Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Tegasnya Laura


“bagus Laura, kau membuat keputusan yang tepat,” ucap Nael ketika Laura memutuskan untuk bercerai dari Andre. “Daddy akan membuat perhitungan dengannya!”


Saat mendengar ucapan Nael, Laura mengangkat kepalanya, kemudian menggeleng. “Tidak, Daddy. Biar aku yang berbicara padanya. Aku ingin menyelesaikannya secara baik-baik, walau bagaimanapun ada anak diantara kami. Aku tidak ingin Andre membenci anaknya, karena dia dendam padamu!”


Helaan nafas kesal, terlihat dari wajah tampan Nael saat mendengar ucapan putrinya. Entah terbuat dari apa hati anaknya ini, Laura benar-benar seperti Gabby yang begitu tulus, sedangkan Naura bersifat sama sepertinya.


“Kau baik-baik saja, kau yakin ingin berbicara dengannya sendiri?” tanya Nael. Laura pun mengangguk.


“Aku yakin, Dad.”


“Ya, sudah. Ayo tidur, Daddy akan menemanimu!” Titah Nael, dengan cepat Laura menggeleng.


“Aku butuh waktu untuk sendiri. Jadi, bisakah Daddy meninggalkanku.”


Nael menggeleng. “Tidak Laura, Daddy tidak akan meninggalkanmu.”


“Daddy aku mohon, Aku hanya butuh waktu untuk sendiri. Aku tidak akan melakukan hal yang aneh. Percayalah, aku akan baik-baik saja.. Atau Daddy bisa menyuruh orang-orang untuk menunggu di depan kamarku!”


Hembusan nafas terlihat dari wajah Nael, lelaki parubaya yang masih tampan di usia yang tak lagi muda itu sebenarnya berat meninggalkan Laura. Namun, dia tahu Laura butuh waktu untuk sendiri.


Setelah Nael pergi, Laura membaringkan tubuhnya di ranjang. Ia menyimpan tangannya di kening, lalu matanya menatap ke arah atap. bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk mata Laura saat mengingat semuanya.


Keputusannya memang sudah bulat. Tapi ada rasa sesak tersendiri yang ia rasakan saat memikirkan bagaimana ia bercerai dengan Andre


Tapi ia pun sadar, anaknya tidak akan bahagia jika ia tidak bahagia.


“Aku mencintaimu, aku tulus padamu. Tapi rupanya, cintaku tidak cukup untuk membuatmu menoleh kepadaku. Aku tidak ingin lagi terpuruk dalam luka. Jika suatu saat kau kembali pada Naura, aku tidak akan marah padamu maupun pada Naura ....”


Laura tidak mampu meneruskan ucapannya, suaranya tenggelam oleh tangisan. Barusan, ia memang mengatakan tentang Ia yang rela jika suatu saat Andre kembali pada Naura. Tapi jika membayangkan itu, hatinya pedih tak berujung.


Laura menangis tersedu-sedu untuk kali ini saja, ia ingin menangis dengan puas, menangis mengeluarkan kesedihannya, dan berjanji, ia tidak akan menangisi apapun lagi


•••


Andre berjalan mondar-mandir di apartemennya. Ini sudah 5 jam dia mencari Laura, dan waktu juga sudah menunjukkan dini hari. Tapi Laura tidak ada di manapun, ia sudah menelpon maid di mansion Nael dan Gabby bertanya tentang kehadiran Laura. Namun, Laura tidak ada di sana dan itu semakin membuat kepalanya terasa pecah.


Tidak, dia tidak khawatir pada Laura, Andre khawatir pada nama baiknya dan pada anak yang sedang dikandung oleh Laura. Sungguh, demi apapun ia tidak peduli pada Laura, Ia hanya takut terjadi sesuatu pada calon anaknya.


Andre mendudukan dirinya di sofa, ia berusaha mengatur nafasnya agar otaknya bisa berjalan dengan lancar untuk mencari keberadaan istrinya. Bisa bahaya, jika kedua mertuanya tahu tentang apa yang ia lakukan pada Laura.


Dan setelah lama diam, tanpa sadar, Andre terlelap. Rupanya, ia kelelahan karena mencari Laura hingga ia tertidur dengan sendirinya.


Malam berganti pagi, Andre mengerjap kala sinar matahari masuk ke dalam ruang tamu tempat ia tertidur. Saat ia terbangun, ia terperanjat kaget.


“Siall! Kenapa aku bisa tertidur!” omel Andre pada dirinya sendiri, ia melihat ke arah jam di dinding, ternyata waktu menunjukan pukul 9 pagi.


Andre bangkit dari duduknya, kemudian ia langsung pergi ke kamar. Ia berencana untuk menyegarkan dirinya sebelum ia mencari Laura.


•••


Laura terdiam di ranjang, wajahnya sudah sembab dan membengkak, karena semalaman ia tidak tidur dan menghabiskan malamnya dengan menangis.


Laura menghela nafas, kemudian menghembuskannya. Saat ini, ia berencana untuk pulang ke apartemennya untuk apalagi jika bukan berbicara dengan Andre, mengenai perceraiannya, mengenai nasib pernikahan mereka.


Seandainya Andre menyesal ataupun seandainya Andre berubah karena tidak ingin bercerai. Laura tidak akan pernah berubah pikiran, ia akan tetap ada keputusannya, ia akan tetap pada pendiriannya, bahwa dia ingin bercerai dari Andre.


Setelah bisa menguasai diri, Laura bangkit dari duduknya kemudian ia langsung berjalan ke arah luar. Saat ia membuka pintu, Laura di buat terkejut saat melihat sang ayah ada di pintu. Ayahnya masih memakai pakaian yang sama seperti semalammm


“Apa Daddy tidak pulang semalam?” tanya Laura dengan terkejut.


Nael menggeleng. “Tidak, mana mungkin Daddy pulang meninggalkanmu dengan kondisi seperti ini,” jawabnya.


Ya, dari semalam Nael berdiam diri di depan kamar hotel yang di tempati Laura. Ia sengaja meminta kursi pada pihak hotel untuk duduk dan menunggu putrinya di luar.


Awalnya yang ingin pulang. Tapi rasanya, ia tidak tega dan tidak akan tenang. Itu sebabnya, ia menunggu dan tidak tidur semalaman.


Laura tidak mampu untuk menahan tangisnya saat melihat sang ayah di depannya. Kini, ia sadar hanya ayahnya yang tulus menyayanginya.


Saat berada di dalam mobil, Laura hanya terdiam begitupun Nael. Mereka tidak ada yang berbicara satu kata pun, dan akhirnya setelah melewati perjalanan yang cukup jauh, mobil yang dikendarai oleh Nael sampai di basement apartemen Laura.


”Kau ingin Daddy ikut?” tanya Nael.


“Tidak Daddy. Daddy tunggu saja di sini, atau Daddy bisa pulang. Aku akan pergi ke mansion memakai taksi!” kata Laura


“Kau sudah siap bertemu Mommy dan membicarakan ini kepada Naura?” tanya Nael, walau bagaimanapun, pasti akan ada hal yang terjadi di antara Putri kembarnya.


“Bisakah Daddy merahasiakan ini dulu


Aku akan pergi ke apartemen Seina dan menceritakan semuanya setelah aku tenang.”


Nael mengangguk-anggukkan kepalanya, karena ia rasa ini adalah hal terbaik yang bisa putrinya lakukan. “Ya sudah, pergilah. Daddy akan menunggu di sini.” Laura pun turun dari mobil, kemudian ia berjalan menuju lift untuk naik ke apartemennya.


•••


Laura berdiri di depan pintu unit apartemen miliknya. Ini udah 10 menit berlalu, dan rasanya Laura begitu berat untuk masuk. Ya, ia begitu takut melihat Andre, karena membayangkan melihat wajah Anda saja rasanya begitu menyakitkan, apalagi ia melihat secara langsung.


Laura menghela nafas, kemudian menghembuskannya. Ia pun langsung memencet kode, hingga pintu terbuka dan ia pun langsung masuk dan tepat ketika Laura masuk, Andre keluar dari kamarnya. Rupanya, ia baru saja selesai membersihkan diri dan bersiap untuk mencari Laura.


Saat melihat Laura, helaan nafas terlihat dari wajah tampannya. Namun Ia juga kesal, karena Laura tidak ditemukan di manapun.


“Dari mana saja kau ....” bukannya bersikap baik pada Laura, Andre malah bersikap ketus pada istrinya. Padahal Ia sendiri yang mencari Laura, sejujurnya ia hanya tidak ingin di salahkah karena telah menurunkan Laura di tengah jalan.


Saat mendengar ucapan Andre, Laura memejamkan matanya, karena suara Anda begitu meninggi. Ia mengepalkan tangannya, berusaha menguatkan dirinya, Keputusan bercerai dari Andre memang benar.


“Ayo kita bicara!” kata Laura dengan bibir bergetar, ia takut melihat wajah Andre yang tampak memerah.


“Apa yang ingin kau bicarakan, dan dari mana saja kau. Apa kau tahu semalaman aku mencarimu!” hardik Andre, nadanya masih sama, ia masih berucap dengan sadis di sertai nada yang sedikit meninggi, membuat Laura mengepalkan tangannya semakin erat.


“Kau ingin kau berbicara apa denganku?’ tanya Andre lagi, nadanya masih tidak berubah.


Laura mengangkat kepalanya. “Ayo kita bercerai!” Tiba-tiba tubuh Andre diam mematung, dadanya kembang-kempis saat mendengar ucapan Laura, terlihat jelas ia begitu terkejut saat Laura mengajaknya bercerai.


Namun super sekian detik, ia tidak boleh terlihat terkejut di hadapan Laura. “Apa kau bodohh, apa kau gilaa. Bagaimana mungkin kau bisa meminta cerai saat kau mengandung anakku!” Andre hampir berteriak, ia bangkit dan menggebrakk meja hingga Laura memejamkan matanya, wajahnya sudah memucat saat Anda menggebrak meja.


Cukup! kali ini Laura tidak mampu lagi menahan gejolak yang ia rasakan, Ia pun sama bangkit dari duduknya lalu menggebrak meja sama seperti Andre. Kedua orang itu sama-sama merasakan emosi, dan saat Laura menggebrak meja Andra tersadar. Ia tidak boleh bersikap keras pada Laura.


Andre mengusap wajah kasar kemudian menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.


“Oke Laura, tenangkan dirimu, mari kita berbicara!” kata Andre, ia berusaha mengatur emosinya, hingga Laura pun ikut tersadar.


Dan kini, kedua pasangan itu sudah kembali duduk sambil berhadap-hadapan. “Kenapa kau ingin meminta cerai dariku?” tanya Andre.


Laura terus mengepalkan tangannya ia berusaha mati-matian menguatkan dirinya untuk berbicara. “Aku tidak ingin terjebak dalam pernikahan yang menyakitkan seperti ini, yang kau cintai bukan aku melainkan Naura, dan aku yang dirugikan di sini dan aku ingin kita berpisah. Kau tiidak perlu khawatir, aku tidak akan menghalangimu untuk bertemu anak kita!” ucap Laura.


Seketika Andre tertawa..“Kenapa kau berbicara omong kosong, siapa bilang aku masih mencintai Naura, siapa yang ....”


“Matamu ... Matamu memperlihatkan semuanya, bahwa kau masih mencintai Naura. Aku ingin bahagia bersama lelaki yang mencintaiku yang mau menerimaku apa adanya,” jawab Laura.


Kali ini tawa Andre kembali meledak. “Siapa juga yang menyukai wanita bodoh sepertimu. Ya, kau benar, aku masih mencintai Naura." Pada akhirnya, kata-kata itu keluar dari mulut Andre, emosinya terpancing, hingga ia melontarkan kata-kata yang sangat menyakitkan untuk Laura.


“Apa maksudmu?” tanya Laura dengan tidak terima.


“Harusnya kau tahu aku mendekati hanya karena Naura dan bodohnya kau masih melayaniku saat itu, bukannya sudah jelas kau ....” Andre menggantungkan ucapannya, ia melemparkan tatapan menghina pada Laura.


Jantung Laura berdetak dua kali lebih cepat saat mendengar ucapan Andre, ini benar-benar menyakitkan, kata-kata Andre benar-benar menghancurkannya sampe ke dasar.


“Ya sudah, jika kau ingin bercerai. Ayo kita bercerai, aku juga tidak ingin terjebak dengan pernikahan seperti ini apalagi dengan wanita sepertimu." Akhirnya kata-kata itu keluar dari mulut Andre, Ia pun langsung bangkit dari duduknya. Namun, saat ia bangkit ia menghentikan langkahnya saat melihat Nael sedang berdiri di depannya.


Rupanya, Nael menyusul masuk karena tidak tenang, dan saat Laura dan Andre sudah memulai pembicaraan, sebenarnya Nael sudah ada di sana, hingga ia mendengar semuanya. Namun, sedari tadi, ia menahan emosinya karena ingin mendengar apa yang diucapkan oleh menantunya pada putrinya.


“Berani sekali kau menghinaa putriku!” teriak Nael dengan emosi, seketika .....


gas komen gas vote ya. Selamat membaca