Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Bingung


“Alvaro Kenapa kau membawa itu?" tanya Naura ketika dia melihat Alvaro membawa racun serangga.


Alvaro tergagap, mana mungkin dia mengatakan pada Naura bahwa dia takut Naura meminum racun serangga. “Tidak apa-apa, ini untuk membasuh kamar mandi di kamarku," jawab Alvaro, tidak ingin Naura banyak bertanya, Alvaro pun langsung keluar dari kamar Ibu dari putrinya, kemudian masuk ke dalam kamarnya.


Setelah sampai di kamar, Alvaro berjalan ke ranjang lelaki itu langsung menarik selimut kemudian menyelimuti tubuh putrinya dan dia langsung mendudukkan diri di sofa, kemudian matanya menatap lurus pada racun serangga yang tadi ia bawa, ia mengusap wajah kasar Karena kenangan buruk itu terlintas lagi di otaknya.


***


Setelah Alvaro pergi, Naura membaringkan tubuhnya di ranjang wanita itu menarik selimut ia menggigit selimutnya antara kesal senang dan marah, ia kesal karena terlarut dalam apa yang mereka lakukan, ia marah pada dirinya sendiri karena mau menerima hal gila, beruntung semuanya tidak terjadi. Namun walaupun dia merasa begitu, ada rasa senang terbesit dalam diri Naura saat Alvaro menyentuhnya.


***


Malam berganti pagi, Naura terbangun dari tidurnya, saat Naura mengumpulkan nyawa terdengar suara riuh dari arah luar, hingga wanita itu pun bangkit lalu membuka tirai dan ternyata Ameera sedang berada di kolam renang bersama Alvaro.


Naura berjalan ke arah kamar mandi, wanita itu langsung mencuci wajahnya dan mengganti pakaian dia berniat untuk bergabung bersama Alvaro dan Ameera.


Ketika Naura datang, Alvaro dan Naura saling tatap mereka tersenyum kikuk, karena mengingat apa yang terjadi semalam. Naura tersenyum pada Ameera, kemudian wanita itu mendudukkan dirinya di sisi kolam renang dengan kaki yang menjuntai ke bawah hingga Ameera langsung berenang menghampiri sang Ibu, begitupun dengan Alvaro.


Satu minggu berlalu, ini sudah satu minggu Alvaro serta Ameera dan Naura berlibur dan barusan mereka baru saja turun dari pesawat karena mereka baru saja tiba di Rusia. Selama satu minggu berada di Bali, tidak banyak yang terjadi antara Naura dan Alvaro, keduanya cenderung menghindar satu sama lain.


Alvaro lebih sering menghabiskan waktu bermain bersama Amira sedangkan Naura lebih sering berdiam diri di kamar.


Dan sekarang, mobil yang di Kendari Alvaro sudah sampai di mansion kedua orang tua Naura. “Naura, biar aku yang menurunkan kopernya,” ucap Alvaro. “Kau masuk saja bersama Ameera.” Naura mengangguk. Setelah itu, Naura dan Ameera pun langsung keluar dari mobil dan masuk ke dalam Mansion.


15 menit berselang, setelah Alvaro menurunkan koper, Naura menyusul Alvaro yang akan pulang. “Alvaro!” panggil Naura.


Alvaro menoleh. “Ya,” jawab Alvaro.


Entah kenapa mata Naura ingin sekali menangis saat melihat wajah Alvaro yang akan pergi.


Selama semingu ini ia tidak terlalu dekat dengan Alvaro karena dia lebih sering menghabiskan waktu di kamar. Tapi tetap saja, ada rasa yang aneh ketika Alvaro akan pergi


“Ada apa Naura?” tanya Alvaro.


“Tiidak, aku hanya ingin berterima kasih karena kau sudah mengajakku berlibur.”


Alvaro menganggukan kepalanya dia bahkan hanya menatap Naura sekilas karena dia juga merasakan perasaan yang sama dengan wanita yang ada di depannya ini. “Oh iya, aku juga ingin mengatakan sesuatu.”


Tiba-tiba jantung Naura berdebar saat mendengar ucapan Alvaro. Entah kenapa perasaannya mendadak tidak enak.


“Kau ingin mengatakan apa?” tanya Naura.


“Kemarin aku menunda pekerjaanku Jadi mungkin sebulan ke depan aku tidak akan menjemput Ameera. Aku juga sudah berbicara pada Ameera dan dia mengerti.”


Tiba-tiba tubuh Naura melemas saat mendengar ucapan Alvaro, walaupun dari dulu hubungannya tidak terlalu dekat dengan Alvaro Tapi tetap saja ketika mendengar Alvaro tidak akan menjemput Ameera rasanya hati Naura terasa aneh.


“ Oh jadi kau tidak akan menemui Ameera?”


“Hmm, setelah pekerjaanku selesai aku akan menebus waktuku untuknya. Aku juga titip Ameera. Kabari aku jika terjadi apa-apa,” ata Alvaro setelah mengatakan itu Alvaro pun berbalik.


Ya, Alvaro terpaksa harus pergi mengurus pekerjaannya karena kemarin dia menghabiskan waktunya di rumah sakit dan berlibur. Sekarang saatnya dia untuk mengurus pekerjaan yang tertunda.


Saat Alvaro pergi, Naura hanya mampu memandang punggung lelaki itu. Rasanya, dia ingin mengejar Alvaro memintanya untuk tinggal tapi sayang dia tidak berhak, masih ada wanita lain yang ada di samping ayah dari putrinya.


“Susul saja jika kau masih penasaran!” kata Laura yang tiba-tiba datang.


“Kau lagi ... kau lagi! untuk apa kau kemari?” tanya Naura dengan ketus


“Ini kan rumah ibuku, Kenapa kau protes!" balas Laura.


“Tapi, kan, ini juga rumah Ibu ... Ah sudahlah tidak ada gunanya berdebat denganmu!” Naura pun berbalik meninggalkan Laura hingga Laura pun ikut menyusul adik kembarnya.


“Naura kenapa kau tidak rebut saja Alvaro dari istrinya!”


Seketika Naura menghentikan langkahnya kemudian dia berbalik. “Laura Apa kau gila! Mana mungkin kau menyarankan seperti itu apa kau tidak punya empati pada wanita lain!” hardik Naura.


“Jika kau punya empati, kenapa kau pergi bersama Alvaro ke Bali, Kenapa kau tidak menghargai istrinya!" Laura malah membalikkan ucapan Naura, seperti biasa Kedua saudara kembar itu terus berdebat memperdebatkan hal yang tidak penting.


Tiba-tiba tubuh Naura dia mematung, saat mendengar ucapan Laura. Rasa bersalah kembali menghinggapinya. “Aku hanya bercanda jangan dimasukkan ke dalam hat!” Laura langsung berbicara ketika ia melihat raut wajah Naura yang berbeda.


***


Helmia membanting semua benda-benda yang ada di meja, kali ini bisnis yang ia jalani merugi manajemen yang iya atur semuanya berantakan. Kemarin-kemarin sebelum Nauder memutuskan untuk berhenti, semua bisnisnya berjalan dengan lancar karena Nauder begitu pintar mengatur strategi. Tapi sekarang semuanya hancur berantakan bahkan tidak ada yang mampu menghandle semuanya kecuali nauder


Helmia mengehela nafas kemudian menghembuskannya, wanita paruh baya itu benar-benar terlihat ambisius.


“Bagaimana, Apakah kau sudah memiliki cara agar kita bisa menariknya lagi?” tanya Helmia pada anak buahnya.


“Sebentar saya akan mengambil sesuatu." Anak buah Helmia berbalik kemudian keluar dari ruangan dan setelah itu kembali masuk sambil membawa sebuah map.


“Ini ada foto-foto tuan Nauder ketika mengikuti Nona Naura. Sepertinya Tuan, Nauder masih belum melupakan Nona Naura. Dan ini juga foto-foto Naura yang sedang bersama Alvaro. Sepertinya Nona Naura sudah mempunyai hati terhadap Alvaro. Bagaimana jika kita mengirim pesan pada Naura dan mengatasnamakan Alvaro agar Nona Naura datang, dan juga panggil Tuan Nuader, jadikan Nona Naura sebagai sandera, agar Tuan Nauder mau bergabung lagi bersama kita.”


Wajah helmia yang tadinya memerah langsung mendadak berbinar saat mendengar ucapan itu, ini adalah cara yang paling benar.


“Baiklah, aku akan menghubungi Naura dan mengatakan bahwa pesan itu dari Alvaro kau siapkan saja semuanya.”


Satu minggu kemudian.


Naura menyadarkan tubuhnya ke belakang, ini sudah satu minggu berlalu ia tidak melihat Alvaro dan rasanya Naura begitu aneh, ada semacam perasaan sesak yang luar biasa menderanya. Karena ia tidak melihat lelaki yang ia cintai.


Saat Naura sedang melamun, tiba-tiba ponselnya berdering satu pesan masuk ke dalam ponselnya.


“ Naura ini aku, Alvaro. bisakah kau datang ke sini, aku butuh bantuanmu.” Mata Naura membulat saat melihat pesan yang dikirimkan oleh Alvaro, sampai saat ini dia masih tidak menyimpan nomor ponsel ayah dari putrinya hingga ia menyangka bahwa itu benar-benar Alvaro.


Rasa bahagia menyeruak dalam dada saat melihat pesan yang dikirimkan oleh Alvaro yang memintanya datang, seketika Naura pun langsung bangkit dari duduknya dan dia langsung pergi keluar dari ruangannya.


***


Naura mengerutkan keningnya saat ia sampai di depan gudang. Kenapa Alvaro menyuruhnya kemari, dia pun kembali mengirim pesan pada Alvaro. “Alvaro, aku di luar, Kau di mana?” tulis Naura dalam pesannya.


“Masuklah ke dalam. Aku sedang mengurus sesuatu.”


Naura pun masuk ke dalam, gelap tidak ada siapapun di sana dan tiba-tiba brughh.


Punggung dan kepala Naura dipukul dari belakang, hingga Naura terhuyung ke depan dan sedetik kemudian Naura tidak sadarkan diri.


**


Nauder menggebrak meja saat melihat foto yang dikirimkan oleh sang Ibu, di mana Naura sedang terikat di sana, emosi langsung melanda Nauder, ia tidak akan terima Naura di sakiti oleh ibunya. Lelaki itu pun langsung berlari keluar dari ruangannya tak lupa dia menyambar kunci mobil.


Saat sampai di depan gudang, Nauder langsung berlari masuk ke arah dalam. Lelaki itu hampir saja menjatuhkan air mata saat melihat Naura yang kacau, bahkan kepala Naura mengeluarkan darah.


Saat ia akan maju, dia dihalangi oleh bodyguard sang ibu. “Mommy, keluar kau!” teriak Nauder, karena ia tahu sang Ibu pasti ada di sekitar sana.


Tiba-tiba Helmia datang dari arah samping, ia bertepuk tangan. “Sudah Mommy duga, Kau pasti akan cepat jika soal Naura. Mommy, tidak main-main. Mommy akan melepaskan Naura jika kau mau kembali lagi bekerja dengan mommy,” ucap helmia. Naura yang sedang terduduk lemas dengan kondisi terikat hanya mampu menatap Nauder, apalagi kepalanya begitu nyeri karena dia dipukul dari belakang oleh balok kayu.


Tiba-tiba dor ... Terdengar suara tembakan, seseorang masuk ke dalam siapa lagi jika bukan Alvaro. Rupanya saat berada di mobil Nauder menelepon Alvaro, karena dia tidak mungkin sanggup menghadapi anak buah ibunya, hingga dia tidak punya pilihan lain, selain menelepon rivalnya.


Sama seperti Nauder, Alvaro pun ikut terkejut hingga dia langsung menjalankan mobilnya dengan kecepatan yang sangat penuh dan setelah masuk, dia langsung menembak pengawal yang menghadang Langkah Naudre.


Seketika Alvaro dan Nauder maju untuk menyelamatkan Naura. Namun, Nauder menghentikan gerakannya ketika menyadari sesuatu, bahwa Naura bukan lagi miliknya.


“Naura kau tidak apa-apa?” tanya Alvaro, wajah Alvaro terlihat sangat khawatir bahkan keringat dingin terlihat mengucur dari wajah tampannya.


perlahan dia membuka lakban yang menutupi mulut Naura. “Alvaro, kepalaku sakit," lirih Naura yang hampir kehilangan kesadarannya.


Dengan cepat Alvaro pun langsung membuka ikatan Naura.


***


“Bagaimana keadaannya Dok?” tanya Alvaro dengan tidak sabar. Dia langsung memberondong dokter dengan pertanyaan ketika dokter keluar dari ruang rawat Naura.


“Ada sedikit benturan di kepalanya, tapi tidak apa-apa..Kepala pasien sudah di perban, dan pasien sudah sadarkan diri, silahkan jika ingin menjenguk.”


Alvaro langsung menerobos masuk melewati tubuh dokter dan hampir menabrak dokter yang menangani Naura,.dan setelah masuk ke ruang rawat Naura, ternyata Naura sedang melihat ke arahnya..


Seketika Alvaro berlari, dia tidak sanggup menahan perasaan takutnya hingga pada akhirnya dia langsung membungkuk dan menubruk tubuh Naura


“Maafkan aku, Maafkan aku yang tidak bisa menjagamu,” ucap Alvaro, dia menangis sesegukan hingga Naura diam terpaku, perlahan Naura mengangkat tangannya kemudian ia membalas pelukan Alvaro.


“Jangan tinggalkan aku, Aku takut,” lirih Naura


Alvaro menegakkan tubuhnya, kemudian ia menatap wajah Naura. Hati Alvaro terasa pedih ketika melihat kepala Naura diperban.


“Aku akan selalu di sini Naura, bersamamu menjagamu dan aku akan menyingkirkan semua racun serangga di sekitarmu.”


di tengah rasa sakitnya, Naura sempat bingung dengan apa yang Alvaro katakan.


“Hah, racun serangga!”