
“Tuan Joan, terima kasih, sudah mau menemaniku makan siang," kata Gabby setelah mobil yang dikendarainya yang sampai di depan rumah sakit.
Nael mengangguk, kemudian tersenyum. “Aku berharap kita bisa makan siang bersama terus-menerus,” jawab Nael sambil terkekeh.
“Kalau begitu aku permisi,” pamit Gabby, kemudian ia keluar dari mobil Nael membuatnya langsung menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.
Setelah Gabby keluar, Nael memegang dadanya yang terasa sesak, lidahnya terasa terbakar bahkan tenggorokannya terasa kering. Ia tidak menyangka bahwa Gabby memintanya untuk meminum jus nanas. Entah apa tujuan Gabby meminta menukar minuman mereka, entah Gabby ingin mengetesnya atau memang murni ingin menukarnya.
Sedari tadi, setelah meminum jus nanas, tubuh Nael memang sudah bereaksi. Namun, Nael berusaha tetap baik-baik saja. Setiap detik, ia berusaha untuk mengatur nafasnya, agar Gabby tidak mencurigainya.
Dan setelah Gabby keluar, Nael kembali menjalankan mobilnya, untuk pergi ke apartemnnya, ia harus meminum obat alergi yang selama ini selalu ia simpan.
•••
Setelah masuk ke dalam ruangannya, Gabby langsung mendudukan diri di sofa, ia mencoba mengingat perubahan ekspresi saat berada di restoran tadi, saat dia meminta Joan menukarkan jus mereka
Tapi sayangnya, Gabby sama sekali tidak melihat ekpresi Joan yang berbeda, bahkan Joan meminum obat jus nanas itu hingga hingga habis. Tapi, Joan terlihat baik-baik saja .Bukankah jika itu Nael, Joan akan langsung menolaknya, bahkan jika meminum pun akan langsung bereaksi, begitulah pikir Gabby.
Tapi sekarang, semuanya menjadi Blank, di sisi lain ia, masih yakin bahwa Joan adalah Nael, walaupun itu mustahil. Tapi, di sisi lain setelah melihat apa yang terjadi barusan, keyakinannya runtuh Joan adalah Joan, bukan Nael.
“Apakah aku berpikir berlebihan. Padahal jelas-jelas aku melihat Nael berada di peti mati,” lurih Gabby, ia pun memutuskan untuk tidak mencurigai apapun.
•••
Nael meringkuk, ia memegang perutnya yang terasa terbakar. Ia sudah meminum obat alergi 3 kali berturut-turut. Tapi sakit yang ada di tubuhnya hanya berkurang sedikit. Sekarang, ia merasakan seluruh tubuhnya begitu nyeri, tenggorokannya masih panas dadanya masih sesak dan perutnya pun seperti terbakar.
Memakan yang mengandung nanas sedikit saja tubuhnya akan langsung bereaksi, dan tadi siang ia malah menghabiskan satu gelas jus nanas. Tentu saja efeknya akan luar biasa hebat. Dan setelah setengah jam berlalu, akhirnya mata Nael mulai memberat, ia pun memejamkan matanya berharap sakitnya akan segera hilang.
Waktu menunjukkan pukul 2 malam, Nael terbangun dari tidurnya saat mendengar suara dering ponsel. Perlahan Nael bangkit, kemudian menghela nafas kala sakit di tubuhnya sudah sedikit berkurang, walaupun masih ada beberapa bagian yang terasa nyeri.
Ia pun mengambil ponsel dari atas nakas kemudian melihat siapa yang menelponnya. Mata Nael, membulat ketika melihat nama Gaby erpampang di layar ponselnya, Ini sudah dini hari dan tumben sekali Gabny meneleponnya.
“Nona Gabby, Kau kenapa?” tanya Nael.
“Kalian di mana, kirim alamatnya padaku!” Tanpa pikir panjang dan tanpa memikirkan apapun lagi, Nael bangkit dari duduknya, kemudian ia mengambil pistol di laci. Ia pun langsung berlari kearah luar dan menyambar kunci mobil lalu pergi ke basement untuk mengambil mobilnya.
Nael menjalankan mobilnya dengan kecepatan penuh, barusan Gaby sudah mengirim alamat padanya dan sekarang ia menjalankan mobilnya ke alamat tersebut. Nael tidak peduli lagi dengan kondisi dirinya, walaupun tubuhnya masih lemas. Tapi yang ia pikirkan sekarang adalah Laura dan Naura serta Gaby.
setelah melewati perjalanan yang cukup jauh akhirnya mobil yang dikendarai Nael sampai di sebuah gudang, tanpa pikir panjang ia langsung berlari ke ke dalam dan mendobrak pintu.
“ Gabby, Laura ....Naura!” Nael berteriak saat masuk ke dalam. Namun gudang itu kosong tidak ada siapapun disana.
“Laura ... Naura ... Gabby!” Nael berteriak lebih kencang dari sebelumnya, keringat dingin sudah membasahi seluruh tubuhnya, karena Gabby dan kedua putrinya tidak ada di mana pun.
“Benar dugaanku, Feelingku tak mungkin salah
kau adalah Nael.” Tiba-tiba terdengar suara Gabby dari belakang, membuatnya Nael menoleh
“Ga-Gabby,!” Panggil Nael tiba-tiba Nael tersadar, bahwa ia tidak memakai topeng. Ia terlalu terkejut dengan apa yang didengar saat Gabby menelponnya.
Tadi siang, Gabby memang berusaha meyakinkan dirinya bahwa Joan adalah Joan dan bukan Nael. Tapi, ada yang membuat Gabby kembali berubah pikiran.
Hingga ia memutuskan untuk menelpon Nael tengah malam, karena ia tahu kesadaran manusia a
kan berkurang ketika malam hari, dan ia juga sengaja mengatakan ia di sekap, karena pasti Nael tak akan memikirkan apa pun dan akan langsung menyusulnya.
Dan sekarang Feelingnya benar, Joan adalah Nael. Lalu, sekarang langkah apa yang harus Gabby ambil?
“Ga-Gabby!" panggil Nael dengan terbata-bata.
Gabby.
Gengs, maafin ya selama bulan puasa aku ga bisa rutin up di jam yang sama, tapi setiap aku usahain setiap hari
Ga komen besok up satu bab hahahahaha