
“Laura ... Naura.” Nael berteriak, seraya terbangun dari tidurnya. Nafasnya masih terengah-engah. Barusan ia bermimpi Laura dan Naura datang kepadanya dengan bersimbah darah lalu memeluknya Hingga ia berteriak.
Nael berusaha menenangkan dirinya. Ia menetralkan nafasnya, kemudian mengambil air di sebelah naka. Berkali-kali, ia mencoba menenangkan dirinya. Tapi tidak bis, rasa gelisah itu semakin menjadi-jadi.
Akhirnya, Nael terdiam duduk di ranjang, matanya menerawang entah kemana. Tiba-tiba tangis sesegukan lolos dari bibirnya. Padahal Ia tidak tahu kenapa ia menangis, lebih tepatnya ia tidak ingin menyadari Apa penyebabnya menangis.
“ Laura ... Naura.” bibir Nael bergetar ketika menyebutkan nama kedua putrinya. Ia melihat ke arah setiap sudut yang pernah didatangi oleh Laura dan Naura.
“Tidak .... ” Tiba-tiba, Nael berteriak ketika membayangkan Laura dan Naura terbaring di peti mati. Seketika Nael bangkit dari duduknya dan turun dari ranjang. “Tidak, aku tidak mau kehilangan kedua putriku!” lirih Nael, akhirnya pertahanannya runtuh. Egonya hilang, ia mampu memukul kesombongan dirinya sendiri. detik ini juga, menit ini juga dan jam ini juga, Nael menyadari hatinya.
Bahwa dia telah menyayangi kedua putrinya. Secepat kilat, Nael mengambil koper lalu memasukkan pakaian pakaiannya ke dalam koper, setelah itu ia mengganti pakaiannya sendiri. Lalu mempersiapkan semuanya dan berlari keluar dari kamar dengan menggeret koper. Ia berniat untuk langsung terbang ke Jepang.Ia tidak peduli apapun lagi, yang ia pikirkan adalah secepatnya melihat kedua putrinya.
Pesawat sudah mendarat di landasan pacu dan Nael turun dari pesawat, setelah itu ia langsung berlari kearah pintu kedatangan. Ia tidak peduli apapun lagi, yang ia pedulikan adalah segera datang ke rumah sakit.
Beruntung sebelum turun Stella mengangkat panggilannya dan memberitahukan di mana tempat Laura dan Naura dirawat. Ia sempat putus asa karena tidak ada satu pun yang bisa dihubungi untuk bertanya di mana Laura dan Naura dirawat.
Tubuh Nael diam terpaku, keringat dingin sudah mengucur di seluruh tubuhnya saat ada di depan rumah sakit. Rasanya kakinya berat untuk melangkah.
Semua bercampur aduk di hadapannya. Ia tidak peduli lagi dengan gengsinya,.ia tidak peduli lagi dengan harga dirinya. Tapi yang ia takutkan, ia takut melihat reaksi kedua putrinya saat melihatnya datang.
“Paman!” tiba-tiba terdengar suara Naura dan Laura yang memanggilnya paman, dan itu membuat Nael menjadi kuat. Ia tidak boleh menunda waktu lagi. Secepat kilat, ia pun masuk kedalam rumah sakit dan bertanya pada resepsionis tentang ruangan Laura dan Naura.
kegugupan meladan Nael saat berada di depan ruangan putrinya, ia menghela nafas kemudian menghembuskannya. Berusaha untuk menguatkan dirinya. Dengan tangannya bergetar, Nael mengangkat tangannya untuk memegang kenop pintu, Lalu setelah itu ia langsung memutarnya hingga pintu terbuka.
Nael masuk ke dalam ruangan, jantungnya berdetak dua kali lebih cepat saat matanya bersibobrok dengan Gabby, sedangkan semua yang berada di ruangan itu tidak percaya bahwa Nael ada disini.
Tiba-tiba pandangan Nael langsung mengarah ke arah kedua berangkar di mana putrinya sedang terbaring di sana, lutut Nael melemas dunianya menggelap saat melihat kedua putrinya terpasang selang-selang di seluruh tubuhnya.