
Gabby masuk ke dalam kamar, saat ia akan menutup pintu, Arsen langsung menahan pintu tersebut. “Kau mau apa?” tanya Gabby pada Arsen, Arsen tak menjawab. Ia mendorong pintu sedikit keras, agar pintu terbuka.
Setelah pintu terbuka, Arsen masuk, kemudian mencengkram erat tangan Gabby.
”Aku masih suamimu. Layani aku sekarang!" titah Arsen dengan nada gahar. Ia tak peduli Gabby akan marah padanya, yang terpenting ia harus membuat Gabby hamil anaknya, agar posisinya aman
Gabby menyeringai, kemudian ia menarik tangan Arsen. Lalu, ia melintir tangan Arsen ke belakang. Sial! ia lupa bahwa Gabby adalah atlet taekwondo, walaupun Gabby seorang perempuan. Tapi tenaga Arsen kalah dari Gabby.
“Apa? melayanimu?” kata Gabby Sambil tertawa. “Gabby!” teriak Arsen, saat Gabby memelintirnya semakin kuat, Gabby menendang tubuh, Arsen. Hingga Arsen terhuyung ke depan dan melewati pintu, hingga sekarang, tubuh Arsen keluar dari kamar Gabby.
Setelah itu, Gabby langsung menutup pintu kamar dan ia berjalan ke arah lemari untuk mengambil koper, lalu memasukkan pakaian pakaiannya ke dalam koper, dan setelah dirasa cukup, akhirnya Gabby pun keluar sambil menyeret dua koper.
Arsen yang sedari tadi sudah bangkit dari lantai langsung berdiri, dan menunggu Gabby di depan pintu, malam ini ia, tidak akan lagi membiarkan Gabby kabur, Gabby Harus melayaninya, begitulah pikirnya.
Arsen menghela nafas lega, karena terdengar suara derap langkah dari dalam, pertanda Gabby akan membukakan pintu. Saat Gabby membukakan pintu, Arsen membulatkan matanya, ketika ia melihat Gabby menggeret koper.
“Gabby, kau mau kemana?” tanya Arsen.
“Bukan urusanmu!” ketus Gabby.
Gabby cengkraman leher Arsen, begitu keras hingga Arsen kesusahan bernafas, beberapa kali akan menggerakkan kakinya untuk menyingkirkan Gaby dari depan tubuhnya. Tapi gerakannya terbaca oleh Gabby. Hingga Gabby langsung mengunci kaki Arsen.
“ Sudah kubilang, jangan bermain-main dengan Gaby Josephine. Jangan pernah berharap lebih dan tunggu kehancuranmu.” Setelah mengatakan itu, Gabby langsung menghempaskan tubuh Arsen dan ia pun langsung kembali menggeret kopernya, lalu pergi dari hadapan Arsen.
Arsen menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, karena Gaby mencengkram lehernya begitu keras.
••√
“Kakak!” pekik Gisel, saat melihat Gabby ada di depan apartemennya ambil membawa 2 koper. “Gisel bolehkah aku menginap di sini?” tanya Gabby. “Kakak ingin tinggal di sini untuk sementara waktu,” ucap Gaby lagi, Gisel pun mengangguk. Ia membantu sang kakak untuk menyeret kopernya lalu masuk kedalam.
Ia tahu, sang kakak sedang mengalami hal yang besar. Bahkan, jika ia menjadi Gabby ia tidak akan sanggup menghadapi semuanya sendiri. Mungkin, ia akan meminta bantuan ayahnya. Tapi, kakaknya, malah begitu tegar.
”Duduklah, Kak. Aku akan membuat teh jahe kesukaanmu!” kata Giselle, Gabby pun mengangguk, kemudian ia mendudukkan dirinya di sofa. Lalu, mengadakan kepalanya ke atas, menatap langit-langit.
“Kau baik-baik saja?” anya Gisel pada Gabby. Gaby tersenyum, kemudian mengangguk. ia mengambil teh yang ada di tangan Gisel, lalu menyeruputnya. ”Terima kasih, Gissel, kau benar tidak keberatan kaka tinggal di sini selama beberapa waktu?” tanya Gaby, Gisel kamu menggangguk.
“Tinggallah di sini, Kak. Aku juga jarang menempati apartemen ini.”