
Jordan terdiam di depan pintu ruang rawat Joana. Tangannya bergetar, matanya sudah membasah. Demi apapun, Jordan ingin sekali berteriak saat barusan Vivian mengatakan bahwa Joana sudah mau bertemu dengannya. Akhirnya setelah 3 bulan berlalu, ia bisa kembali melihat istrinya secara langsung.
Jordan menghela nafas, kemudian menghembuskannya. Ia pun memutar gagang pintu, kemudian masuk ke dalam ruangan. Tepat saat ia masuk, Joanna yang sedang duduk di ranjang langsung menoleh ke arah Jordan. Hingga tatapan mereka saling mengunci.
Bias rindu terpancar keduanya. Namun mata Joana tidak bisa berbohongi, bahwa masih sedikit ada kekesalan di matanya pada Jordan. Saat melangkah, bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk mata Jordan saat Joana menatap ke arahnya.
Jordan menghapus air matanya, kemudian ia berjalan ke arah Joana. Setelah sampai di dekat Joana. Jordan berlutut di hadapan istrinya yang sedang duduk dengan kaki yang menjuntai ke bawah.
Tatapan mereka kembali beradu, kali ini Jordan tidak bisa lagi menahan tangisnya. Apalagi saat melihat wajah Joanna dari dekat. Perlahan, Jordan menggerakkan tangannya kemudian mengelus pipi Joanna.
“Apa kau sudah merasa baikan?” tanya Jordan. Bulir bening kembali terjatuh dari pelupuk mata Joana saat melihat Jordan menangis.
“Ayo kita berpisah!” ucap Joana tiba-tiba. Jordan diam mematung saat mendengar ucapan Joanna, dadanya berdenyut nyeri saat mendengar apa yang diucapkan oleh istrinya.
Jordan menunduk dengan wajah yang masih basah. Sekarang, ia mengerti bagaimana rasanya jadi Joanna saat ia mengajaknya berpisah, ternyata rasanya menyakitkan. Jordan tersadar, ketika Joanna mengelus rambutnya, hingga Jordan kembali mengangkat kepalanya.
Joanna kembali menggerakkan tangannya kemudian menghapus air mata Jordan.
“Aku tidak akan bisa menjadi istri dan ibu yang baik jika aku belum bisa menyembuhkan diriku sendiri. Tolong berikan aku waktu untuk menerima semuanya, tolong berikan aku waktu untuk sendiri terlebih dahulu, aku berjanji setelah aku merasa lebih baik, aku akan pulang kepadamu.”
Jordan tidak menjawab, ia malah merebahkan kepalanya di paha Joana, lelaki yang terkenal dengan dingin itu menangis sesegukan, sedangkan Joanna kembali mengelus rambut Jordan.
Tidak ada lagi pembicaraan setelah itu, mereka fokus dengan pikirannya masing-masing. Ya, inilah titik terakhir yang bisa Joana ambil untuk menyembuhkan dirinya, ia benar-benar pergi dan akan kembali ketika dia benar-benar siap bertemu Jordan. Jika tidak, mereka akan sama-sama terperangkap luka. Setidaknya jarak bisa mengajarkan, bagaimana arti kerinduan.
Setelah sekian lama menangis, Jordan menegakkan kepalanya kemudian ia langsung kembali menatap Joana.
“Sayang, jika itu bisa menyembuhkanmu dan membuatmu kembali padaku, aku akan menunggumu,” ucap Jordan. Joana mengangguk.
Perlahan Joana mendekatkan wajahnya pada wajah suaminya, kemudian ia langsung mengecup kening suaminya, dan detik itu pula, Jordan langsung memeluk pinggang Joanna mencium perut Joana bertubi-tubi.
••••
Axel mengepalkan tangannya saat melihat interaksi Joana dan Jordan. Saat ini Axel sedang berada di depan ruang rawat Joanna dan ia mengintip dari luar.
Tadinya ia berencana untuk menemui Juana dan mendekati gadis itu secara perlahan.
Rupanya, setelah Olivia masuk ke dalam rumah sakit jiwa, Axel menggila karena Joanna tidak lagi kembali padanya. Dan saat mendengar Joana menikah dengan Jordan. Axel sadar, ia tidak bisa lagi mendapatkan Joana.
Saat dulu awal-awal pernikahan Joana dan Jordan. Beberapa kali Axel mencoba untuk mendekati Joana dengan selalu datang ke restoran Joana. Namun saat itu, langkahnya dihadang oleh orang-orang Jordan yang mengawasi Joanna, rupanya Jordan pun sudah tau niatnya.
Bahkan secara langsung, Jordan datang ke hadapan Axel dan meminta Axel tidak mengganggu lagi istrinya, hingga pada akhirnya Axel pun berhenti untuk mengganggu Joanna.
Namun seminggu lalu, saat ia menjemput ibunya di rumah sakit, tanpa sengaja ia mendengar percakapan Jordan dan dokter yang mengatakan tentang kondisi Joanna yang masih enggak di temui oleh Jordan..
Saat mendengar itu, hawa sejuk langsung mengelilingi Axel. Entah kenapa ia kembali berambisi untuk merebut Joana dari Jordan. Axel adalah tipe lelaki yang arogan, ia tidak akan melepaskan siapapun yang sudah menjadi miliknya, termasuk Joanna.
Walaupun sempat menyerah karena ancaman Jordan. Tapi saat mendengar apa yang terjadi dengan Jordan dan Joanna, Axel kembali maju, ia harus mendapatkan Joana lagi, begitulah pikirnya.
“Aishh!”
Tiba-tiba ada yang mencubit punggung Axel dari belakang, membuat Axel menoleh.
“Kau!” umpat Axel saat melihat siapa yang memukul kepalanya, ternyata dia adalah Seina.
“Apa setelah kau kalah dariku kau beralih menjadi penguntit!” ucap Seina, membuat Axel memejamkan matanya.
“Diam kau!” omel Axel. ”Aku tidak menguntit Dan aku juga bukan penguntit!” omelnya lagi. Tak ingin berdebat lagi dengan Seina, Axel memilih pergi dari hadapan Seina, membuat Seina berdecih.
Ia menghampiri Seina dan menatap Seina dengan dingin. “Tutup mulutmu, aku bukan penguntit!” kali ini Axel berbicara dengan nada yang dingin. Namun lagi-lagi, Seina tidak gentar dan tidak takut sama sekali .
“Dasar penguntit!” setelah mengatakan itu Seina menjulurkan lidahnya kemudian ia masuk ke dalam ruangan Joanna, membuat Axel menggeram kesal
“Awas aja akan kuberikan nilai buruk!” umpat Axel, karena memang selain mereka rival di sirkuit, rernyata Axel juga merupakan dosen Seina.
walaupun mereka di luar seperti musuh. Tapi Jika sedang di kampus, Seina akan patuh pada Axel, begitu pun Axel yang menjalankan tugasnya dengan baik sebagai dosen. Jika di kampus, mereka layaknya berhubungan seperti dosen dan mahasiswa pada umumnya. Namun berbeda lagi jika mereka sedang berada di lapangan.
Seina pun sudah tau, Joana pernah di tahan oleh Axel, itu sebabnya, Seina selalu ingin mengalahkan Axel karena ia ingin memukul kesombongan Axel.
dua minggu kemudian
Jordan menggenggam tangan Joana begitu erat, satu tangannya terus mengelus perut Joana, sedangkan Joanna dengan nyaman bersandar di bahu Jordan.
Saat ini, mereka sedang dalam perjalanan ke landasan pacu. Seperti perkataan Joanna dua minggu lalu, ia ingin memenangkan diri sejenak dan Jordan pun menyetujui hingga Joana pergi bersama Vivian, dokter pribadinya.
Joana berencana pergi ke pulau pribadi milik Jordan, dan akan menetap di sana sampai dia tenang. Ini berat bagi Jordan. Tapi ia tidak ingin membuat istrinya semakin terlukq.
Setelah melewati perjalanan yang cukup jauh, akhirnya mobil yang ditumpangi Joana dan Jordan sampai di depan landasan pacu..
Jordan keluar dari mobil dan membantu Joanna untuk turun, dan mereka pun melangkah untuk masuk. Langkah demi langkah yang mereka lewati, mengantarkan mereka pada sakit yang teramat hebat
Bukan hanya Jordan saja sebenarnya yang berat dengan keputusan Joana, Joana pun sama beratnya. Tapi ia sudah banyak berpikir ia tidak ingin ada masalah lain di kemudian hari, itu sebabnya ia lebih memilih untuk menenangkan dirinya sejenak, mengobati dirinya sampai dia benar-benar merasa lebih baik.
Jordan melepaskan genggaman tangannya saat sudah berada di depan pesawat pribadinya. Dan kini, mereka berdiri berhadap-hadapan.
“Jangan mengikutiku, jangan menyusulku. Jika kau menyusulku, aku tidak akan lagi kembali padamu!” kata Joanna. Jordan mengangguk, wajahnya sudah memerah mati-matian berusaha untuk menahan tangis.
“Pergilah, Sayang. Sembuhkan dirimu, aku akan menunggu di sini.” Jordan melepaskan tangkupan bibirnya, kemudian Ia pun, menekuk kakinya, lalu berjongkok, menyetarakan wajahnya dengan perut Joana
Ia mencium perut Joana. Setelah mencium perut istrinya, Jordan kembali menegakan tubuhnya, kemudian ia membiarkan Joanna naik kedalam pesawat.
Dan akhirnya, detik-detik menyakitkan bagi Jordan pun tiba. Pesawat sudah menyala dan beberapa detik lagi mungkin akan lepas landas, hingga Jordan menjauh dan ketika pesawat mulai bergerak, Jordan menggerakkan tangannya. Ia melambaikan tangannya pada Joana yang sedang melihatnya dari jendela.
“Pergilah, Sayang. Aku akan menunggumu kembali.” Jordan menghapus sudut matanya yang berair, kemudian berbalik dan berniat untuk pulang.
•••
Setelah melewati perjalanan selama 2 jam, akhirnya pesawat yang di tumpangi Joanna sampai di pulau pribadi milik Jordan. Pintu pesawat terbuka, Joana pun turun dibantu oleh Vivian.
Dan ketika Joanna akan menginjak anak tangga. Joana menghentikan langkahnya, saat melihat siapa yang ada berdiri di depan pesawat.
“A-Ayah ....” Joana diam terpaku saat melihat Hansel. Ia mengucek matanya saat Hansel tersenyum padanya
“Tidak, aku pasti hanya berkhalusinasi.” Joana menggeleng-gelengkan kepalanya, kemudian melihat ke arah Vivian
“Dok, apa kau melihat lelaki itu? ” Joana menunjuk Hansel dengan dagunya.
“Ah, benar, kau pasti mengatakan aku hanya berkhalusinasi.” Joana kembali berbicara, sebelum Vivian menjawab, karena ia yakin, sang ayah hanya khalusinasinya saja.
Mana mungkin, ayahnya ada di depannya, dan tersenyum padanya. Itu sangat mustahil.
Gengs udh panjang banget lhoo, plis inimah gas komen ye