
mata Joana membulat saat melihat tatapan Jordan. Bagaimana tidak, Jordan mengatakan tidak melihat apa-apa. Tapi, pandangan mata Jordan melihat ke arah dadany.
Tanpa disangka, Joanna menyentil kening Jordan, membuat Jordan meringis. Jujur saja, Joana hanya refleks melakukan itu, walau bagaimanapun dia terlalu terkejut. Tapi tak lama, Joanna tersadar kemudian ia langsung bangkit dari berjongkoknya.
“Maafkan aku paman, aku benar-benar tidak sengaja!" kata Joanna. Jordan mengelus keningnya yang disentil oleh Joanna, ia meringis. Bagaimana tidak, sentilan Joana benar-benar keras, bahkan ia hampir saja terhuyung ke belakang.
Saat Joanna bangkit dari berjongkoknya, Jordan pun juga ikut bangkit. Wajah Jordan memerah, walaupun Joana menyentil keningnya, tapi ia merasakan malu yang luar biasa, karena ia terpergok melihat dada seorang wanita, dan sekarang, ia tidak berani menatap Joana.
“ Paman, maafkan aku!” kata Joana.
“Cepat siapkan makanan untukku, aku lapar!” Jordan lebih memilih untuk mengatakan hal tersebut untuk menutupi rasa malunya, kemudian ia berbalik, lalu pergi ke kamarnya, daripada ia semakin malu. Sedangkan Joanna menggigit bibirnya seraya memejamkan matanya dan mengutuk dirinya sendiri. ”Kau bodoh sekali, Joana. Bagaimana jika dia mengusirmu!” ucap Joana dengan lirih
√•••
“Bagaimana kau bisa melakukan hal yang memalukan seperti itu!” hardik Jordan pada dirinya sendiri, saat ia masuk ke dalam kamar.
Jordan melepaskan jasnya, kemudian ia membanting tubuhnya di ranjang. Sejenak Jordan melamun, menetralkan rasa lelahnya dan tak tanpa sadar ia memejamkan matanya lalu terlelap. Padahal, ia meminta Joanna untuk menyiapkan makanan, tapi ia malah tertidur.
Waktu menunjukan pukul 07.00 malam, Joana berjalan kesana kemari di hadapan kamar Jordan. Ia benar-benar dihantui ketakutan yang luar biasa. Bagaimana tidak, ia sudah melakukan kesalahan yang cukup fatal.
Ia benar-benar takut Jordan mengusirnya. jika Jordan mengusirnya, ia bingung harus tinggal di mana lagi, karena menurut Joana inilah salah satu tempat teraman yang Joanna miliki, karena sang ibu tidak mungkin menemukannya di sini.
Dan setelah sekian lama mondar-mandir di depan kamar, akhirnya Joanna memberanikan diri mengetuk kamar Jordan. “Paman .... paman!” panggil Joanna dengan nada pelan
“ Paman!” panggilnya lagi sambil mengetuk pintu. sudah 15 menit Joana terus mengetuk pintu. Namun Jordan tidak kunjung membuka pintunya.
“Paman .... paman!" kali ini Joanna memberanikan diri untuk sedikit berteriak,.hingga tak lama akhirnya pintu terbuka.Rupanya Jordan terbangun dari tidurnya, saat mendengar teriakan Joanna yang kencang.
“Apa?” tanya Jordan, matanya masih setengah tertutup, karena ia masih merasa ngantuk.
“Pa- Paman, apakah kau tidur? maaf jika aku mengganggumu. Aku ingin mengatakan bahwa makan malam sudah siap,” ucap Joanna. Tanpa membalas ucapan Joanna, Jordan langsung menutup kembali pintu membuat Joanna terpekik
Joana pikir, Jordan masih marah kepadanya. Namun bukan itu yang membuat Jordan menutup pintu, Ia menutup pintu karena ia masih merasakan ngantuk yang luar biasa, hingga Ia memutuskan untuk kembali tidur dan tanpa memperdulikan Joanna.
Saat Jordan akan memejamkan matanya lagi, tiba-tiba Jordan kembali membuka matanya saat menyadari bahwa ia menutup pintu di hadapan wajah Joana, dan Jordan tau itu sangat tidak sopan..
Jordan kembali bangkit dari tidurnya, kemudian ia langsung mengusap wajah kasar, kemudian Ia pun langsung kembali berjalan ke arah pintu dan membuka pintu, benar saja ternyata Joanna masih berdiri di sana.
Jordan terdiam saat melihat wajah Joanna tampak murung, walaupun gadis di depannya ini selalu berpura-pura baik-baik saja. Tapi ia tahu, sebenarnya anak dari mantan kekasihnya ini sedang tidak baik-baik saja..
“Ada apa?” tanya Jordan, membuat Joanna yang sudah menunduk mengangkat kepalanya.
“Paman, aku hanya ingin minta maaf atas kejadian tadi!" jawab Joanna membuat Jordan memejamkan matanya, seraya menghela nafas karena Joana membahas kejadian tadi, jelas-jelas ia yang harusnya malu karena terpergok melihat dada Joanna.
“Sudahlah lupakan, aku juga sudah melupakannya!” kata Jordan lagi.
“Kau memaafkanku?" tanya Joana, Jordan mengangguk, wajah Joanna langsung berbinar saat mendengar ucapan Jordan setidaknya ia tidak perlu khawatir jika ia diusir oleh Jordan.
“Paman aku sudah menyiapkan makan malam untukmu ,”kata Joanna lagi. Jordan mengangguk.
“Aku akan mandi dulu!” Jordan menutup pintu kemudian ia langsung masuk ke dalam, sedangkan Joanna langsung memanaskan kembali makanan, karena tadi Ia memasa saat sore hari dan ia harus kembali memanaskan makanan yang ia buat.
•••
Suasana makan malam begitu hening, Jordan dan Joanna sama-sama terdiam dan fokus menikmati makanan mereka masing-masing
Tak lama, terdengar suara bel berbunyi.
“Biaa aku saja yang membukanya!” kata Jordan ketika Joanna akan bangkit dari duduknya
Jordan pun bangkit dari duduknya, kemudian ia berjalan arah pintu, ia menekan layar melihat siapa yang datang.
Mata Jordan membulat saat melihat siapa yang ada di depan pintu, ternyata dia adalah Arsen dan Nael. Secepat kilat, Jordan pun langsung berlari ke arah dalam untuk menghampiri Joana.
“Kau harus sembunyi!” titah Jordan pada Joanna. Joanna yang sedang makan membulatkan matanya, saat mendengar perintah Jordan.
“Ada apa Paman?”
“Sembunyi, pokoknya kau harus sembunyi!” titah Jordan, ia malah menarik tangan Joanna. Lalu n Joana untuk masuk ke dalam kamar.
.“Jangan keluar, aku ada tamu!” kata Jordan lagi setelah Joanna masuk ke dalam kamar. Ia pun menutup pintu, lalu setelah itu berusaha menenangkan dirinya dan berjalan ke arah pintu.
Seelah ia tenang dan tidak terlihat gugup, Ia pun langsung membuka pintu apartemennya, ia langsung menatap Nael dan Arsen secara bergantian.
“Untuk apa kalian datang kemari?” tanya Jordan Nael dan arsen tidak menjawab, mereka malah masuk ke apartemen Jordan, melewati tubuh Jordan begitu saja, membuat Jordan bercak kesal
“Kau sedang makan malam?” tanya Nael saat melihat ada piring di meja
“Tunggu kau sedang makan malam bersama siapa?” kali ini Arsen yang bertanya saat melihat ada dua piring di meja makan, membuat Jordan memejamkan matanya.
“Itu tadi bekasku sarapan!”jawab Jordan yang mengelak. Nael dan Arsen pun langsung mendudukkan diri di sofa, begitupun Jordan yang menyusul untuk duduk.
“Kalian untuk apa kemari?’ tanya Jordan.
“Kami hanya ingin mengajakmu bermain kartu!” jawab Arsen, lagi-lagi membuat Jordan menghela nafas.
“Ini sudah malam, aku ingin beristirahat. Pulang sana!" Jordan mengusir Nael dan Arsen. Namun kedua lelaki itu tampak tidak memperdulikan ucapan Jordan.
“Sudah lama sekali aku tidak pergi ke apartemenmu!” ucap Nael, tiba-tiba. Ia mengedarkan pandangan matanya ke seluruh arah, sedangkan Jordan berusaha memutar otak agar Nael dan Arsen pergi dari apartemennya karena ia tidak ingin Nael dan Arsen memergoki Joana yang sedang di apartemennya.
“Kalian untuk apa ke sini? aku ragu, sepertinya kalian bukan ingin mengajakku bermain kartu saja!” kata Jordan, Nael dan Arsen saling tatap, kemudian mereka mengangguk-anggukkan kepalanya, pertanda mereka mengakui bahwa mereka berbohong.
“Lalu kenapa kalian ke sini!cepat pergi!" kata Jordan lagi.
Nael bedehem, kemudian menegakkan tubuhnya. “Aku mendengar kau membeli salah satu kawasan di bagian barat dekat kantorku, bisakah kau jual itu pada kami?" tanya Nael dengan hati-hati
Mata Jordan membulat saat mendengar ucapan Nael. “kau kemarin hanya ingin mengatakan itu?” tanya Jordan dengan kesal.
“Kami membutuhkan sektor di sana untuk membangun pabrik,” jawab Nael, Jordan menghela nafas kemudian menghembuskannya.
“Kenapa sekarang kalian kompak sekali menyerangku!” kata Jordan. “Kenapa kau tidak bawa saja Miko sekalian menyerangku!" omel Jordan lagi.
“Sepertinya ide bagus, tadinya kami pun ingin mengajak Miko kemari, tapi jika kami mengajak Miko kau pasti akan terkena serangan jantung,” jawab Nael sambil tertawa, membuat Jordan berdecih.
•••
Joanna terdiam di kamar Jordan, kemudian ia melihat ke seluruh kamar Jordan, kamar Jordan dipenuhi warna hitam, terkesan misterius. Namun tetap nyaman.
Sejujurnya, ia masih merasa lapar, karena ia baru saja menyuapkan beberapa suap saja ke dalam mulutnya. Tapi ternyata, Jordan malah menarik tangannya, dan saat mendengar suara Nael dan Arsen, ia tahu alasan Jordan menyembunyikannya
Perlahan Joanna membaringkan tubuhnya di ranjang, kemudian ia mengelus ranjang dengan mata yang berkaca-kaca, ia sungguh rindu kamarnya. Tapi di sisi lain, Ia juga takut dan tanpa sadar, Joanna memejamkan matanya lalu terlelap.
Jordan membuka pintu kamar, kemudian ia langsung berjalan ke arah ranjang, di mana Joana sedang tertidur di sana. Ini sudah 2 jam berlalu, Nael serta Arsen baru saja pulang dari apartemennya, itupun setelah Jordan mengusir keduanya dengan paksa.
Jika tidak, tidak sudah dipastikan kedua orang itu akan merecokinya hingga Ia mau menjual lahan itu pada keduanya.
Jordan mendudukkan diri di sebelah, Joanna kemudian ia menatap Joana lekat-lekat, kemudian ia menarik selimut. Lalu menyelimuti tubuh Joanna, dan setelah itu ia langsung kembali keluar untuk tidur di sofa.
4 bulan kemudian
“Paman, apa Paman akan pulang malam lagi hari ini?” tanya Joanna saat sarapan. Jordan menoleh ke arah Joanna sekilas kemudian mengangguk.
“Aku akan pulang malam, jangan menungguku. aku juga tidak akan makan malam di sini!” kata Jordan, kali ini Joana yang menggangguk, kemudian menunduk
“Baik Paman," jawab Joanna, ia menggigit bibirnya. Rasa sesak langsung menghantam Joana. Ini sudah 4 bulan berlalu, selama 4 bulan itu pula, Joana tinggal di apartemen Jordan
Namun dua minggu ini, Joanna merasakan Jordan mulai menghindarinya, bahkan terkesan acuh. Padahal biasanya Jordan tidak seacuh itu, setidaknya Jordan mau menyapanya. Dan setelah Jordan berubah, Joana merasa Jordan tidak nyaman dengan kehadirannya.
Padahal ia sudah benar-benar nyaman tinggal apartemen Jordan. Selama 4 bulan ini, rasanya ia benar-benar lega karena tidak perlu lagi ketakutan.
Tapi semenjak Jordan berubah, ia mulai berpikir, mungkin Jordan keberatan dengan kehadirannya, apalagi ia sudah menumpang dengan waktu yang cukup lama.
”Pak Paman, bolehkah aku bertanya?" tanya Joanna, ketika Jordan menyelesaikan sarapannya Jordan menoleh sekilas, kemudian menggangguk.
“Apa yang ingin kau katakan?” tanya Jordan.
“Paman apa kau mulai keberatan dengan kehadiranku? apa kau mulai keberatan aku tinggal di sini?” tanya Joanna. Jordan terdiam. Namun dari diamnya Jordan, Joana menyimpulkan sesuatu.
“Aku rasa sudah seharusnya kau mandiri, aku akan menyiapkan satu apartemen untukmu dan kau bisa tinggal di sana sendiri, kau tenang saja, ibumu tidak akan mencarimu di sana!’ balas Jordan dengan wajah yang serius, entah kenapa membuat tubuh Joanna langsung melemas.
“Pa-paman, maaf jika aku lancang. Ta-tapi aku tak ...”
“Kumohon mengertilah Joana!” kata Jordan yang memotong ucapan Joana, membuat Joana langsung terdiam.
“Ba-baiklah, paman. Aku akan pergi dari sini!”
Jordan ....
Yuks bisa yuks bantuin tingkatin komentarnya. Anggap aja sebagai penghargaan bagi authornya.
Ada alasan ya kenapa Jordan nyruh Joana pindah. Tapi entar ya. Ini 3 bab, di satuin jadi jangan ada yang bilang dikit banget ye