Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Apa dia tidak laku!


Tubuh Jordan dia mematung, nafasnya terasa tercekat di tenggorokan, jantungnya berdebar tak karuan saat melihat Leticia, debaran aneh itu muncul lagi.


Ini sudah bertahun-tahun berlalu ia berpisah leticia dan sudah bertahun-tahun pula, nanti Leticia sudah menikah dengan Miko. Tapi, perasaan itu masih ada, ia masih mencintai leticia dengan menggebu-gebu.


“ Jordan!” panggil Leticia yang menyadarkan Jordan dari lamunannya. Leticia tidak berubah, ia sudah bahagia dengan Miko, hingga tak ada alasan untuk dia membenci Jordan lagi dan dia tetap menyapa Jordan seperti biasa.


Beberapa kali mereka bertemu, dan Leticia selalu menyapa terlebih dahulu sebagai rasa sopan santun. Tapi setiap Leticia menyapa Jordan, Jordan hanya tersenyum kecil, lalu menghindar karena rasanya bagi Jordan begitu menyakitkan.


Jordan tersadar, ia mengerjap, lalu tersenyum.


“Hai,” balas Jordan.


“ Mommy!” tiba-tiba terdengar suara Theresia dari arah belakang, hingga leticia menoleh. Ternyata putrinya datang dan sedang berjalan dengan Miko.


Saat melihat Miko menggandeng Theresia, tiba-tiba hati Jordan berdesir pedih, seandainya ia tidak melakukan kesalahan, sudah pasti ialah yang akan mempunyai anak dengan leticia.


“Kau baru saja menemui seseorang?” tanya Leticia tiba-tiba, Jordan menggangguk


“Aku harus segera pergi, kalau begitu aku permisi!” Jordan melewati tubuh Leticia dan ketika berpapasan dengan Miko, Jordan sama sekali tidak menoleh ke arah Miko. Padahal Miko berniat untuk menyapa.


“Apa dia tidak laku!” gerutu Miko saat berada di depan istrinya, membuat Leticia menoleh. “Aku rasa, dia masih mengharapkanmu!” ucap Miko lagi dengan kesal. Entahlah, setiap ia berpapasan dengan Jordan, Ia juga selalu merasa kesal karena ia bisa merasa, Jordan masih menyimpan perasaan pada istrinya.


“Tapi kau kan pemenangnya, Dad,” ucap leticia, membuat Miko memalingkan tatapannya ke arah lain, karena wajahnya tersipu saat mendengar ucapan istrinya.


Seketika rahang Jordan mengeras saat mengingat nama Ayana, setiap ia merindukan leticia. Setiap itu pula, kebencian pada Ayana meningkat. Ian selalu menyalahkan Ayana.


Seandainya saat itu Ayana tidak mendekatinya, dan tidak menggodanya. Tentu saja saat ini ia masih bersama leticia, dan akan mempunyai keluarga yang utuh bersama leticia. Tapi, sayangnya semuanya sia-sia, tanpa Jordan sadari, dialah yang mengambil peranan penting untuk hidupnya sendiri. Jika ia tidak tergoda, ia takan kehilangan Leticia.


Jordan membuka Dashboard, kemudian mengambil mengambil ponselnya. Lalu setelah itu, ia menelpon seseorang


“Bagus jika kau akan memecatnya, dan jangan pernah kasihan padanya,”!ucap Jordan pada seseorang yang tak lain bos Ayana.


Ya, selama bertahun-tahun, Jordan tidak pernah membiarkan hidup Ayana tenang, dia selalu menyuruh bos di tempat Ayana bekerja untuk memecat Ayana. Selain masih dendam karena Ayana menggodanya, Ia juga dendam karena Ayana menyuruhnya bertanggung jawab, padahal Ayana bukan mengandung darah dagingnya begitulah pikir.


Tapi ada yang Jordan tidak tahu, bahwa Ayana berbohong tentang putrinya, karena faktanya anak itu adalah darah daging Jordan.


•••


“Maksud anda saya dipecat?” tanya Ayana, Alden yang sedang berada di depan Ayana mengangguk


“Hmm, kau di dipecat!”


”Bukankah aku tidak membuat kesalahan?” tanya Ayana lagi. Namun, tak lama ia tersenyum getir saat menyadari sesuatu.