Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Menyadari


Andre menyandarkan tubuhnya ke belakang, kemudian ia menghela nafas lega, sedikit demi sedikit, masalah perusahaannya sudah teratasi, ia melihat jam dipergelangan tangannya, ternyata waktu menunjukkan pukul 05.00 sore.


Biasanya, ia akan pulang jam 10.00 malam untuk mengerjakan semuanya. Tapi sekarang pekerjaan Andre sudah selesai, hingga Ia memutuskan untuk pulang lebih awal.


Andre bangkit dari duduknya, kemudian ia langsung memakai jasnya. Lalu menyambar kunci mobil, dan setelah itu Andre langsung keluar dari ruangannya.


Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang akhirnya mobil yang dikendarai Andre sampai di pekarangan rumah, Andre langsung turun kemudian berjalan masuk.


“Daddy!” teriak Sean yang tak lain anak bungsu Andre dan Laura.


“kapan kau tiba? Kenapa kau tidak menelepon Daddy?” tanya Andre, ia langsung menangkap tubuh putranya yang berjalan ke arahnya dan menggendongnya, lalu berjalan ke arah dalam.


“Kau kemari bersama siapa? nenek ... kakek?” tanya Andre, Sean menggeleng.


“Tidak Daddy, aku diantarkan oleh bibi Naura,”jawabnya.


“Mommy mana?” tanya Andre.


“Mommy? Mommy belum pulang?” jawab Sean. Andre mengerutkan keningnya saat mendengar ucapan Sean, biasanya Laura tidak akan pergi ke kantor saat hari Kamis. Tapi kenapa istrinya malah pergi ke kantor dan biasanya Laura hanya akan berada di kantor 3-4 jam. Biasanya, Laura sudah pulang ketika ia datang. Tapi sekarang, kenapa Laura belum juga pulang.


Tanpa Andre tau, empat hari ini Laura pun sering pulang malam karena membereskan pekerjaannya, ia mengejar target untuk bisa mengembalikan uang milik suami Seina.


•••


Waktu menunjukkan pukul 8 malam, Andre yang baru saja menyuapi Sean memutuskan untuk menyusul Laura ke kantornya, ia sudah menelpon Laura beberapa kali. Tapi Laura tidak menjawab dan sekarang setelah menyuapi putranya, Andre memutuskan untuk menyusul istrinya.


Dan di sinilah Andre berada di depan ruangan Laura, ia langsung masuk ke dalam ruangan Laura. Tatapan Laura begitu lurus menatap layar laptopnya. Bahkan Laura sama sekali tidak menyadari kehadirannya Andre dan tidak menyadari ketika Andre membuka pintu.


Andre mendudukkan diri di sofa, ia sama sekali tidak bersuara saat masuk, ia terus melihat istrinya yang tampak sibuk di depan laptop.


Setengah jam berlalu, Andre dengan setia melihat Laura yang masih tidak menyadari kehadirannya. Hingga akhirnya Laura menyadarkan tubuhnya ke belakang dan terlihat menghela nafas lega, rupanya pekerjaan Laura sudah selesai. Laura memejamkan matanya seraya memegang perutnya, ia meringis karena ia merasa perutnya begitu perih.


“Baby!” panggil Andre.


Tiba-tiba Laura tersadar, kemudian membuka matanya saat melihat Andre datang. “Kapan Kau datang?” tanya Laura. Laura langsung menormalkan ekspresinya, kemudian ia langsung tersenyum lalu menghampiri Andre di sofa.


Laura mendudukkan diri di sebelah Andre kemudian ia menatap wajah suaminya, seperti inilah Laura ... Tidak ada yang berubah, Ia tetap bersikap biasa pada Andre, walaupun hatinya tidak sama lagi.


“Apa pekerjaanmu sudah selesai?” tanya Andre. Ada rasa sesak yang bersemayam di hati Laura ketika Andre bertanya pada padanya. Harusnya, Ia senang bukan Andre datang ke kantornya. Tapi entah kenapa, rasanya ini begitu aneh.


“Hmm, pekerjaanku sudah selesai, apa Sean sudah pulang?”


“Dia diantarkan oleh Naura!" Tiba-tiba Laura terdiam saat Andre menyembuhkan nama Naura. Padahal sebelumnya, ia tidak merasakan apapun. Namun tak lama Laura menormalkan ekspresinya.


“ Oh!” hanya itu yang Laura bisa katakan.


“Kau sudah selesai. Ayo kita pulang,” ajak Andre. Laura menggangguk, kemudian ia bangkit dari duduknya. Lalu setelah itu ia pun langsung mengambil tasnya begitupun Andre. Saat akan keluar, Andre merangkul pundak Laura.


•••


“Oh baik Mommy. Kami akan segera ke sana,” ucap Laura, setelah itu ia mematikan panggilannya, Andre yang sedang menyetir menoleh.


“Ada apa?” tanya Andre pada Laura.


“Mommy menyuruh kita untuk datang. Mommy bilang Mommy membuat makanan kesukaanku,”.jawab Laura. Andre mengangguk, kemudian Andre memutarbalikkan mobilnya. Dan akhirnya,mobil yang dikendarai Andre sudah sampai di mansion Nael dan Gabby.


Laura turun dari mobil, disusul Andre dan mereka pun berjalan masuk. “Aku akan mencari Daddy!” kata Andre, Laura mengangguk, kemudian Laura berjalan ke arah dapur untuk mencari Gabby di dapur.


“Mom!” panggil Laura. Gabby yang sedang memasukan makanan kedalam kotak menoleh.


“Tadi, Seina kemari. Dia mengatakan kau selalu melewatkan jam makanmu. Jadi Mommy memasakkan makanan kesukaanmu. Ayo makan!” titah Gabby. Mommy juga sudah membungkuskan makanan untuk kau bawa pulang!” kata Gaby lagi, wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu selalu memperhatikan anak-anaknya walaupun Laura sudah menikah.


25 menit kemudian, Laura sudah selesai dengan acara makannya, ia langsung makan karena memang perutnya terasa lapar dan setelah itu, ia pun bangkit dari meja makan dan berkeliling untuk mencari suaminya.


Terdengar suara gaduh dari arah ruang tamu ternyata suaminya sedang mengobrol bersama Naura dan Nael, seharusnya pemandangan ini pemandangan biasa. Tapi ketika melihat Andre dan Naura bersama walau tidak duduk berdekatan, tetap saja hatinya terasa perih.


Laura menormalkan ekspresinya, kemudian Ia pun berdeham lalu mendudukkan dirinya di sebelah Andre.


“Laura kok tampak kurus sekali," ucap Naura.


“Benarkah," jawab Laura. Naura mengerutkan keningnya saat Naura bersikap berbeda padanya


“Kita pulang sekarang?” tanya Andre..Laura mengangguk.


“Hmmm, Aku lelah,” jawabnya. Andre pun bangkit dari duduknya, disusul Laura.


“Dad, aku pulang, aku sudah pamit pada Mommy,” ucap Laura, ia langsung membungkuk memeluk ayahnya, lagi-lagi Naura merasa keheranan, biasanya Laura juga akan memeluknya ketika mereka berpamitan


Tapi sekarang tidak.


“Sepertinya ada yang aneh dengan wanita itu!” Naura membatin saat melihat Laura pergi begitu saja


di dalam mobil suasana begitu hening Laura menyadarkan tubuhnya ke belakang ia tidak bersuara sedikitpun. Selain lelah, Ia pun merasa tubuhnya begitu lemas


“Baby, kau baik-baik saja?” tanya Andre, Laura menoleh.


“Aku sedikit kelelahan, bolehkah aku tidur," jawabnya Andre mengangguk.


Saat sampai di pekarangan, Andre menoleh ternyata Laura sedang tertidur. Dengan pelan, Andre turun dari mobil, kemudian ia membukakan pintu mobil lalu dengan pelan melepaskan seatbelt yang dipakai oleh Laura dan menggendong tubuh Laura untuk masuk.


.


“Kenapa kau tidak membangunkanku?” tanya Laura ketika Andre membaringkannya di ranjang.


“Kau tidur sangat pulas sekali!” balas Andre.


“Aku akan menyiapkan air hangat untukmu!" ucap Andre lagi. Laura tidak menjawab, ia merasa setiap Andre perhatian dengannya ia merasa asing, ia merasa ini bukan dirinya sendiri..


20 menit kemudian, Laura sudah rapi memakai piyama tidur, Kemudian ia menghampiri Andre yang sudah berbaring di ranjang.


“Baby, pekerjaanku sudah longgar. Satu minggu lagi bagaimana jika kita berlibur!” ajak Andre pada Laura


“Kau tidak sibuk?” tanya Laura lagi.


“Apa pekerjaanmu sudah selesai?”


“Hmm, pekerjaanku sudah selesai. Kemarin ada seseorang ada seorang investor yang menyuntikkan dana ke perusahaanku, sepertinya investor itu adalah investor dari Cina yang yang diperkenalkan oleh Naura tempo hari!’


Dada Laura serasa sesak saat Andre menyebut nama Naura. Padahal bukan Naura yang membantu Andre melainkan Laura yang mempertaruhkan semua uang tabungannya.


“Ah syukurlah!” ucap Laura.


“kau masih marah aku memanggil Naura?” tanya Andre yang melihat rawat wajah Laura berubah.


“ Kenapa aku harus marah dia, kan adik iparmu,” jawab Laura. Laura mendekatkan dirinya ke arah Andre, kemudian ia memeluk suaminya, agar Andre tidak berbicara lagi, ia tidak ingin membahas apapun lagi, rasanya tubuhnya sudah sangat lemah.


Malam berganti pagi, Laura mengantarkan Andre dan Bella untuk keluar, dan setelah mobil Andre tidak terlihat lagi Laura masuk ke dalam.


Bella membuka tasnya, ia mengeluarkannya satu persatu isi tas yang ia bawa, Andre yang sedang menyetir menoleh ke arah putrinya.


“Kenapa, Apa ada yang tertinggal?" tanya Andre.


“Tisuku tertinggal,” jawab Bella. Hari ini, ada pelajaran melukis dan tidak mungkin dia tidak membawa tisu.


“Bukannya kemarin kita membeli banyak tisu?” tanya Andre.


“Pasti Mommy mengambilnya lagi?”


“Mommy yang mengambilnya?” ulang Andre.


”Mommyi mengambilnya dan pasti dibawa ke gereja,” Jawa Bella membuat Andre mengerutkan keningnya.


“ Kenapa mommy harus membawa tisu?”


“Karena Mommy selalu menangis dan menggunakan tisuku!" balasnya. Tiba-tiba, Andre terdiam saat mendengar ucapan Bela. Mungkin di masa lalu, Laura akan menunjukkan Apa yang dia lakukan pada Bela agar Bela mengadu pada Andre. Tapi sekarang tidak, ia selalu menangis diam-diam dan tidak ingin siapapun melihat ia menangis. Tapi ternyata, Bella sering melihat Laura melamun di gereja yang ada di rumahnya.


Andre masuk ke dalam ruangan, kemudian ia langsung mendudukkan dirinya di kursi kerjanya. Saat akan membuka laptop, tiba-tiba wajah Laura terlintas di otaknya, ia menyandarkan tubuhnya ke belakang.


Rupanya, ucapan Bela tentang Laura yang sering menangis diam-diam mengusik otaknya, seperti ada yang aneh dengan istrinya. Ia merogoh ponsel berniat untuk menelepon Laura. Namun tidak ada jawaban, lalu saat ia akan mengirim pesan ia tertohok saat melihat kapan terakhir kali Laura mengirim pesan padanya.


“Tunggu, ada apa ini!’ Andre merasa bingung padahal dia sendiri yang menyuruh Laura untuk tidak menghubunginya.