
“Kalian benar tidak ingin pulang ke Rusia? untuk menghadiri hari kematian Daddy?” tanya Gabby memastikan pada kedua putrinya. Ia ingin sekali mengajak Laura dan Naura pulang ke Rusia karena Greey dan Grisella yang memintanya datang.
Tapi ternyata, ia tidak mampu membujuk kedua putrinya. Setiap tahun, seperti ini. Keputusan mereka tidak pernah berubah, mereka hanya menjawab akan mengirim doa dari rumah untuk Nael.
Entang seberapa rasa sakit yang mereka alami karena Nael, hingga mereka tidak memperdulikan Nael lagi, seakan Nael hanyalah sebuah debu.
“Kami akan mengirim doa saja dari sini, Mom,” jawab Nauda. Bukankah sama saja?” sambung Naura lagi. Gabby mengangguk-anggukan kepalanya kemudian tersenyum sedangkan Laura tanpak melamun
Gabby tahu Laura sedikit kehilangan dengan kepergian sang ayah, berbeda dengan Naura . itu sebabnya saat ini wajah laura sedikit sendu saat membahas Nael.
Gabby menepuk-nepuk punggung tangan Laura hingga Laura tersadar, kemudian Laura tersenyum seolah mengerti apa yang dipikirkan oleh sang ibu.
Setelah sarapan selesai, Laura Dan Naura bangkit dari duduknya, kemudian mereka memakai tas, begitupun Gabby yang juga ikut bangkit lalu pengantar Laura Dan Naura pergi keluar.
“By Mommy.” Laura dan Naura Melambaikan tangannya pada Gabby. Ini dalah rutinitas yang selalu dilakukan Gabby setiap pagi, mengantar kedua putrinya keluar untuk pergi ke sekolah.
Setelah itu, Gaby berbalik dan masuk ke dalam rumah untuk bersiap-siap pergi ke rumah sakit. Namun, Gabby menghentikan langkahnya saat ponsel di saku Gabby berdering.
Satu pesan masuk, membuat Gabby tersenyum saat melihat siapa yang mengiriminya pesan.
[Selamat pagi cantik] tulis seseorang dalam pesannya.
Joan mempunyai perusahaan di bidang alat kesehatan, termasuk alat-alat rumah sakit dan perusahaan Joan juga menyuplai alat-alat kesehatan ke rumah sakit Gabby. Dan dari situlah mereka dekat.
Gaby tidak membalas pesan itu, Ia hanya tersenyum lalu memasukkan lagi ponselnya ke dalam saku. Selama ini, Gabby belum mau membuka hatinya untuk siapapun.
Walaupun Joan cukup menarik perhatiannya, tapi bagi Gabby. Ia tidak ingin berhubungan dengan lelaki manapun. Ia hanya ingin fokus membesarkan Laura dan Naura
Badai telah berlalu beberapa tahun silam, dan kini, ia hanya ingin melihat kedua putrinya tumbuh. Gabby tidak menginginkan apapun lagi, Gabby tidak pernah berharap tentang jodoh lagi, ia hanya ingin melihat Laura dan Naura tumbuh bersamanya.
•••
Setelah sampai di sekolah, Laura dan Naura turun dari mobil, kemudian mereka pun berjalan bergandengan tangan masuk ke dalam kelas. Dan setelah masuk kedalam kelas, mereka langsung duduk di posisinya masing-masing.
Hngga 10 menit kemudian, semua siswa berdatangan dan pelajaran dimulai. Naura dan Laura mengikuti pelajaran dengan fokus hingga pelajaran itu selesai dan akan berganti ke pelajaran lainnya.
“Anak-anak, sebentar lagi akan ada kelas melukis, kalian keluarkan kanvas dan cat kalian!” Titah guru Laura dan Naura, semua para murid pun mengeluarkan alat lukis mereka hingga tak lama muncul sosok Mike masuk ke dalam.
“Selamat siang anak-anak!” sapa Mike. Laura yang sedang mengeluarkan kanvas dari tasnya langsung menghentikan gerakan tangannya saat mendengar suara Mike. seketika itu juga, Laura langsung menoleh ke arah Naura yang sedang sibuk mengeluarkan semua alat-alat lukis.