Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Sesuatu


Jordan terduduk di kursi tunggu, tatapan matanya begitu lurus menatap tangannya sedang bergetar, karena di telapak tangannya ada bekas noda darah.


Saat ini, Jordan sedang berada di rumah sakit dan Joana sudah ditangani oleh dokter. Setelah dokter datang. Jordan hanya terdiam, ia tidak melakukan apapun selain


menatap tangannya yang penuh dengan noda darah


otak Jordan kosong seketika, dunianya berhenti berputar dan jantungnya seperti berhenti berdetak, udara di sekitarnya terasa menyesakan. Tiba-tiba lamunan Jordan buyar kala seseorang menepuk pundaknya.


“Na-nael ...." ucap Jordan. Ternyata, Nael yang menepuk pundaknya, rupanya nael sedang menjemput Gabby dan ia tak sengaja melihat Jordan, hingga Ia pun langsung menghampiri sahabatnya.


“Jordan kau kenapa?” tanya Nael. Tak lama, Nael teralih pada tangan Joana yang penuh dengan bekas darah.


“Na-nael!” hanya itu yang bisa Jordan katakan. Bahkan, rasanya ia ingin menangis kencang-kencangnya jika teringat apa yang terjadi pada Joanna. Ia sungguh takut ada yang terjadi pada istri dan calon anaknya.


“Aku akan kembali nanti!" Nael lebih memilih pergi dari hadapan Jordan, karena ia tahu Jordan butuh waktu untuk sendiri. Ia akan menghampiri Jordan setelah Jordan tenang.


Tak lama, pintu ruang rawat Joanna terbuka. hingga Jordan langsung menghapus sudut matanya dan ia pun langsung bangkit dari duduknya.


“Bagaimana keadaan istriku?” tanya Jordan wajahnya, sudah memucat. Ia sungguh takut mendengar jawaban dokter


“Kami tidak bisa mengatakan kondisi istri anda baik-baik saja, kami akan berkonsultasi dengan psikiater terlebih dahulu dan untuk kondisi kanduang....” dokter menjeda sejenak ucapannya, membuat Jordan semakin was-was.


“Katakan ada apa calon anakku?” tanya Jordan.


“Kandungan istri anda berhasil di selamatkan hanya saja kondisi kandungan istri anda masih lemah.” balas dokter. Helaan nafas terlihat dari wajah Jordan saat mendengar dokter mengatakan bahwa calon anak mereka selamat.


“Kalau begitu kami permisi." tim dokter pun pergi dari hadapan Jordan. Dan setelah itu, Jordan pun masuk ke dalam. Saat melihat tubuh Joanna terbaring diberangkar, Jordan berjalan seperti tidak menapak pada lantai, Ia seperti melayang saat melihat wanita yang ia cintai terbaring dengan kondisi yang mengkhawatirkan..


Jordan menarik kursi, kemudian ia langsung mendudukkan diri di sebelah berankar. Ia menggenggam tangan Joana dan menatap wajah Joana tanpa berkedip.


Wanita ini, wanita yang mampu merontokkan egonya, wanita yang mampu masuk ke dalam hatinya secaara alami dan sejak ada wanita ini pula, Jordan merasa hidupnya sempurna.


Tapi lihatlah, dia malah memberikan luka pada istrinya. Jordan mengecup tangan Joanna, lalu setelah itu bahunya bergetar ia menangis tergugu menyesali semuanya


4 jam kemudian


Joanna mengerjap, ia membuka matanya. Sejenak otaknya kosong. Ia tidak mengingat apapun, ia melihat ke sekelilingnya, aroma obat langsung menguar di hidungnya.


Dan sedetik kemudian, ia sadar bahwa ia sedang ada di rumah sakit.


Tak lama, ia merasa tangannya berat dan ia menolehkan kepalanya ke arah samping. Rupanya, ada seseorang yang sedang tertidur sambil menggenggam tangannya, dan ia tahu itu adalah suaminya.


Sejenak Joanna menatap Jordan dengan dingin, ia mendadak mengingat tentang kata-kata Jordan dan mengingat tentang rasa yang ia alami, Ia juga mengingat bagaimana kerasnya dia bertahan untuk saat Jordan tidak ada.


Setelah mengingat itu, Joana langsung menarik tangannya dari tangan Jordan, hingga Jordan yang sedang tertidur langsung terperanjat kaget dan menegakkan tubuhnya.


3 bulan kemudian


Ini sudah 3 bulan berlalu , dan semenjak dan selama 3 bulan ini, Joana tidak ingin bertemu dengan Jordan, kondisi Joana sudah lebih baik karena Joanna didampingi oleh dokternya dan dalam pengawasan 24 jam, karena itu adalah keinginan Joana sendiri.


Dari semua hal yang Joana takutkan, Joana lebih takut dirinya sendiri, ia sungguh takut tidak bisa mengontrol dirinya, hingga itu sebabnya ia meminta dokternya untuk selalu bersamanya.


Sedangkan Jordan, ia hanya bisa melihat Joanna dari luar. Setiap hari, Jordan selalu datang ke rumah sakit dan menginap di sana. Ia hanya akan pergi ketika akan bekerja dan akan datang kembali setelah pulang bekerja.


Selama 3 bulan ini, ia rela melewati sepanjang malamnya dengan duduk di kursi tunggu, di depan ruangan istrinya. Dia hanya bertanya tentang keadaan Joana dari dokter yang menangani Joanna.


•••


Joana melihat ke arah depan, ia mengelus perutnya kemudian tersenyum. Lamunan Joana buyar kala mendengar suara pintu terbuka, hingga Joana menoleh, ternyata yang masuk adalah Vivian, yang tak lain dokter yang selama ini mendampinginya Joana..


“Bagaimana harimu, maaf aku baru kemari!” kata Vivian yang menundukkan diri di sebelah Joana.


Joana mengangguk, seraya tersenyum tipis..


“Sedikit lebih baik.”


“Apa kau ingin menyampaikan sesuatu? atau ada yang mengganggu pikiranmu?” tanya Vivian lagi.


Joanna menggeleng. “Aku sudah jauh lebih baik.


“Oh, ya. Bolehkah aku mengajukan satu pertanyaan?” anya Vivian.


Joana menggangguk. “Apa kau tidak rindu dengan suamimu? apakah kau masih belum memaafkannya?” tiba-tiba wajah Joanna menjadi sendu, membuat Vivian langsung panik, ia langsung menggenggam tangan Joana.


“Tidak apa-apa, kau tidak perlu membalas dan jangan pikirkan pertanyaanku tadi.”


“Bolehkah aku menjawab?” tanya Joana. Vivian pun menggangguk.


“Selama seminggu ini aku sudah banyak berpikir, aku memang tersakiti dengan apa yang dia lakukan. Tapi aku juga mengingat semua kebaikannya. Jika tidak ada dia, mungkin aku tidak akan terbebas dari ibuku. Tapi aku belum sanggup untuk bertemu dengannya hatiku seolah berat untuk menemuinya. Tapi di sisi lain, aku pun tidak ingin terus seperti ini.”


Joana berucap dengan mata yang berkaca-kaca. Ya, seiring berjalannya waktu, Joana selalu mengingat kebaikan Jordan , belum lagi selama 3 bulan ini ia melihat perjuangan Jordan yang begitu hebat, karena rela menunggunya dengan sabar.


“Aku bangga padamu Joana. Kondisimu sudah jauh lebih baik, dan kau juga sudah mau membuka maaf untuk suamimu.


“Apa kau ingin berbicara sebentar dengan suamimu? tanyanya lagi, Joanna tampak menunduk kemudian mengangguk


“Aku hanya ingin berbicara sebentar.”