
Setelah Gaby datang, Stuard menoleh kearah Gabby, kemudian tersenyum. “Gabby, Ayo masuk!” titah Stuard menyadarkan Gabby dari lamunannya.
Gabby masih terdiam di tempat, ia bingung kenapa Arsen ada di sini dan duduk bersama sang ayah. Selama beberapa hari ini, setelah mendatangi rumah arsen. Gabby, tidak lagi berkomunikasi dengan Arsen dan sekarang ia malah heran kenapa Arsen ada di sini.
Tiiba-tiba, Gabby memejamkan matanya saat mengingat ucapan Arsen yang berkata akan mengadukan perbuatannya dan Nael pada sang ayah.
“Gabby!” panggil Stuard lagi, lagi, ketika Gabby masih terdiam ditempat. Gabby tersenyum. Lalu ia mendekat dan menarik kursi di dekat sang ayah.Hingga kini, posisinya duduk di sisi samping Stuard dan berhadap-hadapan dengan Arsen. Sedangkan Stuar duduk di tengah-tengah Gaby dan Arsen.
Gabby dan Arsen saling memandang dengan tatapan permusuhan, mereka layaknya seorang musuh bebuyutan. Hubungan yang selama 13 tahun mereka bina, lenyap. Bahkan sekarang, mereka sama-sama seperti orang asing.
Setelah Gabby duduk , Stuard mulai menegakkan tubuhnya, ia memotong steak yang ada di piringnya dan menyuapkannya.
“Daddy pikir, kalian sedang ada masalah. Arsen minta Daddy untuk berbicara dan Daddy pikir, Daddy sebaiknya mendengar dari kedua belah pihak,” ucap Stuard.
Tiba-tiba, nafas Arsen terasa memendek saat Stuard memanggil Gabby. Tadinya, jika Gaby tidak datang. Ia ingin menjelek-jelekkan Gabby dan mengatakan bahwa Gabby yang telah dulu berselingkuh dengan lelaki lain. Tapi sekarang, Gaby ada di hadapannya. Bagaimana ia akan menjalankan rencananya jika Gabby ada di tengah-tengah mereka.
hening
Stuard memakan steak itu dengan santai, kemudian menoleh kearah Gabby dan Arsen secara bergantian, lalu ia kembali memotong steak lalu menyuapkannya, seolah sedang menunggu siapa yang akan berbicara terlebih dahulu.
“Kalian tidak ingin berbicara pada Daddy?” tanya Stuard saat Gabby dan Arsen sama-sama terdiam.
Stuard menaruh garpu yang ada di tangannya, kemudian kembali melihat ke arah Arsen dan Gabby secara bergantian.
“Kalian tidak ingin ada yang berbicara?” tanya Stuar lagi. Ia kembali mengambil garpu, kemudian menyuapkan makanan ke mulutnya. Lelaki paruh baya berwajah teduh itu terlihat santai mengunyah makanannya, tanpa melihat ketegangan yang sedang berlangsung antara Gaby dan Arsen.
“Dad! biar aku saja yang berbicara!” kata Gaby membuat Arsen menjadi ketar-ketir.
“Biarkan Arsen terlebih dahulu yang berbicara! kau jangan menyela ucapan Arsen sedikitpun!” kata Stuard nada tegas.
Gabby memejamkan matanya, perintah sang ayah sudah mutlak dan ia tidak bisa membantahnya. Seketika, Gabby dan Arsen saling pandang, Arsen menarik sudut bibirnya lalu tersenyum sinis, membuat Gabby menggeram kesal .
Sekarang wajah Arsen yang asli sudah terbuka. Lelaki yang selama tiga belas tahun bersama nya tak lebihnya seorang iblis, yang mempunyai wajah malaikat.
“Kau ingin mengatakan apa pada Daddy?” tanya Stuard. ia memakan makanannya dengan tenang, dan tak terpengaruh dengan kondisi Arsen dan Gabby yang saling tatap dengan aura permusuhan.
Arsen meremas kedua tangannya, kemudian ia langsung menatap ke arah Stuard.
“Dad, aku tau aku pun salah. Tapi Daddy harus mendengar ini ini, karena ini semua berawal dari Gabby, dia telah berselingkuh dengan pemimpin perusahaan Lixels group.”
“Arrsen!” bentak Gabby saat mendengar ucapan Arsen yang memutar balikan fakta.
“Gabby diam, jangan menyelah ucapan Arsen,” kata Stuard,membuat Gabby memejamkan matanya. Lalu, ia menoleh ke arah Arsen yang sedang menyeringai padanya.
“Arsen! lanjutkan!” titah Stuard, ia kembali menyuapkan steak ke mulutnya.
••••