
Setelah mengatakan itu pada Olivia, Jordan menutup panggilannya, kemudian ia mencoba meredam emosinya. Olivia adalah tipe wanita yang sangat licik, dia mampu melakukan apapun demi ambisinya dan ia yakin, Olivia tidak akan berhenti sampai di situ Jordan yakin, Olivia pasti akan berusaha untuk mencoba merebut Joanna.
Jordan menghela nafas, kemudian menghembuskannya, ia mencoba meredam emosinya, ia tidak ingin Joana curiga bahwa ia baru saja berbicara dengan Olivia, dia juga tidak ingin Joana terus mengingat Olivia, karena itu akan menambah beban mental untuk gadis itu.
Setelah bisa menguasai diri, akhirnya Jordan berbalik kemudian kembali masuk ke dalam.
“Astaga, kau mengagetkanku,” ucap Jordan.
Ternyata Joanna berdiri di depan pintu, dan rupanya Joanna mendengar percakapan Jordan dengan Olivia.
“Kau mendengarkan semua ucapanku barusan?” tanya Jordan. Joana mengangguk.
“Hmm, aku mendengarnya, apa barusan dari ibuku?” tanya Joana. Jordan tidak menjawab, ia menarik tangan Joana untuk masuk, lalu mendudukkan Joana di sofa dan dia pun duduk di sebelah Joana.
“Joana, Aku tidak ingin kau mengingat lagi tentang ibumu, ataupun keluargamu. Kau tidak akan berdosa melupakan mereka, kau sudah berbakti selama bertahun-tahun pada ibumu, merasakan kesepian karena tidak ada ayahmu. Jadi sekarang, waktunya kau mau bahagiakan dirimu sendiri,” ucap Jordan, ia menggenggam tangan Joanna yang tampak bergetar, hingga Joanna menoleh.
“Pak-Paman, kenapa kau baik sekali padaku?” tanya Joanna, ia teringat saat pertama kali pertemuannya dengan Jordan saat itu, ia begitu menyebalkan dan berani mengutuk Jordan. Tapi sekarang, lelaki ini malah baik dan membantunya, hingga ia jatuh cinta pada Jordan.
“Hmm, kenapa kok bisa sebaik ini padaku? padahal orang tuaku saja memperlakukanku dengan sangat buruk,” ucap Joana.
Jordan tampak terdiam, ia berusaha merangkai kata yang pas untuk menyatakan perasaannya. Ia rasa, inilah saatnya untuk mengatakan bahwa ia mencintai Joanna, Karena setelah ini, ia akan langsung mengajak Joana untuk menikah, agar ada kekuatan hukum yang memayungi Joanna dari Olivia, dan Olivia tidak akan bisa lagi mengatur Joanna.
“Karena aku ....” tiba-tiba ucapan Jordan terhenti saat mendengar suara orang berlari, dan tak lama pintu ruang rawat Joanna terbuka, muncul sosok Laura Naura dan sheina masuk ke dalam ruangan, membuat Joanna menutup mulut tak percaya saat ketiga sahabatnya datang ke rumah sakit.
Laura ... Naura dan Sheina langsung berlari ke arah Joanna, lalu berhambur memeluk Joanna .hingga Jordan yang sedang duduk langsung terhempas kesamping karena Laura memeluk Joanna dari arah samping, membuat Jordan berdecih sinis seraya mengusap wajah kasar.
Ia menyesal bercerita pada Nael bahwa Joanna ada bersamanya, Dan Jordan yakin, Nael memberitahukan pada kedua putrinya, hingga itu sebabnya, Laura dan Naura dan Seina menghampiri Joanna di rumah sakit.
Saat dipeluk ketiga sahabatnya, tubuh Joanna bergetar. Ia pun membalas pelukan ketiga sahabatnya begitu erat, ia sungguh rindu dengan ketiga sahabatnya ini.
Tangis Joana mengencang, saat teringat sebelum ia ditahan oleh sang ibu, ibunya memberikan ancaman akan mencelakai Seina, Laura dan Naura. Dan sekarang ia sangat bersyukur ketiga sahabatnya baik-baik saja.
Ya, saat itu Olivia mengancam Joanna dan mengatakan bahwa akan melakukan hal buruk pada Laura Naura dan Sheina. Bahkan saat itu Olivia mengirimkan sebuah foto pada Joana, di mana ada anak buahnya yang sedang mengikuti Laura dan Naura serta sheina, itu sebabnya. I setahun lalu, Joana langsung menyerahkan dirinya pada sang ibu, karena ia tak ingin ketiga sahabatnya terseret dalam masalahnya, apalagi ia tahu sang ibu tidak pernah main-main dengan ucapannya.