
Gengs plis dong gas komen
“Nauder, ampuni aku!”Naura membatin.
saat Nauder meminum minuman yang ia bawa.
“Sayang kau tidak apa-apa?" tanya Nauder pada Naura yang sedang menatap ke arahnya. Naura menggeleng. “Tidak, aku tidak apa-apa.”
Nauder menarik tangann Naura, kemudian mengajak istrinya berbaring. “ Ayo kita tidur. Kita istirahat, besok banyak sekali agenda kita!” Mereka pun berjalan ke arah ranjang dan membaringkan tubuhnya di ranjang tersebut.
15 menit berselang terdengar suara nafas Nauder mulai teratur. Mata Naura berkaca-kaca saat melihat nauder yang sudah memejamkan matanya. Naura pun bangkit dari duduknya kemudian ia langsung memakai mantel, lalu keluar dari kamar setelah itu ia berjalan keluar dari villa.
Naura berjalan dengan langkah yang sangat pelan, sungguh pikirannya masih tertunda bersama Nauder, tapi di sisi lain ia harus menghadapi Alvaro.
Saat ia berada di pantai, ia melihat seseorang berdiri dan ia yakin itu adalah Alvaro.
‘ Ya Tuhan kuatkan aku," ucap Naura. Setelah itu, Naura pun berjalan ke arah Alvaro.
“Ekhemm.” Naura berdehem saat berada di belakang Alvaro, hingga Alvaro menoleh, lelaki itu mengembangkan senyumnya saat melihat wanita yang ia cintai. Lalu setelah itu Alvaro mengulurkan tangannya.
“TIdak mau,” jawab Naura dengan ketus. Alvaro tidak menjawab, ia langsung menarik lembut tangan Naura Lalu setelah itu mengajak Naura untuk berjalan.
Beberapa kali Naura berusaha melepaskan pegangan tangan Alvaro. Namun, Alvaro menggenggamnya begitu erat. “Setengah jam saja ayo kita berkeliling pantai.” Tiba-tiba Naura berhenti meronta mendengar ucapan Alvaro yang begitu lirih, bahkan ia merasa Alvaro baru saja menangis karena nada suaranya begitu serak. Namun Tak urung dia menggelengkan kepalanya untuk apa juga aku peduli batinnya.
6 tahun kemudian
Waktu berlalu begitu cepat, detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam, hari demi hari Minggu demi Minggu bulan demi bulan tahun demi tahun, dan tak terasa Ini sudah tahun ke 6 pernikahan Naura dan Nauder, banyak sekali yang terjadi dengan kehidupan Naura, semua benar-benar berubah total ada yang manis namun juga ada yang pahit.
Dua minggu setelah mereka pergi berbulan madu yang diikuti oleh Alvaro, Naura dinyatakan hamil saat itu ia begitu bingung ia mengandung anak Alvaro atau anak Nauder. Namun, ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa anak yang di dalam kandungannya adalah anak suaminya.
Setelah mengandung, tekanan yang diberikan Alvaro benar-benar luar biasa, di mana Alvaro tidak lagi meminta bertemu seminggu sekali. Melainkan bertemu setiap hari, dan Alfaro ingin mengantar Naura untuk periksa ke dokter, karena Alvaro yakin yang dikandungnya adalah anaknya.
Dan di situ Naura mulai tertekan. Bagaimana jika suatu saat anaknya lahir, dan anaknya harus menanggung beban yang di berikan oleh Alvaro.
Dan saat kandungan Naura menginjak usia 8 bulan, Naura nekat membawa racun serangga ke hadapan Alvaro, wanita itu mengancam Alvaro jika Alvaro terus mengganggunya Naura akan meminum racun serangga itu.
Awalnya Alvaro berpikir Naura hanya pura-pura tapi ternyata Naura benar-benar hampir saja minum itu. Namun beruntung, Alvaro berhasil menghentikannya dan Alvaro menyerah dia berjanji dia tidak akan mengganggu Naura.
Saat itu Naura benar-benar buntu, Jika ia terus seperti ini anaknya pasti akan menjadi korban dan dia tidak mau anaknya tertekan hingga itu sebabnya dia nekat membawa racun serangga kehadapan Alvaro, walaupun Sebenarnya dia hanya berpura-pura, marena botol itu bukan berisi racun serangga melainkan hanya busa biasa tapi beruntung saat itu Alvaro percaya dan Alvaro mengatakan bahwa tidak akan mengganggu Naura lagi.
Alvaro menepati janjinya sampai hari in, ini sudah sudah 5 tahun berlalu Alvaro tidak mengganggu lagi Naura, bahkan lelaki itu hilang bak di telat bumi dan tak terdengar kabarnya lagi
Kini, usia Ameera yang tak lain putri Naura sudah berusia 5tahun. Saat Ameera berusia dua tahun, Naura apa beranikan diri melakukan tes DNA dan ternyata Ameera bukan anak Nauder melainkan anak Alvaro. Saat itu Naura bersyukur, Alvaro sudah tidak lagi mengganggunya. Mungkin jika Alvaro tau bahwa Ameera anaknya, mungkin Alvaro akan datang dan mengganggunya lagi.
Namun lagi-lagi kelegaannya tidak bertahan lama, Saat umur Ameera berumur 3 tahun, Ameera dinyatakan mengidap autoimun, tubuh gadis kecil itu begitu lemah tidak bisa banyak beraktivitas hingga Naura selalu ada di dekatnya.
Naura benar-benar menyampingkan semuanya, ia berhenti bekerja dan fokus mengurus Ameera karena gadis kecil itu tidak pernah lepas dari sang ibu, terkadang ia juga melupakan tugasnya sebagai istri dia tidak lagi intens mengurusnya Nauder seperti dulu, karena Ameera benar-benar tidak mau lepas darinya.
Jujur saja Nauder benar-benar kesepian, ia sudah tidak menemukan diri Naura lagi semenjak putrinya sakit, dan Entah kenapa dia dan Ameera pun tidak terlalu dekat, setiap melihat Ameera dia merasakan ada yang lain, mungkin Nauder tidak merasakan ikatan batin seorang ayah dan anak karena itu memang bukan anaknya.
Seperti sekarang Nauder menyadarkan tubuhnya ke belakang, ia malas sekali untuk pulang. Tak lama pintu diketuk,.muncul seseorang siapa lagi kalau bukan Anesa, wanita cantik nan seksi yang tak lain adalah sekretarisnya.
Nauder mengembangkan senyumnya, Anesa baru setahun bekerja di perusahaannya. Tapi wanita itu mampu membuat Nauder merasa betah di kantor. Nauder tidak berniat menyelingkuhi Naura, hanya saja sikap Anesa, mengingatkannya pada sikap Naura dulu, hingga dia merasa bersostalgia dengan sikap istrinya melewati Anesa.
“ Tuan anda ingin pulang?” tanya Aneesa Nauder tidak pernah ramah pada orang lain. Tapi berbeda pada Anesa. Dia sama sekali tidak mencintai Anesa dia juga tidak berniat untuk menduakan Nauraa, ia hanya ingin bersenang-senang di tengah kejenuhannya dalam pekerjaan. Beberapa kali Nauder bermain ke apartemen Annisa sekedar mengantarkan Anisa dan mampir sebentar.
“ Jika anda ingin pulang, saya pun akan pulang sekarang,” ucap Anesa, matanya mengerling seolah menggoda Nauder.
Nauder melihat jam di pergelangan tangannya,.
“Mau menemaniku makan?” tanya Nauder, rasanya sudah 3 tahun ini mungkin dia juga jarang sekali makan bersama Naura, ia selalu makan seorang diri itu sebabnya ia kerap kali mengajak Anesa untuk makan bersama.
Nauder pun mengambil kunci mobil. Setelah itu Mereka pun keluar dari ruangan.
***
Naura yang akan turun dari mobil menghentikan gerakannya saat melihat Nauder merangkul pinggang seorang wanita, nafas Naura terasa tercekat saat melihat adegan di depannya. Beberapa kali ia mengucek mata tapi yang dilihatnya memang benar, di depannya adalah suaminya
Saat ini Naura sedang berada di basement perusahaan suaminya, ia sengaja datang dan ingin mengajaknya Nauder makan malam bersama, ia sudah menitipkan Ameera pada kedua orang tuanya dan itu sebabnya, setelah mengantarkan Ameera ia langsung menjemputnya Nauder ke kantor.
Dia yang ingin memberikan kejutan pada Nauder. Tapi dia sendiri yang terkejut dengan apa yang dilihatnya. Dunia Naura seakan hancur saat melihat Nauder membukakan pintu untuk wanita lain, tiba-tiba ada otak Naura kosong.
Saat Nauder menyalakan mobilnya dan menjalankannya, Naura pun mengikuti mobil suaminya hingga mobil Nauder terparkir di depan restoran. Nauder dan Anesa pun masuk ke dalam restoran tanpa menyadari bahwa Naura mengikuti mereka dari belakang.
“Na-Nauder.” Nauder yang baru saja duduk dan baru saja selesai memesan langsung menoleh ke arah belakang. Mata nauder membulat saat melihat ada Naura, ia pun langsung bangkit dari duduknya.
“Na-naura." Seketika Nauder dilanda kepanikan, apalagi saat melihat mata Naura yang memerah, Naura baru saja menangis.
“Naura, aku bisa menjelaskan.”
“Kita pulang sekarang.” Naura lebih memilih mengajak Nauder untuk pulang dia tidak ingin berbasa-basi di luar.
dan di sinilah mereka berada, Naura dan Nauder sudah berada di apartemen. Mereka sudah duduk di sofa saling berseberangan, tatapan mata Naura lurus ke depan, berbanding dengan Nauder yang tampak panik. Sumpah demi apapun, dia tidak pernah berniat untuk menyelingkuhi Naura,Ia hanya ingin bermain-main saja..
“Naura, aku bisa menjelaskannya,” ucap Nauder ngan panik.
“Tetap di tempatmu,” balas Naura, ketika Nauder akan bangkit, hingga Nauder kembali mendudukkan dirinya.
“Jelaskan semuanya, aku akan mendengarkannya!” ucap Naura.
“Dia, Anesa sudah setahun menjadi sekretarisku. Awalnya aku tidak ingin punya sekretaris wanita tapi karena saat itu, aku benar-benar kewalahan dalam bekerja hingga akhirnya aku menerima dia.” Nauder kemudian menghentikan sejenak ucapannya, ia langsung melihat ke arah istirnya. Saat ini, Naura benar-benar menakutkan..
Naura menganggukkan kepalanya. “Lalu?”
Tiba-tiba, Nauder terpikirkan sesuatu agar Naura tidak menyalahkannya. “Naura jika dipikir ini juga semua salahmu ....” Nauder yang merasa bersalah langsung membelotkan ucapannya, ini bentuk pertahanan dirinya udah agar tidak disalahkan oleh Naura..
Naura tersenyum getir pembawaannya tetap tenang. “Kau menyalahkanku?”
“ Apa kau tidak menyadari selama 3 tahun ini kau benar-benar berubah, kau tidak pernah memperhatikanku lagi, kau tidak pernah mengurusku lagi, bahkan kau jarang sekali menemaniku makan. Aku lelah bekerja di kantor Aku butuh perhatianmu Aku butuh semangat darimu. Tapi saat aku pulang, kau jarang sekali menyapaku, kau jarang menemaniku Kau hanya sibuk Ameera, Ameera dan Ameera. Aku merasa benar-benar kesepian dan ketika Anesa datang, dia mengingatkanku kepada sifatmu yang lama. sifat yang aku rindukan, hingga aku mulai dekat dengannya,” ucapan Nauder dengan panjang lebar.
Ucapan Nauder, bagai melempar bola api ke wajah Naura, ia ingin sekali tertawa dengan apa yang diucapkan oleh suaminya. Tapi Naura sama sekali tidak ingin membela diri. Sejak saat melihat Nauder bersama wanita lain, sejak saat itu pula Naura sudah memutuskan sesuatu.
“Apa kalian pernah tidur bersama?” tanya Naura.
“Tidak, kami belum tidur bersama. Kami hanya sebatas saling menyentuh dan ....” Nauder memejamkan matanya saat tidak sengaja mengatakan apa yang sering mereka lakukan yang hanya sebatas berciuman dan berpelukan saja.
Lagi-lagi, Naura tersenyum getir dengan tangis yang berlinang dan itu membuat Nauder panik. “Naura aku berjanji, aku tidak akan lagi mendekatinya asal kau kembali seperti dulu menjadi Naura yang selalu memperhatikan sedetail apapun tentangku. Kita bisa membayar pengasuh untuk Ameera,” ucap Nauder.
“Perasaan anakku yang sedang sakit lebih penting dari apa pun, dan aku tidak bisa menyerahkan putriku yang lemah pada orang lain.”
“Naura, coba kau berpikir. Bukan hanya Ameera saja yang membutuhkan perhatianmu, aku juga.”
Naura menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.
“Nauder mungkin ini salahku yang tidak bisa memberikan perhatian padamu. Untuk itu, pergilah Nauder pada perempuan yang bisa membahagiakanmu, karena sampai kapan pun, Ameera adalah prioritasku. Pernikahan kita sampai di sini mari kita akhiri semuanya.”
Tiba-tiba tubuh Nauder diam mematung, nafasnya menjadi tidak beraturan, seketika Ia yang tadi menyalahkan Naura menyesali ucapannya, harusnya dia tidak menyalahkan Naura dan membujuk istrinya. Dia memang sedikit bosan dengan sikap Naura. Tapi dia juga tidak sanggup jika Naura meninggalkannya.
“Anakku adalah segalanya. Kita memang mampu membayar orang lain tapi bukan orang lain yang dibutuhkan oleh anakku,.tapi aku akulah yang akan melindungi dia Sampai akhir. Silahkan kau pergi dari sini!”
Nauder ....