Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
masalah di sekolah


keesokan harinya


Ayana merasakan gugup bukan main saat Raymond terus menatapnya. Sedari tadi masuk ke dalam ruangan, dan sedari tadi dia duduk di kursi kerjanya, Raymond terus menoleh ke arah Ayana, sedangkan Ayana berpura-pura tidak menyadari bahwa Raymond sedang memperhatikannya.


Tak lama, telepon di sebelah Ayana berdering. Ayana pun mengangkat panggilan itu. “Baik, aku akan menyampaikannya pada Tuan Raymond!” kata Ayana. Ayana menoleh ke arah Raymond. Namun tak lama, ia kembali menunduk saat Raymond masih menatapnya.


“Ada apa?” tanya Raymond.


“Anda akan mulai meeting 20 menit lagi, Tuan!” balas Ayana.


“Baiklah!” Raymond menoleh ke arah depan, kemudian ia langsung berbalik, lalu mulai fokus pada laptopnya dan tidak menatap Ayana lagi membuat Ayana menghela nafas lega.


Dan tak lama, ponsel Raymond berdering. Raymond pun mengangkatnya. Saat mengetahui siapa yang menelponnya, Raymond melihat ke arah Ayana, kemudian Ia pun bangkit dari duduknya. Lalu mengangkat telepon dari luar.


“Baik, aku akan segera ke sana,” Jawab Raymond pada orang yang menelponnya.


“ Ayana batalkan meeting nanti siang, aku ada perlu sebentar!" kata Raymond setelah menerima panggilan dan kembali ke ruangannya. Ayana pun mengangguk. Setelah itu, Raymond pun memakai jasnya kemudian menyambar kunci mobil lalu kembali keluar dari ruangannya membuat Ayana mengerutkan keningnya, karena tidak biasanya Raymond seperti ini.


Raymond mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh. Entah kenapa, amarah berkobar hebat di dadanya saat mendengar ucapan guru di sekolah Moa. Rupanya, orang yang tadi menelepon Moa adalah guru yang mengajar di sekolah Moa, dan mengatakan bahwa ada masalah antara Moa dan murid lainnya, hingga orang tua murid tersebut memarahi Moa.


Tentu saja Raymond tidak akan terima, hanya karena Moa mematahkan pensil milik temannya dan teman moa menangis lalu mengadu pada ibunya, hingga ibu murid tersebut menegur Moa dengan cara yang kasar, hingga Moa menangis. Itu, sebabnya guru langsung memanggil Raymond.


Setelah gerbang terbuka. Mobil yang kendarai Raymond melenggang masuk, kemudian ia langsung turun dari mobil dan berjalan dengan langkah lebar ke dalam kelas.


Saat masuk kedalam kelas, ternyata Moa sedang menangis di belakang gurunya dan ibu murid yang memarahi Moa terlihat sedang menenangkan putrinya.


“Ada apa ini?” tanya Raymond saat masuk ke dalam kelas.


“Daddy!” Moa langsung berlari ke arah Raymond dan bersembunyi di belakang tubuh Raymond. Raymond menggenggam tangan Moa, kemudian ia langsung maju ke arah orang tua yang tadi menegur Moa.


“ Ada apa ini kenapa putriku sampai menangis?” kata Raymond, seandainya orang di depannya ini adalah lelaki, tentu Raymond akan langsung menghajarnya.


“Putrimu mematahkan pensil milik putriku. Pensil yang kami beli dari edisi terbatas,” jawab wanita itu dengan sombongnya, membuat Raymond berdecak kesal.


“Kau menegur anakku hanya karena sebuah pensil. Apa kau, tahu bahkan nyawamu saja bisa aku beli,” ucap Raymond dengan nada yang tinggi. Sayangnya wanita di depannya ini tidak tahu bahwa Raymond adalah pemilik yayasan tersebut. Sedangkan guru yang ada di belakang hanya terdiam, ia tidak berani berbicara sepatah kata pun, apalagi jika harus berurusan dengan Raymond.


“Aku tidak ingin ada murid dan orang tua yang toksik di sekolah ini, kau bisa memulai proses pengeluaran siswa Ini!” kata Raymond membuat wanita itu membulat


“Kenapa kau seenaknya sekali!" balas wanita itu dengan tidak terima


“Karena sekolah ini berdiri di bawah naungan yayasan milikku!” Seketika wanita itu terdiam, saat mendengar ucapan Raymond. Sekolah tersebut adalah impian setiap siswa, selain Karena sekolah itu sekolah favorit, sekolah milik Raymond juga adalah sekolah yang bergengsi.