Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Secara kebetulan


“Kau tidak ingin ikut?" tanya Raymond, ketika Ayana membukakan pintu untuk Raymond.


“Tidak, tuan. Saya sudah memakan makanan yang anda berikan tadi,” ucap Ayana, Raymond tidak menjawab. Ia langsung berlalu begitu saja meninggalkan Ayana.


Ayana masuk kembali ke dalam mobil, kemudian tangis yang dari tadi ia tahan akhirnya pecah juga. Beruntung, Raymond masuk ke restoran bersama supirnya, hingga Ia mempunyai waktu untuk melampiaskan tangisannya, karena jujur saja sudah dari tadi ia menahan sesak yang luar biasa, dan setelah menangis, ia selalu merasakan lega.


•••


Ayana berjalan dengan pelan, ia menghela nafas lega saat berada sampai di depan rumah. Namun tak lama, ia terperanjat kaget saat mendengar suara tangisan Moa. Dengan segera, Ia pun berlari untuk masuk ke dalam.


“Moa!” teriak Ayana, saat masuk. Seketika Moa langsung berlari, lalu memeluk kaki ibunya.


“Moa kau kenapa?” tanya Ayana.


“Mommy, Kakek mencubitku,” ucap Moa sambil menangis.Ayana memejamkan mata. Hari ini, kesabaran Ayana benar-benar diuji. Pekerjaa tadi yang begitu menumpuk, ia juga terkena omelan dari Raymond. Penghinaan Jordan dan juga sekarang saat pulang, ia harus mendengar tangisan dari putrinya, Ia juga tidak bisa untuk memarahi sang ayah.


Ayana mengela nafas, kemudian menghembuskannya. Ia menekuk kaki, lalu menyetarakan diri dengan Moa.


“Bagaimana jika kita makan di luar saja?” ucap Ayana, Moa mengangguk dengan cepat karena ia begitu trauma dicubit oleh sang kakek. Padahal hanya masalah sepele, di mana Moa tidak mau mengambilkan air untuk Sony.


Bagaimana tidak, usia Moa, masih kecil..Tapi seakan gadis kecil itu mengerti semuanya. Ayana pun langsung menarik lengan Moa, emudian ia keluar dari rumahnya meninggalkan Sony yang terus berteriak, untuk kali ini saja, ia ingin menghabiskan waktu berdua dengan putrinya sebagai ungkapan rasa bersalahnya, karena ia meninggalkan Moa bekerja, hingga Moa harus mendapatkan perlakuan tidak mengenakan dari sang ayah.


•••


“Apa enak?” tanya Ayana. Saat ini, mereka sedang duduk di supermarket. Ayana sengaja, membelikan es krim dan beberapa cemilan untuk putrinya. Sedari tadi, ia tidak memilih apapun. Ia hanya fokus melihat Ayana yang tampak riang saat memakan es krim di tangannya.


“Mommy ini enak sekali. Mommy mau!” Moa, menyodorkan es krim di tangannya pada Ayana. Namun Ayana menggeleng..


“Habiskan saja untukmu!” kata Ayana, gadis kecil itu kembali menikmati es krim di tangannya. Hingga Ayana terkekeh. Ternyata, melihat senyuman Moa, bisa menjadi obat untuk semua kekesalannya, dan rasa pedih seakan hilang saat melihat senyuman Moa yang begitu mengembang, padahal Moa hanya tersenyum karena es krim dan beberapa cemilan.


“Mommy pasti bisa membuat hidup kita lebih baik,” ucap Ayana. Sedangkan gadis kecil itu hanya fokus memakan eskrimnya.


“Kau sudah menghabiskannya?” tanya Ayana, ketika semua cemilan sudah habis. Moa mengangguk, bangkit dari duduknya, ia langsung mengambil semua cangkang snack yang ia makan lalu membuangnya ke tempat sampah.


“Ayo mami kita pulang, kita jalan pintu belakang saja agar kakek tidak berteriak,” ucap gadis kecil itu, ia.malah menyarankan hal yang di luar nalar. Bahkan Ayana tidak terpikirkan sampai ke sana. Ayana menggenggam tangan putrinya, kemudian mereka pun langsung berjalan untuk pulang.


Saat ia akan keluar dari area supermarket, tanpa sengaja Moa terpekik kaget saat tubuhnya menabrak seseorang. Ayana langsung melihat ke orang itu, dan mata Ayana membulat saat melihat siapa yang di tabrak oleh putrinya.