
Gengs Follow Igkuya Dewikim423
FB Dewi Kim dan yuk Join di grup telegram kalian tinggal cari nama Author Dewi Kim di telegram terus klik join. Kita ngobrol2 di sana.
mata Laura membulat saat ia mengingat tentang ucapannya semalam, ia memejamkan matanya kala Ia juga menyadari bahwa ia mengatakan itu di tengah-tengah percintaann mereka.
“Aku tidak mengatakan apa-apa kan semalam?” tanya Laura pada Andre. Andre yang sedang menyetir menoleh sekilas, ia tidak menjawab lalu kembali fokus mengemudi.
“Andre!” panggil Laura. Lagi-lagi, Andre tidak menjawab
“Aissshh! Laura kau menyakitiku!” teriak Andre Saat Laura mencubit tangan Andre dengan keras.
“Jawab pertanyaanku! Aku tidak mengatakan apapun kan semalam? kau tidak mendengar apapun kan?” tanya Laura lagi dengan wajah yang panik.
“Menurutmu,” jawab Andre, mati-matian dia menahan tawa saat melihat wajah Laura yang memerah. Bahkan sekarang, wajah Laura benar-benar terlihat sangat lucu.
“Tidak, aku pasti tidak mengatakan apapun,” Laura terus bergumam dengan mengatakan kata-kata yang sama. Ia lalu menyenderkan tubuhnya ke belakang dan kembali memejamkan matanya lagi.
“Andre, apa kau tidak bisa mencintaiku. Apa kau tidak ingin mempunyai keluarga bahagia bersamaku dan Bella. Ah sial, kau pasti masih mencintai Naura. Padahal aku ingin mempunyai keluarga utuh bersamamu dan Bella."
Laura kembali menutup mulutnya saat mengingat ucapannya semalam. Selain mengatakan kata cinta pada Andre, ternyata Ia pun mengatakan kata-kata seperti di atas. Bodohnya dia mengatakan bahwa dia ingin mempunyai keluarga yang hangat bersama Andre dan Bella, dan itu semua membuat wajahnya semakin memerah.
Andre yang sedang mengemudi berusaha menahan tawanya mati-matian, ia yakin Laura sudah mengingat semuanya. Tapi, belum saatnya dia mengatakan apa yang sedang ia rasakan, ada beberapa hal yang harus ia urus terlebih dahulu termasuk kesehatannya.
“Kau pasti tidak mendengar apapun kan semalam?” tanya Laura, ia memastikan lagi pada Andre. Padahal jelas-jelas ia mengatakan itu.
“Kau mengatakan ....”
“Cukup, aku pasti tidak mengatakan apapun. Turunkan aku disini!” kata Laura, ia terlalu malu untuk mendengar jawaban Andre.
“Andre turunkan aku di sini!”
“Tidak mau, aku akan mengantarmu sampai ke penthouse!” Andre lebih memilih menjalankan mobilnya dengan kecepatan penuh, hingga pada akhirnya ia sampai di penthouse Laura.
Dan tepat ketika mereka sampai di penthouse ada Arthur di sana. Rupanya, Arthur menunggu di penthouse Laura dan berniat untuk mengantarkan Bela ke sekolah. Ia harus menjelaskan apa yang terjadi pada Laura dan menyangkal semuanya. Karena ia takut, Laura mencurigainya.
“Kenapa dia harus kemari lagi!” lirih Laura dengan suara pelan, hingga Andre mendengar ucapan Laura.
“Kau takut padanya?” tanya Andre.
Laura mengangguk. Bahkan saat ini Laura ingin sekali menangis kencang-kencangnya, teringat kejadian malam. Jika tidak ada Andre, Mungkin dia akan terjebak dengan lelaki gila seperti Arthur.
Andre melepaskan seatbel hingga Laura menoleh. “Kau mau ke mana?” tanya Laura.
“Tunggu di sini. Aku akan menjemput Bella kedalam.” Andre pun turun dari mobil, kemudian ia berjalan ke arah penthouse Laura. Dan kini, ia sudah berada di depan Arthur, hingga tatapan keduanya saling memburu.
“Sepertinya kau tidak mempunyai pekerjaan. kenapa kau terus menghampiri anak dan mantan istriku?" tanya Andre
Arthur berdecih. “Kau bisa saja mengolok-ngolokku. Tapi kau tidak akan pernah menang. Pada akhirnya, Laura akan menjadi milikku karena Tuan Nael sudah merestui kami,” balas Arthur dengan nada percaya diri yang tinggi membuat Andre mengangguk-anggukkan kepalanya
“Apakah kau yakin setelah kejadian semalam Laura mau bersamamu? Apa kau pikir Tuan Nael akan lebih mendengarkanmu daripada putrinya? Bagaimana jika Laura mengatakan apa yang sebenarnya terjadi saat malam?” tanya Andre.
skak ucapan Andre membuat Arthur terdiam.
“Daddy ....” Tiba-tiba terdengar suara Bella dari arah belakang. Sedari tadi, sebenarnya ia sudah rapi memakai seragam. Namun saat melihat Artur di depan pintu. Laura tidak keluar dari rumah, dan ia lebih memilih menunggu ibunya.
“Hai sayang, ayo kita pergi ke sekolah, kau mau kan pergi dengan paman?”kali ini Arthur bertanya pada Bella. Sejujurnya ia sedang buntu, hingga ia langsung bertanya pada Bella. Ia ingat pesan ayahnya, ia harus mendekati Bella terlebih dahulu .
“Tidak Paman, terima kasih. Aku akan berangkat dengan Daddy saja. Ayo Daddy.” Secepat kilat, Bella menarik tangan Andre. Dia menghindari tatapan Arthur yang begitu berbeda, dan Andre kembali menoleh. Lalu menyeringai, melemparkan tatapan mengejek pada pada Arthur.
“Mommy!” panggil Bela saat masuk ke dalam mobil
“Mommy Kenapa ada di sini?” tanya Bella lagi. Tiba-tiba gadis itu begitu riang saat melihat Laura ada di mobil yang sama dengan sang ayah, dan tentu saja pemandangan itu tertangkap oleh Laura.
“Sudah siap, ayo kita pergi!” Andre kembali menyalakan mobilnya dan menjalankannya Hingga setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai Andre sampai di sekolah Bella.
••
“Sekarang kau mau ke mana?” tanya Andre pada Laura setelah mengantarkan Bella ke kelas.
“Apa kau ingin aku mengantarkanmu ke mansion orang tuamu?” tanya Andre lagi. Laura tampak berpikir.
“ Bisakah kita mampir dulu ke butik, aku ingin membeli pakaian dan setelah itu aku akan pergi ke kantor," pinta Laura.
“Tapi aku rasa, kau tidak dalam kondisi baik untuk bekerja,” jawab Andre, karena wajah Laura masih memerah.
Laura menunduk. “ Tolong antarkan saja aku ke hotel lagi," jawabnya Laura. Andre tidak menjawab, ia menyalakan mobilnya.
30 menit kemudian, Laura mengerutkan keningnya saat Andre tidak membawanya ke hotel. Tunggu, tempat ini sangat familiar untuknya. Ini adalah basemen apartemen Andre.
“ Kenapa kau mengajakku kemari?’tanya Laura.
”Di apartemenku masih ada pakaian-pakaianmu yang kau tinggalkan tujuh tahun lalu. Aku rasa itu masih cukup,” jawabnya.
“Andre sebenarnya ada apa denganmu, Kenapa kau seperti ini. Apa karena semalam kita ....” Laura tidak meneruskan ucapannya lagi. Dari samping ia melihat Andre menarik sudut bibirnya pertanda lelaki itu tersenyum. Dan Laura benci mengakui ini, bahwa jantungnya berdebar dua kali lebih cepat saat mantan suaminya tersenyum.
“Seharusnya ucapanmu semalam sudah menjadi jawaban kenapa aku bersikap seperti ini!" balas Andre membuat mata Laura membulat..
“Memangnya apa yang aku katakan, aku tidak mengatakan apapun padamu!" kata Laura lagi yang mengelak.
“Hmm ... Hmmm, kau tidak mengatakan apapun padaku," jawab Andre yang lebih mengiakan ucapan Laura, karena tidak ingin berdebat dengan Laura.
Andre mendahului turun, hingga mau tak mau Laura pun mengikuti Andre. “Ayo masuk!” kata Andre. Saat ia sudah membuka pintu apartemennya
Saat melangkahkan kakinya untuk masuk. Tiba-tiba, rasa sesak menubruk Laura. Setelah 7 tahun berlalu, ia menginjakkan kakinya di apartemen ini lagi, apartemen yang menjadi saksii saat ia selalu melewati harinya dengan penuh air mata.
“Laura!” panggil Andre.
Laura tersadar, ia tidak boleh larut dengan masa lalu dan ia tidak mau memperlihatkan kesedihannya pada Andre.
“ Tolong ambilkan bajuku Aku akan pergi ke hotel!" kata Laura.
“Ayo masuk!” bukannya menjawab, Andre malah mengatakan hal yang sama, mengajak Laura untuk masuk.
10.menit kemudian, Andre membawa pakaian Laura “Ini punyamu bukan?" mata Laura membulat saat melihat apa yang Andre bawa.
“Kau tahu ini bukan pakaian, ini ..." Laura benar-benar terkejut saat melihat apa yang di dibawa Andre. Ternyata itu bukan pakaian biasa, melainkan sebuah lingeriee yang dulu pernah ia beli. Namun tak sempat ia pakai.
“Bukankah sama saja, ini juga pakaian,” Jawab Andre. Dengan cepat, Laura meraih lingerieeu dari tangan Andre.
“Sudah lupakan," jawab Laura. Ia mengambil ponselnya, kemudian ia menelepon asistennya meminta untuk membawakan pakaian ke apartemen Andre.
“Jika kau ingin bekerja bekerjalah, aku akan menunggu asistenku untuk membawa pakaian ke sini dan setelah itu aku pergi dari apartemenku,” ucap Laura.
sebelum Andre menjawab, pintu terbuka seseorang masuk ke dalam. “Andre, Apa kau gilaa! Kenapa kau tidak datang ke rumah sakit harusnya kau di periksa sekarang ....”
Tiba-tiba Andre memejamkan matanya, menahan geram saat Sebastian yang tak lain anak bibinya yang juga dokter pribadinya, datang ke apartemen dan berteriak. Hingga Laura mendengar semuanya.
“Operasi ... Operasi apa?” tanya Laura. Karena memang hari ini rencananya Andre akan melakukan pemeriksaan lanjutan, dan setelah pemeriksaan selesai Andre akan melakukan operasi pemasangan ring di jantungny.
“Operasi apa?” tanya Laura.
Andre ....
Gas komen ya. Ini satu bab tapi panjang ya.