Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
pasrah


Arsen berteriak, saat matanya terasa perih. seluruh lampu yang sangat terang menyala dan menyorot matanya.


Saat ini, Arsen ditempatkan di ruangan yang serba putih dengan lampu yang sangat-sangat terang. Hingga mata Arsen rasanya terbakar. Bukan hanya mata saja yang terasa terbakar, Arsen merasakan wajahnya pun juga panas.


Tiba-tiba, tenggorokannya terasa kering. “Tolong.” Arsen hanya mampu mengucapkan kata tolong dengan suara yang pelan.Tubuhnya sudah sangat tersiksa, seluruh tubuhnya pun terasa remuk karena hajaran mantan mertuanya.


Arsen bangkit dari berbaringnya, kemudian ia berniat bangkit, ia harus menemukan pintu keluar dan keluar dari ruangan ini, Karena rasanya, ini begitu menyiksa dan begitu menyakitkan.


Tapi tak lama, saat ia sudah berusaha bangkit. Ternyata Arsen tidak sanggup menegakkan kepalanya, karena saat ia menegakkan kepalanya. Perih langsung menjalar ke dalam mata Arsen.Walaupun ia sudah menutup mata dengan tanganya. Tetap saja merasakan perih Bukan main. Bagaimana tidak, lampu yang digunakan oleh Stuard, bukan lampu sembarangan.


Pada akhirnya, Arsen kembali terduduk. Ia menekuk lututnya dan menyembunyikan kepalanya di tengah-tengah lututnya. Ia meringis merasakan sakit yang luar biasa hebat.


Sekarang, penyesalan itu muncul. Ia benar-benar menyesal telah membuat murka seorang Stuard Josepin. Seharusnya, ia sudah tahu konsukensi yang akan ia tanggung. Mertuanya tidak akan pernah main-main dengan ancamannya, dan naasnya, dia terlalu percaya diri. Tidak akan terpergok. Tapi ia lupa, siapa apa ayah mertuanya.


Tiba-tiba tubuh Arsen menggigil hebat. Ia kedinginan. Tapi di sisi lain, ia juga merasa kepanasan. Kulit-kulit Arsen mengerut, tentu saja itu adalah efek obat yang disuntikkan oleh anak buah Stuard pada Arsen.


Di titik ini, Arsen lebih memilih mati, dari pada merasakan penyiksaan seperti ini. “Tolong!” Hanya itu yang bisa Arsen keluarkan dari mulutnya, ia benar-benar tersiksa dengan keadaannya. Bahkan, Arsen baru menyadari bahwa saat ini, ia tidak memakai pakaian.


“Aaaa!” Tiba-tiba, Arsen kembali berteriak saat lantai terasa sangat panas. Hingga Arsen yang sedang duduk langsung berdiri. Arsen kembali berteriak karena panas mengenai telapak kakinya.


Stuard benar-benar tak main-main dengan ucapannya. Karena prinsip Stuard. Siapapun yang mengusik keluarganya, akan dihukum sampai merasakan rasanya lebih baik mati daripada terkurung di ruangan seperti itu.


Stuard menggunakan ruangan itu sudah puluhan tahun, ruangan itu, ruangan khusus untuk menghukum siapa saja yang mengusik keluarganya.


Dan sekarang, Arsen lah yang berada di sana. Jika Stuard berbaik hati, mungkin Arsen dibebaskan. Tapi jika tidak, mungkin Arsen hanya tinggal menunggu ajalnya di ruangan itu.


“Aaaaaa!” Arsen kembali berteriak. Suaranya memekik, ketika lantai semakin panas, aliran strum menyebar ke seluruh lantai. Hingga kaki Arsen tersengat listrik.


•••


“Gabby, apa ini milikmu?” tanya Gabriel dengan saat melihat rekaman video yang ada di ponsel Gabby.


Gabriel menatap rekaman itu tanpa berkedip, seolah terhipnotis dengan apa yang sedang dilihatnya. “Gabby apa ini benar milikmu?” tanya Gabriel lagi


“ Kau tidak berbohongkan?” Gabriel menatap tak percaya pada Gabby.


Belum Gabby menjawab, pintu terbuka sosok Stuard masuk kedalam ruangan.


“Kalian sedang apa?” tanya Stuard.


“Dad, lihat!” Gabriel memperlihatkan vidio itu pada Gabriel, membuat mata Gabby membulat. Secepat kilat Gabby langsung bangkit dan merebut ponsel itu.


“Gabby apa itu?” tanya Stuard.


••••


Dua Minggu kemudian.


“Kenapa dia tak bisa di hubungi!” ucap Nael ketika menelpon Gabby. Ini sudah dua Minggu semenjak kejadian di kantornya. Tapi, Gabby sangat sulit untuk di hubungi. Padahal, ia akan memberitahu Gabby sesuatu.


Gengs dua bab dulu ya. Soalnya anakku mau terapi di rumah sakit. Gas komen gengs ga komen besok up satu bab hahaha


Bayangin jadi Arsen udah merinding disko