Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Kita harus berhati-hati


Arsen berjalan kesana kemari di dalam kamar. ini benar-benar aneh, Gabby benar-benar berbeda. Untuk pertama kalinya, Gabby pergi ke rumah sakit sebelum ia bangun, sikap Gaby pun berubah tiba-tiba.


Ia ingat kecurigaan Gabby semalam, ia mengusap wajah kasar saat menyadari sesuatu, bahwa istrinya memang benar-benar mencurigainya, dan berpura-pura percaya kepadanya.


Saat ia baru saja alakan menyusul Gaby ke rumah sakit, langkahnya terhenti saat terdengar suara ponselnya berdering. Ternyata satu panggilan dari kantor, mengatakan bahwa ada kasus yang harus ia tangani.


Dengan terpaksa, ia menunda untuk menyusul Gabby ke rumah sakit dan pergi ke kantornya. Saat sampai di kantor, Arsen berpapasan dengan Kristin, yang baru saja mengantar klientnya.


Saat berpapasan dengan Arsen, Kristun langsung mengajak Arsen untuk ke ruangannya.


“Jangan begini, Kristin,” ucap Arsen ketika Kristin menyudutkannya Kedinding, Kristin menjauhkan tubuhnya dan menegakkan badannya, lalu menatap Arsen dalam-dalam, tak biasanya Arsen seperti ini.


“Arsen, tak biasanya kau seperti ini,” ucap Kristine, Arsen memegang bahu Kristine, “Kristine, sepertinya kita harus berhati-hati sekarang dan kita jangan dulu bertemu di luar, Gabby sudah curiga kepadaku, bahkan hari ini Gabby tidak menegurku dan tidak pamit saat akan berangkat ke rumah sakit,” ucap Arsen membuat Kristine terdiam.


Rasanya, ia kesal ketika Arsen terus, menyebut nama Gaby Gaby dan Gaby lagi. Tapi ia pun mengerti posisinya, bahwa ia hanya sebagai selingkuhan Arsen.


“Tapi bukankah kita bisa bermain di apartemen Arsen, itu tempat aman kita bisa bertemu,” jawab Kristine lagi yang mencoba nego dengan Arsen. Rasanya, ia tak mau Arsen dekat-dekat lagi dengan Gabby


“Kristine, dengarkan aku. Bisa jadi, Gabby atau mertuaku sedang mengawasiku sekarang, dan aku tidak boleh gegabah. Jika kita gegabah, kita juga yang rugi. Aku tidak menjamin, aku dan kau akan sama-sama bertahan disini. Bahkan, kita bisa lebih hancur dari apa yang kita bayangkan,” ucap Arsen membuat Kristin menghela nafas, kemudian mengangguk.


”Kalau Begitu aku pergi, aku akan megirimkan uang yang banyak, bersenang-senanglah,” setelah mengatakan itu, Arsen keluar dari ruangan Kristin, membuat Kristine menyentak nafas kesal.


Kristine tidak berkaca bahwa dialah pengganggu yang sesungguhnya.


Waktu menunjukkan pukul 2 pagi, Gabby keluar dari ruangannya untuk mengecek Nael yang sudah berada di ruang ICU.


Operasi berjalan lancar dan sukses, sudah beberapa jam setelah operasi, akhirnya Nael sadarkan diri, dan kini waktunya ia untuk mengecek kondisi Nael.


Saat sampai di ruangan ICU, ternyata Nael sedang membuka matanya. Kemudian, Gabby menghampiri brangkar Nael.


“Kau ingin minum?” tanya Gabby, Nael mengedipkan matanya, karena ia belum bisa banyak berbicara.


Gabby membuka tutup botol, lalu menuangkan air pada gelas, dan setelah itu, membantu Nael untuk minum dengan sendok.


“Istirahatlah, besok pagi, aku akan mengecek kondisimu lagi,” ucap Gabby pada Nael, setelah ia memeriksa kondisi Nael. Saat Gabby akan berbalik, Nael menyentuh tangan Gabby membuat Gaby menoleh.


“Ada apa?” tanya Gabby.


“Bisa kah kau mengusap bahuku?” ucap Nael membuat Gabby mengerutkan keningnya.


Tinggalin komen gengs