
Nael bangkit dari duduknya, kemudian ia langsung berjalan ke walk in closet. Lalu setelah itu, ia memilih untuk mengganti pakaiannya.
Sepuluh menit berlalu, Nael keluar dengan sudah memakai piyama dan ia pun berjalan ke arah ranjang. Jantung Gabby berdebar tak karuan saat Nael berjalan ke arahnya. kenapa ini terasa aneh. Padahal, ini bukan pertama kalinya dia satu ranjang dengan Nael. Tapi tetap saja, rasa itu muncul.
“Kenapa, apa ada yang kau pikirkan?” tanya Nael, ia naik ke ranjang, kemudian dia menarik selimut dan bergabung bersama Gabby, hingga kini, mereka berada di dalam satu selimut yang sama.
“Tidak apa-apa,” jawab Gabby. Baru saja ia akan berbalik, Nael menarik bahu Gabby.
“Kau kenapa?” tanya Nael, ia merasa tatapan Gabby padanya berubah. “Apa ada yang kau pikirkan?”
Gaby terdiam. “Tiba-tiba, aku merasa aneh dan merasa canggung,” jawab Gabby, membuat Nael tertawa.
“Apakah kita harus menghilangkan rasa canggung dengan cara yang lain?” jawab Nael sambil terkekeh, membuat Gabby mencebikkan bibirnya.
“Bukan begitu maksudku.” Jawab Gabby, Nayla menarik tangan Gabby kemudian mengecupnya, ia menopang kepalanya dengan satu tangan. Lalu menatap Gabby dengan tatapan penuh cinta. Hingga sekarang, suasana begitu romantis dan begitu hangat.
“Kenapa, apa ada yang aneh?” tanya Nael.
“Entahlah, aku masih merasa ini mimpi. Aku tidak pernah membayangkan kita akan seperti ini. Dulu, kau begitu membenciku karena mempertahankan Laura dan Naura. dulu kau mati-matian membenci Laura dan Naura. Tapi sekarang, semuanya terbalik. Aku bersyukur, dan aku bahagia sekarang. Tapi rasanya, jika membayangkan semua itu aku masih belum percaya dengan apa yang terjadi,” jawab Gabby.
Nael mengeratkan genggamannya, kemudian menyimpan tangan Gabby di dadanya
“Gabby, tak ada gunanya membahas masa lalu. Kita hanya akan terperangkap luka, lupakan semua yang ada di belakang. Kini, kita hanya harus berbahagia, aku akan mengabdikan hidupku untuk Kalian bertiga,” jawab Nael membuat mata Gabby berkaca-kaca, kemudian Gabby maju dan berhambur memeluk Nael.
Tina-tiba, Nael terpikirkan sesuatu. “Gabby!” Panggil Nael.
“Apa kau tidak ingin mengakui anakmu lagi jika aku mengandung?” sergah Gabby, wajahnya menatap Nael dengan tatapan tak suka.
“Bukan begitu maksudku. Tapi, ini soal Laura dan Naura.” tiba-tiba Gabby terdiam
.pandangan matanya pada Nael sudah berubah menjadi lebih santai, sepertinya ia mengerti dengan apa yang dipikirkan oleh Nael.
“Tapi, apakah kita tidak bisa membujuk mereka?” tanya Gabby. Nael menggeleng.
“Tidak, jangan pernah bernegosiasi tentang ini pada mereka, mereka sudah terlalu banyak terluka karena ulahku. Walaupun seandainya nanti mereka mengijinkan. Tapi pasti mereka akan terluka jika sampai kita memiliki anak lagi. Kau tahu, tadi saja saat aku menggendong Elsa, mereka tidak mau berbicara padaku. Lalu, bagaimana jika aku memberi perhatian pada adik mereka.”
“Mendiamkanmu? kapan?” tanya Gabby
“Saat kita datang ke mansion. Tanpa sengaja menggendong Elsa, dan mereka tak mau berbicara denganku selama berjam-jam.”
“Tunggu, apakah tadi wajahmu dikerjai oleh Laura dan Naura?” tanya Gabby naael menggangguk
Seketika tawa Gabby meledak. Namun, tak lama, ia menghentikan tawanya kemudian menatap Nael lekat-lekat
“Aku rasa kau benar. Mungkin sebaiknya kita tidak memiliki anak lagi,” jawab Gabby yang memang mengerti dengan posisi Laura dan Naura.
Scroll