
Nael maju, kemudian ia menghajar Andre secara membabi buta, ia gelap mata dan tidak peduli apapun lagi. Di mata Nael menantunya harus hancur. Ia tidak akan membuat Andre hidup tenang, karena Andre telah menghancurkan hidup putrinya.
“Daddy!” pekik Laura. Saat sedang menghajar Andre, Laura berteriak. Ia berjalan ke arah Nael, kemudian ia langsung memeluk sang ayah hingga Nael menghentikan gerakannya.
Saat Laura memeluknya, nafas Nael memburu, ia menurunkan kursi yang sedang ia pegang kursi yang akan ia hantamkan pada tubuh Andre, lalu ia mencoba mengatur nafasnya.
Nael merasakan tubuh Laura bergetar, hingga ia benar-benar harus menghentikan jajar pada Andre. Sungguh, sebenarnya ia tidak ingin menampilkan amarahnya, tapi apa boleh buat, emosinya benar-benar terpancing.
“Aku tidak akan pernah membiarkan hidupmu tenang!” teriak Nael pada Andre yang masih terkapar. Nael melepaskan pelukan Laura kemudian ia menggenggam tangan putrinya setelah itu ia mengajak putrinya untuk keluar dari apartemen, meninggalkan Andre yang terkapar.
Saat Laura berada di dalam mobil, tangis Laura tidak kunjung berhenti. Rasa sesak pedih nyeri begitu menghantamnya saat mendengar hinaan Andre. Nael yang sedang mengemudi menggenggam tangan Laura.
“Menangislah jika kau merasa belum puas,” ucap Nael. Setelah mengatakan itu Nael pun kembali fokus mengemudi dan ia berencana untuk pergi ke apartemen Seina, menitipkan Laura di sana. Ia ingin membuat Laura tenang, karena ia yakin Laura belum siap bertemu Naura.
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai Nael, sampai di basement apartemen Seina. Ia pun langsung mengambil tisu kemudian ia menghapus air mata putrinya. “Ayo turun!” ajak Nael. Nael turun dari mobil, kemudian membukakan pintu untuk Laura dan membantu Laura turun dan mereka pun berjalan ke arah lift untuk ke unit apartemen Seina.
“Laura!” pekik Seina, ia begitu terkejut saat melihat Laura dengan kondisi kacau, dan disampingnya ada Nael.
Laura tersenyum lemas, ia mengerti dengan tatapan Seina. Namun, ia tak ada tenga untuk menjelaskan semuanya pada Seina.
“Paman titip Laura di sini, jangan beritahukan keberadaan Laura pada Naura. Nanti akan lama jelaskan semuanya,” kata Nael. Seina hanya mengganggukan kepalanya.
“Ayo masuk Laura!" Seina mengajak Laura untuk masuk.
“Tidurlah di kamarku. Aku akan membuatkanmu makanan,” titah Seina. Laura mengangguk kemudian Ia pun masuk ke dalam kamar Seina.
Laura mengelus perutnya, “Tidak apa-apa jika Mommy berpisah dengan Daddy. Setidaknya Daddy masih menyayangimu. Dan kau tidak harus hidup seperti Mommy dulu.”
Laura berusaha untuk menegarkan hatinya. Mungkin sekarang berat. Tapi, ia yakin suatu saat kondisinya pasti akan baik-baik saja.
Beberapa hari kemudian
Naura turun dari mobil, kemudian ia langsung berjalan ke arah kantor Andre. Rupanya, Naura sudah tahu tentang apa yang terjadi, karena tanpa sengaja ia mendengar ucapan Nael pada Gabby. Naura tidak bisa menahan emosinya, hingga ia langsung pergi ke kantor mantan kekasihnya.
••••
“Naura!” panggil Andre ketika Naura masuk ke dalam ruangannya, Ia pun bangkit dari duduknya untuk menghampiri Naura.
Plak ....
Satu tamparan mendarat di pipi Andre, hingga Andre hanya bisa terdiam. Ia terlalu terkejut dengan gerakan Naura yang tiba-tiba.
“Berani sekali kau mempermainkan kakakku!” teriak Naura dengan emosi, ia bahkan memukuli tubuh Andre secara membabi buta
Sedangkan Andre hanya diam, ia membiarkan Naura memukuli tubuhnya.
Scroll gengs