
AYAH TEMANKU
Tentang cinta beda usia, misteri, dan masa lalu.
DI bawah ini, ada satu bab lagi Olivia Hansel . kalian tinggal Scrol aja. jarinya jangan jahat ya gengs.
Judul\= Ayah Temanku, Tayang di K-b-m) Info 088222277840
Bab 1 mobil yang di tumpangi Fikri melaju dengan kecepatan pelan. Apalagi ibukota sedang diguyur hujan, hingga sekretaris Fikri menyetir mobilnya dengan kecepatan yang sedang.
Fikri menyenderkan tubuhnya ke belakang, beberapa kali ia menghela nafas. Rasanya, ia ingin secepatnya sampai di rumah dan beristirahat.
“Pak, Bukankah itu Putri Anda?” ucap Septian yang tak lain adalah sekretaris Fikri. Fikri menoleh ke arah samping, ia melihat putrinya dan teman putrinya sedang berteduh, seraya memeluk tubuhnya. Ia tahu, mungkin putrinya kedinginan. Tapi walaupun begitu, Fikri tidak berniat untuk mengajak putrinya pulang bersama
“Apakah kita harus mengajak Nona untuk pulang bersama, Tuan?” tawar Septian, ia melihat Fikri dari kaca depan. Walaupun ia sudah tahu jawabannya, tapi ia tetap bertanya. Siapa tahu, kali ini tuannya berubah pikiran dan mau mengajak Farah untuk pulang bersama.
“Tidak usah, biarkan saja dia!” kata Fikri, seperti biasa. Ia sama sekali tidak peduli dengan apa yang dilakukan oleh putrinya, dan apa yang terjadi pada putrinya. Sedangkan Septian hanya mengangguk.
Fikri Atmaja, seorang lelaki matang yang kini menginjak 39 tahun, lelaki itu berperawakan tegap, tampan dengan rahang kokoh dan tubuh yang atletis. Semua wanita mengidamkannya, apalagi dia seorang duda dengan anak satu yang kini berusia 19 tahun.
Farah Atmaja, adalah putri pertama dari Fikri Atmaja Putri. Orang pikir, mungkin akan beruntung menjadi Farah di mana Farah adalah anak satu-satunya dari seorang konglomerat. Tapi sayangnya, semua tebakan itu salah. Karena faktanya, Fikri begitu acuh dan abai pada putrinya
Entah apa yang membuat pikir begitu dingin pada putrinya sendiri, yang pasti sejak Farah lahir sampai detik ini Fikri tidak pernah mau peduli apapun yang terjadi pada Farah.
Sedari kecil, Farah lebih sering diurus oleh susternya. Hanya saja, saat usia Farah 13 tahun, suster yang mengurus Farah sedari bayi meninggal dan sejak saat itu, Fikri tidak lagi mencarikan suster lagi untuk Farah, karena menganggap putrinya sudah dewasa dan sejak saat itu Farah selalu menghabiskan waktunya sendiri.
Ia begitu kesepian, beberapa kali ia meminta waktu sang ayah untuk sekedar menemaninya. Tapi, Fikri tidak pernah menggubris putrinya
Hingga akhirnya, seiring berjalannya waktu Farah mulai mengerti, bahwa sang ayah tidak pernah menyayanginya. Setelah ia mengerti semuanya, ia tidak pernah lagi meminta apapun pada ayahnya. Semua ia lakukan sendiri.
Dan ketika sekolah menengah, Ia mempunyai teman bernama Aqila, yang bernasib sama sepertinya. Hanya saja Farah sedikit beruntung, karena mempunyai ayah yang kaya. Berbeda dengan Aqila.
Aqila hidup dengan penuh kegetiran. Ia hidup bersama ibu tiri dan kedua Kaka tiri yang menindasnya, belum lagi, hidup mereka serba kekurangan dan Aqilalah yang menjadi tulang punggung keluarga. Ayah kandungnya seolah tak perduli, bahkan ia selalu abai ketika Aqila di perlakukan buruk oleh kedua Kaka tirinya dan ibu tirinya.
Karena nasib Aqila dan Farah sama, keduanya bisa berteman, Aqila mampu membuat Farah nyaman, padahal Farah adalah orang yang cukup introvert dan jarang bisa bergaul dengan orang lain, belum lagi kehidupan pribadinya yang tidak mendapat kasih sayang dari ayahnya
Ia tidak mengerti, kenapa sang ayah tidak pernah tersenyum padanya. Setiap ia sakit, ia selalu melewatinya seorang diri. Diabaikan diacuhkan sudah biasa. Tapi yang paling menyakitkan adalah, ketika ia melihat sang ayah tersenyum pada anak rekan bisnisnya, sedangkan padanya sang ayah sama sekali tidak pernah tersenyum, tidak pernah bertanya apa yang terjadi dan tidak pernah bertanya apa yang ia rasakan dan apa yang ia butuhkan.
Ia dan ayahnya memang tinggal satu rumah. Namun setelah di rumah, ayahnya tidak pernah menyapanya, tidak pernah mengajaknya makan bersama,.keberadaan Farah seolah tidak terlihat oleh ayahnya, bahkan mungkin ayahnya menganggap Farah tidak ada di rumah itu.
Tapi Farah bisa apa, seiring berjalannya waktu. Ia sudah lelah menggapai hati sang ayah, ia ingin bertanya kenapa ayahnya mengabaikannya. Tapi, jangankan bertanya, untuk berbicara pada sang ayah saja rasanya ia begitu segan.
•••
“Farah itu mobil ayahmu!” pekik Aqila ketika melihat mobil Fikri melaju di hadapan mereka.
Farah hanya menoleh sekilas pada Aqila, kemudian ia kembali menunduk seraya memeluk tubuhnya yang begitu dingin. Aqilah yang mengerti tatapan Farah langsung mengelus punggung temannya.
“Tidak apa-apa aku yang akan mengantarkanmu!” kata Aqila, Farah pun menggangguk, karena memang dia takut pulang sendiri, apalagi ini sudah malam dan perumahan Farah berada di perumahan elit, hingga jarang ada orang di jam seperti ini.
Farah menyetop taksi, kemudian mengajak Aqilah untuk naik. Sedari tadi, mereka menunggu taksi online. Tapi, tidak ada yang datang dan beruntung ada taksi yang melintasi di depan mereka, sehingga mereka pun naik ke dalam taksi tersebuy.
“Kau menginap saja deh di sini, Ini juga masih hujan!” kata Farah pada Aqila, saat mobil yang ditempati mereka sampai di depan gerbang. Aqila tampak berpikir, ini sudah larut malam. Jika ia pulang, ia pasti akan dimarahi oleh ibu tirinya karena pulang terlambat, belum ia harus membereskan semua rumah.
Aqila menggangguk. “Hmm, aku akan menginap!” balas Aqila, hari ini saja ia ingin beristirahat dengan tenang, ia akan memikirkan nasibnya besok. Mereka pun turun dari taksi dan berlari ke arah gerbang.
“Non, kenapa hujan-hujanan!" pekik Bi ira saat membukakan pintu untuk Farah dan Aqila.
“Bi, tolong siapin makanan ya buat kami. Kami mau naik ke atas dulu,” balasn Farah, bi Ira pun mengangguk.
“Ayo Aqila!" ajak Farah, mereka pun masuk ke dalam rumah. Saat masuk ke dalam rumah, Farah menghentikan langkahnya kala melihat Fikri turun dari tangga.
Jantung Aqila berdetak dua kali lebih cepat, saat melihat ayah temannya yang memakai pakaian Casual dan begitu tampan. “Wow!” tanpa sengaja, Aqila berdecak kagum, seolah memuji tampilan Fikri yang begitu tampan. Hingga Farah yang berada di sebelah Aqila langsung menoleh, dan akhirnya Aqila pun tersadar lalu menetralkan ekspresinya.
“Ayah!” panggil Farah, ia berusaha menyapa sang ayah
, “Ayah boleh Aqila nginep di sini?” tanya Farah saat Fikri melewati tubuhnya begitu saja. Sebenarnya Ia hanya basa-basi bertanya, karena sang ayah tidak perduli. Namun entah kenapa hari ini ia ingin mendengar sang ayah berbicara padanya. Apalagi hari ini hari ulang tahunnya.
“Memangnya kamu pikir rumah rumah ini penampungan!” balas Fikri dengan sadis.
“Apa Om tidak bisa bersikap sedikit ramah pada Farah!” ucap Aqila tiba-tiba, membuat mata Farah membulat, Farah tidak menyangka bahwa Aqila akan menjawab seperti itu pada sang ayah.
Mendengar ucapan Aqila yang tidak sopan Fikri menoleh. Lalu, menatap Aqila dari atas sampai bawah. “Kamu pikir, kamu siapa di sini. Berani sekali kamu berbicara begitu sama saya!” kata Fikri, nyali Aqilah seketika menciut saat melihat tatapan Fikri yang begitu tajam.
Bab 2
Farah menggenggam tangan Aqila, mengisyaratkan agar Aqila tidak berbicara lagi begitupun Aqila yang langsung terdiam saat mendengar ucapan Fikri yang begitu sadis. Ia.benar-benar hanya refleks berkata begitu pada Fikri.
Selama ini, ia tidak pernah ikut campur urusan Farah, ia hanya selalu menenangkan Farah. Tapi barusan, saat mendengar ucapan Fikri yang begitu dingin pada Farah, ia refleks mengatakan apa yang ada di dalam hatinya, apalagi ini hari ulang tahun Farah, dan Aqila yakin, ada banyak hal yang ingin disampaikan Farah pada Fikri, itu sebabnya ia melontarkan kata-katanya begitu saja.
“Maafkan Aqila, Yah. Kami akan naik ke atas.” secepat kilat, Farah langsung menarik tangan Aqila untuk berjalan ke atas, sedangkan Aqila hanya mengikuti langkah Farah, ia benar-benar masih gugup karena ditatap begitu oleh Fikri.
Fikri menggeleng saat putrinya dan Aqila pergi ke atas, kemudian ia langsung berjalan ke arah meja makan untuk makan malam. Seperti biasa, di meja makan sudah terhidang beraneka menu.
Fikri menarik kursi, kemudian ia mendudukkan dirinya lalu mengambil piring dan mengambil makanannya dan ia pun mulai memakan, makan malamnya dengan hening.
Seperti biasa, Fikri selalu makan seorang diri. Tapi, Jika kebetulan Farah sedang berada di meja makan, ia akan langsung berbalik, karena ia tidak ingin makan bersama dengan putrinya.
•••
“Aqila Apa kau bodoh, kenapa kau harus berkata seperti itu pada ayahku,” ucap Farah, ketika masuk ke dalam rumah. Aqila menggaruk tengkuk yang tidak gatal.
“Maaf Farah, aku terlalu greget dengan ayahmu!” kata Aqila, Farah mendudukkan dirinya di sofa, kemudian ia menyadarkan tubuhnya ke belakang. Ia tidak peduli dengan pakaiannya yang basah, Ia hanya memikirkan nasibnya besok.
Selama ini, ayahnya sangat dingin padanya, dan ia yakin sikap ayahnya akan semakin mendingin, karena apa yang diucapkan Aqila barusan.
“Farah maaf,” ucap Aqila.
“Lupakanlah!” kata Farah. Farah pun kembali bangkit dari duduknya, kemudian ia langsung berjalan ke arah kamar mandi untuk menyegarkan diri, sedangkan Aqila mendudukkan dirinya di sofa.
Saat mendudukkan diri di sofa dan Farah sudah berada di kamar mandi, Aqila melihat ke sekelilingnya kamar Farah begitu mewah, dan ia tahu Farah tidak kekurangan apapun, berbeda dengannya.
Aqila tersenyum getir, ia melihat telapak tangannya yang menghitam dan mengeras, itu semua karena dia melakukan kerja berat. Bagaimana tidak, setelah ia pulang kuliah, ia harus melakukan pekerjaan part time.
Belum lagi Ia juga mempunyai bisnis kecil-kecilan dan ia harus mengantar barang Jika ada yang memesan barang darinya, belum lagi setiap hari ia selalu mendapatkan perkataan yang tidak enak dari keluarganya, sedangkan ayahnya hanya diam seperti tidak peduli padanya.
Kakak-kakaknya hanya bermalas-malasan, satu kakaknya fokus kuliah dan tidak boleh bekerja oleh ibu tirinya, sedangkan kakak tirinya yang lelaki hanya bermain game dan Aqila sendiri yang memenuhi kebutuhan di dalam rumah tersebut.
Ia ingin pergi dari rumah itu. Tapi seperti ada yang menahannya, ia tidak punya siapapun dan ia tidak punya tempat berteduh. Dulu, Ia pernah kabur dan menyewa sebuah kosan untuk dirinya sendiri. Tapi ternyata sang ayah menemukannya, dan ia kembali di siksa oleh ibu tirinya dan kedua Kaka tirinya. Ia tidak punya kemampuan untuk melawan, karena saat itu ia masih sekolah.
Dan selain masalah ia yang harus menjadi tulang punggung keluarga, ia juga harus menahan was-was, saat berada di rumah. Bagaimana tidak terkadang kakak tirinya yang lelaki selalu berusaha untuk melecehkannya, ia tidak pernah tertidur saat malam dan itu sebabnya setelah pulang kuliah, ia lebih memilih untuk melakukan beberapa pekerjaan part time, setidaknya ia bisa menunjang kuliahnya d membantu untuk kebutuhan rumah tangganya
Sebenarnya bukan membantu, karena dia sendirilah yang menjadi tulang punggung. Ibu tirinya selalu meminta jatah setiap Aqila mendapat gaji dan akhirnya tidak bisa menolak. Hidup Aqila benar-benar getir, Ia tidak tahu sampai kapan ini berlalu.
Dan sekarang, ketika Farah mengajaknya untuk menginap, Aqila tidak ingin memikirkan hari esok karena ia tahu hari esok ia tidak akan selamat dari ibu tirinya, dan hari ini saja ia ingin tidur lelap dan tidak memikirkan tentang hari esok.
Waktu menunjukkan pukul 11.00 malam, Aqila terbangun dari tidurnya, kemudian ia melihat ke arah samping di mana Farah sudah tertidur. Ia menarik selimut dan menyelimuti tubuh Farah.
Ia menatap Farah dengan sendu, ia ingat sebelum tidur, Farah meminum obat tidur, ia tidak bisa melarang Farah melakukan itu, karena ia mengerti dengan apa yang dirasakan Farah. Farah tidak ingin melewati malam ini dengan kesedihan, apalagi ini adalah malam ulang tahunnya.
Sedangkan ia terbangun karena ia merasakan haus. Setelah menyelimuti tubuh temannya, Aqila pun langsung turun dari ranjang, kemudian ia langsung keluar untuk ke dapur dan mengambil minum.
Saat ia turun ke bawah, langkahnya terhenti matanya fokus melihat keluar, tubuhnya diam mematung saat melihat apa yang ada di depannya, ternyata Fikri sedang duduk di tepi kolam renang, dan sepertinya lelaki itu baru saja selesai berenang.
Jantung Aqila seperti akan melompat dadanya, saat melihat tubuh atletis Fikri, ia bahkan tidak mengedipkan matanya karena begitu tersihir dengan tampilan Fikri, yang hanya bertelanjang dada.
Fikri bangkit dari duduknya, kemudian ia berniat masuk ke dalam kamar. Namun tak lama, ia menghentikan langkahnya saat melihat Aqila ada di depannya. Fikri menatap Aqila dengan datar, sedangkan Aqila masih belum tersadar, ia masih menata Fikri tanpa berkedip.
“Kamu mau apa?” tanya Fikri yang mulai berjalan, ia langsung bertanya ketika berada di depan Aqila. Aqila menggeleng, kemudian ia tersadar.
Bukannya menjawab, ia malah fokus pada perut Fikri yang sixpack.
“Kamu mau apa?” tanya Fikri lagi, seketika Aqila mengerjap.
“Maaf om, saya cuma mau ambil minum!” kata Aqila dengan wajah yang memerah. Fikri langsung berjalan, meninggalkan Aqila begitu saja dan setelah Fikri pergi.
Aqila mengusap dadanya. Ia perempuan yang normal, tentu saja dia tertarik dengan Fikri, apalagi Fikri bisa didefinisikan lelaki yang sempurna. Namun, ketika mengingat kelakuan Fikri pada Farah, Aqila menggeleng-gelengkan kepalanya, kemudian ia kembali melanjutkan langkahnya untuk pergi ke dapur dan mengambil minum
Pagi berganti malam, Aqila dan Farah sudah sama-sama bangun dari tidurnya dan mereka pun bersiap untuk pergi ke kampus. Seperti biasa, setiap menginap Aqila selalu memakai pakaian milik Farah, karena ia tidak memakai baju ganti.
Saat akan sarapan Farah, langkahnya menghentikan kala sang ayah ada di meja makan, dan ia tidak seberani itu untuk bergabung bersama ayahnya. Namun tak lama, ia terpikirkan sesuatu
“Aqila kau tunggu di sini, aku harus berbicara dengan ayahku!” kata Farah, Aqila pun menggangguk.
Farah berjalan ke arah meja makan, kemudian ia berdiri di samping ayahnya. “Ayah!” panggil Farah dengan ragu, Fikri tidak menoleh membuat Farah menggigit bibirnya.
“Bolehkah aku meminta kartu kredit lain, kartu kreditku sudah limit bulan ini," ucap Farah.
“Kalau begitu aku pergi!” Farah lebih memilih pamit dari hadapan Fikri, karena ayahnya tidak menjawab, sedangkan Aqila hanya menatap Farah yang berjalan ke arahnya dengan getir apalagi melihat ekpresi Farah yang sepertinya tidak ingin menangis.
Dunia ini benar-benar tiada adil untuk mereka.
••••
Bab 3
Aqila menghela nafas, kemudian menghembuskannya saat berada di depan rumah orang tuanya. Akhirnya, setelah bekerja partime, ia harus pulang dan ia sudah bersiap untuk menebalkan kupingnya, karena pasti ia akan dimarahi oleh ibu tirinya
Setelah terdiam cukup lama, akhirnya Aqila pun melangkahkan kakinya untuk masuk.
“Kemana aja kamu, kamu enggak tahu, semuanya habis. Mana uang? bukannya hari ini kamu gajian?” tanya Mina, ibu tiri Aqila.
Aqila mengigit bibirnya, kemudian menggeleng. “Maaf Bu, Aqila harus bayar semester. Jadi Aqila Enggak bisa ngasih gajih Aqilah ke ibu!” kali ini, Aqila berani melawan. Sebab, ia memang harus membayar biaya semesternya, jika tidak, ia tidak akan bisa mengikuti ujian
“Ada apa ini!” teriak Harso. Ia yang sedang merokok langsung menghampiri istri dan putrinya.
“Ayah, lihat anak kamu! masa dia enggak mau kasih uang gajinya, sedangkan kebutuhan dapur menipis,” ucap Mina, mengadu pada sang suaminya.
“Aqila kamu kan bisa berhenti kuliah, cepat kasih uangnya ke ibu!” Tanpa rasa belas kasihan, Harso menyuruh Aqila memberikan uang yang baru saja Aqila dapat. Ia sama sekali tidak memperdulikannya Aqila, yang tak lain adalah anak kandungnya sendiri.
“Ayo cepat!” ucap Harso. Dengan tangan bergetar, Aqila pun langsung merogoh tasnya, kemudian ia mengambil uang hasil gajiannya kemudian memberikannya pada tangan Mina.
“Nah, gitu dong! sekarang cepat cuci piring. cucian numpuk” .Helaan nafas, terlihat dari wajah Aqila, begitulah setiap hari. Ia tidak pernah mendapat ketenangan.
Aqila melepaskan tasnya, kemudian ia masuk ke dalam. “Kamu mau ngapain?’ tanya Mina, ketika Aqila, mengambil piring. ”Bu aku lapar, aku mau makan!” Kali ini, Aqila memberanikan diri menjawab ucapan ibu tirinya.
biasanya ia tidak akan berani membantah, ia akan mematuhi ibu tirinya, untuk melakukan pekerjaan rumah terlebih dahulu. Tapi kali ini, Aqila benar-benar sedikit emosi, apalagi uang yang ia kumpulkan untuk membayar kuliahnya harus diambil secara paksa.
“Cepat makan! beresin semua di dapur!" kata Mina, lagi-lagi Aqila hanya mampu menghela nafas, saat melihat perlakuan ibu tirinya. Ia pun segera menyendokan nasi ke piring beserta lauk-pauknya.
Namun, baru saja ia akan memakannya ayam yang berada di piring, ayam itu direbut oleh Irma, kakak tirinya.
“Enak aja lu makan enak!” Irma memakan ayam tersebut, membuat lagi-lagi Aqila memejamkan matanya, akan percuma jika ia meladeni kakak tirinya, Ia pun memilih melanjutkan memakan makanan yang ada di piringnya.
“Udah lu makan, beliin gue boba ke depan!” titah Irma, Aqila tidak menjawab. Ia, fokus memakan makanan yang ada di depannya.
“Denger enggak lu!” Irma menoyor kepala Aqila, hingga Aqila menjadi murka. Aqila melemparkan piring yang sedang ia pakai, karena ia tidak terima kepalanya ditoyor oleh kakak tirinya.
“Apa-apa ini!” teriak Mina.
“Bu lihat! dia mecahin piring!” Irma mengadu pada sang ibu.
“Aqila!” bentak Mina.
Aqila memejamkan matanya, rasa lelah rasa marah, emosi bercampur menjadi satu, Aqila mengepalkan tangannya, hingga ia melototi ibu tirinya
“Berani kamu melototin ibu!” bentak Irma lagi.
Rasanya, kekesalan Aqila semakin menjadi-jadi. Emosi benar-benar menjadi bensin untuk membakar rasa takutnya. Ia pun langsung berjalan ke arah ibu tirinya, lalu merogoh saku ibu tirinya dengan paksa, ia mengambil uang yang tadi Ia berikan, karena ia melihat, ibu tirinya masukkan uang itu ke dalam saku.
Setelah melawan ibu tirinya, Ia pun berhasil mengambil uang yang tadi ia serahkan pada Mina. Sedangkan Mina berusaha mengambil uang itu dari tangan Aqila. Namun, Aqila melawannya
“Cukup!” bentak Aqila, rasanya ia sudah berada di ujung emosinya, bertahun-tahun diperlakukan tidak adil dan inilah puncak emosinya.
“Ayah!” teriak Mina yang memanggil suaminya, karena ia tahu Aqilah akan menurut jika Harso yang memerintahkannya.
“Apa Bu?” tanya Harso.
“Lihat anak kamu! masa dia ngambil lagi uang yang tadi dikasih!” ucap Mina. Namun, kali ini, Aqila tidak gentar.
“Balikin duit itu ke ibu!” titah Harso, ia melotot galak pada Aqila.
“Enggak mau, aku enggak akan pernah balikin uang ini!” Baru saja Harso akan maju untuk memukul Aqila, Aqila menantang Harso.
“Aku bisa laporin kalian ke Komnas ham atau aku juga bisa laporin kalian ke kantor polisi, karena kalian udah semena-mena sama aku!" teriak Aqila. Lalu Aqila melihat ke arah Irma.
“Dan lu juga, selama ini lu kuliah pakai uang gaji gua kan” tiba-tiba Aqila terpikirkan sesuatu, ia pun langsung berjalan ke arah kamar Irma.
Lalu setelah itu, ia mencari-cari dompet Irma, dan Ketika menemukan dompet Irma yang ada di atas meja belajar, Aqila pun langsung mengambil dompet Irma dan mengeluarkan seluruh isinya dan ia pun mengambil sisa uang milik Irma.
Saat sudah mengambil dompet Irma, Aqila melemparkan dompet itu ke arah Irma, hingga dompet itu mengenai kepala Kaka tirinya. Aqila benar-benar sudah berada di titik lelahnya, ia rasa bertahan pun percuma, dan sebenarnya saat ini tidak sepenuhnya berani, lututnya pun sedikit gemetar.
Tapi, Jika ia tidak melawan, ia akan terus diperlakukan tidak adil. “Aqila!" teriak Irma. Saat Irma akan maju, Aqila langsung mengambil ponsel Irma yang ada di ranjang, kemudian ia berjalan ke arah jendela.
“Berani lu maju, gue lemparin handphone lu ke jendela,” ucap Aqila.
“Ayah ... Ibu!” Irma berteriak dengan panik saat Aqila akan melemparkan ponselnya, sedangkan Aqila hanya menyeringai.
“Wah, Irma HP lu bagus juga dan ini lu pasti beli pakai duit gue!”
“Tutup mulut lu!” kata Irma yang tak terima dengan ucapan Aqila, kali ini Harso yang masuk ke dalam kamar Irma, kemudian ia melotot galak pada Aqila.
“Aqila!” bentak Harso. “Kamu udah berani sama ayah, yah!”
“Ayah, kalau ayah macam-macam sama aku.. Aku laporin ayah ke Komnas HAM dan ayah bakal diproses secara hukum!” ucap Aqila, ia tidak tahu apakah perlakuan keluarganya bisa dipertanggungjawabkan di depan hukum atau tidak, yang pasti Ia hanya asal bicara agar keluarganya tidak semena-mena.
Seketika Harso terdiam, rupanya ia sedikit menciut dengan ucapan Aqila, setelah Harso terdiam, Aqila langsung berjalan ke arah pintu sambil membawa ponsel Irma.
“Ayah minggir!” ucap Aqila ketika Harso menghalangi pintu, sedangkan Irma berusaha untuk tenang. Ia tidak ingin Aqila menghancurkan ponsel yang baru saja ia beli.
Taanpa diduga, Harso mencekik Aqila dan menyudutkan putrinya ke dinding, hingga Aqila kesulitan untuk bernafas, Aqila terus berusaha meronta agar sang ayah melepaskan cengkramannya dari lehernya.
Walaupun sempat takut pada ucapan Aqila, tapi tak lama, ia tak terima saat Aqila berteriak padanya. Hingga ia gelap mata, ia tidak terima putrinya membangkang.
Saat Aqila sudah lelah untuk memberontak, Aqila menggerakkan kakinya untuk menendang senjata sang ayah, dan sedetik kemudian senjata Harso langsung melepaskan tangannya dari leher Aqila.
Saat Harso masih kesakitan, Aqila langsung keluar dari kamar Irma, dan ia langsung keluar dari rumah. Saat sudah diluar, ia berlari sekencang mungkin, agar sang ayah tidak mengejarnya. Beruntung, selama ini Aqila menyimpan peralatan kuliah dan sebagian pakaian-pakaiannya di loker tempat ia bekerja part time, hingga ia tidak tidak terlalu kesulitan.
Gengs tinggalin komen ya biar semangat
Bab 4
Aqila terdiam di sisi jalan, ia duduk di kursi yang ada di bahu jalan tersebut. Tatapan matanya lurus ke depan, ia memeluk tubuhnya saat angin malam berhembus sangat kencang. Matanya mulai berkaca-kaca, membayangkan kejadian saat tadi, di mana ia hampir saja mati di tangan ayahnya.
Tiiba-tiba, bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk matanya saat mengingat kejadian di mana ayahnya mencekiknya. Ayah yang seharusnya melindunginya, yang seharusnya ada untuknya, malah bertindak sebaliknya.
Terkadang, ia heran siapa yang anak kandung dan siapa yang anak tiri, karena faktanya ia lebih sering melihat bahwa ayahnya terlihat menyayangi kedua kakak tirinya, berbeda dengannya yang dijadikan tulang punggung keluarga dan dijadikan pembantu di rumah itu.
Aqila menggeleng-gelengkan kepalanya, ia tidak boleh larut dalam apa yang terjadi, karena ia sadar hidupnya yang baru akan dimulai. Dan ia merasakan kelegaan yang luar biasa hebat, saat ia berhasil keluar dari rumahnya.
Ia tidak menyangka, ia akan seberani ini. Padahal, dulu iya begitu ragu untuk pergi. Tapi sekarang, ia benar-benar yakin, Ini adalah keputusan yang terbaik, setidaknya ia bisa mengurus dirinya sendiri, tanpa mengingat kedua orang tua dan kedua kakak tirinya.
Aqila mengerjap, kemudian ia langsung bangkit dari duduknya, setelah itu, ia memutuskan untuk berjalan. Ia tidak tahu malam ini akan kemana, hanya saja, yang pasti ia tidak akan pulang ke rumahnya lagi.
Temannya hanya Farah. Tapi, ia tidak seberani itu untuk datang ke rumah Farah. Walaupun ia dan Farah memang berteman dekat, tapi dia tidak berani untuk meminta tolong pada Farah. Ia tidak ingin, Farah menganggapnya sebagai teman yang memanfaatkan keadaan.
•••
waktu menunjukkan pukul 10.00 malam, Fikri masih betah berada depan laptop. Sebenarnya, pekerjaan Fikri sudah selesai. Hanya saja, ia memeriksa berkas-berkas yang lain yang belum ia sempat ia periksa.
Tak lama, pintu ruangan Fikri terbuka, sosok Septian, sekretaris Fikri masuk ke dalam. “Pak, anda tidak pulang?” tanya Septian, Fikri menoleh.
“Kau duluan saja, aku akan membawa mobil sendiri!” kata Fikri, septian pun mengangguk, kemudian ia merogoh saku, lalu menyerahkan kunci mobil ke hadapan Fikri.
“Kalau begitu saya permisi, Pak." pamit Sepitian, Ia pun berbalik, kemudian keluar dari ruangan bosnya. Setengah jam kemudian, Dikit merentangkan tangannya, kemudian ia langsung menutup laptopnya. Setelah itu, ia pun bangkit dari duduknya lalu memakai jas dan menyambar kunci mobil, lalu keluar dari ruangan.
Fikri menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang, jalanan tanpa lenggang. Ia menyetir dengan pikiran yang melanglang buana. Tak lama, ia melihat ke arah bawah, lalu memejamkan matanya seraya menghela nafas.
Sepertinya, sekretarisnya lupa membeli bensin, dan untuk pertama kalinya, Fikri harus memberi bensin seorang diri. Ia pun langsung berbelok, kemudian mencari Pertamina yang dekat.
•••
Aqila berjalan tak tentu arah, jujur saja ... Ia bingung, ini sudah setengah jam berlalu ia berjalan, dan ia berjalan hanya mengikuti kemana kakinya melangkah. Tak lama, ia merasa merinding dan ia merasa ada yang mengikuti dari belakang.
Ia menghentikan langkahnya sejenak, kemudian ia menoleh ke belakang. Namun saat ia menoleh, tidak ada siapapun di sana. Ia menggigit bibirnya, sebenarnya ia sudah melihat ada seseorang yang mengikutinya. Namun, saat ia berbalik, seseorang itu bersembunyi dan ia tahu, itu adalah Egi, kakak tiri lelakinya.
Tiba-tiba, jantung Aqila berdetak dua kali lebih cepat, ia berada di dalam ketakutan yang luar biasa. Apalagi jalanan di sekitarnya cukup sepi. Secepat kilat, Aqila pun langsung berlari dengan kencang, karena ia takut kakak tirinya menangkapnya. Apalagi, Ia seorang wanita ... tentu saja ia tidak akan menang melawan Egi.
Saat berada di depan pom bensin, mata Aqila berbinar saat melihat ada Fikri sedang mengisi bensin. Pom itu cukup sepi, dan Aqila tidak bisa memikirkan jalan lain. Secepat kilat, Aqila berjalan ke arah sisi, kemudian ia langsung berlari ke arah mobil Fikri dan masuk ke dalam mobil ayah dari temannya.
Fikri yang sedang diluar dan membayar tidak menyadari bahwa Aqilah masuk ke dalam mobilnya, apalagi Aqila masuk ke dalam mobil dengan pelan.
“Terima kasih!” ucap Fikri, ia turun karena ingin mengecek sesuatu dan setelah memastikan kondisi mobilnya, Fikri pun langsung masuk ke dalam mobil.
“Astaga!” Fikri terpekik kaget, saat melihat Aqila ada di mobilnya. Ia mengucek mata dan menatap Aqila tak percaya
Kenapa juga ada Aqila, wanita yang tak lain teman putrinya dan berada di mobilnya. Padahal, jelas-jelas dia tadi sendiri
“Kamu ngapain di mobil saya!” teriak Fikri membuat Aqila terperanjat.
“Tolong aku, Om!” kata Aqila “aku ikejar kakak tiri ku!”
“Memangnya apa urusan saya!” hardik Fikri.
“ Keluar!”! usir Fikri pada Aqila.
“Om tega usir aku, gimana kalau ada apa-apa sama aku!” Aqila tidak memperdulikan lagi sikap dingin Fikri, ia mengusir ketakutannya pada ayah temannya. Yang terpenting, ia harus pergi dari kakak tirinya terlebih dahulu.
“Om ayo!” Aqila menggoyang-goyangkan tangan Fikri, membuat Fikri terperanjat, karena selama ini tidak ada yang berani menyentuhnya. Tapi sekarang, gadis yang merupakan teman anaknya begitu lancang .
Seketika Fikri menghempaskan tangan Aqila dengan keras, hingga Aqila tersadar, dan meringis, karena tangannya mengenai ujung pintu.
Fikri berdecak malas, kemudian ia menyalahkan mobilnya, lalu menjalankannya. Setelah itu, Aqila langsung menunduk agar tidak terlihat oleh kakak tirinya yang terlihat sedang mencari-carinya.
Setelah mobil melaju dengan jarak yang cukup jauh dari pom bensin tadi, Fikri langsung menghentikan mobilnya. Kemudian, ia menoreh ke arah Aqila yang sedang melamun.
“Kamu turun!” usir Fikri, Aqila menoleh.
“Om, ini jalan sepi. Masa om tega nurunin aku di sini,” ucap Aqila.
“Saya, enggak peduli. Turun!" lagi-lagi, Fikri berucap dengan datar dan dingin. Nadanya seperti enggan dibantah, sedangkan Aqila menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia begitu penakut, dan sekarang Fikri malah menurunkannya di jalan pintas yang cukup sepi. Bahkan tidak ada orang satupun di sana.
“Om ...." Aqila berusaha untuk membujuk Fikri, berharap Fikri mau mengajaknya. Setidaknya malam ini ia bisa aman. Sebenarnya, ia bisa saja menelepon Farah. Tapi berhubung ia sedang bersama Fikri, lalu apa salahnya ia menebeng pada Fikri.
Fikri menghela nafas, kemudian menghembuskannya. Dia pun turun dari mobil,.membuat Aqila mengerutkan keningnya. Fikri memutari mobil, kemudian membuka pintu mobil untuk Aqila. “Keluar!” titah Fikri.
“Om ....” ucap Aqila dengan lirih, ia berusaha menampilkan wajah yang memelas. Fikri menarik tangan Aqila dengan paksa, hingga Aqila pun terpaksa keluar dari mobil. Dan setelah Aqila keluar, Fikri, kembali masuk ke dalam mobilnya. dan ia pun, kembali menjalankannya dan meninggalkan Aqila yang ketakutan seorang diri.
Bab 6
Mata Fikri membulat saat melihat ada Aqila. depannya, ia melihat Aqila dari bawah sampai atas, ia semakin terhenyak saat menyadari bahwa Aqila memakai seragam office girl yang ada di perusahaannya.
“Sedang apa kamu di sini?” Tanya Fikri. Aqila hanya tersenyum, menampilkan deretan giginya yang rapih.
“Saya menjadi office girl Om di sini,” ucap Aqila membuat rasa kesal menghinggapi Fikri.
”Memangnya kamu pikir saya om kamu!” hardik Fikri dengan sadis, membuat Aqila menggigit bibirnya.
“Maaf, Pak,” ucap Aqila dengan berusaha menahan agar tidak menangis.
Aqila yang sedang membawa nampan langsung maju, kemudian ia menyimpan makanan di meja lalu berjalan dengan pelan, karena tatapan Fikri begitu menusuk sama seperti biasanya. Hanya saja, kali ini Aqila lebih gugup dari sebelum-sebelumnya, apalagi Fikri menjadi bos di tempat ia bekerja.
“Kamu boleh pergi!” ucap Fikri. Lagi-lagi, Aqila pun mengangguk.
“Kalau begitu saya permisi, Pak!” Setelah itu Aqila berbalik kemudian keluar dari ruangannya membuat Fikri menggeleng.
Setelah keluar dari ruangan Fikri, Aqila memegang dadanya. Jantunya berdetak dua kali lebih cepat. Bagaimana tidak, Fikri benar-benar menakutkan. Tatapan Fikri benar-benar menusuknya sampai ke jantung.
Aqila menegakan tubuhnya, kemudian ia langsung berjalan kembali untuk turun dan pergi ke pantry, dan melanjutkan pekerjaannya lagi, karena banyak sekali tugas yang menantinya.
•••
waktu menunjukkan pukul 05.00 sore, setelah mencuci piring dan melakukan tugasnya. Akhirnya, Aqila bisa bernafas lega kala pekerjaan selesai dan waktunya ia pulang.
Rasanya, iya tak sabar untuk segera sampai di kosannya dan membaringkan tubuhnya. Hari ini, ia begitu lelah. Apalagi semalaman ia tak bisa tertidur sama sekali.
Saat Aqila akan pulang, dan sudah bersiap untuk pergi ke loker. Tiba-tiba, terdengar suara langkah yang masuk ke dalam pantry, hingga akhirnya menoleh.
“Aqila tolong bawakan bapak Fikri cemilan dan minuman yang seperti tadi. Dia akan lembur dan setelah kau mengantarkan itu Kau boleh pulang,” ucap seseorang yang tak lain staf yang ada di prusaah itu.
Aqila pun mengangguk dengan senyum,.ia bisa saja tersenyum. Padahal hatinya mengutuk Fikri. Saat ia akan pulang ia malah harus menerima perintah lagi. Tapi, posisinya ia tidak bisa melawan, akhirnya ia membatalkan niatnya untuk pulang dan pergi ke pantry untuk kembali menyiapkan makanan yang seperti tadi siang
15 menit berselang, makanan yang dibuat Aqila pun akhirnya selesai. Ia langsung bergegas berjalan ke arah lift, untuk naik ke dalam ruangan Fikri. Setelah berada di depan ruangan Fikri, akhirnya Aqila mengetuk pintu tersebut,.hingga terdengar sahutan dari dalam.
“Pak, Ini pesanan Anda!” kata Aqila.
“Kamu bisa menyimpannya di sana!” balas Fikri tanpa menoleh ke arah Aqila. Hingga Aqila pun menaruh makanan yang ia bahwa di meja.
“Kalau begitu saya permisi, Pak!” pamit Aqila Entah kenapa Rasanya ia tidak ingin berlama-lama berdiam di dekat Fikri atau di dalam ruangan Fikri. Rasanya, ia seperti sedang uji nyali.
••••
Waktu menunjukkan pukul 10 malam, Fikri langsung menutup laptop. Ia mengusap wajahnya, karena matanya terasa berat. Dia yang seharusnya pulang sore, malah larut dalam pekerjaannya karena ada pekerjaannya yang belum selesai.
Fikri bangkit dari duduknya, kemudian Ia memakai jas. Lalu menyambar kunci mobil dan keluar dari ruangan. Suasana perusahaan begitu hening, hanya tinggal ada beberapa satpam yang berjaga di depan.
Fikri masuk ke dalam mobil, kemudian ia menyalakan mobilnya dan menjalankannya lalu keluar dari basement. Saat menyetir, hujan turun
Fikri menghentikan mobilnya sejenak untuk menyalakan pembersih kaca.
Saat ia akan menjalankan mobilnya kembali, tiba-tiba ia menghentikan gerakannya saat melihat sosok Aqila berdiri di seberang. Sepertinya Aqila sedang berteduh. Sejenak, Fikri terdiam menatap Gadis itu. Namun tak lama, ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Dengan segera, menyalahkan mobilnya kembali dan menjalankannya.
20 menit kemudian, akhirnya mobil yang dikendarai Fikri sampai di rumah. Ia pun mengambil payung, lalu turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah. Saat masuk ke dalam rumah, Fikri menghentikan gerakannya saat melihat sang Putri sedang duduk di sofa.
Saat mendengar suara pintu terbuka, Farah menoleh, ia yang memang sudah dari tadi menunggu sang ayah langsung bangkit dari duduknya. Dengan ragu, Farah pun langsung berjalan ke arah Fikri.
“Ayah!” panggil Farah, sebenarnya ia sangat takut menghadapi Fikri, apalagi ia akan meminta sesuatu pada sang ayah.
“Hmmm,” jawab Fikri dengan acuh.
“Ayah bolehkah aku meminta kartu kredit yang baru,.kartuku sudah limit dan ....” Farah tidak melanjutkan ucapannya, karena sang ayah menatapnya dengan tatapan tajam. Hingga parah hanya bisa tertunduk.
Jika saja ia tidak membutuhkan kartu kredit, ia tidak akan meminta pada sang ayah. Tapi dia juga bingung harus meminta pada siapa lagi. Fikri menghela nafas, kemudian menghembuskannya. Ia mengeluarkan dompet, lalu mengambil sebuah kartu dan Farah pun langsung mengambil kartu itu.
|••
Waktu menunjukkan pukul 02.00 malam, Fikri menggerakkan kepalanya ke sana kemari. Keringat dingin mengcuri seluruh tubuhnya.
“Ivana!” teriak Fikri yang langsung terbangun dari tidurnya. Rupanya, ia memimpikan kejadian masa lalu, dimana ia dan istrinya ....
Bab 7
Fikri terbangun dengan nafas yang terengah-engah, ia tidak menyangka mimpi itu akan datang kembali, mimpi di mana saat ia mengalami hal tragis bersama istrinya.
Saat akan mengambil minum, Fikri menghentikan gerakannya saat melihat Farah sedang terduduk di sofa. Fikri masih berdiri di atas anak tangga, dia melihat punggung Farah, dan ketika melihat Farah, ia teringat lagi mimpinya barusan, hingga ia mengepalkan tangannya.
Rahangnya mengeras dan pada akhirnya, Fikri berbalik dan kembali ke kamarnya, rasanya ia tidak akan sanggup menatap Farah, dan ia tidak akan bisa menahan emosinya jika melihat Farah, itu sebabnya ia lebih memilih untuk kembali ke dalam kamar.
1 jam berlalu
Tidak terasa Farah sudah duduk di sofa selama 1 jam, sebenarnya ia tidak bisa tidur, ia merasa perasaannya ada yang aneh, itu sebabnya ia memilih turun dan membuat susu. Saat ia akan naik kembali ke kamarnya, tiba-tiba Farah mendengar suara derap langkah, hingga ia langsung mendudukan diri di sofa.
Ia ingin menoleh ke arah tangga, tapi ia tidak seberani itu untuk melihat ayahnya, karena faktanya saat Fikri tadi turun sampai Fikri kembali, Farah menyadari kehadiran sang ayah. Hanya saja, ia tidak berani berbalik. ia tidak ingin melihat tatapan ayahnya yang menatapnya dengan penuh amarah, itu sebabnya ia lebih memilih untuk tetap diam.
Seelah cukup lama terdiam, akhirnya Farah pun bangkit dari duduknya, kemudian ia kembali lagi naik untuk ke kamarnya.
keesokan harinya
Fikri keluar dari kamar, ia turun untuk sarapan sebelum pergi ke kantor. Dan tepat saat Fikri sudah duduk di kursi untuk sarapan. Farah datang dari arah belakang, membuat Fikri menyentak nafas kesal.
“Ayah!” Panggil Farah, ia memberanikan diri untuk menyapa sang ayah karena ingin berbicara sesuatu, sedangkan Fikri yang akan memulai sarapannya langsung menghentikan gerakannya, ia sama sekali tidak menoleh ke arah Farah.
Farah menggigit bibirnya saat melihat ekspresi sang ayah, ia tahu ayahnya tidak mau mendengar ucapannya, apalagi ketika sedang sarapan. Tapi Farah terpaksa ingin menyampaikan ini pada ayahnya.
Saat Fikri tidak menjawab Farah kembali menguatkan dirinya untuk berbicara.
“Ayah, bolehkah berbicara dengan ayah?” kata Farah, bibirnya bergetar. Ia sungguh takut mendengar jawaban Fikri.
“Nanti saja,” jawab Fikri dengan dingin, membuat Farah menghela nafas. Perlahan, tangan Farah terulur untuk menarik kursi, untuk pertama kalinya Ia juga memberanikan diri untuk sarapan bersama sang ayah, ia berharap kali ini saja ayahnya mau sarapan dengannya.
Saat Farah sudah duduk, Fikri membanting sendok yang sedang ada di tangannya, kemudian ia langsung pergi meninggalkan meja makan dan juga meninggalkan Farah yang diam terpaku. Padahal Ia ingin mencoba mendekatkan dirinya pada sang aya,h walaupun dia tahu ayahnya akan menolak.
Tapi tetap saja, sekuat apa pun ia menguatkan dirinya, ia tidak akan mampu menembus hati sang ayah yang telah beku. Buktinya, sekarang Fikri pergi begitu saja, padahal Ia baru ingin berbicara pada ayahnya.
Mata Farah membasah, lalu ia menghapus sudut matanya yang berair, kemudian mengambil piring lalu mulai menata makanan di piringnya. Farah menyuapkan suap demi suap makanan dengan perasaan yang hancur, ia seperti kalah sebelum berjuang.
Fikri keluar dengan membanting pintu, kemudian ia masuk ke dalam mobilnya, Moodnya tiba-tiba memburuk saat Farah duduk di meja yang sama dengannya. “Aku yang menyetir!” kata Fikri pada supirnya, Fikri merebut kunci itu dari tangan supirnya, kemudian Ia pun masuk ke dalam mobil. Lalu menjalankan mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi, membuat supir itu menggeleng.
15 menit kemudian, Farah keluar dari rumah, ia melihat Januar, supir sang ayah, kemudian ia menghampiri Januar. ”Om!” anggil Farah pada Januar.
“Non mau diantar, om tidak mengantar bapak sekarang!” kata Januar yang menawarkan Farah.
Farah menggeleng. ”Tidak, aku mau menaiki taksi om, kalau begitu aku permisi!” pamit Farah, kemudian kata Farah pun berjalan ke arah gerbang.
Januar terdiam, ia hanya bisa melihat punggung Farah yang sejalan menjauh. Ia mengerti bagaimana keadaan keluarga Fikri, karena ia sudah mengabdi bertahun-tahun pada Fikri, dan dia juga termasuk saksi kunci di kejadian itu.
Ia juga menjadi saksi bagaimana hancurnya keluarga Fikri saat itu, hingga ia tahu betul apa alasan sikap Fikri bersikap demikian pada Farah.
•••
Setelah berada di jalan raya, Fikri mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, ia berusaha mengatur nafasnya. Entah kenapa, saat melihat Farah berani dekat dengannya, ia merasa kesal. Belum lagi mimpinya saat kemarin malam masih terngiang di otaknya, hingga mengingatkan Fikri pada kejadian masa lalu
Fikri menghela nafas kemudian menghembuskannya, setelah melewati perjalanan yang cukup jauh, akhirnya mobil yang dikendarai Fikri sampai di basement perusahaannya. Ia pun langsung turun kemudian berjalan ke arah lift. Lalu naik ke ruangannya.
Saat masuk ke dalam ruangannya, Fikri langsung melempar tasnya, kemudian ia langsung berjalan ke arah meja kerjanya dan setelah itu ia menelepon sekretarisnya, meminta sekretarisnya untuk memesankan makanan untuk sarapan.
Dua puluh menit berselang, pintu diketuk oleh seseorang sehingga Fikri pun mempersilahkan orang itu untuk masuk. Dan ternyata, Aqilah lah yang masuk sambil membawa pesanan Fikri.
Saat melihat Aqila, Fikri memejamkan matanya. Ketika melihat Aqila, otomatis ia teringat lagi dengan Farah dan itu semakin membuat moodnya memburuk. Rasanya, ia ingin sekali berteriak pada wanita di depannya ini.
“Pak Ini pesanan Anda!” kata Aqila.
“Taruh di meja,” Jawab Fikri dengan acuh, Aqila pun menaruh nampak tersebut. Namun tak lama, Aqila membulatkan matanya saat ia tak sengaja menumpahkan gelas yang berisi kopi ke meja, hingga Fikri pun menoleh kemudian ia langsung bangkit dari duduknya dan menggebrak meja.
“Apa kamu enggak bisa kerja yang benar!" teriak Fikri, Fikri seperti menemukan alasan untuk berteriak pada Aqila, melampiaskan kesalahannya yang terjadi akibat tadi.
Tubuh Aqilah dia mematung saat mendengar Fikri berteriak, Untuk pertama kalinya, ia melihat wajah Fikri yang memerah dan menatapnya dengan penuh amarah. Dengan tangan bergetar, Aqila langsung mengambil sapu tangan. Dengan pelan dan Aqila pun langsung mengelap mejanya.
Namun lagi-lagi, karena kegugupannya Aqila, Aqila melakukan lagi kesalahan yang fatal, di mana dia menumpahkan makanan yang ia bawa untuk Fikri ke lantai.
“Kamu!” feriak Fikri lagi, kali ini teriakannya lebih mengencang dari sebelumnya, membuat Aqila benar-benar terkejut hingga ia merasa tubuhnya benar-benar melemah.
••••
Bab 8
Saat melihat Aqila menumpahkan makanannya, Fikri, kembali berteriak. “Kamu!” teriak Fikri,Ia benar-benar melampiaskan amarahnya pada Aqila. Sebenarnya, ia tidak terlalu kesal dengan yang dilakukan oleh Aqila, hanya saja ia melampiaskan amarahnya pada Aqila, karena mengingat mimpinya dan mengingat Farah yang tadi berani duduk bersama di meja makan.
Bibir Aqila bergetar, wajahnya memucat saat mendengar teriakan Fikri.Bahkan tangannya pun juga ikut gemetar. Namun sebisa mungkin, ia membersihkan makanan di meja dengan cepat. Rasanya, Aqila ingin secepatnya, keluar dari ruangan Fikri, karena ia tidak sanggup berada di ruangan ini.
“Pergi!” terik Fikri pada Aqila. Secepat kilat, Aqila pun langsung mengambil piring dan gelas yang tadi ia bawa.
“Maaf, saya akan menggantinya!” Setelah itu, Aqila pun berlari ke arah pintu, Rasanya ia tidak sanggup lagi untuk mendengar dan melihat amarah Fikri, Itu sebabnya ia memberanikan diri untuk berlari
Saat berada di luar ruangan Fikri, Aqila menyenderkan tubuhnya ke belakang. Lalu memegang dadanya, jantungnya benar-benar seperti melompat dari rongga dadanya. Ia baru bekerja selama 2 hari, tapi ternyata ia sudah melakukan kesalahan yang fatal.
Setelah bisa menguasai diri, akhirnya Aqila pun kembali berjalan, kemudian Ia turun lagi ke bawah untuk membuatkan makanan yang baru untuk Fikri.
15 menit kemudian,.
.
Aqila terdiam di depan ruangan Fikri, di tangannya sudah ada nampan berisi makanan yang ia buat kembali. Ini udah 5 menit berlalu Aqila terdiam posisinya, ia ragu untuk mengetuk dan ia takut untuk masuk, ia bingung sekarang harus bagaimana, itu sebabnya Ia hanya bisa terdiam di luar.
Akhirnya, Aqila memberanikan diri mengangkat tangannya, kemudian ia mengetuk pintu. Tak ada sahutan sedikitpun dari dalam, hal itu semakin membuat Aqilah ketakutan.
Aqila menghela nafas, kemudian menghembuskannya. Ia pun langsung masuk ke dalam, kemudian ia membulatkan matanya saat melihat Fikri terkulai di lantai. Rupanya, setelah Aqila keluar dari ruangan Fikri, Fikri terkena serangan jantung ringan, hingga ia tak sadarkan diri.
Secepat kilat, Aqila.un langsung masuk ke dalam dan Aqila menepuk-nepuk di pipi Fikri. Namun, Nihil Fikri tetap tidak sadarkan diri. Dengan segera, Ia pun langsung berlari ke arah luar untuk memanggil orang-orang agar membantu menolong Fikri.
•••
Saat Fikri ke rumah sakit, Farah berlari dengan cepat, saat masuk ke dalam rumah sakit, ia langsung bertanya pada resepsionis untuk menanyakan kabar ayahnya. Barusan, saat ia di kampus, Aqila menelponnya, mengatakan bahwa Fikri tidak sadarkan diri, hingga Ia yang sedang mengikuti kelas langsung berlari keluar dan langsung pergi ke rumah sakit untuk menemui dan melihat sang ayah
Setelah bertanya pada resepsionis, akhirnya Farah mengetahui tempat di mana ruang rawat sang ayah, Ia pun langsung berlari ke arah Lift, ia menghentikan langkahnya saat melihat ada Aqila di sana Dan juga ada beberapa staf ayahnya.
Aqila yang sedang duduk, langsung menghampiri Farah. “Farah ayahmu ....”
“Aqila, Bagaimana keadaannya?” tanya Farah.
“Ayahmu di dalam!” kata Aqila. Farah pun langsung berjalan, kemudian ia langsung masuk ke dalam ruangan. Saat masuk ke dalam ruangan, ternyata dokter sedang memeriksa Fikri.
“Bagaimana keadaan Ayah saya, Dokter?” tanya Farah, dokter yang baru saja memeriksa Fikri menoleh
“Ayah anda sepertinya menderita serangan jantung ringan, tapi kondisinya sudah stabil. Mungkin Ayah anda akan sadarkan diri sebentar lagi!” kata dokter, membuat Farah menghela nafas lega.
“Kalau begitu kami permisi!" tim dokter pun keluar dari ruangan meninggalkan Farah dan Fikri. Farah menarik kursi, kemudian ia mendudukkan dirinya di dekat brangkar sang ayah.
Farah menutup mulutnya, agar tangisannya tidak terdengar. Ia ingin sekali menangis saat melihat kondisi sang ayah seperti ini, bagaimanapun buruknya sikap Fikri padanya, Tapi Farah tetap tidak bisa membenci sang ayah.
Farah melihat wajah Fikri lekat-lekat, berusaha mengabadikan wajah sang ayah dalam ingatannya. Jika dipikir, mungkin inilah momen pertama kalinya untuk Farah bisa melihat sang ayah sedekat ini, bisa melihat wajah ayahnya dengan jarak yang sangat dekat, dan ini adalah momen yang langka. Bahkan sangat langka.
Perlahan, tangan Farah terangkat untuk menggenggam tangan ayahnya, tangan yang selama ini selalu ingin ia gapai, tapi tangan itu selalu menjauh dan tidak pernah mau untuk di genggam. Namun tak lama, saat akan menyentuh Tenga Fikri, Farah menghentikan gerakannya
Ia ingin menggenggam tangan sang ayah, tapi ia tidak seberani itu untuk memegang tangan sang ayah, walaupun sang ayah tidak sadarkan diri dan walaupun sang ayah tidak mungkin tahu bahwa Farah berusaha menyentuh tangannya.
Satu jam kemudian
Fikri mengerjap, ia membuka matanya. Seluruh tubuhnya terasa kaku, ia melihat ke sekelilingnya, ternyata ia berada di rumah sakit. Ia mencoba mengingat apa yang terjadi, seingatnya saat tadi setelah memarahi Aqila, ia berniat duduk di kursinya
Fikri menghembuskan napas kasar, setelah mengingat semuanya. Tadi, setelah memarahi Aqila jantungnya terasa nyeri dan kini ia sadari ia berada di rumah sakit karena mengalami serangan jantung ringan. Ia melihat ke sekelilingnya, hingga tatapannya berhenti di Farah, sang putri yang sedang duduk dan menyadarkan kepalanya ke nakas sambil memejamkan matanya.
Lagi-lagi, Fikri menyentak nafas kesal saat melihat Farah, akhirnya ia pun memalingkan tatapannya.
10 menit kemudian, Farah langsung terbangun dari tidurnya, ia menegakkan kepalanya kemudian langsung melihat ke arah sang ayah. Ternyata, sang ayah sedang memalingkan tatapannya ke arah lain, tapi Farah bisa melihat ayahnya sudah membuka mata.
“A-Ayah!” Panggil Farah dengan ragu-ragu tapi Fikri tidak menjawab. Farah bangkit dari duduknya, kemudian Ia memutuskan untuk pergi dari ruangan, ia tidak ingin membuat ayahnya emosi dengan kehadirannya.
”Farah, kenapa kau keluar?” tanya Aqila.
”Ayahku sudah bangun!” Jawab Farah sambil tersenyum, dan Aqila tahu, senyuman itu senyuman yang penuh luka. Perlahan, ia maju memeluk Farah.
“Tidak apa-apa, semuanya pasti akan baik-baik saja!” kata Aqila, hingga pada akhirnya, Farah menumpahkan tangisannya di pelukan Aqila.
Waktu menunjukkan pukul 07.00 malam, Farah yang menunggu di luar langsung bangkit dari duduknya, saat melihat suster membawakan makanan untuk sang ayah.
“Biar saya saja yang membawanya sus," ucap Farah saat suster akan masuk ke dalam ruangannya.
Suster menggangguk kemudian menyerahkan, troli yang berisikan nampan, Lalu setelah itu Farah masuk ke dalam. Saat Farah masuk, ternyata sang ayah sedang melihat ke arah pintu dan ketika pintu terbuka, Fikri melihat ke arah Farah.
Lagi-lagi, Fikri menyentak nafas kesal, membuat Farah ragu untuk maju.
“Ayah aku akan menyuapi Ayah!” kata Farah, yang memberanikan diri dan sudah membawa nampan di tangannya. Saat ia berniat untuk menyuapi Fikri, tiba-tiba
Fragg
Nampan itu terlapas dari tangan Farah, karena Fikri menghempaskan tangan Farah dengan kencang hingga ia nampan yang berisi makanan itu terjatuh ke lantai
Seketika .....
bab 9
Farah terhenyak kaget saat Fikri melemparkan makanan yang ada di nampan, hingga makanan itu tercecer ke bawah. Tubuh Farah bergetar. Saat ini, ia begitu takut. Bahkan ia hanya mampu menunduk tanpa berani melihat ke arah sang ayah, karena ia tahu tatapan macam apa yang akan dilemparkan Fikri padanya.
Emosi Fikri memuncak saat melihat putrinya masuk sambil membawa nampan, hingga ia langsung melemparkan nampan itu. Sungguh, saat ini ia begitu muak melihat wajah Farah, Seandainya ia bisa, ia ingin menyeret putrinya keluar dari ruang rawatnya.
“Pergi!” hanya itu yang bisa Farah ucapkan, ia berusaha meredam emosinya, karena kesehatannya memburuk. Tapi tetap saja, ia tidak bisa menyembunyikan bahwa ia sedang marah pada Farah, walaupun Farah hanya melakukan hal yang sederhana, yaitu membawakannya makanan untuknya.
“Pergi!” titah Fikri lagi, ketika Farah masih terdiam di tempat. Dengan langkah yang lemas, Farah berbalik, kemudian ia berjalan menunduk untuk keluar dari ruangan sang ayah. Ia masih tidak percaya, sang ayah melakukan ini padanya.
selama ini, Fikri hanya bersikap dingin dan berbicara dengan dingin, tidak pernah sampai seperti ini. Untuk pertama kalinya, ia melihat Fikri melakukan hal yang seperti barusan. Itu sebabnya, ia terperanjat kaget hingga rasanya Ia tidak mampu memikirkan apapun.
Saat sudah berada di luar ruangan, Farah langsung mendudukkan dirinya di kursi tunggu, kemudian ia menutup wajahnya. Lalu menangis sesegukan, tangisan Farah begitu pilu, walau bagaimanapun, dia melalui semuanya seorang diri.
Menghadapi kebencian ayahnya, tanpa tahu kesalahannya dan dia dipaksa untuk tetap baik-baik saja di tengah hal yang buruk yang menimpanya, tanpa ia bisa protes, tanpa ia bisa mengeluh.
Tak lama, Saat Farah sedang menangis, tiba-tiba ada yang menepuk pundak Farah, hingga Farah menoleh, ternyata Aqila yang datang.
Rupanya, saat tadi siang pulang dari rumah sakit iAqila kembali pergi ke kantor untuk melanjutkan pekerjaannya. Lalu setelah pulang dari kantor, ia pulang ke kosannya dan setelah itu, ia beristirahat sebentar dan kembali lagi ke rumah sakit, untuk menemani Farah.
Sebenarnya Aqila sungguh lelah, ia ingin beristirahat, apalagi pekerjaannya tadi begitu menumpuk, karena ia harus membersihkan beberapa lantai seorang diri. Tapi rasanya, ia tidak tega jika harus membiarkan Farah berjaga di rumah sakit seorang diri. Itu sebabnya, Ia memutuskan untuk menemui Farah.
“Aqila!” Panggil Farah. Aqila mendudukkan dirinya di sebelah Farah, kemudian ia memberikan paper bag pada Farah. “Aku tahu kau belum makan, makanlah dulu. Ini memang bukan makanan mahal, tapi setidaknya kau pasti menyukai Ini!” kata Aqila, ia tidak mempunyai uang banyak hingga Ia hanya memberikan Farah makanan yang sederhana.
Bukannya menjawab, Farah malah memeluk Aqila, ia memeluk Aqila dengan tangis yang berlinang, kejadian barusan benar-benar menyakitkan. Sehingga rasanya, ia tidak tahu harus berbuat apa. Sedangkan Aqila terus mengelus punggung Farah, membiarkan Farah tenang dalam pelukannya.
“Apa ada sesuatu yang terjadi di dalam?” tanya Aqila, Farah menggangguk.
“Ayahku melempar makanan yang aku bawa. Padahal, aku hanya ingin menyuapinya,” Jawab Farah, bibirnya sedikit bergetar. Apalagi ia mengingat kejadian barusan.
Aqila memejamkan matanya saat mendengar ucapan Farah, seandainya Fikri bukan bosnya, sudah pasti ia akan mengamuk karena Fikri memperlakuan Aqila begitu buruk. Tapi, ia pun tidak bisa berbuat apa-apa.
“Lalu, bagaimana .... Apakah ayahmu sudah makan?” tanya Aqila. Farah menggeleng.
“Tidak, aku belum memesan makanan lagi.”
“Kau tunggulah di sini, aku akan memesan makanan lagi pada suster!” Aqila pun bangkit dari duduknya, kemudian ia langsung berjalan ke arah lift untuk turun ke bawah dan meminta suster mengantarkan makanan lagi untuk ke ruangan Fikri.
Dua puluh menit berselang, akhirnya terdengar suara troli berjalan, hingga Aqila dan Farah yang sedang duduk menoleh, ternyata suster membawa makanan untuk Fikri.
”Permisi apa Anda ingin menyuapi ayah anda lag?” tanya suster, ternyata yang mengantarkan makanan adalah suster yang mengantarkan makanan tadi, hingga ia langsung bertanya pada Farah..
Farah menggeleng. “Tidak, suster saja,” jawabnya lagi, setelah itu suster pun mengangguk. Lalu masuk ke dalam ruangan Fikri.
Saat suster masuk, Fikri sedang melamun. Sedangkan suster langsung terdiam saat melihat makanan berantakan di bawah dan tak lama, Fikri pun melihat ke arah suster.
“Aku tidak ingin makan apapun!” kata Fikri. “Aku akan makan besok saja,” ucapnya lagi karena saat ini moodnya benar-benar memburuk dan itu semua karena Farah, putrinya.
“Tapi Pak, Anda harus makan,” jawab suster lagi. Namun tak lama, suster tidak berbicara lagi karena Fikri menatapnya begitu tajam, hingga akhirnya suster pun mengangguk lalu kembali berbalik dan keluar dari ruangan.
“Kenapa anda membawa lagi makanan itu keluar?" kali ini Aqila yang bertanya pada suster.
“Pasien tidak mau memakan makanannya,” jawab suster tersebut hingga Farah langsung menatap ke arah Aqila
“Aqila, ayahku belum makan maukah kau menyuapinya!” pinta Fatah.
Mata Aqila membulat saat mendengar ucapan Farah, Bagaimana mungkin dia bisa menghadapi Fikri.
“Ayolah, Aqila. kumohon!” wajah Farah begitu memelas, apalagi barusan Farah baru saja menangis, sehingga mau tak mau Aqila pun menggangguk. Ia pun langsung bangkit dari duduknya.
“Semua demimu Farah, jika tidak maka mana mau aku menyuapi ayahmu yang killer itu!” gerutu AqilAqila pun mengambil nampan itu.
“Biar saya yang masuk ke dalam, Sus.”
Saat masuk ke dalam, ia langsung terdiam saat melihat makanan yang bercecer di lantai. Saat Aqila masuk, Fikri menoleh, lagi-lagi ia menyentak nafas kesal, anaknya dan teman anaknya ini membuat emosinya memuncak..
“Pak- bapak harus makan dulu!" kata Aqila yang memberanikan diri untuk maju dan mendekat ke arah berangkar. Walaupun ia berbicara dengan tenang, tapi kakinya gemetar. Jujur saja ia taku Fikri akan bersikap seperti pada Farah.
Saat Fikri akan menghempaskan lagi nampan di tangan Aqila, gerakannya terbaca oleh Aqila. hingga Aqila langsung menghindar dari Fikri, hingga mangkuk itu tetap aman di tangan Aqila.
“Pak, bapak itu sedang sakit, jika bapak tidak makan, kapan bapa akan sembuh!" kali ini, Aqila memberanikan diri untuk berbicara seperti itu pada Fikri membuat Fikri mengerutkan keningnya.
“Berani sekali dia!” umpat Fikri di dalam hatinya, saat melihat Aqila yang berbicara padanya.
“Ayo, pak. Bapak harus makan. Biar saya yang menyuapi bapak,” ucap Aqila lagi, ia menaruh nampan di atas meja, kemudian ia mengambil piring yang berisi bubur. Lalu setelah itu mendekat lagi ke arah brangkar.
“Kamu mau saya pecat?” ucap Fikri saat Aqila sedang mengaduk bubur di tangannya. Membuat gerakan Aqila terhenti.
“Jika kamu masih di ruangan ini, besok kamu saya pecat!” ucapnya lagi membuat Aqila membulatkan matanya. Dengan cepat, Aqila kembali menaruh nampan kemudian berlari keluar dari ruang rawat Fikri.
kaliam pasti mikir kalau yang buat Fikri bencu Farah itu karena istrinya fikri meninggal karena ngelahirin farah, tapi sebenarnya enggak ya gengs, ada alasan lainnya
Bab 10
“Aqila, Bagaimana, apa kau berhasil menyuapi ayahku?” tanya Farah, ketika Aqila keluar dengan nafas yang terengah-engah.
“Ayahmu mengancam akan memecatku jika aku menyuapinya,” jawab Aqila membuat Farah menghela nafas, Aqila mendudukkan diri di sebelah Farah, kemudian kedua sahabat itu kembali menundukkan dirinya di kursi tunggu.
Farah dan Aqila sama-sama terdiam, mereka menyelami pikiran mereka masing-masing.
“Aqila apa kau sering bertemu ayahku di kantor?” tanya Farah. Ia bertanya secara tiba-tiba pada Aqila.
Aqila tampak berpikir. “Aku hanya datang ke ruangan ayahmu Untuk mengantarkan makan dan minum, kau tahu, sebelum ayahmu masuk ke rumah sakit, ayahmu sempat memarahiku,” jawab Aqila.
Farah hanya tersenyum menanggapi Aqila. “Apa dia tidak pernah tersenyum pada orang lain?” tanya Farah lagi, terdengar nada kepahitan dalam nada pertanyaannya. Aqila menoleh ke arah Farah, kemudian ia mengelus punggung Farah.
“TIdak apa-apa, Farah. suatu saat pasti ayahmu akan tersenyum padamu,” jawab Aqila, walaupun dia sendiri tidak yakin dengan jawabannya
Satu minggu kemudian
Farah terdiam di depan ruang rawat sang ayah. Ini sudah satu minggu berlalu, dan Ia mendapat info dari dokter bahwa hari ini sudah bisa pulang selama satu minggu ini sang ayah sudah boleh pulang dari rumah sakit.
Farah tidak berani masuk ke dalam ruang rawat ayahnya. Tadi, setelah pulang kuliah, ia langsung ke rumah sakit dan ia hanya menunggu di kursi tunggu. Sesekali ia melihat ayahnya dari jendela, ia tidak seberani itu untuk masuk setelah apa yang terjadi seminggu Lalu, dimana sang ayah melemparkan mangkuk yang ia bawa
Tak lama, terdengar suara derap langkah hingga Farah yang sedang duduk langsung menoleh dan ia pun langsung bangkit dari duduknya, karena tahu sang ayah akan keluar dari ruang rawatnya, dan benar saja ... Tak lama pintu terbuka.
Fikri menghentikan langkahnya saat melihat ada putrinya di depannya. Namun, Ia hanya menatap Farah sekilas, kemudian ia langsung berjalan melewati tubuh Farah begitu saja dan berjalan ke arah lift.
Secepat kilat, Farah pun berbalik, kemudian ia langsung berjalan di belakang Fikri. Selama seminggu ini, ia sudah berpikir untuk terus pada niat pertamanya, yaitu untuk mendekati sang ayah. Ia yakin, suatu saat ayahnya akan luluh kepadanya.
Saat Fikri memasuki lift dan berniat menutup pintu, Farah memanjangkan tangannya. Hingga pintu lift itu kembali terbuka, membuat Fikri menyentak nafas kesal .
Tanpa melihat ke arah sang ayah, Farah pun langsung masuk ke dalam lift, hingga kini di dalam lift itu hanya ada Farah dan Fikri.
Farah berdiri di belakang tubuh Fikri, kemudian ia menunduk karena ia tahu sang ayah sedang menatap tajam padanya lewat pantulan dinding.
Rahang Fikri mengeras, sungguh semenjak mimpi itu, rasa benci pada putrinya semakin menjadi-jadi.
Setelah pintu lift terbuka, Fikri keluar dari lift disusul Farah di belakang tubuh Fikri, dan saat di diluar rumah sakit, Fikri menghentikan langkahnya, karena tahu Farah berada di belakang tubuhnya
Seketika itu juga Fikri berbalik, kemudian ia menatap putrinya dengan amarah yang bercampur kesal.
”Pergi dan jangan mengikuti lagi!” setelah mengatakan itu, Fikri langsung masuk ke dalam mobil yang sedang menunggunya, meninggalkan Farah yang diam mematung. Rupanya usaha Farah kali ini gagal, ia gagal lagi untuk mendekati sang ayah
Farah mengangkat kepalanya, kemudian melihat mobil sang ayah yang terus menjauh, ia mengelus dadanya, “Tidak apa-apa, Farah, kau masih banyak waktu untuk mendekati ayahmu!” kata Farah, ia menyemangati diri sendiri. Setelah itu, ia pun langsung pergi dan berjalan menaiki taksi untuk pulang ke rumahnya, ia berencana untuk membuatkan makan malam untuk ayahnya.
Keesokan harinya.
Aqila terdiam di basement perusahaan milik Fikri. ia sengaja beristirahat sejenak, setelah membuang sampah. Hari ini, cukup menguras energinya, itu sebabnya ia berdiam diri di basement sejenak, sebelum ia kembali lagi ke kantor. Sebab jika ia kembali ke kantor, ia pasti akan disuruh-suruh oleh staff yang lainnya.
“ Aqila!” tiba-tiba terdengar suara yang tak asing dari arah belakang. Aqila yang sedang duduk menoleh. Mata Aqila membulat saat melihat siapa yang memanggilnya, ternyata dia adalah Harso Ayah Aqila. Rupanya, selama ini Harso mencari-cari keberadaan sang Putri, yaitu Aqila .
Semenjak Aqila pergi, tidak ada lagi pemasukan itu sebabnya Harso mencari putri pertamanya dan sepertinya, nasib baik berpihak pada Harso di mana dia melihat Aqila masuk ke gedung yang tak lain perusahaan Fikri, hingga sedari tadi pagi Harso menunggu di depan gedung.
Dan ketika Harso menunggu di samping gedung tersebut, ia melihat Aqila membawa kresek sampah. Dan ia mengikuti sang Putri, hingga kini ia menampilkan dirinya di hadapan Aqila.
“Ayah!” Panggil Aqila, ia mundur saat Harso mendekatinya.
“Ayah!” hanya itu yang Aqila bisa katakan, tiba-tiba ia teringat saat sang ayah mencekiknya, saat ia kabur dari rumah.
“Ayah minta uang!” ucap Harso tiba-tiba, ia tidak memikirkan apapun lagi selain meminta uang dari Aqila.
“Tidak ada, aku tidak punya uang, aku tidak akan lagi memberikan uang kepada kalian!” Aqila memberanikan diri untuk berbicara, ia menatap sang ayah dengan tatapan menantang, walau pada faktanya lututnya gemetar, apalagi keadaan basement begitu sepi. Ia takut, sang ayah mencekiknya lagi
“Aqila, Ayah minta uang!” kekeh Harso. “Atau?”
“Atau apa?” teriak Aqila, seketika Harso di Landa kepanikan saat Aqila berteriak, Ia pun langsung maju ke arah sang putri,.kemudian ia langsung mengulurkan tangannya untuk merogoh saku Aqila.
“Ayah!” teriak Aqila dengan panik.
“Kalau kamu enggak punya uang, kasih Ayah HP kamu, biar ayah jual!” ucap Harso lagi, membuat tubuh Aqila bergetar.
Tak lama, tubuh Harso mundur belakang, rupanya ada yang menarik kemeja Harso, membuat Aqila menghela nafas lega. Namun tak lama, keterkejutan Aqilah kembali lagi saat melihat siapa yang menarik pakaian sang ayah, ternyata dia adalah Fikri.
Fikri yang baru saja memarkirkan mobilnya, mendengar keributan. Hingga ia langsung menghampiri sumber suara, dan ketika melihat seorang lelaki yang sepertinya sedang menghimpit tubuh seorang wanita, Fikri langsung menarik kemeja lelaki itu.
Tiba-tiba, Fikri meninju pipi Harso, hingga Harso jatuh ke tanah. “Kamu enggak apa-apa?” tanya Fikri yang menatap Aqila. Aqila masih terdiam, ia masih terkejut saat Fikri meninju sang ayah. Tapi tak lama Aqila tersadar.
“Sa-saya tidak apa-apa,” jawab Aqila. Fikri pun berlalu, kemudian memutuskan untuk pergi dari hadapan Harso dan Aqila, ia memutuskan pergi saat menyadari sesuatu, bahwa yang ia pukul barusan, adalah Ayah Aqila, karena wajah mereka begitu mirip..Saat Fikri pergi, Aqila langsung mengikuti langkah Fikri, karena ia tidak ingin lagi sang ayah mengganggunya
“Kamu kenapa ngikutin saya?” tanya Fikri saat Aqila masuk ke dalam lift yang dinaiki oleh Fikri
“Maaf, Pak. Tapi saya harus pergi ke lantai atas,” jawab Aqila, Fikri tidak menjawab lagi ucapan Aqila, ia mencet tombol hingga pintu lift tertutup. Hening
Suasana di dalam lift itu begitu hening, Aqila yang berada di belakang Fikri tampak tertunduk. Sedangkan Fikri menyandarkan tubuhnya ke dinding. Tiba-tiba Greg ....
Terdengar suara goncangan yang cukup hebat, membuat Aqila langsung terhuyung ke samping begitupun dengan Fikri.
“Pak-pak, ini kenapa?" tanya Aqila, ia dilanda kepanikan saat Fikri tidak menjawab. Fikri merogoh tasnya, kemudian mengambil ponsel lalu menelepon seseorang.
“Siial!” Fikri mengeram kesal, karena sekretarisnya tidak bisa dihubungi. Fikri kembali menaruh ponsel di tasnya. Lalu setelah itu, ia menekan tombol darurat. Namun lagi-lagi tidak ada jawaban.
Tak lama, Fikri menoleh ke belakang, ternyata Aqila sedang berada di pojok. “Kamu enggak apa-apa?” tanya Fikii, Aqila mengangkat kepalanya, wajahnya sudah memucat. Aqila mengalami phobia dengan ruangan yang gelap dan sempit, apalagi sekarang dalam lift itu terasa pengap.
“O-om," ucap Aqila terbata-bata, ia menarik jas Fikri membuat Fikri langsung mendekat ke arah Aqila.
“Kamu, tenang! tarik nafas, buang nafas, tarik nafas buang nafas.” Fikri mencoba menuntun Aqila untuk mengendalikan nafasnya, apalagi wajah Aqila sudah memucat, terlihat jelas keringat langsung bermunculan dari wajah Aqila.
Fikri kembali lagi menoleh ke arah depan, kemudian ia langsung menekan lagi tombol darurat dan saat Fikri akan kembali menelepon sekretarisnya atau pihak keamanan, tubuh Aqil terjatuh menimpanya. Rupanya Aqila, sudah tidak sanggup menahan diri, hingga akhirnya akhirnya memejamkan matanya dan kehilangan kesadarannya.
Fikri kembali berbalik, kemudian ia langsung menangkap tubuh Aqila agar tidak terjatuh.
”
“Aqilah .... Aqilah!” panggil Fikri, ia membaringkan Aqila di lantai, kemudian ia kembali bangkit untuk menelepon orang-orang. nafas lega saat sekretarisnya bisa dihubungi dan mereka akan membenarkan lift sebentar lagi. Setelah menelepon, Fikri melihat ke arah Aqila, ia berkacak pinggang seraya menghela nafas sekarang, bagaimana ia harus menangani gadis ini.
teringat saat itu gadis inilah yang menyelamatkannya dan membawanya ke rumah sakit, dan sekarang haruskah dia melakukan hal yang sama dengan cara memberi nafas buatan. Atau membiarkan sampai teknisi berhasil memperbaiki lift.
Fikri menjambak rambutnya ke belakang, ia menghela nafas lagi kemudian menghembuskannya. Pada akhirnya, Fikri membungkuk berniat memberi nafas buatan.
Fikri memejamkan matanya, kemudian ia mendekatkan wajahnya pada wajah Aqila. Lalu setelah itu ia mencium bibir Aqila.
Ting!
Pitu lift terbuka membuat Fikri langsung menghentikan gerakannya yang akan memulai memberikan nafas buatan. Ia melihat ke arah luar, di mana ada beberapa orang sedang memperhatikannya dan melihatnya dengan tatapan aneh dan tatapan terkejut.
Seketika itu juga, Fikri bangkit dari lantai, wajahnya benar-benar memerah. Rasa malu benar-benar menghampirinya, apalagi semua orang menatapnya tanpa berkedip. Selama hidupnya, mungkin Ini pertama kalinya dia malu.
Fikri menggigit bibirnya, kemudian berdehem. Ia merapikan dasinya lalu keluar dari lift. “Dia tidak sadarkan diri, bahwa dia ke rumah sakit!” kata Fikri pada sekretarisnya. Setelah itu, ia pun langsung keluar dari lift dan masuk ke dalam ruangannya
Setelah masuk ke dalam ruangannya, Fikri membanting tubuhnya di sofa, kemudian ia mengurut keningnya. Sial kejadian tadi benar-benar memalukan.
•••
waktu menunjukkan pukul 07.00 malam Farah tersenyum saat sudah berhasil menghidangkan makanan di meja makan. Kali ini, ia sendiri yang memasak makan malam untuk sang ayah.
Kemarin, saat pulang dari rumah sakit. Ia memasakan makanan untuk ayahnya. Tapi ia tidak mengatakan bahwa itu masakannya, beruntung ayahnya hanya berdiam diri di kamar, hingga ayahnya tidak tahu bahwa itu adalah masakan Farah.
Begitupun sekarang, ia sudah memasakan makan malam untuk ayahnya dan pasti ayahnya akan memakan makanan itu, karena menganggap makan itu adalah masakan pembantu
Setelah selesai. Farah pun langsung pergi dari area ruang makan, sebelum sang ayah datang. Ia langsung naik ke atas untuk pergi ke kamarnya.
Saat menginjakkan kakinya di depan kamar Fikri, Farah menghentika langkahnya. Kamar yang selama 19 tahun ini tidak pernah ia masuki.
Entah kenapa saat ini ia justru penasaran dengan kamar tersebut. Farah menghela nafas, kemudian menghembuskannya. Ia melihat jam di pergelangan tangannya. Ayahnya pulang satu jam lagi, dan Farah rasa, tidak masalah masuk ke kamar ayahnya hanya untuk sekedar melihat-lihat, Apalagi sudah sangat lama sekali ia ingin masuk ke dalam kamar sang ayah.
Perlahan, Farah mengulurkan tangannya. Lalu, memegang gagang pintu dan memutarnya. Mata Farah berbinar, karena kamar sang ayah tidak dikunci, dan seketika itu juga Farah pembuka lebar pintu tersebut.
Saat pertama kali parah masuk ke dalam kamar sang ayah, hanya rasa sesak yang Farah rasakan. Ia melihat ke sekelilingnya, kamar sang ayah dipenuhi nuansa serba putih.
Saat Farah akan berbalik, tiba-tiba Farah menghentikan niatnya, ketika melihat sesuatu di meja rias sang ayah. Perlahan, Ia pun maju kemudian mengambil sebuah koran.
Seingatnya sang ayah tidak pernah membaca koran dan tidak ada yang mengirim koran ke rumah. Lalu kenapa koran itu ada di meja sang ayah, begitulah pikir Farah.
Farah membawa koran itu, kemudian menundukkan diri di sofa. Lalu setelah itu ia melihat koran itu dan membukanya dengan seksama. Farah menyipitkan matanya saat melihat bacaan di mana tertera tahun di koran tersebut, di mana koran itu dikeluarkan 20 tahun silam.
Setelah membalikkan satu halaman, Farah terdiam, ia menatap koran itu tanpa berkedip di sana ada foto sang ayah yang sedang berada di kantor polisi, di sana juga ada seseorang yang memakai pakaian tahanan.
Farah merasakan hatinya luar biasa nyeri ketika membaca judul berita yang menampilkan ayahnya, hingga ia membekap mulutnya saat membaca tentang apa tentang isi artikel tersebut.
“Berani sekali kau ....” Tiba-tiba Farah terperanjat kaget saat koran yang ia pegang direbut oleh Fikri. rupanya Fikri pulang lebih cepat hari ini, dan ia langsung masuk ke dalam kamar. Emosi Fikri memuncak, saat melihat putrinya ada di kamarnya. Bahkan membaca koran miliknya koran yang selalu ia simpan sebagai kenang-kenangan yang menyakitkan.
Farah bangkit dari duduknya, kemudian ia menatap sang Ayah dengan tatapan hancur.
“A-ayah apa itu? ”
Fikri terdiam saat melihat ekspresi Farah, sepertinya tidak ada gunanya lagi menyembunyikan semuanya.
“Kau ingin tahu apa ini?” tanya Fikri nadanya terdengar sangat berapi-api dan penuh emosi.
“Kau ingin tahu kenapa alasan Aku membencimu?” sambung Fikri lagi. Saat mendengar ucapan Fikri, tubuh Farah diam mematung. di satu sisi lain, ia ingin mendengar alasan sang ayah, tapi di sisi lain Ia pun takut mendengar kenyataan yang sesungguhnya.
Entah kenapa, saat membaca artikel itu, ia mengerti kenapa sang ayah bisa membencinya. Artikel yang ada di koran itu, cukup menjelaskan semuanya, dimana dua puluh tahun lalu ....