
"Jadi maksudmu, selama ini kau tidak bersama dengan Shakira?" tanya Jonathan, dia menatap Immanuel dengan wajah yang memucat saat mendengar kekeliruannya.
"Aku ini jarang sekali bertemu dengannya, bahkan satu tahun kemarin aku di luar negeri.
“Tapi bukankah kau bekerja di rumah sakit yang sama dengannya?” tanya Jonathan dengan suara yang lirih.
"Saat Shakira menikah, aku sudah keluar dari rumah sakit itu dan aku membangun rumah sakit sendiri. Jadi dengan kata lain, aku sama sekali tidak pernah bekerja di rumah sakit yang sama dengannya setelah dia menikah," jelas Imanuel.
Tak lama, Jonathan memegang tihang yang ada di sebelahnya, lututnya terasa lemas mendengar apa yang Immanuel katakan. Dia tampak seperti orang linglung.
"Are you oke?" tanya Immanuel saat melihat wajah Jonathan yang tampak pucat.
Jonathan tidak menjawab, dia malah berbalik kemudian berjalan ke arah mobilnya. Ini terlalu mengejutkan untuk dia yang sudah salah paham pada wanita itu selama empat tahun lamanya.
"Shakira," lirih Jonathan tiba-tiba. Dia yang sedang berjalan pelan, langsung berlari ke arah mobil. Dia tidak ingin kehilangan jejak Shakira.
Sampai akhirnya, dia pun tiba di apartemen miliknya. Dia datang ke sini sebagai usaha untuk mencari jejak ke mana Shakira pergi. Dia berharap ada petunjuk keberadaan wanita di kamar.
Jonathan turun dari mobil, kemudian dia berlari. Setiap langkah yang ia lalui mengantarkan pada rasa takut yang luar biasa.
Bayangan Shakira pada dua bulan kemarin yang selalu berusaha memperbaiki hubungan mereka, menubruk otak Jonathan membuat lelaki itu merasa sesak.
Jonathan membuka pintu, dia langsung berlari ke kamar Shakira. Namun, kosong. Kamar itu terlihat sangat rapi dan ketika dia berada di dalam sana, hidungnya bisa mencium aroma khas wanita itu.
Hati Jonathan kian pedih. Dia langsung berlari ke walk-in closet kemudian membuka pintu lemari dan mengeluarkan semua pakaian Syakira dari sana, berharap ada sesuatu yang wanita itu tinggalkan.
Secara tiba-tiba, Jonathan terdiam ketika mendengar suara benda terjatuh. Dia langsung mengalihkan pandangannya ke lantai. Napas pria itu terasa tercekat melihat sebuah cincin tergeletak di lantai.
Jonathan mengambil cincin tersebut dengan tangan gemetar, dia memperhatikannya kemudian menangis tergugu saat menyadari bahwa itu adalah cincin pernikahan mereka yang sudah Shakira lepaskan.
"Shakira," lirih Jonathan. Dia merasa tak punya kekuatan usai tenggelam pada rasa sesal yang semakin dalam.
Pada saat itu, ponsel Jonathan berdenting pertanda sebuah pesan masuk dari Joshua. Rahang Jonathan mengeras ketika melihat apa yang dikirimkan saudara kembarnya, yakni foto-foto yang di edit olehnya.
"Sialann!" umpat Jonathan. Lelaki itu pun langsung bangkit. Dia seolah mendapatkan kekuatan secara tiba-tiba hingga dia yakin, bisa digunakan untuk menghajar adiknya.
***
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Joshua sampai di pekarangan mansion Gaby. Dia pun turun lalu dengan cepat berjalan masuk ke dalam sana.
"Joshua! Joshua!" teriak Jonathan dengan suara yang sangat keras, hingga Nael yang sedang berada di belakang rumah, langsung menghampiri putranya.
"Jonathan, ada apa?" tanya Nael.
"Dan mana Joshua ..." Jonathan menghentikan ucapannya saat melihat Joshua yang menghampirinya. Pria itu sudah tahu bahwa dia akan datang ke mari.
"Brengsekk!" teriak Jonatan. Dia langsung menghampiri adiknya kemudian memberikan hadiah berupa bogeman di pipi Joshua hingga membuat Joshua terjatuh ke lantai.
Nael yang melihat perlakuan Jonathan pada Joshua, langsung menghampiri keduanya. Dia menarik salah satu dari mereka lalu bertanya, "Ada apa ini?!"
"Kau tahu apa yang dilakukan orang ini, Dad?!" teriak Jonathan menunjuk Joshua yang tampak santai.
Joshua bangkit dari lantai kemudian menatap Jonathan dengan seringai penuh ejekan, dan itu membuat kakak kembarnya semakin meradang.
"Kenapa? Aku ingin memberikanmu pelajaran supaya kau menyesal karena kau telah menyia-nyiakan Shakira. Aku melakukan ini bukan untuk menghancurkanmu, tapi membantumu."
"Apa yang terjadi?" Tiba-tiba Nael berbicara dan menatap putranya bergantian dengan penuh tanya. Padahal selama ini yang dia ketahui bahwa hubungan anak dan menantunya baik-baik saja.
"Apa maksudmu, Joshua?" tanya Nael.
"Aku tahu bahwa selama empat tahun ini, dia mengabaikan istrinya hanya karena Shakira bekerja di rumah sakit lagi."
Nael menatap ke arah Jonathan. "Jonathan, apakah yang dikatakan Joshua itu benar?" tanyanya.
"Kau tahu, Dad, Shakira selama ini memendam rasa sakit karena ulahnya," ucap Joshua dengan pembawaan yang tenang menjelaskan apa yang terjadi di rumah tangga kakaknya.
Tidak lama kemudian, semua orang yang ada di sana langsung pergi ketika Gaby datang dan secara tiba-tiba menampar Jonathan.
"Apa kau benar-benar melakukan itu pada Shakira?" tanya Gaby.
Sedari tadi, dia sudah mendengar apa yang diucapkan oleh Joshua. Dia melakukan itu karena berpikir bahwa apa yang dilakukan Jonathan sudah sangat keterlaluan.
***
Jonathan masuk ke dalam apartemen dengan wajah yang lebih dari sekedar memucat. Barusan, Setelah dari mension orang tuanya, dia memutuskan untuk pulang. Sungguh, dia merasa tidak sanggup melakukan apapun.
Jonathan membuka pintu kamar Shakira. Bulir bening langsung jatuh dari pelupuk matanya saat melihat bayangan wanita itu sedang beraktivitas di sana.
Namun tak lama, bayangan itu menghilang ketika tubuh Jonathan ambruk ke lantai. Dia menangis meraung memanggil nama istrinya yang telah dia sia-siakan. Bahkan sebelum Shakira pergi, dia menyakiti wanita itu dengan sedemikian rupa.
***
Setahun berlalu, kini tampak Shakira turun dari pesawat. Dia menghirup udara negaranya kemudian berjalan ke arah pintu keluar. Wanita itu berniat untuk menikmati secangkir kopi hangat mengingat cuaca yang sedang dingin.
Beberapa saat kemudian, Shakira yang sudah menyeruput kopi, menatap ke arah jendela. Dia memperhatikan keluar menatap hujan yang sedang turun dengan senyum mengembang di bibirnya.
Setelah sekian lama, dia memutuskan untuk kembali lagi ke negara ini yang merupakan tempat asalnya. Selama satu tahun ini pula, dia begitu enjoy menjalani harinya di Afrika dan berbaur dengan warga di sana.
Sekarang pun, andai kontraknya tidak berakhir, dia tidak akan pulang dari sana. Awalnya dia memang merasa berat karena harus pergi dengan keadaan dia yang bercerai, tapi seiring berjalannya waktu dia mulai terbiasa menjalani hidup penuh kebahagiaan.
Selama di sana, Shakira tetap mendengar kabar Jonathan dari mantan mertuanya, bahwa sekarang pria itu berada di rumah sakit jiwa.
Pada akhirnya, setelah ditinggalkan Shakira sekian lama tanpa ada jejak sedikit pun, Jonathan kehilangan akalnya.
Awalnya, Jonathan hanya sering menangis. Namun lama kelamaan, dia selalu berbicara sendiri dengan menyebut nama Shakira hingga dia pun berubah menjadi sosok yang kasar. Dia sering mengamuk dan tak segan melukai diri sendiri.
Melihat keadaannya, Gaby dan Nael pun memasukkan Jonathan ke rumah sakit jiwa. Selama dirawat di sana, pria itu tidak pernah mau makan apapun.
Fisik Jonathan terlihat begitu kurus seolah hanya tinggal tulang berbalut kulit. Semakin hari, keadaannya semakin mengkhawatirkan.
Gaby pernah mengirim foto Jonathan pada Shakira, dia berharap wanita itu pulang dan membantu Jonathan agar bisa sembuh. Namun tampaknya, hati wanita itu telah tertutup.
Mungkin orang lain bilang Shakira jahat, karena tidak bersedia membantu Jonathan yang sekarang sedang kehilangan akalnya. Namun, tidak ada seorang pun yang tahu persis bagaimana deritanya saat dia masih menjadi istri pria itu.
Shakira mengerjap tersadar dari lamunannya. Dia tersenyum tipis mengingat masa lalunya yang begitu pedih. Namun sekarang, dia sudah bahagia.
***
Joshua menatap Jonathan yang sedang berbicara seorang diri. Mata Lelaki itu berkaca-kaca. Dia sungguh menyesal telah melakukan itu pada saudara kembarnya i.
Andai dia tidak memakai cara kemarin, maka mungkin Jonathan tidak akan seperti ini. Dia sudah beberapa kali meminta Shakira untuk pulang sebentar dan menemui saudaranya dengan harapan agar pria itu sembuh, tapi Shakira berikeras menolak.
Hal itu membuat Joshua tak berdaya. Selama Jonathan dirawat, dia tidak pernah pergi dari rumah sakit jiwa, dia bahkan tinggal di sana sekadar untuk mengawasi kakanya.
Gaby mengusap lembut bahu putranya. Dia baru saja datang dan mengantarkan makanan untuk Joshua.
Joshua menghapus sudut matanya yang berair kemudian dia tersenyum. "Oh, Mom."
"Ayo makan."
Saat Joshua akan menerima kotak makan itu, tiba-tiba mereka mendengar teriakan Jonathan membuat Joshua bergerak cepat membuka sel.
Joshua dengan sekuat tenaga menghentikan Jonathan yang terus mendorong kepalanya ke tembok.