
“Sayang, kenapa kau terlihat tertekan? katakan apa ada yang mengganggumu?” Nauder tampak heran dengan tingkah Naura yang tidak biasanya. Bahkan jika sakit pun Naura tidak pernah memperlihatkannya. Namun Kenapa sekarang, istrinya begitu berbeda.
Naura melepaskan pelukannya. “Aku tidak apa-apa, aku hanya bahagia karena kita telah menjadi sepasang suami istri.” Ada kepedihan yang Naura tanggung saat mengatakan hal itu.
“Ampuni aku, Nauder. Aku memilih untuk tidak jujur padamu dengan apa yang terjadi malam itu.” Batin Naura berbicara, ia sudah mengambil keputusan. Jika ia jujur tentang apa yang terjadi antara ia dan Alvaro, mungkin akan ada kekacauan dan itu akan membuat Alvaro menang. Ia harus membuktikan pada lelaki itu bahwa cintanya dan Nauder tidak akan tergoyah oleh apapun, sekalipun ia harus mengandung anak Alvaro.
“Ya sudah kalau begitu. Ayo kita tidur lagi. Tapi kau minum dulu susu yang tadi aku buatkan.” Lelaki itu bangkit dari duduknya, kemudian mengambil susu yang tadi Naura simpan di atas nakas dan memberikannya pada Naura. Hingga Naura pun menengguk susu itu hingga kandas.
••••
Ini sudah setengah jam berlalu, Nauder sudah memejamkan matanya, sedangkan Naura tidak bisa terlelap sama sekali, ia terus menatap wajah Nauder, lelaki yang sudah menemaninya selama bertahun-tahun.
Naura memejamkan matanya, berusaha untuk menghapus ingatan Itu, ingatan di mana saat Alvaro masuk ke dalam kamarnya. Tak lama, Ponsel Naura berdering, satu pesan masuk ke dalam ponselnya.
Dengan pelan, Naura berbalik kemudian ia mengambil ponselnya, dan setelah itu melihatnya. Naura menutup mulut tak percaya Alvaro mengirimkan banyak sekali foto-foto yang ada di hotel tersebut. Dengan cepat, Naura menyimpan ponselnya di bawah. Ia takut Nauder terbangun.
Naura membelakangin Nauder. Lalu ia kembali mengambil ponselnya dan mulai menghapus semua foto-foto yang Alvaro kirimkan. Setelah foto itu dikirim, Alvaro langsung mengirim pesan lagi pada Naura
“Temui aku di hotel yang kemarin. Jika tidak, maka akan aku kirimkan foto ini pada Nauder.” tulis Alvaro dalam pesannya.
Tiba-tiba bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk mata Naura. Sekarang ia menyadari sesuatu , hiidupnya akan terus seperti ini dibayangi oleh kejadian saat di hotel. Tapi Naura tidak punya pilihan. Besok ia akan mencoba untuk bernegosiasi dengan Alvaro.
••••
“Sayang, kau akan kemana hari ini?” tanya Nauder.
Nauder menganggukan kepalanya. “Hmm, tentu aku akan mendapati janjiku. Tapi kau harus berhati-hati. Kabari aku jika ada sesuatu,” balas Nauder. Mereka memang baru saja menikah. Tapi Nauder masih mempunyai banyak pekerjaan. Hingga mereka menunda bulan madu mereka.
“Jika aku pulang telat, kau boleh menyusul ke kantor jika kau bosan,” ucap Nauder. Naura mengangguk, kemudian Nauder membuka pintu lalu keluar dari apartemen.
Setelah Nauder pergi, Naura berbalik kemudian ia langsung pergi ke kamarnya, untuk mengambil tasnya. Setelah mematut diri di cermin, Naura langsung mengambil ponsel. Ternyata, sudah ada satu pesan yang masuk.
“Aku sudah di sini, dan cepat temui aku!” Tulis Alvaro, dan di sinilah Naura berada, di depan kamar yang saat malam pertama dia tempati. Naura menggigit bibirnya, kemudian ia mengangkat tangannya. Lalu setelah itu mengetuk pintu.
Tak lama, terdengar suara derap langkah pintu terbuka dari dalam, Alvaro membuka pintu dengan seringai lebarnya, ia merentangkan tangannya mengisyaratkan untuk Naura datang kepadanya. Namun tentu saja Naura menolak.
“Jangan basa-basi. Apa yang ingin kau katakan dan katakan di sini saja, tidak usah masuk ke dalam,” ucap Naura dengan ketus.
“Kau ingin aku mengirim foto pada suamimu?” Naura memejamkan matanya kemudian ia mendorong tubuh Alvaro. Lalu setelah itu masuk ke dalam dan dia langsung mendudukkan diri di sofa.
Saat melihat kamar ini, Naura merasa sesak kamar yang membawa petaka untuknya hingga sekarang dia terjebak dengan pria seperti Alvaro.
“Katakan, kenapa kau melakukan ini padaku. Kenapa kau melibatkan aku dalam permusuhanmu dengan suamiku. Apa maumu!” Naura berbicara dengan nafas yang memburu, Ia tidak mampu lagi membendung emosinya. Sedangkan Alvaro hanya terkekeh.
“Jangan terlalu Naif, Naura. Kau tidak bisa menganggap Alvaro sepenuhnya baik, ada sisi lain yang kau tidak ketahui tentang suamimu!”
“Tutup mulutmu jangan menjelekkan suamiku!” teriak Naura.
“Kau tidak akan percaya, sebelum Kau melihatnya dengan mata kepalamu sendiri. Bahwa suamimu ....”