
“Tuhan tolong aku .... Tuhan, ini sakit!” Joana berucap lirih, air Mata mengenang membasahi wajah cantiknya, wajahnya sudah tidak karuan belum lagi darah yang keluar dari kening dan kepalanya, lalu rambutnya yang berantakan membuat kondisi Joana terlihat sangat menyedihkan.
Dingin, perih, nyeri semua bercampur aduk menjadi satu. Tangisan Joana terdengar sangat pilu, rasanya, ia benar-benar ingin menyerah.
Di tengah rasa sakit yang melanda, Tiba-tiba wajah Jordan melintas di otaknya.
“Paman Jordan tolong aku!” Joana berucap dengan suara yang super pelan, pelukannya terurai, tubuhnya benar-benar sudah melemah. Saat rasa sakit menerpa, Ia hanya memikirkan Jordan, berharap lelaki itu datang menyelamatkannya walaupun tidak mungkin.
Lalu setelah mengingat Jordan, tiba-tiba tangis yang tadi berupa isakan menjadi tangisan yang mengencang. Rasanya ia tidak sanggup lagi untuk terus begini, sebab ia tahu penyiksaan tidak akan berhenti sampai di sini, sang ibu tidak akan membiarkannya hidup tenang.
Tanpa sengaja, Joanna melihat ke arah botol yang berisi pembersih serangga yang tadi dilemparkan sang ibu padanya. Dengan tangan gemetar, Joana mengambil pembasmi serangga tersebut. Sungguh, ia tidak sanggup jika terus hidup seperti ini, ia lebih baik mati daripada harus hidup dengan penuh kesakitan.
Joana membuka botol tersebut, masih dengan tangan yang gemetar. Joanna mengangkat botol itu mendekatkannya ke mulut dan ...
••••
Jordan mengambil paperbag yang tadi diberikan oleh Joana, paperbag yang berisi makan siang. Entah kenapa Jordan merasakan, hatinya tersayat saat melihat makanan yang dibawakan oleh Joana.
Ia mengambil sumpit, lalu memakan makanan itu. Saat makanan itu masuk ke dalam mulut, wajah Joana kembali melintas, hingga ia langsung menaruh sumpitnya dan langsung menutup kotak makan itu. Rasanya, ia tidak sanggup lagi memakan masakan Joana. Ia harus benar-benar menghilangkan Joana dari pikirannya dan tak boleh mengingat hal sekecil apapun yang Joana lakukan.
•••
Jordan masuk ke dalam restoran, ia langsung mengangkat tangannya, memanggil pelayan untuk memesan makanan. Lagi-lagi Jordan merasakan rasa sesak kala bayangan Joanna melintas di otaknya. Entah kenapa, ia merasakan rasa sesak yang luar biasa hebat ketika mengingat wajah gadis itu.
Jordan menghela nafas, kemudian menghembuskannya. Ia pun berencana untuk mengajak Nael makan bersama. ia yang tadinya akan menelpon Nael menghentinan niatnya, dan malah memanggil anak buahnya untuk memastikan keadaan Joana
“Bagaimana keadaan gadis itu?” tanya Jordan pada anak buahnya.
“Apa!” Jordan terpekik, ia bahkan bangkit dari duduknya. Ia terlalu terkejut saat anak buahnya mengatakan bahwa Joanna tidak ingin diikuti dan sedari tadi, Joana pergi seorang diri. Rupanya, Joana meminta anak buah Jordan untuk tidak mengikutinya karena ia akan menyerahkan dirinya pada sang ibu.
Setelah mendengar jawaban anak buahnya, Jordan mematikan panggilannya, hatinya mendadak tidak tenang. Ia pun segera keluar dari restoran tersebut, membatalkan niatnya untuk makan. Ia hanya meninggalkan uang untuk membayar makanan yang telah Ia pesan. kemudian Ia pun keluar dari restoran tersebut.
Jordan mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh, ia menelpon nomor Joana. Namun nihil, Joana tidak bisa dihubungi.
Tidak, Jordan tidak akan memaafkan dirinya sendiri jika terjadi sesuatu pada gadis itu ....
Yuks gengs bantuin Komen ya. Ini udah panjang banget, yuks gengs bisa Yo Bayar aku pake komen kalian aja 😘