Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Ajakan pulang bersama


“Giseel, kenapa kau tegang sekali?” tanya Stev, ia menoleh ke arah Gisel dan mengerutkan rekeningnya saat melihat Gisel tampak gugup dan wajah Gisel terlihat tegang


Saat ini, mereka sedang berada di depan pengadilan untuk menghadiri sidang mediasi. Bukan kasus yang membuat Gisel gugup, melainkan pertemuannya dengan Arsen.


Ini sudah sudah seminggu berlalu semenjak kejadian ia mabuk, dan rasanya ia merasa malu karena mengingat bahwa ia menelepon Arsen, mengatakan semua yang ada di dalam hatinya. Tapi mau tak mau, ia harus bertemu Arsen demi menyelesaikan kasus yang telah berlangsung.


Giseel menoleh, kemudian tersenyum. “Tidak pa-apa. Aku hanya gugup Ini pertama kalinya aku menghadapi tuntutan hukum,” jawab Giseel berbohong.


Stev mengangguk-nganggukan kepalanya, kemudian ia pun turun dari mobil, lalu memutari mobilnya dan setelah itu membuka pintu untuk Gisel.Saat Gisel turun, bersamaan itu pula mobil yang ditumpangi Arsen datang.


Arsen memarkirkan Mobilnya di sebelah mobil Steve dan saat Arsen keluar dari mobil, ia langsung menatap Gisel yang juga sedang menatapnya. Arsen hanya menunduk hormat pada Gissel dan Stev, layaknya seorang pengacara pada kliennya, begitupun Gisel.


Jantung Gisel berdetak dua kali lebih cepat saat melihat Arsen, ia menghela nafas sedalam-dalamnya. “Gissel, Kenapa kau begitu bodoh!” Gisel membatin dalam hati, ia mengutuk dirinya sendiri karena mengingat kejadian seminggu lalu, dimana dia menelepon Arsen dan memaki Arsen, serta mengungkapkan perasaannya.


“Ayo, Gisel kita memasuki ruang mediasi!” ajak Arsen, setelah mereka memasuki area pengadilan.


Gissel mengangguk, kemudian melihat ke arah Stev. “Kau tidak apa-apa kan menunggu di sini?” tanya Gisel saat Gisel berbicara dengan Steve.


Arsen menoleh sekilas, dadanya berdenyut nyeri, saat melihat interaksi Gisel dan Stev. Namun sebisa mungkin, ia menegarkan hatinya lalu kembali fokus menatap ke depan.


“Pergilah aku akan menunggumu di sini!” kata Stev, pada akhirnya mereka pun masuk ke dalam ruang mediasi.


Atmosfer di ruangan itu begitu penuh kecanggungan. Apalagi di ruangan itu hanya ada Arsen dan Gisel, karena orang yang menuntut Gisel belum hadir.


Arsen berpura-pura melihat-lihat berkas yang ada di depannya. Padahal, Ia sedang menahan degupan jantungnya yang kencang karena berdua dengan Gissel. Hingga akhirnya, ia mengalihkan konsentrasinya untuk memeriksa berkas.


Sedangkan Giseel masih menunduk, jari-jarimya saling bertautan. Jujur saja, ia ingin meminta maaf pada Arsen karena menelepon Arsen. Tapi rasa canggung itu menderanya


“Aku min ....” tiba-tiba Arsen menghentikan ucapannya, ketika pintu terbuka. Ternyata orang yang berurusan dengan Gisel baru saja tiba, hingga akhirnya Gisel tidak jadi menyampaikan kata maafnya.


•••


Mediasi sudah selesai, nyatanya orang yang menutut Giseel batal untuk berdamai dan tuntutan akan tetap dilanjutkan, dan Gisel serta orang yang menuntutnya akan menghadapi sidang 3 hari lagi.


“Stev!” panggil Gisel pada Steve. Stev yang selesai menelepon seseorang menoleh, kemudian ia tersenyum ke arah Gisel.


“ Gisel aku harus aku pergi, ada pekerjaan yang harus segera ditangani. Sepertinya aku tidak bisa mengantarmu, kau tidak apa-apa pulang seorang diri?” tanya Stev. Gisel terdiam, kemudian menggangguk. Ia melihat ke arah luar, di mana awan tampak mendung.


“Tidak ak apa-apa, Stev. Pergilah!” kata Gisel.


“Kkalau begitu aku pergi, aku akan menghubungimu nanti.”


Setelah Stev pergi, Gisel pun mulai berjalan


“ Gisel!” tiba-tiba terdengar suara Arsen yang memanggil Gisel dari belakang, hingga menoleh Gisel menoleh.


“Mau pulang bersamaku?” tanya Arsen, membuat Giseel tertegun, karena tatapan Arsen berbeda seperti tadi.


Seketika


Seketika 500 komen, biar besok up 4 bab 😭