Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Raymond yang menyadari semuanya


Ya, Ayana memutuskan pergi dari kota ini, apalagi barusan, setelah ia pulang menjemput Moa, Ia mendapat satu pesan dari Jordan yang, dan sekarang ia mengerti, kenapa data-data perusahaan Raymond itu bisa ada di perusahaan lain, ternyata itu adalah ulah Jordan.


Ia yakin, Jordan telah meretas komputernya dan setelah mendapat pesan dari Jordan, tiba-tiba Ayana merasa lelah dengan semuanya. Sekuat apapun ia bertahan, sekuat apapun ia lari, tetap saja pada ujung-ujungnya Jordan akan terus mengganggunya dan tidak akan membiarkannya tenang.


Dan setelah mendapat pesan dari Jordan, ia mengingat ada satu teman yang dulu bekerja di restoran yang sama dengannya, pernah menawarkannya untuk bekerja di bar yang ada di pesisir pantai dan berada di luar kota


Saat itu, Ayana menolaknya, karena lokasi itu terlalu jauh. Bahkan cenderung terpencil. Tapi saat barusan, saat Jordan mengirim pesan tiba-tiba Ayana terpikirkan untuk pergi ke sana. Beruntung, ia masih menyimpan nomor ponsel milik temannya, dan temannya mengatakan bahwa di bar itu masih membutuhkan pelayan.


Bukan hanya masalah Jordan saja yang membuat Ayana pergi dari kota ini. Tapi tentang masalah Raymond juga, ia tidak mungkin bekerja tanpa digaji dan pergi ke tempat terpencil adalah satu-satunya cara, agar Ayana bisa terbebas dari hukuman Raymond dan terbebas dari Jordan.


untuk ayahnya, ia tidak perlu khawatir, karena ia pasti akan mengirim biaya untuk keperluan Ayahnya di rumah sakit jiwa


“Kenapa kita harus pergi dari sini?” tanya Moa.


“Karena Mommy harus pergi ke luar kota untuk bekerja. Jadi kita harus pergi ke sana,” jawab Ayana, gadis kecil itu tampak murung. Namun mau tak mau, ia mengangguk.


“Baiklah Mommy!” jawab Moa dengan pasrah.


Waktu menunjukkan pukul 2 dini hari, Ayana sudah bersiap untuk pergi, begitupun Moa yang juga sudah terbangun dari tidurnya.


Walaupun gadis kecil itu, terkadang memejamkan matanya lagi karena ia benar-benar masih mengantuk.


Ayana sengaja pergi dini hari, karena ia takut Jordan mengikutinya ataupun Raymond mengikutinya. Jadi ia rasa, pergi dini hari adalah salah satu cara yang tepat untuk menghindari kedua lelaki itu.


Ayana mengintip dari jendela memastikan bahwa tidak ada orang yang menunggu di depan rumahnya, saat dirasa aman Ayana menoleh ke belakang, di mana Moa terduduk sambil memejamkan matanya. “Moa!” panggil Ayana, Moa pun langsung membuka matanya kembali.


“Ayo kita pergi!” Ayana menggendong tubuh Moa, kemudian menggeret koper karena ia tahu putrinya masih mengantuk. Setelah itu ia pun keluar dari rumah dan berjalan ke depan lalu .enaiki taksi yang sudah menunggunya di tempat yang tak jauh dari rumahnya. Ia sengaja memesan taksi yang selalu ada 24 jam untuk mengantarkannya ke halte bis, di mana ia akan pergi menaiki bus yang akan berangkat pukul 03.00 pagi


•••


Setelah melewati 7 jam perjalanan, akhirnya bis yang ditumpangi Ayana sampai di pemberhentian halte bis yang ada di kota tersebut. Ayana dan Moa pun langsung turun.


Dan saat turun, Ayana tersenyum ketika sudah disambut oleh temannya. “Maaf jika aku harus merepotkanmu," ucap Ayana pada Pricilia.


“Tidak apa-apa, ayo!” ucap Pricilia, ia membantu ayahnya untuk menggeret koper. Lalu setelah itu mereka pun pergi menaiki taksi.


•••


“Ayana ayo letakkan barangmu di situ, kau bisa beristirahat sebelum kita bekerja nanti malam!” ucap Pricilia, Ayana pun mengangguk.


“Moa, Mommy harus bekerja, kau tidak apa-apa di sendiri?” tanya Ayana, Moa menggangguk.


“Tidak ada apa-apa, Mommy pergilah. Aku bisa bermain ponsel," jawab Moa, gadis kecil itu begitu tegar seolah mengerti beban yang ditanggung oleh ibunya.


“Kalau begitu Mommy pergi!" dengan berat hati, Ayana pun pergi meninggalkan Moa seorang diri lalu berjalan bersama Pricilia pergi ke bar yang tak jauh dari tempat apartemen mereka.


“ Pricilia apakah aku harus memakai pakaian seperti ini?” tanya Ayana ketika Pricilla menyerahkan seragam yang cukup terbuka.


Prisilia menggangguk. “Hmm, ini seragam yang harus kita pakai, berhati-hati karena akan banyak sekali tangan-tangan nakal,” ucap Pricilia, Ayana pun mengangguk, ini pilihannya dan dia tidak boleh mundur. Setelah itu, Ayana dan Prisilia pun masuk ke dalam untuk mulai bekerja.


dua minggu kemudian.


Ini sudah dua minggu berlalu, dan selama dua minggu ini pulang Ayana bekerja sebagai pelayan bar, dan selama 2 minggu ini pula Ayana merasa pekerjaannya begitu bertolak belakang dengan hati nuraninya. Tapia tidak punya pilihan lain.


“Ayana!” panggil Pricilia dari arah belakang, Ayana menoleh kemudian menghampiri Pricilia.


“Ada apa?” tanya Ayana.


“Ada yang memesan bir, dan dia ingin kau mengantarkannya," ucap Prisia, Ayana mengangguk. Ia mengambil nampan,.kemudian mengantarkan minuman ke meja yang memesan minuman itu.


“Silahkan Tuan," ucap Ayana.


“Hai, manis. Maukah kau menemaniku tidur malam ini. Aku akan membayarmu berkali-kali lipat,” ucap lelaki itu, ia menatap Ayana dari bawah sampai atas, membuat Ayana langsung mundur.


“Tidak Tuan, maaf saya tidak bisa,” ucap Ayana. Saat Ayana akan pergi, lelaki itu menarik pinggang Ayana, membuat mata Ayana membulat. Ayana berusaha melepaskan tangan lelaki itu dari pinggangnya. Tapi tentu saja Ayana tidak bisa melawan, karena kekuatannya tidak sebanding.Lelaki itu bangkit dari duduknya, lalu ia beralih merangkul pundak Ayana.


“Kau tidak perlu jual mahal, katakan berapa uang yang kau butuhkan, maka aku akan memberikannya," ucap lelaki itu, membuat Ayana bergidik, ia begitu ketakutan, apalagi tangan lelaki itu hampir bergerilya menyentuh tubuhnya.


“Jauhkan tanganmu dari wanita itu!” tiba-tiba terdengar suara berat dari arah belakang, dan suara itu sangat familiar di telinga Ayana..


Seketika ayahna menoleh. “Ra-Raymond ....” lirih Ayana, ia membulatkan matanya dan menatap Raymond dengan tatapan tak percaya. Bagaimana mungkin Raymond menemukannya.


Seketika ...


Seketika 500 komen dulu ye, besok kalau udah 500 komen balik lagi 🤣. next bab di ceritain ya kenapa bisa ada Raymond