
Gisel terus mengelus punggung Gabby, karena sedari tadi, Gabby tidak berhenti menangis. Ia berusaha mengerti kakaknya dan tidak bertanya lebih lagi. Ia menunggu Gabby bercerita padanya.
Setelah sekian lama, akhirnya Gabby menegakan tubuhnya. Kemudian kembali menatap ke depan dengan tatapan kosong.
“Gisel, sekarang aku harus apa, dan sekarang, aku harus bagaimana?” tanya Gabby. Rasanya, ia sudah lelah untuk menangis. Tapi tetap saja, ia tak bisa menghentikan tangisannya.
“Tinggalkan dia, Kak. dia tidak pantas untukmu,” ucap Gisel. Seketika Gabby menoleh kearah Gisel.
“Gisel, aku tidak akan melepaskan dia begitu saja. Jika aku berpisah dengannya, ia akan mendapatkan harta milik keluarga kita dan aku tak mau itu terjadi.” Tiba-tiba, mata Gabby berkilat penuh tekad, seketika ekspresi wajah Gabby berubah.
Raut wajah sedih seketika sirna, berganti dengan amarah yang membara. Dia adalah Gabby Josephine, tidak akan pernah menerima pengkhinatan dalam bentuk apa pun.
Dia sudah hancur karena suaminya, dan ia takan membiarkan Arsen dan Kristen begitu saja. Mereka harus hancur dengan tangannya sendiri.
“Kak, kau mau ke mana?” tiba-tiba Gisel terpekik kaget, ketika sang kakak bangkit dari duduknya. Dengan cepat, Gisell langsung ikut bangkit lalu memegang bahu Gaby.
“Kakak tenanglah, berpikirlah dengan jernih," ucap Gisel, ia menggoyang-goyangkan. Bahu Gabby, menyadarkan sang kaka.
Seketika, Gabby melihat kearah Gisel.
“Gisel, kau tidak tau rasanya menjadi aku. Dua orang Bajjingan itu menipuku, menertawakanku dari belakang, lalu apa kau pikir aku harus melepaskan mereka begitu saja? Tidak Gisel, aku tidak akan pernah melepaskan dua manusia laknat itu. Aku harus menghancurkan mereka dengan tanganku sendiri, dan jangan pernah beritahu Daddy dan Mommy soal ini. Aku akan menangani mereka dengan caraku sendiri,” ucap Gabby, ia berbicara dengan nada berapi-api, emosi benar-benar telah membakar Gabby.
Mendengar ucapan Gabby, Gissel terdiam, karena bagaimanapun. Ia akan memberitahukan ini pada sang ayah. Ia tidak ingin sang kakak membahayakan dirinya sendiri.
“Gisel!” kali ini, ini Gabby memegang tangan Gissel, menyadarkan Gissel dari lamunannya, ia memegang tangan Gissel, karena sang adik melamun dan Gabby yakin, adiknya sedang berpikir akan memberitau pada sang ayah.
Gissel tersadar, kemudian menoleh. Ia menatap lamat-lamat wajah sang kakak.
Seumur hidupnya, ini pertama kali Gisell, melihat Gabby dalam keadaan yang sangat hancur dan ia yakin, rasa sakit yang dialami sang kakak begitu mendalam.
Gisel mengangguk, kemudian tersenyum. “Lakukan apa yang kau harus lakukan, Kak. Jika itu bisa membuatmu lebih baik, aku akan menurut padamu. Aku tidak akan memberitahumu Mommy dan Daddy. Katakan padaku, jika kau butuh bantuan.”
Gabby memeluk Giselle, kemudian melepaskan pelukannya lagi. “Aku akan pulang, dan memberi pelajaran padanya.” Setelah mengatakan itu, dia mengambil tasnya. Lalu menyambar kunci mobil dan pergi dari ruangan adiknya.
Sedangkan Gisell, hanya menghela nafas sambil menggeleng. “Tuhan, tolong lindungi kakaku," ucap Gissel.
•••
“Lacak keberadaanya, aku memberimu waktu 10 menit!” titah Gabby pada seseorang di sebrang sana.
Saat ini, Gabby sedang berada di mobil. Sebelum menelepon seseorang yang ia perintahkan. Ia terlebih dahulu menelpon ke rumah, menanyakan keberadaan Arsen tapi ternyata, Arsen masih belum pulang ke rumah dan membuat emosi Gabby semakin menjadi-jadi. Itu sebabnya, ia menyuruh orang untuk melacak keberadaan Arsen lewat ponsel Arsen.
Tidak sampai 10 menit, ponsel Gaby kembali berdering. Satu pesan masuk dari orang yang yang melacak keberadaan Arsen.
Setelah menerima pesan itu, Gabby langsung kembali menjalankan mobilnya, menuju alamat yang di kirim oleh anak orangnya.
Setelah melewati perjalanan yang cukup jauh, akhirnya Gabby sampai di tempat tujuan. Sebelum turun, Gabby mengambil makeup dari dashboard, kemudian menyapukan makeup ke ke wajahnya. Ia tidak ingin, dua orang laknat itu melihat ia dalam kondisi kacau.
Setelah wajahnya, Fresh, Gabby turun dari mobil, kemudian ia langsung masuk kedalam lobby apartemen. Setelah bertanya pada resepsionis, Gabby pun naik ke lantai atas.
Saat sampai di unit apartemen Arsen, Gabby menghela nafas, kemudian menghembuskannya. Ia berusaha meraup oksigen sebanyak-banyaknya.
Ini titik terkuat Gabby sebagai manusia, di mana Gabby, harus menyaksikan suaminya ada di tempat wanita lain. Dan ini juga titik balik Gabby, sebagai seorang istri. Di mana dia akan membalas semua apa yang dilakukan oleh suaminya.
Perlahan, Gebby menekan tombol bel, ia memencet bel selama beberapa kali. Hingga terdengar suara klik, pertanda pintu akan dibuka, dan muncullah sosok Aren membuka pintu sambil bertelanjang dada.
“Ga-Gabby ... ”
Gaas komen gengs. Ga komen kita ga flend gas vote juga ya