
Savana menunduk, bahu wanita itu gemetar. Beberapa orang yang ada di cafe tersebut melihat aneh ke arah Savana, bagaimana tidak, wanita itu menangis dengan suara yang cukup kencang.
Savana sudah tidak bisa menahan rasa sakit yang dia rasakan, kehilangan anaknya, kehilangan kedua orang tuanya, diabaikan oleh suaminya dan rasanya Savana benar-benar ingin menyerah. Dia lelah dengan hidupnya sendiri. Dia merasa tidak dicintai oleh siapa pun, dan tidak diinginkan oleh siapa pun.
Joshua masih mencerna apa yang diucapkan oleh Savana, hingga sepersekian detik dia tersadar ketika mendengar tangisan Savana yang sangat kencang, membuat Joshua langsung bangkit dari duduknya, kemudian lelaki itu langsung menghampiri Savana.
"Ayo kita pulang," ucap Joshua.
Savana menoleh ke arah samping ketika mendengar suara Joshua. Rasa malu langsung menghinggapinya. Dia yakin Joshua sudah mendengar pembicaraan ia dan pengacara kedua orang tuanya.
Saat Joshua tahu bahwa dia adalah anak seorang konglomerat Joshua bersikap buruk padanya, apalagi sekarang di mana suaminya tahu bahwa dia hanya anak adopsi, yang pasti suaminya akan lebih bersikap semena-mena padanya.
"Ayo pulang," ucap Joshua yang menyadarkan kembali Savana. Karena Savana tidak bergerak, Joshua langsung menarik lembut tangan wanita itu kemudian dia langsung membawa keluar dari cafe dan berjalan ke arah mobil.
Joshua mengendarai mobilnya dengan kecepatan pelan. Sesekali lelaki itu menoleh ke arah istrinya yang tampak melamun, dan menolehkan kepalanya ke arah jendela. Dia ingin memanggil Savana, tapi sepertinya Savana sedang tidak ingin diganggu.
***
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Joshua sampai di basement.
"Savana," panggil Joshua.
Savana yang sedang melamun, tersadar. Dia tersenyum tipis kemudian keluar dari mobil. Rasanya, Savana begitu malu menatap Joshua hingga dia langsung memutuskan untuk berjalan terlebih dahulu, sedangkan Joshua menyusul di belakang istrinya.
Savana masuk ke dalam kamar, kemudian dia membanting tubuhnya di ranjang. Seolah belum cukup tangis yang dia keluarkan tadi, kali ini dia kembali menangis, mengingat kesakitan yang dia rasakan. Apakah dia terlalu kekanak-kanakan di masa lalu? Apakah dia melakukan dosa, sampai dia harus menerima hukuman seperti ini? Begitulah pikir wanita itu.
Saat menangis, tiba-tiba ponsel Savana berdering hingga wanita itu bangkit dari berbaringnya, kemudian merogoh saku kemudian mengambil ponselnya. Lalu setelah itu, menerima telepon.
"Apa kau jadi bekerja paruh waktu di restoran ini?" Ternyata, yang menelepon adalah orang yang akan memberikan pekerjaan part time pada Savana.
Savana belum menjawab. Jangankan menjawab, memikirkan tentang kehidupannya saja dia begitu muak. Namun, sepersekian detik kemudian Savana tersadar. Dia tidak punya siapa pun sekarang, dia tidak punya apapun dan dia hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri.
"Baik, aku akan pergi ke sana sekarang," jawab Savana.
Setelah itu Savana mematikan panggilannya. Dia menghapus air matanya kemudian wanita itu langsung turun dari ranjang. Lalu setelah itu, berjalan ke arah kamar mandi untuk menyegarkan dirinya.
Lima belas menit kemudian, Savana sudah rapi. Dia memakai make-up tipis di wajahnya agar tidak terlihat bahwa sehabis menangis. Saat dia akan keluar, tiba-tiba Savana meringis. Dia memegang gagang pintu, lalu mendudukkan dirinya sejenak di lantai, karena keram yang dirasakan Savana kembali lagi. Sepertinya, obat yang diminum oleh Savana masih ada sedikit reaksi di perutnya, hingga terkadang Savana merasakan keram.
Sepuluh menit kemudian, keram di perutnya sudah sedikit menghilang, hingga wanita itu langsung bangkit dari lantai kemudian keluar dari kamar. Kebetulan saat dia keluar, ternyata Joshua baru saja keluar dari kamarnya dan berencana ke dapur.
Joshua mengerutkan keningnya saat melihat Savana yang tampak rapi.
"Savana, kau mau ke mana?" tanya Joshua.
Savana tersenyum. "Aku ada urusan, Paman. Kalau begitu sampai jumpa," ucapnya.
Setelah Savana pergi, Joshua masih terdiam di tempat. Entah kenapa, perasaannya mendadak tidak enak. Namun tak lama, dia menggelengkan kepalanya. Mungkin Savana membutuhkan waktu untuk sendiri, apalagi Savana baru saja mengalami hal yang menyakitkan.
Saat dia akan pergi ke dapur, tiba-tiba langkah Joshua terhenti ketika melihat kamar Savana yang sedikit terbuka. Seperti ada magnet yang menarik Joshua untuk pergi ke sana, hingga lelaki itu membatalkan niatnya untuk pergi ke dapur dan setelah itu dia masuk ke kamar Savana.
Joshua termenung saat melihat kamar Savana yang tampak polos. Tidak ada perintilan-perintilan yang selama ini terjajar di sana. Karena rasa penasaran di dada, Joshua masuk lebih dalam ke kamar istrinya, dan sekarang di kamar Savana benar-benar tidak ada apapun.
Joshua mendudukkan diri di ranjang. Entah kenapa, ketika berada di kamar ini dia merasa hampa, hingga tak sengaja tatapannya teralih pada laci yang sedikit terbuka, dan Joshua pun langsung menarik laci tersebut. Di sana, ada sebuah kertas yang tak lain kertas USG milik anaknya.
Joshua mengambil kertas itu. Dia tidak mengerti tentang kertas yang dia pegang, yang dia lihat itu hanya gumpalan berwarna hitam. Namun, entah kenapa kertas itu mampu menarik perhatian Joshua, dan bahkan tanpa sadar bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk mata lelaki itu. Di sana, tertera tanggal di mana Savana melakukan pemeriksaan kehamilan, dan itu tepat ketika dia berdebat dengan Savana di basement dan menyuruh istrinya menggugurkan kandungannya.
Joshua merasa pedih. Tuhan, apa yang aku lakukan?
Pada akhirnya, penyesalan kembali mendera Joshua. Satu kertas itu mampu membuat Joshua tercerai-berai, hingga kini dia benar-benar menyadari bahwa semua adalah salahnya.
"Savana," lirihnya. Entah kenapa perasaan Joshua tiba-tiba tidak enak ketika melihat barusan Savana keluar dari apartemen, padahal dia tahu bahwa istrinya baru saja mendapatkan guncangan yang sangat hebat.
Tanpa pikir panjang, Joshua langsung bangkit dari duduknya kemudian keluar dari kamar Savana.
Dua jam kemudian.
Joshua sudah mencari Savana lebih dari dua jam, tapi lelaki itu tidak menemukan keberadaan istrinya, hingga tanpa sadar dia teringat Ameera. Joshua mengutak-atik ponselnya kemudian dia langsung menelepon keponakannya, tapi sepertinya nomornya diblokir oleh Ameera, karena semenjak kejadian itu Ameera benar-benar memusuhi Joshua. Dia bahkan tidak mau menegur pamannya ketika berpapasan.
Sepertinya, menelepon Ameera bukan langkah yang tepat, sehingga dia memutuskan untuk langsung datang ke rumah Naura, kakaknya.
Di sinilah Joshua berada, di depan rumah mewah Naura. Dia pun langsung bergegas turun dari mobil, kemudian berjalan ke arah dalam.
"Kak," panggil Joshua pada Alvaro, kakak iparnya.
"Ameera mana?" tanya Joshua.
"Ameera di kamarnya," kata Alvaro lagi.
Tanpa basa-basi, Joshua pun langsung masuk ke dalam kemudian dia berjalan ke arah kamar Ameera.
"Ameera," panggil Joshua ketika masuk.
Ameera yang sedang menonton televisi, langsung berdecak malas saat melihat Joshua. "Apa?" kata Ameera ketika Joshua masuk ke dalam kamarnya.
"Apa kau tahu di mana Savana sekarang?" tanya Joshua. Dia tidak berani menatap keponakannya.
"Mungkin dia sedang menenggak racun di gereja," kata Savana membuat mata Joshua membulat.