Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Terperangkap luka


Acara meeting sedang dimulai, semua pemimpin perusahaan yang tergabung dalam proyek besar sedang menyimak meeting dengan seksama.


Ayana yang berada di kursi belakang bersama para sekretaris lainnya, terus menunduk karena Jordan terus melihatnya, terlihat jelas bahwa Jordan menyeringai. Entah apa yang ada di pikiran mantan suaminya.


Jari-jari Ayana saling bertautan di bawah sana. Sesekali ia melihat Raymond yang tampak fokus ke layar di depannya, ia sungguh berharap meeting ini segera berakhir agar ia bisa secepatnya pergi dari hadapan Jordan.


Entah kenapa, semenjak kejadian semalam di mana Jordan menyerempet putrinya, ketakutan Ayana pada Jordan semakin menjadi-jadi.


1 jam berlalu, meeting selesai membuat Ayana menghela nafas. Ia pun segera bangkit dari duduknya, kemudian ia menyerahkan tab yang ia pegang ke arah Rey.


“Tuan, bolehkah saya pergi keluar sebentar,” ucap Ayana, Ia memang ingin pergi ke toilet.


Rey menoleh, kemudian mengangguk. Setelah itu, Ayana pun segera berlalu keluar dari ruangan tersebut. Jordan tidak tinggal diam, Ia pun langsung bangkit mengikuti mantan istrinya, ia tahu, Ayana takut padanya dan sepertinya menyenangkan saat melihat Ayana tertekan ketika melihatnya.


10 menit kemudian, Ayana keluar dari toilet. Saat ia akan keluar, tiba-tiba ia menghentikan langkahnya ketika Jordan sedang menyender di depan pintu toilet. Ia ingin mundur, tapi Jordan sudah terlanjur melihatnya dan dia tidak ingin terintimidasi oleh Jordan


Dengan lutut gemetar, Ayana maju kemudian berniat untuk langsung berjalan dan meninggalkan Jordan. Ia tidak ingin terlibat dengan mantan suaminya yang gila.


“Apa kau menjuall dirimuuu sendiri untuk masuk ke perusahaan itu?” tanya Jordan, ia langsung berbicara ketika Ayana melewati tubuhnya begitu saja.


Saat mendengar ucapan Jordan, Ayana menghentikan langkahnya. Ia mengepalkan tangannya, kemudian memejamkan matanya. Dadanya berdesir pedih saat mendengar hinaan Jordan. Namun ia sadar, semarah apapun,. sebenci apapun ia pada Jordan, ia tidak akan pernah bisa melawan mantan suaminya.


“Kenapa apakah yang aku katakan benar?” tanya Jordan saat Ayana tidak menoleh dan masih terdiam di tempat


“Kau disini rupanya!” tiba-tiba terdengar suara Raymond dari depan, membuat Ayana membuka matanya..Ia.menguraikan tangannya yang sedang mengepal, lalu menghela nafas lega saat melihat Raymond. Setidaknya,.ia tidak perlu menghadapi Jordan dan tidak perlu meladeni Jordan lagi.


Tanpa menoleh lagi ke belakang, Ayana pun langsung berjalan menghampirinya Reymond.


“Maaf, Tuan!” kata Ayana, ia tidak berani menatap Raymond, ia yakin Raymond sudah mendengar ucapan Jordan dan jujur saja ia begitu malu pada Raymond.


Raymon tidak menjawab, ia menoleh ke arah Jordan sekilas. Setelah itu, ia kembali berjalan diikuti Ayana di belakangnya. Saat berada di dalam mobil, Ayana hanya bisa tertunduk.


Ucapan Jordan barusan benar-benar menusuk hingga ke jantung. Tapi, Ayana ada di posisi di mana dia tidak berdaya. Melawan pun percuma, dan yang lebih membuatnya malu adalah Jordan mengatakan itu di hadapan Raymond.


Ayana menghela nafas, kemudian menghembuskannya. Rasa sakit di perutnya, karena memakan makanan pedas pun menghilang seketika, berganti dengan rasa nyeri di dalam hatinya karena ucapan Jordan.


Raymond melihat jam di pergelangan tangannya, Ia lupa ia belum makan siang. “Tolong ke restoran biasa!” Raymond pada supirnya. Supir itu pun mengangguk.


••••