
Arsen keluar dari mobil, kemudian ia menghampiri anak buahnya yang berdiri di depan gereja. “Kau tunggulah di mobil. Aku akan masuk!” kata Arsen, anak buah Arsen pun mengangguk, sedangkan Arsen langsung masuk ke dalam gereja.
Saat masuk, Arsen terdiam kemudian duduk disamping tubuh Gisel yang sedang berbaring di kursi. Ya, setelah setelah anak buahnya datang, dan Arsen kembali villa. Arsan merasa tidak tenang. Hingga ia menelpon anak buahnya lagi dan ternyata Gisel belum keluar dari gereja
karena rasa khawatir yang menjadi jadi, akhirnya Arsen kembali lagi ke gereja untuk memastikan keadaan Gisel. Padahal, tubuhnya benar-benar di ambang batas kelelahan. Bahkan sekarang, wajahnya sangat pucat seperti tidak teraliri darah. Tapi, karena khawatir dengan Gisel Arsen tidak memikirkan dirinya lagi
Dan sekarang, setelah sampai kembali di gereja
Arsen langsung masuk untuk melihat keadaan Gisel dan ternyata Gisel sedang meringkuk di kursi panjang dengan tangan yang menjadi bantalan dan itu membuat hati Arsen benar-benar pedih.
Ia tahu, Gisel, sedang berada di titik lelahnya. Ia Kedua orang tuanya sudah pergi dan ketika Gisel mencintainya. Tapi ia harus menjauh dan ia yakin ini sangat berat untuk Gisel.
Arsen mencopot mantelnya, kemudian ia langsung menyelimutinya ke tubuh Gisel setelah itu ia kembali duduk di kursi sebelah Gisel. Tatapan matanya terus melihat Gisel yang sedang tertidur
Ia tidak mengerti, kenapa takdir begitu rumit harus menumbuhkan cinta di hatinya untuk mantan adik iparnya.
Setengah jam kemudian terlihat pergerakan dari Gisel secepat kilat, Arsen langsung bangkit dari duduknya kemudian ia bersembunyi di kolong kursi yang tidak terlihat karena tertutupi oleh tirai.
Gisel melihat kesana kemari, ia mengerutkan keningnya saat ada jaket yang tersemat di tubuhnya, lemudian Ia pun bangkit dari duduknya lalu menghapus sudut matanya yang berair..
Dan bertepatan itu pula, Arsen keluar dari persembunyiannya karena berpikir Giselaa sudah pergi dan tepat kketika arsen sudah keluar, tubuhnya diam mematung saat Gisel berdiri di depannya.
Ya, Gisel bisa berpura-pura pergi agar Arsenn keluar dari persembunyiannya, karena dari jaket yang disematkan pada tubuhnya saja, ia tahu itu adalah jaket milik Arsen dan kemungkinan Arsen ada di sekitarnya. Ituu sebabnya Dia berpura-pura bangkit dari duduknya
Gisel mencoba menguatkan dirinya, kemudian ia menguatkan hatinya lalu maju ke hadapan Arsen. “Arsen, ini mantelmu!” kata Gisel, terlalu sakit untuk menatap wajah Arsen. Hingga setelah Arsen menerima mantel darinya, Gisell pun memutuskan untuk berbalik, kemudian pergi meninggalkan Arsen seorang diri yang masih diam terpaku .
•••
“Terima kasih, Daddy,“ ucap Laura dengan riang ketika Nael menyiapkan sarapan untuk mereka, sedangkan Naura hanya diam, rupanya walaupun sudah makan kecil itu masih merasa gengsi hingga ia tidak mau berterimakasih pada sang ayah.
“Ayo kalian makan sarapan kalian!’” titah Nael lalu ia mengalihkan tatapannya pada Naura .
“Naura apa sarapan tidak enak, apa kau ingin Daddy membuatkan sesuatu yang lain?” tany Nael, “Tidak terima kasih,” jawabnya lagi. Saat, ini Nael baru selesai menyiapkan sarapan untuk kedua putrinya sedangkan Gaby tadi pagi sudah pergi ke rumah sakit hari ini ia ingin menghabiskan waktu berdua dengan Laura dan Naura..
“Naura ... Laura, apa besok kalian sudah mulai bersekolah?” tanya Nael, tiba-tiba Laura menatap kearah Nael, lalu tampak berpikir
“Daddy, apa Daddy akan berubah wajah Daddy lagi saat Daddy menjadi guru lukis kami?” tanya Laura dengan polos.
Seketika Nael yang sedang minum tersedak.
Holaa, Mak. Udah update dari semalem tapi baru lulus
Yuks gas komen.