
Ayana berbalik, kemudian Ia memutuskan untuk berpulang menaiki taksi, karena walau bagaimanapun ia tidak akan sanggup untuk melihat wajah Raymond, apalagi Raymond baru saja membentak dan berteriak padanya.
Namun, sepersekian detik ia menghentikan langkahnya kala Raymond menarik tangannya. Hingga ia pun berbalik. “Tuan, tolong biarkan saya pergi. Anda bisa menghukum saya besok,” ucap Ayana dengan hati yang pedih. Bahkan ia tidak berani menatap wajah Raymond.
Raymond tersentak kaget dengan reaksi Ayana, bahkan setelah beberapa menit berlalu, sejak ia membentak Ayana, tubuh Ayana masih bergetar. Bahkan, sekarang dia melihat wajah Ayana begitu pucat.
Saat tak mendengar jawaban dari Raymond, Ayana memberanikan diri mengangkat kepalanya. Hingga tatapan matanya bersibobrok dengan mata Raymond. Lalu, setelah itu, melepaskan tangannya dari genggaman tangan Raymond.
“Kalau begitu saya permisi, Tuan. ” Ayana memilih kembali berbalik, karena rasanya tangisnya sudah tidak bisa di bendung.
Tapi lagi-lagi, ia.menghentikan langkahnya kala Raymond kembali menarik tangannya “Aku akan mengantarmu pulang!” kali ini, nada suara Raymond melemas, ka menarik tangan Ayana lalu membukakan pintu mobil untuk Ayana.
Sedangkan Ayana hanya mengikuti langkah Raymond, karena jujur saja iya terlalu lelah untuk berdebat dan dia tidak mempunyai tenaga untuk berbicara.
Suasana di dalam mobil begitu hening, Ayana memalingkan tatapannya ke arah lain. Seraya menggigit bibirnya, karena menahan tangis. Sedangkan Raymond fokus mengemudi, sesekali ia melirik Ayana. Namun, ia tidak berani untuk bertanya ataupun mengatakan sepatah kata pun.
Ayana menggigit bibirnya, sekeras mungkin hingga hingga bibirnya berdarah, karena ia mati-matian sedang menahan tangisnya. Malam ini, ia mendapatkan rasa sakit yang luar biasa hebat hingga rasanya ia tak mampu lagi menatap dunia.
Setelah melewati perjalanan yang cukup jauh, akhirnya mobil yang di kendarai Raymond sampai di kediaman Ayana, dan Ayana pun langsung menoleh ke arah Raymond. “Terima kasih tuan, saya akan mengembalikan jas anda besok.” Ayana pun turun dari mobil tanpa mendengar jawaban Raymond, rasanya sungguh menyakitkan ketika ia menatap Raymond.
Saat akan masuk kedalam rumah, Ayana menghentikan langkahnya saat melihat putrinya sedang menyender di kursi yang ada di depan.
Tangis yang yang sempat terjeda itu pun kembali luruh saat melihat Moa duduk di kursi depan, terlihat jelas gadis kecil itu mengantuk. Mungkin, Moa ketakutan menunggu di dalam, hingga gadis kecil itu menunggu di luar. Padahal, Ia belum pergi terlalu lama, tapi putrinya sudah menunggu di luar dan bisa dibayangkan, jika ia pergi dengan waktu yang lama, maka selama itu pula Moa menunggunya.
Ayana menghapus air matanya, ia berusaha untuk tidak menangis di depan Moa. Kemudian, Ia pun kembali melanjutkan langkahnya.
“Moa!” panggil Ayana, moa yang baru saja akan menutup mata langsung membuka matanya.
“Mommy!” panggil Moa. Ia menatap Ayana dengan tatapan tak percaya, sebab Ayana baru saja pergi, lalu kenapa ibunya sudah pulang begitulah pikirnya.
“Mommy tidak jadi pergi? kenapa Mommy sudah pulang lagi?” tanya Moa, Ayana menekuk kakinya menyetarakan diri dengan Moa, seketika itu juga Ayana langsung membawa Moa ke dalam dekapannya, lalu ia menangis sejadi-jadinya.
Kali ini, tangisan Ayana benar-benar mengencang membuat Moa kebingungan dan ketakutan.
scrol.geng aku up 4 bab
•••