
“Gisel, maukah kau pulang bersama denganku?” tanya Arsen, jantung Gisel berdetak dua kali lebih cepat saat mendengar ucapan Arsen, ia menatap Arsen dengan menyipitkan matanya
Terihat jelas perbedaan wajah Arsen ketika menatapnya sekarang dengan ketika menatapnya saat tadi. Gisel tampak berpikir, kemudian mengangguk..
“Apa kau tidak keberatan mengantarkanku?” tanya Gisel lagi.
“Ayo!” Arsen pun berbalik, kemudian disusul Gisel di belakangnya. Awalnya ia tidak akan mengajak Gisel untuk pulang bersama, hanya saja melihat interaksi Stev dan Gisel, rasanya membuatnya tersiksa, dan ia pikir Ia hanya ingin menikmati momen terakhir bersama Gisel.
jujur saja, sedari tadi masuk ke pengadilan Dan sadari awal melihat interaksi Gisel dan Stev, dada Arsen bergemuruh, hatinya meronta-ronta tangannya serasa ingin menggapai Gisel. Tapi, tentu saja ia tak bisa dan ia berusaha menahannya.
Tapi ketika Gisel akan pulang sendiri, Arsen mengikuti kata hatinya, untuk mengajak Gisel pulang bersama. Kali ini, Arsen menekan ketakutannya, ini mungkin momen terakhir yang akan dilewatkan olehnya bersama Gisel, walaupun hanya sebatas peluang bersama.
“Terima kasih!” kata Gisel, ketika Arsen membukakan pintu mobil untuknya. Arsen memutari mobil, kemudian masuk ke dalam mobil. Lalu, ia memakai sabuk pengaman.
“Kau ingin langsung ke mana?” tanya Arsen saat melihat Gisel.
“Jika kau tak keberatan, bisakah kau mengantar aku pergi ke kantor?” tanya Gisel Arsen mengangguk.
Arsen menyalakan mobilnya kemudian menjalankannyanya, dan ketika mobil sudah melaju, Gisel merogoh tasnya, kemudian ia mengambil ponsel. Jujur saja, ia bingung harus bereaksi bagaimana. Hingga ia berpura-pura memainkan ponselnya, sedangkan Arsen fokus mengemudi.
setelah mobil melaju dengan jarak yang cukup jauh, hujan deras mulai turun. Bahkan, hujan itu sangat deras. Hingga Arsrn meminggirkan mobilnya sejenak, kemudian menghentikannya.
Setelah kaca pembersih kaca dinyalakan, Arsen pun mulai menjalankan kembali mobilnya. “Gisel sepertinya kita tidak bisa ke kantormu, ada kabut tebal di sana!” kata Arsen, karena memang selain hujan besar, kabut pun mulai turun.
Gisel menolehkan kepalanya ke sana ke mari, “Lalu, kita harus bagaimana?” apa kita akan terjebak di sini?” tanya Gisel. Arsen menghela nafas kemudian menghembuskannya.
“Gisel apa kau mau istirahat di apartemenku saja. Apartemenku hanya 15 menit dari sini!” balas Arsen, sebenarnya ia ragu mengajak Gisel ke apartemennya. Tapi dari pada mereka terjebak hujan, dan ia pun tidak mungkin mengantarkan Gisel terlebih dahulu, jadi ia menawarkan Gisel untuk ke apartemennya
Seketika itu juga Gisel mengangguk mantap, ia refleks mengangguk. Namun tak lama, ia menetralkan ekspresinya.
“Jika kau tidak keberatan, aku akan menunggu di apartemenmu!” Arsen tidak menjawab, lalu memutarbalikkan mobilnya untuk menuju ke apartemennya.
Hingga pada akhirnya, mobil yang dikendarai Arsen sampai di basemen apartemen, Arsen membuka seatbeltnya, lalu menoleh ke arah Gisel, ternyata Gisel sedang menyenderkan kepalanya ke jendela dengan mata yang terpejam.
Arsen memegang dadanya karena degupan jantung itu kian terasa, ia ingin membangunkan Gisel, menyentuh Gisel, tapi ia tidak seberani itu, hingga pada akhirnya. Ia pun menyadarkan tubuhnya ke belakang, seraya menunggu Gisel tidur.
Ketika mendengar pergerakan dari Arsen, Gisel mengintip. “kenapa dia tidak membangunkanku!” Gisel membatin dengan gemas, karena faktanya dia hanya berpura-pura tertidur, dan berharap Arsen membangunkannya dan menyentuh tangannya, setidaknya akan ada momen manis yang terjadi di dalam mobil begitulah pikir Gisel.