Dokter Meets CEO

Dokter Meets CEO
Penerimaan Laura


Tubuh Andre diam mematung saat mendengar ucapan Laura. “Maaf.” Andre menyadari betul satu kata itu yang belum terucap dari mulutnya. Selama ini, ia hanya mengatakan bahwa ia ingin menebus kesalahan pada Laura.


Selama ini, ia hanya mengatakan ingin kembali pada Laura. Tapi ia melupakan hal yang sederhana. Namun sangat berarti, bagi mantan istrinya kata maaf.


Ya, sampai detik ini, inilah yang membuat Laura sulit untuk memaafkan Andre, walaupun terkesan sederhana. Tapi percayalah, kata maaf itu begitu berdampak besar pada Laura yang mengalami trauma hebat di masa lalu.


Saat melihat reaksi Andre, Laura tersenyum getir.


“Sekarang kau mengerti kan, kenapa aku belum bisa membuka hatiku lagi padamu, sekalipun kita sudah mengetahui perasaan kita masing-masing,” ucap Laura membuat Andre tersadar.


Saat Laura akan pergi dan turun dari mobil, Andre menarik tangan Laura. ”Maafkan aku," ucap Andre hingga Laura menghempaskan tangannya dari tangan Andre, kemudian tersenyum.


“Wajahmu begitu terbalik dengan ucapanmu Andre,” Balas Laura . Bukan permintaan maaf seperti ini yang Laura inginkan, hingga Laura pun lebih memilih untuk keluar dari mobil dan masuk ke dalam.


Setelah Laura pergi, Andre diam terpaku memikirkan semuanya, Ia lansung mengingat bahwa ia pernah menghina Laura, sedemikian rupa dan ia sama sekali belum menyadari itu.


Setengah jam berlalu, akhirnya Andre keluar dari mobil, kemudian ia langsung masuk ke dalam tepat saat berada di depan pintu, Andre memencet bel beberapa kali. Saat tidak ada sahutan dari dalam, Andre menggedor pintu pintu, walaupun tentu saja itu tidak akan terdengar.


Tapi tak lama, pintu terbuka sosok Nael membuka pintu membuat nyali Andre sedikit mencium. Namun ia tidak bisa mundur lagi.


“Tuan!” panggil Andre.


“Untuk apa kau kemari?” tanya Nael dengan tegas. Seperti biasa, wajahnya tampak menatap Andre dengan tatapan tak suka.


“Tu-Tuan.” Andre berlutut di hadapan Nael, membuat Mata Nael membulat.


“Apa-apaan kau. Bangun!” ucap Nael.


“Tuan, di masa lalu, aku akui, aku membuat kesalahan membohongi Laura dan menganggap Laura sebagai Naura. Tapi aku menyesal, beri aku kesempatan! Kali ini aku tidak menganggap Laura sebagai Naura, kali ini aku benar-benar mencintai Laura.”


Nael berdecih, ucapan Andre terlalu klise. “Kau mungkin bisa membohongi Laura. Tapi tidak denganku,” jawabnya Nael, membuat Andre mengangkat kepalanya.


Saat Andre mengangkat kepalanya, Nael tertegun saat melihat mata Andre membasah, pertanda lelaki itu menangis. Ah sial! Dia paling lemah jika sudah begini, ia yang tadinya tidak ingin memaafkan Andre mendadak berubah pikiran saat melihat wajah Andre yang pasrah, ini mengingatkannya pada saat dulu.


Satu jam kemudian


Andre terus menunggu Nael. Namun, mantan ayah mertuanya tidak keluar lagi. Bahkan, beberapa menit lalu pintu sudah di titip oleh pelayan, hingga mau tak mau Andre berbalik dia akan kembali lagi besok.


Andre melangkah kakinya dengan penuh penyesalan, ia terlalu sibuk mengejar Laura. Tapi ia melupakan kata maaf yang menjadi akar dari semuanya.


Saat berada di dekat mobil, Andren menoleh ke arah belakang. Tatapannya langsung bersibobrok ke arah kamar Laura, di mana ada Laura yang sedang berdiri di balkon sambil menatap ke arahnya.


Kedua insan itu saling menatap dengan jarak yang cukup jauh, Andre merogoh sakunya, kemudian ia langsung menelepon Laura dan Laura yang sedang menatap Andre pun mengangkat telepon Andre.


“Pulang Ini sudah malam!” titah Laura.


”Laura dengarkan ini dulu!” Andre mencoba mengatur nafasnya kemudian menghapus sudut matanya. “Laura, kau boleh mengatakan aku membual atau kau boleh menganggapku pembohong. Aku ingin jujur sesuatu padamu. Dulu, aku memang menganggapmu Naura, walaupun aku tahu kalian berbeda. Dan setelah kita menikah pun, aku masih berharap kau seperti Naura karena dulu aku begitu mencintai Naura


Tapi ternyata aku salah, kau tetaplah Laura. Hingga aku bersikap dingin padamu.”


Andre menjeda sejenak ucapannya,kemudian kembali lagi berbicara. “Setelah kita bercerai, aku kesal karena ayahmu membangkrutkan perusahaan yang sudah susah payah aku bangun. Namun seiring berjalannya waktu, saat melihat sikapmu padaku yang begitu baik dan begitu tulus, perasaan itu muncul. Aku berusaha mengelak. Namun tidak bisa, ada satu titik di mana aku menyadari bahwa aku mencintaimu.


Dan aku mencintai Laura bukan Naura lagi, aku tidak melihat bayangan Naura di dirimu. Saat kau berjalan dengan Arthur, rasanya aku hampir mati. Tapi aku sadar, aku tidak bisa berbuat apa-apa, lalu ketika aku tau Artur bersikap tidak baik, aku juga sadar bahwa aku tidak bisa diam saja. Aku tidak ingin melihatmu jatuh dalam lelaki yang salah. Aku terlalu sibuk dengan keinginanku memilikimu, hingga aku melupakan kata maaf yang seharusnya aku ucapkan dari awal ... Laura maafku mungkin tidak bisa mengembalikan semuanya, maafku tidak bisa mengembalikan rasa sakit yang kau alami. Tapi dengan segala ketulusan yang aku miliki, aku minta maaf padamu. Tolong berikan aku kesempatan untuk menembus semuanya. Kali ini, aku benar-benar mencintaimu dan aku sadar kau Laura. Aku tahu begitu berat untukmu melihatku. Jadi, jika kau sudah memaafkan aku, atau sudah bisa menerimaku, tolong kabari aku lagi, aku akan menunggu sampai kapanpun. Aku mencintaimu Laura.”


Laura menutup mulutnya saat mendengar untaian- untaian kata yang diucapkan oleh Andre, dadanya bergemuruh. Cukup! Laura tidak ingin lagi mengandalkan gengsinya, kata maaf sudah terucap dari bibir Andre, ucapan Andre begitu tulus. Jadi apa yang harus Laura pikirkan lagi.


“Tunggu di situ awas aja jika kau pergi,” ucap Laura, ia mematikan panggilannya kemudian berbalik lalu keluar dari arah balkon. Setelah itu Ia turun ke bawah.


10 menit kemudian, Andre melihat pintu terbuka. Laura keluar dari pintu tersebut membuat Andre menghela nafas. Saat Laura mendekat, Andre merentangkan tangannya.


Namun, Laura malah menghetikan langkahya dan terdiam di tempat, ia enggan menghampiri Andre, lalu bersidekap. Seperti biasa, sisa gengsinya masih ada walaupun ia sudah menerima Andre.


Andre rasa, ia mengerti dengan apa yang diinginkan mantan istrinya. Andre terkekeh, wanita di depannya ini begitu menggemaskan. Perlahan, Andre maju kemudian ia menghampiri Laura dan memeluk mantan istrinya.