersalah, Amora merasa tidak karuan kala Freed tidak membalas pesannya. Bahkan, dia menunggu ini sudah dua hari pesannya diabaikan oleh kekasihnya. Freed hanya membaca pesannya, tanpa membalasnya.
“Amora!” panggil Theresia yang tak lain teman yang satu tim dengannya. “ Ayo kita menikmati kopi, kita rayakan keberhasilan kita," ucap Theresia.
“Ayo.” Amora dan Theresia pun berjalan ke arah mobil masing-masing, kemudian mereka pun menjalankan mobilnya ke arah cafe yang tidak jauh dari pengadilan.
“Aku akan menelpon seseorang, kau duluan saja,” ucap Amora ketika mereka sampai di cafe dan Theresia sudah keluar dari mobil. Theresia pun menggangguk, kemudian masuk seorang diri, sedangkan Amora masih diam di mobil dan mengutak-atik ponselnya, berharap Freed sudah membalas pesannya.
Dan ternyata, Freed belum membalas pesannya padahal Amora mengirim pesan itu dua hari yang lalu. Sejatinya, Amora sedang berusaha untuk mendapatkan rasa lelahnya agar dia dengan cepat menyerah dan dengan cepat bisa melupakan Freed agar bisa membuka hati untuk Farish.
Tapi ternyata, hati Amora tetap sama sudah satu bulan ini dia terus memberi perhatian pada Fred. Padahal dia tahu Freed tidak akan pernah menggubrisnya, dia berharap perasaannya berubah pada lelaki itu, tapi ternyata tidak. Tidak ada yang berubah, perasaannya tetap sama
Amora melepaskan sabuk pengamannya, kemudian wanita itu langsung keluar dari mobil Lalu setelah itu dia masuk ke dalam cafe. Saat masuk ke dalam cafe, tubuh Amora diam mematung, nafasnya mendadak tidak beraturan saat melihat Freed sedang duduk di cafe yang sama
***
Nafas Amora mendadak tidak beraturan, selama dua hari ini, dia menunggu Freed, tapi lihatlah lelaki yang dia tunggu-tunggu malah sedang anteng berada di kafe dan di negara yang sama, tidak memberitahunya datang ke Rusia.
Pada akhirnya, Amora pun langsung menghampiri. “Freed, kau keterlaluan,” kata Amora.
Hellaan afas besar terlihat dari wajah Freed. “Aku hanya ada bisnis mendadak di sini.’
“Lalu kenapa kau tidak membalas pesanku?” tanya Amora. Hingga Freed menghela nafas lagi.
Seandainya dia tahu dia akan bertemu Amora di sini, dia tidak akan mengajak adik angkatnya untuk bertemu di kafe ini.
“Aku tidak mau berdebat Amora.”
Amora merasakan emosinya memuncak saat mendengar ucapan Freed. “Harusnya aku tahu kau seperti ini, Kau pasti juga tidak ingin aku ada di sini, kan? Lanjutkan saja Freed.” Amora pun berbalik, kemudian mencari meja yang ditempati oleh Theresia, sedangkan Freed sama sekali tidak bereaksi.
Dan ketika Amora sudah duduk, Amora kembali melihat lagi ke meja Freed, ternyata Freed sudah tidak ada di san, sepertinya saat Amora berbalik, Freed pun langsung pergi.
“Amora, kau baik-baik saja?” tanya Theresia
“ Tidak, Theresia. Aku tidak baik-baik saja.”
Bab 8
Amora menyandarkan tubuhnya ke belakang dia mengangkat tangannya kemudian mengusap air matanya dengan tisu yang baru saja diambil.
Amora merasa tidak sanggup berada di kafe, hingga dia meninggalkan Theresia dan memutuskan untuk pulang. Pertemuannya dengan Freed barusan benar-benar membuat hati Amora hancur.
Entah kenapa dia begitu bodoh karena terus mau bertahan dengan lelaki seperti Freed, di mana dia sudah menunggu Freed tapi ternyata, Freed malah ada di negara yang sama dan sama sekali tidak memberitahukannya dan tidak menghargai keberadaannya.
“Amora Kenapa kau begitu bodoh, kau sekolah di sekolah terbaik, kau selalu berprestasi tapi kenapa soal ini kau begitu bodoh!” Amora mengumpat dirinya sendiri yang tidak bisa mengontrol perasaannya hingga tak lama Amora menghentikan tangisnya kala ponselnya berdering
Dan ternyata, ada satu panggilan masuk dari Farish. Amora berusaha menenangkan dirinya, dia tidak ingin terlihat bodoh di hadapan Faris.
“Ya, Faris,” jawab Amora dengan berusaha tegar.
“ Amora Kau di mana?” tanyanya.
“Aku baru saja keluar dari pengadilan, kenapa?”
“Ibuku membuatkan cookies kesukaanmu, bisakah kau datang, atau bagaimana jika aku menjemputmu.” Amora membekap mulutnya karena tangisnya sudah berlinang, apa lagi ketika Faris mengucapkan hal tersebut.
Dia merasa semua berkecamuk dalam dada, dia merasa jahat karena telah menyia-nyiakan Faris, karena faktanya, bukan hanya Faris saja yang baik padanya keluarga Farish pun juga sangat menyayanginya, tapi dia malah terpaku pada lelaki seperti Freed.
“Oh Farish, aku akan ke rumahmu sekarang.” Amora dengan cepat menutup panggilannya karena dia tidak ingin Farish mendengar tangisnya, dia berdiam diri sejenak kemudian langsung menegakkan tubuhnya kemudian dia membuka dashboard mengambil perlengkapan makeup, lalu mengoles make up tipis, dia tidak ingin Farish melihatnya dengan kacau.
Setelah selesai, Amora menyalakan mobilnya kemudian menjalankannya untuk menuju rumah Farish, dan setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai Amora sampai di sebuah rumah yang sangat besar yang tak lain milik keluarga Faris.
Amora menekan klakson hingga tak lama pagar terbuka, Amora pun langsung melajukan mobilnya kembali kemudian masuk melewati pagar. Setelah mobil mendarat di pekarangan, Amora merogoh tasnya kemudian dia mengambil ponselnya untuk menelpon Faris.
“Faris, aku di depan,” kata Amora.
“Oh, ya. Amora tunggu sebentar.” Terdengar suara Farish berlari, karena panggilan belum di tutup oleh lelaki itu dan tak lama muncul sosok Farish keluar dari rumah, dan berjalan dengan girang ke arah mobilnya.
Jantung Amora berdetak dua kali lebih cepat, nafasnya terasa tercekat, saat melihat Farish yang tampak antusias ketika melihatnya. “Haruskah aku membuka hati untukmu,” ucap Amora, wajah Farish terlihat sumringah ketika menjemputnya.
Amora tersadar ketika Faris membuka pintu dari luar, hingga Amora langsung menekan tombol dan pintu pun terbuka. “Harusnya kau bilang saja kau di mana. Jadi aku bisa menjemputmu,” kata Farish.
Amora terkekeh, berusaha untuk tidak menunjukkan kerisawannya. “Ayo, Ibu sudah menunggumu,” ajak Farish. Amora mengangguk kemudian wanita itu langsung turun dan mengikuti langkah Farish.
Saat berjalan, Farish mendahuluinya dan Amora berjalan di belakang. Namun tak lama, Farish menghentikan langkahnya dan kembali menoleh lalu dia pun memundurkan langkahnya membuat Amora tertawa, karena tingkah Faris begitu lucu.
“Bagaimana Apa sidangmu lancar hari ini?” tanya Faris ketika mereka sedang berjalan.
“Hmm, aku memenangkan persidangan, klienku terbukti tidak bersalah.”
“Waw, kau hebat sekali,” ucap Farish, bukannya senang dengan pujian Farish, Amora malah merasa sesak. Farish selalu mengapresiasi apapun yang dia lakukan.
***
“Bu ini Amora,” kata Farish saat Amora masuk dalam rumah.
“Ya Tuhan, Amora. Sudah lama sekali bibi tidak melihatmu.” wanita paruh baya blasteran Indonesia dan Turki itu langsung menghampiri Amora, kemudian Amora dengan cepat menyalami Fatimah.
“Maafkan aku, Bi. Aku tidak sempat menengokmu, aku banyak sekali pekerjaan.” kata Amora.
“Tidak apa-apa, bibi baru saja menelepon ibumu dan mengatakan kau akan kemari,” kata Fatim, karena memang dia dan ibu Amora berteman dekat, kebetulan Ayah Faris asli dari Rusia dan ayah Farish adalah teman dari ayah Amora.
“Ayo masuk, cookies masih hangat bibi dan bibi dengar kau tidak menyukai cookies dingin,” kata Fatin. Dia merangkul tubuh Amora.
‘Amora Kenapa kau bodoh sekali, masih mengharapkan lelaki itu..Sedangkan di sini menyambutmu dengan hangat.’ Amora membatin.
***
“Amora, bibi pergi ke atas dulu, kau bersama Faris dulu ya. Bibi akan senang jika kau menginap di sini,” ucap fatim setelah mereka berbincang-bincang dan menghabiskan cookies buatan Fatim.
Amora tersenyum. “Baik, Bibi. Tapi sepertinya untuk menginap tidak, aku banyak sekali pekerjaan.”
“Oh baiklah, bibi akan menyuruh pembantu untuk membungkuskan makanan rumahan untukmu.”
Amora mengangguk. “Terimakasih, Bibi.” Fatim pun langsung bangkit dari duduknya kemudian meninggalkan ruang tamu.
“ Amora, ayo kita pergi ke balkon. Kita berbincang-bincang di sana,” ajak Faris ketika Fatim sudah pergi. Amora pun mengangguk, kemudian mengikuti langkah Faris.
Dan di sinilah mereka duduk, di balkon rumah Faris. Amora menatap takjub pada pemandangan di depannya, saat Amora melihat pemandangannya Farish menuangkan teh untuk wanita yang dia cintai, kemudian dia menyodorkan teh itu pada Amora.
“Minumlah Amora, ini teh hijau baik untuk pencernaanmu,” kata Faris Amora mengangguk kemudian tersenyum. “Terima kasih Farish.”
“Bagaimana apa kau sudah lelah?” tanya
Farish tiba-tiba, membuat Amora hampir saja tersedak.
“Maksudmu?” kata Amora dengan gugup. Padahal dia tahu maksud pertanyaan Faris.
“Tidak lupakan saja," jawab Farish yang tak ingin membuat Mood Amora memburuk.
Amora hanya tersenyum samar dia kembali menyeruput tehnya, hingga Faris pun langsung mengajak Amora untuk membahas hal lain.
Bab 9
Amora melihat jam di pergelangan tangannya ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 05.00 sore, dan dia harus segera pulang karena dia harus meninjau beberapa kasus.
“Faris Terima kasih sudah menjamuku di sini,” kata Amora Farish mengangguk.
“Sayang sekali kau tidak bisa menginap di sini
Padahal, ibu pasti akan senang jika kamu menemaninya,” ucap Farish, mereka pun keluar dari balkon.
Setelah keluar dari Balkon, Farish mengambil rantang yang disiapkan oleh pembantu di rumahnya untuk Amora yang berisi masakan sang ibu, kemudian memberikannya pada Amora. dan setelah itu, Farish mengantarkan Amora ke mobilnya.
Ketika saat sampai di mobil Amora, Farish langsung membukakan pintu untuk Amora hingga Amora pun langsung masuk kemudian pamit pada Farish dan langsung menjalankan mobilnya menuju pulang ke apartemennya
keesokan harinya
“Nona Adeline, jika hakim menolak gugatanmu kau bisa mengajukan banding agar anakmu berada di tanganmu,” kata Amora saat dia berhadapan dengan kliennya.
kliennya terlihat hancur karena suaminya menggugat cerainya dan membawa anak mereka. Adelin yang sedang menangis menghapus air matanya, kemudian dia menggenggam tangan Amora.
“Nona Amora. Aku memilihmu karena kau pengacara yang hebat, kau selalu memenangkan kasus besar dan aku mohon tolong memenangkan kasusku, biarkan aku bersama anakku,” pintanya dengan mengiba.
“Aku tidak bisa berjanji apapun Nona Adelin. kasusmu juga cukup berat, bukti-bukti yang suami anda mendapatkan juga menguntungkannya, kita hanya berdoa dan mengemukakan alasan yang sebenarnya pada hakim,” ucap Amora. Adelin tidak menjawab dia, dia begitu pesimis.
Amora melihat jam di pergelangan tangannya, kemudian dia mengelus lembut bahu Adelin. “Ayo nona, Adelin. Sidang sebentar lagi akan dimulai." Mereka pun keluar dari ruang tunggu, kemudian masuk ke dalam ruangan sidang.
Palu hakim telah diketuk, Amora memejamkan matanya. Rasanya dia ingin sekali menangis ketika hakim memutuskan hak asuh di suami Adelia atau yang kini menjadi mantan suami kliennya
Bukti-bukti yang dikeluarkan ricard, mantan suami Adelina, tentang Adelin membuat hakim memutuskan semuanya bahwa Adelin tidak dapat hak asuh anak mereka dan untuk pertama kalinya pula Amora gagal dalam menangani kasus.
Sidang selesai, ruangan sidang juga sudah kosong hingga di ruangan itu, hanya meninggalkan Amora seorang diri. Saat semua keluar Amora masih merenung, dia merasa bersalah pada Adelin hingga pada akhirnya Amora tersadar, dia pun segera membereskan semuanya.
Saat dia akan keluar tiba-tiba ponselnya berdering, satu panggilan masuk dari Faris.
“Amora kau di mana?” tanya Farish.
“Aku baru keluar dari keluar dari ruang per ....” tiba-tiba Amora menghentikan langkahnya, jantung Amora terasa dibelah oleh belati, dadanya bergemuruh bahkan tanpa sadar dia menjatuhkan ponsel yang dipegangnya kala melihat adegan di depannya, di mana Freed sedang memeluk Adelin, kliennya.
Dunia Amora seakan berhenti berputar ketika untuk pertama kalinya dia melihat Freed seperti ini, rupanya Adelin adalah sahabat Freed yang sama-sama tumbuh di panti asuhan yang kejam, dan hanya pada Adelinlah sifat Freed mencair dan Freed tidak pernah bersikap dingin pada Adeline.
Selama ini mereka tumbuh bersama, hanya saja saat Adelin menikah Freed lebih memilih pindah ke Amerika. “Sudah Adelina, jangan menangis. Anakmu pasti kembali ke pelukanmu,” kata Freed sambil mengelus punggung Adeline dia memeluk Adelin dengan tulus.
“Jika perlu aku akan ....” tiba-tiba ucapan Freed terputus saat melihat Amora ada di depannya dan Entah kenapa kali ini dia mendadak merasa tidak nyaman dengan tatapan Amora, apalagi sekarang wajah Amora sudah berlinang air mata.
Biasanya dia akan acuh dengan perasaan kekasihnya tapi sekarang saat melihat Amora menatapnya saat dia memeluk wanita lain rasanya Freed sedikit merasa bersalah.
Ini sudah beberapa menit berlalu Freed dan Amora saling menatap, dan selama saling menatap itu pula Freed tidak melepaskan pelukannya dari Adelin. Bahkan dia masih terus mengelus punggung wanita itu, membuat hati Amora semakin perih.
Jangan ditanyakan betapa hancurnya Amora saat ini, yang pasti dia benar-benar merasakan perih yang luar biasa. tidak pernah terbayangkan dia akan melihat hal yang menyakitkan ini, hingga tanpa sadar, wanita malang itu menangis.
Dari sekian banyak rasa sakit yang Amora rasakan ketika berpacaran dengan Freed. Inilah puncak rasa sakit tertingginya. Sekarang dunia Amora benar-benar hancur, Dia hanya bisa menatap tanpa bisa protes tanpa bisa bertanya .
Lamunan Amora buyar kalah ponsel yang berada di lantai kembali berdering, rupanya tadi Farish menelpon Amora kembali karena barusan Amora tidak tidak berbicara lagi. Hingga Farish mematikan panggilannya, lalu kembali menelpon wanita yang dia cintai.
Amora mengejap, kemudian dia menghapus air matanya. Lalu setelah itu membungkuk mengambil ponsel dari lantai, kemudian berbalik pergi ke arah lain.
Dia melalui langkahnya dengan rasa sakit yang luar biasa, rasanya Amora tidak sanggup lagi untuk bernafas, dunia Amora dalam sekejap menghitam semua harapan yang Amora kumpulkan hilang tercerai-berai.
***
Amora masuk ke dalam apartemen, dia langsung melepaskan tasnya tidak perduli di tasnya ada laptop dan lain-lain, wanita itu seperti kehilangan arah.Wajah Amora benar-benar sudah pucat dengan mata yang sembab.
Bagaimana tidak, sedari tadi di perjalanan sampai sekarang Amora tidak bisa menghentikan tangisnya. Baahkan Amora tidak memperdulikan beberapa orang yang melihatnya.
Saat sampai di kamar, dia langsung menjatuhkan tubuhnya di lantai, dia langsung menangis kencang-kencangnya memukul-mukul dadanya dan yang terparah Amora memukul-mukulkan kepalanya pada tembok, dia merasa bodoh dia merasa dirinya tidak berarti lagi di hadapan siapapun.
bab 10
Farish menjalankan mobilnya dengan kecepatan penuh. Entah kenapa perasaannya mendadak tidak enak. Saat tadi ia kembali menelpon Amora kembali, Amora memang mengangkatnya. Namun Farish bisa mendengar bahwa suara Amora seperti memberat bahkan dia mendengar suara isakan kecil.
Belum sempat bertanya, Amora sudah mematikan panggilannya, hingga pada akhirnya Faris yang khawatir langsung menyusul Amora dan dari posisi ponsel Amora, Amora ada di apartemen hingga Farish sekarang menuju ke sana.
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Farish sampai di basement. Farish pun dengan segera turun kemudian berlari ke arah apartemen Amora.
Saat berada di depan unit apartemen Amora, Farish langsung menekan bel, dia menggedor-gedor pintu karena Amora tidak kunjung menjawab.
Setengah jam berlalu, Amora tidak juga keluar bahkan beberapa orang yang menempati apartemen lain keluar karena merasa terganggu dengan apa yang dilakukan oleh Farish.
Faris yang dilanda khawatir langsung meminta pengurus apartemen meminta untuk membongkar pintu Amora secara paksa, dan beruntung penjaga apartemen itu mengabulkan keinginan Farish.
Sehingga satu setengah jam berlalu, akhirnya pintu terbuka dan dengan cepat Farish langsung masuk ke dalam, dia berlari mencari-cari Amora hingga pada akhirnya Farish membuka pintu kamar wanita itu.
“Amora!” pekik Farish, ketika melihat Amora terbaring di lantai, dia semakin panik ketika melihat kening Amora yang memar..Rupanya, Amora tidak sadarkan diri karena dia terus membenturkan kepalanya. Dan sekarang, secepat kilat Farish pun membawa Amora ke rumah sakit.
***
Amora membuka mata, wanita itu merasakan rasa nyeri di kepalanya, dia melihat kesana kemari. Namun dia tidak tahu ini di mana dan sepersekian detik, dia menyadari bahwa dia adalah di rumah sakit saat apalagi aroma obat menguar di hidungnya.
Dia mengedarkan pandangannya ke seluruh arah, tidak ada siapapun di sana. Tapi tak lama terdengar suara derap langkah seseorang seperti akan masuk ke ruang rawatnya, hingga Amora kembali memejamkan matanya.
Dan rupanya yang masuk adalah Farish, Farish menarik kursi kemudian dia menggenggam tangan Amora, lalu mengecupnya.
“ Amora Kenapa kau begitu bodoh harus melakukan hal seperti ini. Apa kau tidak tahu hidupmu berarti, setidaknya jika kau tidak ingin hidup. Kenapa kau tidak hidup untukku yang mencintaimu.”
Tiba-tiba bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk mata Amora, saat mendengar ucapan Faris dan saat mengetahui Farish yang menolongnya dan membawanya ke rumah sakit.
Pada akhirnya, Amora membuka mata. “Amora, akhirnya kau sadar juga," ucap Farish, helaan nafas lega terlihat dari wajah tampan Farish, ketika melihat Amora membuka mata dan itu membuat hati Amora semakin menghangat.
“ Faris!” lirihnya dengan suara yang super pelan.
“Amora!” pekik Farish ketika Amora bangkit dari berbaringnya, dan saat Farish bangkit berniat untuk kembali menyuruh Amora tertidur tiba-tiba tubuh Farish menegang saat Amora memeluknya.
Jantung Farish berdetak dua kali lebih cepat. “A-Amora ....”
tiga bulan kemudian
Amora membuka cermin kecilnya memastikan bahwa wajahnya sudah cantik, lalu dia melihat ke arah paper bag di mana paperbag berisi makanan yang ia buat untuk Farish, kekasihnya.
Dia pun segera turun kemudian berjalan masuk ke arah kampus, hari ini dia sengaja tidak memberitahu Faris karena ingin memberikan kejutan untuk kekasihnya.
Ya, tiga bulan lalu setelah keluar dari rumah sakit Amora berusaha untuk melepaskan semua tentang berkaitan dengan Fred, dan setelah memutuskan itu dia pun menerima Faris.
Tahu apa yang membuat Amora terharu? ketika Paris mengatakan. ‘Anggaplah aku sebagai dia Amora.’ Farish mengorbankan dirinya, menyuruh Amora untuk menganggapnya sebagai Freed.
Hati Amora benar-benar menghangat ternyata ada lelaki yang mencintai Amora dengan luar biasa dahsyat dan Sejak saat 3 bulan ini Amora berusaha untuk menerima Farish, awalnya memang berat, dia merasa asing. namun seiring berjalannya waktu akhirnya perlahan Amora mampu membalas apa pun yang di lakukan Farish.
Selama 3 bulan ini, Farish tidak pernah membiarkan Amora sendiri. Jika tidak mengajar Farish akan menemaninya kemanapun, menghargai Apapun yang Amora lakukan.
Dan Amora tidak tahu kabar Freed bagaimana, karena sejak Freed memeluk wanita lain, Amora tidak ingin mengetahui lagi tentang lelaki itu, tidak ada kata putus di antara mereka karena Amora yakin, Freed tidak akan peduli dan dia juga tidak ingin memperdulikan lelaki yang sudah membuatnya hancur, Ia hanya ingin fokus pada hubungannya dengan Faris lelaki yang benar-benar menjadikannya sebagai ratu.
“ Amora!” panggil Farish dari kejauhan, Amora yang sedang menunggu di depan ruangan lelaki itu langsung tersenyum dia melambaikan tangannya.
Senyum begitu mengembang di bibir Amora ketika Farish dengan cepat menghampirinya. padahal Farish sedang berjalan bersama dosen lain, tapi lelaki itu seolah tidak memperbolehkan dia menunggu dengan waktu yang lama
“kenapa kau kemari tidak memberitahuku?” tanya Faris dia terkejut. Namun terlihat senang.
“Aku ingin makan siang bersamamu. Jadi aku masak di apartemen.”
“Beruntung aku belum makan,” jawab Farish dengan antusias. ”Ayo kita masuk, kita makan di dalam.” Farish dengan cepat menggenggam tangan Amora kemudian mengajaknya masuk lalu menutup pintu
***
Waktu menunjukkan pukul 09.00 malam, Farish terus mengelus tangan Amora yang sedang menyandar di pundaknya. Saat merasa nafas Amora mulai teratur, Farish berusaha membaringkan tubuh Amora di di sofa dan setelah itu dia berniat membopong tubuh Amora ke kamar.
Namun saat Amora sudah berbaring dan Farish bersiap untuk bangkit, tiba-tiba Farish terpekik, menindih kakinya.
“Amora kau belum tidur?” tanya Farish. Amora tertawa saat melihat wajah Farish yang terkejut, dia pun kembali bangkit. Faktanya Amora berpura-pura tertidur, inilah momen yang paling Amora sukai ketika mereka baru selesai beraktivitas Farish menemaninya.
Farish menemaninya di apartemen dan akan pulang ketika dia sudah tertidur.
“Kenapa kau berpura-pura tertidur?” tanya Faris.
“Kenapa kau tidak pernah menciumku?” tanya Amora. Farish menatap bingung pada kekasihnya.
“ Apa maksudmu?”
” kau tidak pernah menciumku. Apa kau tidak mencintaiku?” tanyanya lagi.
“Jadi, apa aku boleh menciummu?” tatapan Farish sekarang berubah, menatap Amora seperti layaknya serigala menatap mangsanya, membuat Amora bergidik.
“Fa-Farish,” ucap Amora ketika Farish mendekatkan wajahnya. Sungguh, Amora merasa takut. Dia takut Farish berbuat macam-macam.
Saat wajah Farish sudah dekat dengan wajahnya, Amora langsung memejamkan matanya. Namun tak lama, dia kembali membuka mata ketika Farish hanya mencium keningnya.
Amora pikir, Farish akan mencium bibirnya, tapi ternyata salah. “I love you,” ucap Farish. Hingga seketika Amora membuka matanya.
“Farish kau mengerjaiku?” tanya Amora, dia langsung mengambil bantal kemudian memukuli tubuh Farish hingga Farish tertawa.
keesokan harinya
Amora mematut diri di cermin, hari ini dia ingin pergi ke rumah bibinya, Maria. Marena dia sedang tidak ada pekerjaan. Seelah selesai bercermin, Amora langsung keluar dari kamar dan ketika dia akan keluar dari apartemen ponsel di tasnya berdering. Satu panggilan masuk dari nomor yang sangat tidak asing.
Walaupun dia sudah menghapus nomor tersebut, tapi Amora ingat betul siapa pemilik tubuh Amora dia mematung, bahkan tangannya gemetar saat melihat nomor itu yang tak lain adalah nomer Freed.
Untuk pertama kalinya, Freed menelponnya terlebih dahulu. Amora menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, ini sudah 3 bulan dia tidak berkomunikasi dengan Freed Semenjak dia melihat Freed memeluk wanita lain.
Dan sepertinya dia harus menegaskan bahwa hubungan mereka dan sudah berakhir
“Hallo,” jawab Amora. “Oh baiklah, kita bertemu di sana.” Amora menutup panggilannya, anehnya sekarang tidak ada rasa senang ataupun rasa excited saat Freed mengajaknya bertemu.
Padahal dulu, dia sangat berharap Freed mempunyai inisiatif untuk mengajaknya bertemu terlebih dahulu. Tapi sekarang, rasanya dia merasa biasa saja
Dan di sinilah Amora berada, di depannya sudah ada Freed, ini sudah 10 menit berlalu semenjak Amora tiba dan selama 10 menit itu pula Freed dan Amora sama-sama tidak berbicara.
“Kenapa kau memanggilku kemari?” tanya Amora.
“Aku hanya ingin bertanya, kenapa kau mundur menjadi pengacara Adeline.” Amora tersenyum getir, rasa syukur langsung menghadapinya ketika dia mampu melepaskan Freed.
“Aku rasa Aku tidak mungkin bersama klien yang aku yakini tidak akan aku menangkan. Jadi aku lebih memilih mundur,” ucap Amora Freed tidak menjawab lagi.
Tatapan matanya begitu lurus menatap Amora. “Lalu kenapa kau ...” Ucapan Freed terhenti saat Amora terlihat akan berbicara.
“Dua bulan lagi aku akan menikah, aku tidak tahu kapan kita bertemu lagi.Jadi aku lebih memilih memberitahumu sekarang. Aku berharap kau bisa datang.”
Saat mendengar itu Freed berekreasi seperti biasa, seperti tidak terpengaruh sedikitpun dan itu membuat Amora bersyukur dia bisa melepaskan Freed yang tidak pernah menganggap kehadirannya.
“Hanya itu yang bisa aku katakan, sampai jumpa.” Setelah mengatakan itu, Amora pun lebih memilih pergi dia tidak ingin lagi berurusan dengan lelaki masa lalunya.
***
Freed turun dari mobil, dia berjalan dengan sempoyongan karena lelaki itu sedang mabuk beruntung dia diantarkan oleh sopir hingga tidak terjadi apa-apa di jalan dan beruntung pula Freed berhasil sampai di unit apartemen miliknya.
Freed membuka pintu,.Kemudian dia langsung berjalan. Beberapa kali dia hampir terjatuh namun dia berhasil untuk terus berjalan. Freed menjatuhkan tubuhnya di sofa kemudian dia tertawa terbahak.
“Cih dasar pembohong, Amora kau mengatakan.ksu. akan menungguku!” Freed berteriak sambil tertawa dan tak lama dia terdiam, mata yang tadinya terpejam terbuka hingga tak lama bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk matanya, karena dia ....