Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Tak perlu bertanya


Saat Gabby masih terdiam, ia menarik dagu Gabby memaksa Gabby untuk melihat ke arahnya. Hingga tatapan Gaby dan tatapan Nael saling mengunci, keduanya saling tatap dengan rasa cinta yang sama. Hanya saja, Gabby masih terhalang gengsi. Sedangkan Nael sudah tidak peduli lagi dengan rasa gengsi, yang ia pikirkan adalah bagaimana cara mengikat Gabby dan mengikat anak-anaknya.


“Gabby, usia kita sudah tidak lagi muda. Laura dan Naura akan beranjak dewasa. Aku ingin memberi Laura dan Naura keluarga yang utuh. Jadi, Bukankah tidak ada alasan lagi untuk kita menunda pernikahan?” tanya Nael.


“Jadi kau ingin menikahiku karena kau hanya ingin memberi keluarga yang utuh bagi Laura dan Naura. Lalu bagaimana dengan hatiku?” tanya Gabby. Pada akhirnya, ia meluruhkan seluruh gengsi yang sedari tadi ia genggam. Hati Gabby tergugas saat mendengar ketulusan dari Nael.


Nael menggeleng. “Apa Kau pikir, aku sepicik itu?” tanya Nae.


“Mana aku tahu, itukan pikiranmu. Bagaimana mungkin aku bisa membaca otakmu.” tiba-tiba Gabby membuyarkan suasana serius, membuat Nael menghela nafas


“Gabby dengarkan aku. Akan percuma jika aku menjabarkan penyesalanku kebelakang, akan percuma juga bagaimana aku menceritakan tentang perjuanganku untuk mendapatkan hati Laura dan Naura, termasuk aku bisa berada di sini. Tapi aku menikahimu, bukan hanya karena semata-mata ingin Laura dan Naura mendapat keluarga yang utuh. Aku menikahimu karena aku mencintaimu.”


Mata Gabby membeliak tajam, pupil matanya melebar saat mendengar ucapan Nael yang mengatakan bahwa Nael mencintainya. Jika dipikir untuk ini untuk pertama kalinya Gabby mendengar Nael mengungkapkan cinta padanya, bukan dengan kata candaan. Dari sorot mata Nael, dia bisa merasakan bahwa ucapan Nael benar-benar serius.


“Nael, Bagaimana mungkin kau mengajak aku menikah, saat kau belum membereskan kekacauan yang kau buat.”


Nael mengerutkan keningnya, saat mendengar ucapan Gabby. “Kekacauan apa?”


“Kau memalsukan kematianmu di Rusia. Lalu bagaimana kau menghadapi Ayah dan ibumu. Bagaimana kam menghadapi keluargamu Bagaimana perasaan mereka saat tahu kau masih hidup dan membohongi mereka.”


Seketika Nael terdiam. Ia terlalu larut dalam mengejar hati kedua putrinya. Hingga ia tidak memikirkan bagaimana reaksi keluarganya, jika tahu dia masih hidup Bagaimana reaksi ayah dan ibunya jika tahu ia berbohong


Kali, ini Nael yang tertunduk dengan mata yang berkaca-kaca, Gabby melingkarkan tangannya pada bahu Nael, kemudian mengelus punggung Nael.


tiba-tiba Nayla mengangkat kepalanya lalu ia menatap Gabby. “Gabby, bagaimana caranya aku menemui kedua orang tuaku?” tanya Nael dengan bibir bergetar. Gabby menghela nafas, iya tahu Apa yang sedang dirasakan oleh Nael.


“Nael, pertama pulanglah ke Rusia temui mereka dan katakan semuanya pada mereka,” jawab Gabby dan satu lagi. Tolong temui Gabriel. Jika Gabriel mengijinkan dan merestuimu, maka kau tidak perlu bertanya lagi ,aku bersedia menikah denganmu,” ucap Gabby. Ucapan Gabby barusan bagai angin segar yang menabrak Nael, semangatnya kembali membara saat mendengar ucapan Gaby.


” Tapi kau jangan senang dulu, Gabriel bukan tipe orang yang mudah memaafkan orang lain.” Seketika semangatnya kembali luntur saat mengingat siapa Gabriel dan bagaimana Gabriel membuat Gaby menutup mulut menahan tawa saat melihat wajah Nael yang panik.


“Ini sudah malam, pulanglah. Aku juga harus pergi pagi ke Rumah sakit.”


“Gabby, beri aku semangat. Aku butuh semangatmu!” pinta Nael. Gabby tersenyum, kemudian mengelus rambut Nael.


“Bukan semangat seperti itu!" kata Nael, membuat Gabby bingung.


”Lalu semangat seperti ap ....” Tiba-tiba Gabby menghentikan ucapannya saat merasakan senjata Nael menegang. Dan ia mengerti apa yang di rasakan Nael.


“Naeellll!”


Plakk


Gabby menggeplak kening Nael, membuat Nael meringis.


Gengs nanti malem buat nemenin kalian takbiran aku mau update lagi. tapi aku bener-bner lagi butuh 500 komentar yuks gaslah