Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Rasa Yang Terhalang


“Steve ....” ucap Gisel terbata-bata, ternyata Steve yang masuk, lelaki yang selama ini dekat dengannya yang tak lain adalah rekan bisnis Gabriel.


Arsen menoleh ke arah Stev, kemudian menggigit bibirnya. Lalu setelah itu, ia melihat ke arah Gisel yang juga sedang melihat ke arahnya. Dan seketika itu juga, Arsen membereskan berkas-berkas yang ada di depannya.


“Aku rasa kau sudah tau poin utamanya, jika sidang akan segera dimulai Aku akan memberitahumu agar kau bisa menjawab pertanyaan yang akan di ajukan di pengadilan,” jawab Arsen. Gisel mengangguk.


“Terima kasih, Arsen.” setelah itu, Arsen pun bangkit dari duduknya.


“Tunggu apa kita pernah bertemu sebelumnya?” tanya Steve yang menghadang langkah Arsen. Arsen menoleh.


“Aku rasa tidak,” jawab Arsen. “Kalau begitu aku permisi!” Arsen pun lebih memilih untuk tidak memperpanjang pembicaraan. Rasanya begitu menyesakkan ketika ia berada di satu ruangan dengan Gisel dan sedang ada lelaki lain.


“Gisel Apa kau sibuk?” anya Stev, ketika Arsen sudah keluar dari ruangan Gisel. Giseel menggeleng. “Tidak, aku tidak sibuk. Ada apa?”


“Bagaimana jika kita makan bersama di luar?” ajak Stev, Gisel tampak berpikir, kemudian mengangguk.


“Ayo!” Setelah Gisel bersiap, mereka pun keluar dari ruangan Gisel dan pergi untuk makan siang bersama.


•••


“Gissel, kau tidak apa-apa?” tanya Steve saat mereka sedang menunggu makanan. Stev bertanya karena Gisel tampak melamun.


“Aku tidak apa-apa,” jawab Gisel. Namun, wajahnya seperti terlihat banyak pikiran.


Tak lama lamunan Gisel buyar, ketika pintu restoran terbuka, muncul sosok Arsen masuk ke dalam restoran hingga tatapan mata Gisel dan arsen kembali mengunci. Lalu setelah itu mereka sama-sama memalingkan tatapannya ke arah lain.


“Stev, Terima kasih sudah mengantarku pulang,” jawab Gisel ketika mereka sudah sampai di apartemen Giselle.


Stev pun mengangguk. “Gisel, kau tidak akan menyuruhku masuk, ada yang harus aku bicarakan denganmu dan aku tak bisa menundanya lagi,” ucapnya lagi, Gisel tampak berpikir kemudian mengangguk.


“Silahkan masuk!” Gisel mempersilahkan Steve untuk masuk, kemudian mereka pun duduk di sofa dengan posisi saling berseberangan.


“Stev ada apa?” tanya Gisel.


“Gisel, seperti yang kau tahu aku sudah lama tertarik padamu dan Gabriel juga sudah merestuiku jadi apakah kau mau memberikan kesempatan. Aku rasa kita sudah saling mengenal jauh lebih baik dari sebelumnya,”.ucap Stev lagi.


Giseel tampak berpikir, kemudian ia menghela nafas sedalam-dalamnya lalu menatap wajah Stev lamat-lamaat, “ Steve bisakah kamu memberikan waktu. Aku harus memikirkan ini semua,” ucap Gisel. Walaupun pada akhirnya ia yakin Ia memang harus menerima Steve karena Steve adalah pilihan kakaknya.


Stev mengangguk-anggukkan kepalanya, pertanda dia menyetujui ucapan Gisel, lalu ia menatap Gisel tanpa berkedip. “Giseel, bolehkah aku lebih sering mengunjungimu?” tanya Steve lagi Gisel menggangguk ragu.


“Jika waktu kau senggang mungkin kita bisa menghabiskan waktu bersama. Tapi jika sibuk mungkin aku juga akan jarang membalas pesanmu!" balas Gisel.


••••


Gisel membaringkan tubuhnya di ranjang, kemudian ia melihat ponselnya berharap seseorang meneleponnya. Saat Gisel sudah menaruh ponselnya, tak lama ponsel Gisel benar-benar berdering, ia pikir itu adalah orang yang ia tunggu, nyatanya malah kakaknya yang memanggilnya.


Ayo komen biar semangat up, pokoya akan ada kejutan di kisah Gisel Arsen dan cerita Gisel Arsen akan seperti yang kalian mau.