Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Kedua putri kita


Saat berbalik saat Nael menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, kemudian ia menghampiri Gabby, hingga kini mereka berdiri berhadap-hadapan.


Mata Nael dan mata Gabby saling mengunci. Tiba-tiba, mata mereka kompak berkaca-kaca saat melihat satu sama lain.


“Gabby ....”


“Nael ....” keduanya saling menggumamkan nama masing-masing dengan berbarengan, tak lama, mereka juga menggerakkan tubuhnya untuk saling memeluk.


Padahal mereka berdua berniat untuk berbicara serius, mereka sama-sama berniat membahas langkah yang akan mereka ambil kedepannya. Tapi ketika mereka sudah berhadap-hadapan, ketika mereka sudah berdekatan mereka hanya ingin saling memeluk melampiaskan rasa rindu yang selama ini menggebu-gebu.


Setelah saling memeluk dengan waktu yang cukup lama, akhirnya Gabby dan Nael melepaskan pelukannya. Nael langsung menangkup pipi Gabby, kemudian ia menghapus air mata Gabby dengan ibu jarinya. Lalu ia mendekatkan wajahnya dan mencium kening Gabby dengan penuh perasaan.


Sedangkan Gabby langsung mendongak menatap Nael, ia menggerakkan tangannya untuk mengelus pipi ayah dari anak-anaknya. Ia masih tidak percaya bahwa yang di depannya adalah Nael, lelaki yang selama ini ia rindukan.


“Kau benar Nael kan?” tanya Gabby, Nael mengangguk. Ia menggerakan bibirnya ke samping, mencium tangan Gabby yang sedang ada di pipinya. Setelah itu, Nael menarik tangan Gabby lalu mendudukan Gaby di sofa dan dia berlutut di hadapan Gabby hingga kedua pasangan sejoli itu kembali saling menatap.


“Aakah mau memaafkanku, Gabby. Dan memberikanku kesempatan lagi?” tanya Nael, irish matanya menatap Gabby dengan tatapan yang super tulus. Gabby menghapus sudut matanya.


“Akku tak bisa menjanjikan apapun padamu. bukan aku yang harus kau ambil hatinya. Tapi kedua anak ki ....” Tiba-tiba, Gabby menghentikan ucapannya saat tidak sengaja akan mengatakan Laura dan Naura dengan kata anak kita. Walau bagaimanapun, ketakutan di masa lalu masih membekas.


Mengerti dengan apa yang dirasakan oleh Gabby, Nael mengelus pipi Gabby. “Aku akan mengambil hati anak-anak kita, bagaimanapun caranya. Aku mengambil hati mereka dengan cara yang lembut mau pun memaksa sekalipun. Aku akan membuat mereka hanya melihatku sebagai cinta pertama mereka .”


••••


“Kau ingin mampir?” tanya Gabby saat mobil yang dikendarai Nael sampai di depan gerbang. Saat ini, mereka baru saja tiba di depan rumah Gabby, karena mobil Gabby dibawa oleh sopir dan akhirnya Nael mengantarkan Gabby untuk pulang ke rumahnya.


”Kau meledekku?” tanya Nael, sedangkan Gabby memalingkan tatapannya ke arah lain, karena ia menahan tawanya.


“Menurutmu, kapan waktu yang tepat untuk aku menemui Laura dan Naura?” Gabby tanpak berpikir, pikirannya menerawang ke atas.


“Mungkin nanti malam, saat Laura dan Naura tertidur. Aku akan menelponnya jika Laura dan Naura sudah tertidur.” Gabby melepaskan sabuk pengaman, kemudian ia menoleh ke arah Nael. “Terima kasih atas tumpanganmu, kalau begitu permisi.” Saat Gabby akan membuka pintu, Nael menarik tangan Gabby hingga Gabby lembali menoleh. Perlahan, ia mendekatkan wajahnya berniat mencium bibir Gabby.


”Auhhh!” tiba-tiba, Nael meringis. Saat Gabby menyentil keningnya, dengan sedikit keras.


“Jangan bersikap seolah kita dekat, sebelum kau berhasil mengambil hati Laura dan Naura.” ucap Gabby, membuat Nael menghela nafas. Ucapan Gabby menyadarkan Nael, bahwa perjuangannya belum selesai.


“Jadi, jika aku berhasil mendapat hati kedua putriku. Aku bebas melakukan apa pun padamu?” tanya Nael, membuat pipi Gabby bersemu merah.


“Terserah kau saja!” Dengan jantung yang berdegup kencang, akhirnya Gabby pun keluar dari mobil Nael, sedangkan Nael terus tersenyum melihat punggung Gabby yang terus menjauh.