Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Masih sama


Waktu berlalu begitu cepat, tidak terasa Ini sudah dua tahun berlalu semenjak Savana kehilangan anaknya. Banyak yang terjadi dalam kehidupan Savana dan Joshua selama dua tahun ini.


Setelah Savana dilarikan ke rumah sakit dan setelah Joshua minta maaf, Savana mengutarakan niatnya untuk bercerai dari Joshua, karena dia tidak sanggup untuk terus bersama suaminya. Kenangan buruk itu terus terlintas, tapi dengan kesungguhan dan ketulusan hati Joshua, dia meminta kesempatan pada Savana.


Savana tidak pernah berkata dia akan memberi kesempatan pada suaminya, tapi di sana pembuktian Joshua dimulai. Selama satu tahun setengah, Joshua terus berjuang meraih maaf Savana. Dia rela tidak bekerja demi menemani wanita itu, mendatangkan psikiater terbaik agar mengobati istrinya. Perhatian, kasih sayang dan cinta Joshua kerahkan untuk Savana agar wanita itu percaya padanya.


Jika ditanya apakah Joshua mencintai Savana, jawabannya ya. Entah kapan rasa itu muncul, tapi seiring berjalannya waktu, rasa itu mulai tumbuh hingga dia tidak bisa jauh dari istrinya.


Awalnya, Savana begitu asing dengan perhatian Joshua. Dia menganggap semua penuh kepalsuan, bahkan dia pernah muak dengan sifat baik Joshua dan dia nekat untuk pergi. Namun saat itu, Joshua berhasil mencegah Savana. Lelaki itu berlutut menangis di kaki istrinya. Walaupun begitu, sepertinya hati Savana sudah mati. Dia sama sekali tidak menggubris dan kekeh pergi.


Pada akhirnya, Joshua mengambil tindakan nekat, yaitu mengaktifkan kunci otomatis apartemennya hingga Savana tidak bisa keluar dari apartemen, dan sepertinya perjuangan Joshua tidak sia-sia. Setahun setengah dia berjuang untuk mengambil kembali hati istrinya, Savana sedikit mulai luluh. Karena setelah Joshua berubah, Savana menjadi lebih tertutup, tapi beberapa bulan ini, Joshua mulai rasakan perubahan istrinya.


Savana mulai bersedia menemaninya makan, sudah mulai mau tidur satu ranjang dan juga Savana sudah mulai berani untuk bertanya kapan Joshua pulang. Tentu saja Joshua bersyukur atas itu.


Mungkin Joshua menganggap bahwa Savana sudah sembuh, tapi sebenarnya tidak. Dia juga lelah harus terus teringat apa yang terjadi, padahal ini sudah dua tahun berlalu dan selama beberapa bulan ini, Savana berusaha untuk menekan semuanya. Dia berusaha untuk memberikan Joshua kesempatan karena dia melihat ketulusan Joshua.


Selama beberapa bulan ini, dia mulai membiasakan diri bertanya tentang hal kecil, melakukan aktivitas yang sederhana dengan Joshua. Walaupun belum pulih seratus persen, tapi setidaknya Savana sudah percaya pada suaminya. Keinginan untuk pergi dari Joshua menghilang begitu saja seiring berjalannya waktu.


Joshua awalnya tidak ingin kembali menjadi dosen, dia tetap ingin menemani Savana karena takut Savana pergi darinya, tapi Savana menyuruh Joshua untuk kembali mengajar. Entah kenapa dia ingin seperti orang lain, dia ingin menjadi istri yang menyambut suaminya pulang.


Waktu menunjukkan pukul lima sore.


Savana melihat ke arah meja makan, di mana masakan yang dia buat terjejer di sana. Untuk pertama kalinya setelah dua tahun berlalu, Savana membuat makanan untuk Joshua, karena pembantu yang biasanya datang ke apartemen libur, hingga dia pun memutuskan untuk memasak meski makanan yang dia buat sederhana.


Sebenarnya dia tidak bisa memasak. Dia hanya melihat semuanya dari internet, dia tidak yakin dengan rasa masakan yang dia buat. Namun setelah di timang-timang, akhirnya, Savana mengambil kembali piring itu. Dia memutuskan untuk membuangnya, karena terlalu malu menghidangkannya pada Joshua.


"Kenapa kau membawa makanan itu lagi?" tanya Joshua membuat Savana terperanjat karena dia tidak tahu Joshua masuk ke dalam apartemen.


"Kau mengagetkanku," ucap Savana.


Joshua menyimpan tas kerjanya kemudian membuka mantel, lalu setelah itu menyimpannya di kursi kemudian menghampiri Savana hingga Savana langsung menyimpan piring yang dia bawa ke belakang tubuhnya, karena dia terlalu malu.


"Apa itu?" tanya Joshua. Nada suaranya begitu lemah lembut menatap Savana dengan penuh ketulusan.


Joshua tidak menyerah, dia menarik lembut lengan Savana hingga dia bisa melihat piring yang berisi makanan Savana.


"Ini buatanmu?" tanya Joshua.


Savana menunduk kemudian mengangguk.


"Ayo makan, aku juga belum makan," kata Joshua, tentu saja dia berbohong. Dia sudah makan di kampus, tapi dia me menghargai Savana, itu sebabnya dia mengatakan belum makan.


"Jangan makan itu," kata Savana dengan menunduk. Walaupun dia sudah yakin dengan ketulusan Joshua, tapi ada kalanya Savana masih takut bahwa Joshua akan mencelanya, teringat dulu Joshua pernah mengabaikan makanan yang dia buat, padahal saat itu dia hanya membuat makanan instan yang pasti rasanya enak karena sudah ada bumbu dari kemasan tersebut. Namun, Joshua tidak mau memakannya. Instan saja Joshua tidak mau, apalagi makanan buatan yang jelas-jelas tidak menarik, begitulah pikir Savana.


Karena Savana tidak bergerak, lelaki itu langsung menghampiri istrinya kemudian menarik lembut tangan Savana, lalu setelah itu dia mendudukkan Savana di kursi lalu dia pun menyusul duduk di sebelah istrinya.


Joshua mengambil dan mendekatkannya, lalu setelah itu dia menyendok makanan tersebut. Joshua tersenyum. "Ini enak," kata Joshua, tentu saja dia berbohong karena makanan yang dibuat Savana begitu asin, tapi tentu saja Savana tidak percaya begitu saja, dia langsung mengambil sendok kemudian mencoba makanan yang dimakan oleh suaminya.


"Huek!" Savana langsung berlari ke arah kamar mandi, kemudian memuntahkan makanan yang dia makan, sedangkan Joshua langsung mengambil air putih kemudian menenggaknya karena mulutnya terasa kebas.


Setelah memuntahkan makanannya, Savana langsung berjalan ke arah meja makan. Emosi seketika menguasai dirinya. Joshua mengerutkan keningnya ketika melihat wajah Savana yang tampak memerah, seperti menahan amarah dan Savana menarik piring berisi makanan dengan gerakan cepat, seperti terlihat jelas bahwa istrinya sedang emosi.


Tiba-Tiba, terdengar suara pecahan piring dari arah dapur hingga Johsua langsung bangkit dari duduknya, kemudian berlari.


"Dasar bodoh, kenapa aku masih tidak berguna!" Savana mengutuk dirinya sendiri. Dia memegang kepalanya. Walau bagaimanapun trauma Savana masih ada, tanpa Joshua tahu sebenarnya Savana selalu seperti ini. Dia akan mengutuk dirinya sendiri ketika dia gagal melakukan sesuatu.


"Kau masih tidak berguna!" Savana berteriak di akhir kalimatnya dan tak lama, Joshua langsung berlari ke arah Savana kemudian menarik lengan Savana yang sepertinya akan memukul kepalanya sendiri, lalu setelah itu dia memeluk istrinya dari belakang. Jujur, Joshua cukup terkejut dengan ini. Dia pikir Savana sudah pulih.


"Savana tolong jangan seperti ini. kau masih bisa belajar ”


"Belajar katamu?!" teriak Savana, lalu dia tertawa. Namun tak lama tawa Savana berubah menjadi tangisan. Joshua langsung melepaskan pelukannya kemudian dia beralih ke depan Savana, lalu memeluk Savana dari depan. Dia memeluk istrinya, membiarkan Savana tenang dalam pelukannya.


'Ternyata kau belum sembuh benar. Maafkan aku yang tidak peka dengan kondisimu.' Joshua membatin. Sepertinya apa yang Joshua lakukan di masa lalu pada Savana benar-benar membuat Savana hancur sampai detik, walaupun sudah dua tahun berlalu, Savana tetap bersikap seperti ini.