
“Kenapa kau harus pulang? kau bisa menginap di sini!” kata Gisel yang kekeh menahan Arsen di apartemennya, Gisel hanya takut Arsen akan berubah pikiran dan yang lebih parah, ia takut Arsen akan pergi dan meninggalkan negara ini. Apalagi, selama ini Arsen begitu misterius
Baru saja Arsen akan menggerakkan tangannya untuk mengelus kepala Gisel. Tapi, ia membatalkannya, karena walau bagaimanapun, ia masih belum berani untuk menyentuh Gisel, walaupun hanya sekedar mengelus rambut Gisel. Tadibpun Gisel yang memaksanya untuk mengelus punggungnya. Jujur saja, saat ini Arsen merasa minder pada mantan adik iparnya.
Gisel yang mengetahui perasaan Arsen langsung menarik tangan Arsen, lalu menyimpan tangan Arsen di kepalanya, membuat Arsen tertawa.
Seketika Gisel terpaku saat melihat tawa Arsen, entah kapan terakhir kali Gisel melihat senyuman Arsen, dan sekarang, ketika melihat lagi Arsen tersenyum, tentu saja hatinya menghangat. Sejatinya, Arsen hanya sedang putus asa dan lelah dengan kehidupannya.
“Tapi, aku benar-benar harus pulang. Aku berjanji, aku tidak akan pergi kemana-mana. Besok kita bisa bertemu lagi,” ucap Arsen.
“Apa kau takut bertemu dengan ka Gabby dan Kak Gabriel?” tanya Gisel. “Tenang saja, mereka sedang berada di rumah, mereka tidak akan datang ke sini jika aku tidak menyuruh mereka,” jawabnya. “Ayolah jangan pulang, aku tak mau kau pulang,”.ucapnya lagi, kali ini, Gissel berbicara dengan nada memohon, dan rasanya Arsen tidak tega mematahkan harapan Giseel, hingga mau tak mau ia menggangguk.
“Baiklah, aku tidak akan pulang!” Giseel bangkit dari duduknya, membuat Arsen mengurutkan keningnya.
“ Kau mau ke mana?” tanya Arsen.
“Aku akan membawakan cemilan untukmu,” balas Gissel.
keesokan harinya
Ya, saat ini ... Gaby dan Arsen sedang berbicara di sebuah cafe, Gabby lah yang mengajak Arsen untuk bertemu, karena ia pikir ... ialah yang harus meyakinkan Arsen bahwa ia sudah bahagia dengan Nael.Maka tidak ada lagi alasan untuk melihat masa lalu, itulah yang ingin Gabby sampaikan pada Arsen.
“Arsen!” panggil Gabby, Arsen memberanikan diri mengangkat kepalanya .
“Gabby, bolehkah aku berbicara?" tanya Arsen. Ia memberanikan diri untuk membuka mulutnya. Dan Gabby pun menggangguk. “Hmm, bicaralah!”
Arsen menghela nafas, kemudian menghembuskannya. “Sebenarnya ada yang ingin aku katakan padamu, dan aku ingin mengatakannya dari dulu. Aku ingin meminta maaf padamu atas semua dosa-dosaku di masa lal, aku ...." Arsen tidak mampu lagi meneruskan ucapannya. Bahkan ia kembali menuduk dan tidak berani menatap Gabby.
Gabby menepuk-nepuk tangan Arsen. “Arsen, itu semua sudah berlalu, kita tidak hidup di zaman itu. Aku pun sudah bahagia bersama Nael dan anak-anakku, aku juga berterimakasih, padamu, berkatmu aku dan Nael bersatu dan kami bahagia. Apa yang terjadi di antara kita, itu hanya masa lalu, dan semua sudah rencana Tuhan. Jadi, tidak sepantasnya kita menoleh kebelakang. Kau dan Gisel sama-sama saling mencintai, dan kau tidak perlu pedulikan kata orang lain, karena kalian sendiri yang menciptakan sebuah kebahagiaan.”
“Terima kasih Gabby. Aku berjanji, aku akan menjaga Gisel dengan baik!” kata Arsaen, Gaby bangkit dari duduknya. Kemudian, ia mengulurkan tangannya pada Arsen dan mengajak Arsen untuk berjabat tangan.
“Arsen, mari benar-benar lupakan semua dan mari kita hidup saling berdampingan, layaknya keluarga!” ucap Gabby. Arsen bangkit dari duduknya, saat dia akan membalas uluran tangan Gabby, tiba-tiba seseorang datang dari belakang. Siapa lagi kalau bukan Nael, dan Al hasil, bukannya Arsen yang membalas jabatan tangan Gabby, malah Nael yang membalas uluran tangan istrinya, membuat Gabby menggeleng, sedangkan Arsen hanya tertawa saat melihat tingkah Nael.
“Aku mewakilinya untuk berjabat tangan denganmu!” jawab Nael, rupanya dari tadi Nael sudah menunggu di meja yang lain.
Scroll