Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Kehidupan Yang Berubah


Setelah Gabby pergi, Arsen langsung menyandarkan kepalanya ke belakang. Ia mengerutkan keningnya, karena kepalanya terasa berputar-putar. Semua masalah menubruknya menjadi satu.


Ia ditekan oleh sang ibu dan ditekan oleh kedua adiknya yang menuntut kemewahan lagi darinya. Sedangkan sekarang, Ia hanya mempunyai sedikit uang yang ia simpan di rekening yang Gabby tidak tahu.


Uang itu tidak sebanyak di rekening yang disita oleh Gabby. Itu sebabnya, ia harus pandai menghemat. Apalagi sekarang ia harus bekerja mulai dari nol dan memberikan semua penghasilnnya pada Gabby.


Ia tidak punya pilihan lain, akan lebih bahaya jika ia tidak menuruti kemauan istrinya, atau tepatnya mantan istrinya dan sayangnya, Arsen tidak tahu, bahwa wanita yang barusan berbicara dengannya bukan lagi istrinya.


Tak lama, ponsel Arsen berdering, Arsen merogoh saku, kemudian melihat siapa yang menelponnya. Terpampang nama Kristin di layar, membuat Arsen berdecak kesal.


“Untuk apa lagi dia menelepon!” gerutu Arsen. Setelah itu, ia mematikan panggilannya dari Kristin dan mematikan ponselnya lalu kembali menyimpannya ke dalam saku.


Sekarang rasa pada Kristine berbalik seratus delapan puluh derajat. Arsen sangat membenci wanita itu. Jika saja Kristin tidak gegabah. Sudah dipastikan ia takan kesusahan seperti ini.


Kristin selalu sengaja menghampirinya ketika ia sedang bersama Gabby. Hingga akhirnya, mematik rasa curiga di diri Gabby, berujung pada mereka yang terpergok oleh Gabby.


•••


Kristin mondar-mandir di apartemennya, ketika Arsen tidak menjawab panggilannya, wajahnya begitu sembab, karena ia sudah menangis dengan waktu yang lama.


Sekarang, hidup Christine benar-benar berubah seratus delapan puluh derajat. Tidak ada lagi kemewahan, setiap hari rasanya bagai di neraka untuknya. Bagaimana tidak, ia


Gabby tidak menyisakan apapun untuknya, dan sekarang ia di landa kebingungan yang luar biasa karena ia sedang hamil anak Arsen.


Ya, tadi pagi, Kristine harus menerima hal yang mengejutkan di mana ia harus melihat, tespek yang baru di digunakannya, menunjukkan garis dua, pertanda dia positif dan setelah ia tahu ia positif, ia terus menghubungi Arsen. Namun, Arsen sama sekali tidak menggubris panggilannya.Bahkan, saat di kantor pun Arsen menghindar darinya.


Kristine seorang diri, dia tidak punya siapa pun. Hanya Arsenlah tempatnya bergantung. Den semenjak Gabby memergoki mereka, maka semuanya hancur.


Kristin yang sedang berjalan kesana kemari menghentikan langkahnya, kemudian, ia mendudukkan diri di lantai. Lalu, ia memeluk lututnya seraya mengusap perutnya.


“Sekarang, kita harus bagaimana,” ucap Kristin dengan suara yang super pelan. Rasa takut membayanginya. Bagaimana jika anaknya hidup tanpa seorang ayah. Bagaimana jika Arsen tidak mau bertanggung jawab. Lalu, bagaimana ia akan menghadapi semuanya.


Tiba-tiba bahu Kristin kembali bergetar, ia menangis sejadi-jadinya. Sekarang ia benar-benar buntu. Apalagi kemewahan yang selama ini ia dapatkan, sudah dicabut oleh Gabby. Lalu bagaimana ia akan menghidupi dirinya dan calon anaknya.


Gabby ya Gabby, saat mengingat nama Gabby, satu ide langsung masuk ke dalam otak Kristine. Ia berencana untuk memberitahu Gabby tentang kehamilannya. Siapa tahu Gabby berbaik hati, melepaskan Arsen dan menyuruh Arsen untuk bertanggung jawab kepadanya.


Ia tak peduli apapun lagi, yang ia pedulikan adalah Arsen harus bertanggung jawab tentang kehamilannya, agar anaknya memiliki ayah dan memiliki keluarga. Kristin menghapus air matanya kemudian ia mencari-cari nomor Gabby dan langsung menelepon Gabby.


Scrool gengs