Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Kedatangan ibu Mertua


“Gabby, kau meneleponnya?” tanya Gabriel ketika dari kejauhan melihat ibu Arsen berlari. Gabby menatap ibu Arsen dengan tatapan dingin.


Kemarin-kemarin, dia sangat menghormati Ibu mertuanya. Tapi, setelah mengetahui semuanya. Rasa hormatnya sirna begitu saja. “Ya, aku yang menelponnya. Aku ingin melihat bagaimana reaksinya, Jika melihat putranya terbaring.”


“Gabby, Ada apa dengan Arsen? Kenapa dia bisa sampai dirawat?” tanya Agnes, ibu mertua Gaby. Ia langsung bertanya ketika sudah berada di depan Gabby. Tak lama, ia mengerutkan keningnya kalau melihat ekspresi menantunya yang tak seperti biasanya. Bahkan, menantunya terkesan menatapnya dengan tatapan aneh.


“Gabby!” panggil Agnes lagi, menyadarkan Gabby. Hingga Gabby langsung tersenyum.


“Kakakku yang menghajarnya,” jawab Gabby. membuat mata Agnes membeliak dan langsung menatap kearah Gabriel.


Gabriel yang ditatap hanya menyeringai. “Ke-kenaapa kau menghajar Arsen?” tanya Agnes terbata-bata. Ia bergidik ketika melihat ekspresi Gabriel.


Selama ini, Gabriel tidak pernah tersenyum jika bertemu dengan keluarganya, dan sekarang saat melihat Gabriel tersenyum. Rasanya begitu aneh, apalagi Gabriel tersenyum dengan senyuman yang tak bisa di artika.


“Karena putramu memang pantas dihajar,” jawab Gabriel dengan dinginnya. Kini, kedua kakak-beradik itu bagai malaikat pencabut nyawa. Gabby yang biasa menatap hangat padanya, kali ini menatapnya dengan penuh intimidasi, seolah Ia mempunyai dosa besar pada menantunya.


“Se-sebenarnya ada apa dengan kalian?” tanya Agnes terbata-bata. Sungguh dia tak mengerti dengan apa yang terjadi.


“Mommy, sebelum kau bertanya. Sebaiknya kau lihat dulu keadaan putramu,” jawab Gabby, membuat Agnes tersadar. Seketika, Agnes pun langsung masuk ke dalam ruangan. Ia langsung mendekat kearah berangkar.


“Arsen!” pekik Agnes, ketika melihat sang putra dengan kondisi yang mengenaskan. Bagaimana tidak, wajah Arsen semuanya bengkak, dan membiru.


Tak lama, Gabby dan Gabriel kembali masuk ke dalam ruangan. “Kenapa kau menghajar putraku!” teriak Agnes. kali ini emosinya sudah tak terbendung.


Sedari awal, Gabriel tidak setuju adiknya menikah dengan Arsen. tapi ia tidak punya kuasa untuk melarang adiknya. Ia juga kurang menyukai keluarga Arsen yang menurutnya sangat serakah, dan kini, feeling Gabriel benar. Arsen dan keluarganya bukan orang yang baik.


Wajah Agnes memucat, saat mendengar ucapan Gabriel. Amarah yang tadi ia rasakan hilang begitu saja, berganti dengan ketakutan yang luar biasa. Bagaimana jika besannya sampai tahu tentang perselingkuhan sang putra. Sedangkan perusahaan keluarganya, saja bergantung pada perusahaan Stuard.


“Ga-Gaby, itu tidak benar," ucap Agnes. Terbata- bata. ia menatap Gaby dengan tatapan meyakinkan. “Gabby, kau sudah bersama Arsen selama 13 tahun. Jadi kau tahu bukan bagaimana Arsen,” ucap Agnes lagi, saat melihat Gabby sama sekali tak terperngaruh dengan ucapannya. Dan bodohnya, Agnes, tidak tahu bahwa Gaby sudah memergoki Arsen berselingkuh.


“Kenapa kau panik sekali?” tanya Gabby saat Agnes berusaha menjelaskan semuanya, membuat wajah Agnes semakin pucat.


Seketika Agnes terdiam. Ia hanya mampu memandang wajah Gaby, karena ia tak tahu harus berbicara apa, ia seperti mati kutu di hadapan menantunya.


Seketika Gabby maju ke arah Agnes, ia berjalan sambil bersedekap lalu menatap mertuanya dengan tatapan menantang.


“Aku pikir, kau adalah wanita yang baik, kau adalah wanita yang lembut. Tapi aku salah, kau dan putramu beserta keluargamu sama saja," kata Gabby, untuk pertama kalinya ia bersikap tak sopan pada orang lain.


“Gabby, kau salah paham. Bagaimana mungkin menghianatimu Dia sangat mencintaimu, kau tau bukan bagaimana sifatnya selama ini.” Agnes memegang tangan Gabby, nada berbicaranya kental dengan permohonan, berharap Gabby percaya.


Gabby


Scroll gengs